
"Btw, gue ke masjid dulu ya. Entar gue balik sini lagi," ucap Adrian pamit.
Tiara dan Laura hanya mengangguk. Kemudian masuk ke dalam rumah, sholat di kamar.
Setelah sholat, Laura bersiap-siap untuk pergi ke rumah Soni.
"Ra, nggak kelihatan kan?" ucap Laura cemas sambil memperlihatkan dirinya di depan Tiara.
"Enggak, kok. Baju elu sudah menutupi banget. Mungkin karena elu tinggi juga kali ya, makanya nggak kelihatan. Kayaknya dari wajah elu, orang tua lu orang Indonesia nikah sama bule deh. Cuma ketutup kacamata tebal lu aja, kecantikan elu tertutup. Plus sebelumnya elu kerja panas-panasan ," papar Tiara.
"Gue biasa aja kali. Gue juga nggak peduli dengan kata orang mau cantik atau enggak," Laura tersenyum.
"Kulit elu udah balik putih lagi semenjak nggak kerja jadi pengantar bunga. Ohya, menurut gue terima aja tawaran Adrian untuk mengajari dia pelajaran. Kali aja dia makin dekat dengan anaknya, dia makin bisa sayang dan berpikir buat menikah," usul Tiara.
"Gitu ya? Hmm... entar gue pikirin deh. Sepertinya Adrian udah balik, itu suaranya," sahut Laura yang mendengar suara salam dari luar.
"Hai, udah siap?" tanya Adrian saat Laura dan Tiara keluar.
"Udah, elu beneran nggak ada kegiatan? Gue nggak enak," ucap Laura
"Nggak ada. Paling entar malam gue balik ke rumah," sahut Adrian.
"Gue titip teman gue ya. Awas lu apa-apain!" ancam Tiara.
"Iya, elu jangan khawatir. Ayo, Ra," ajak Adrian.
"Gue pergi ya, Ra.Assalamualaikum," pamit Laura
"Wa'alaikumsalam," sahut Tiara melambaikan tangan.
Laura dan Adrian akhirnya masuk ke dalam mobil. Mobil mulai melaju meninggalkan kost Tiara.
"Bila, gue serius dengan ucapan gue tadi. Elu berhenti saja dari mengajar les. Biar elu mengajar gue aja," usul Adrian.
"Tapi, ini cuma kali terakhir gue datang. Gue harap mereka mau diajari les secara online. Lagian gue nggak enak kalo mau berhenti. Mereka tuh baik banget sama gue, sering kasih gue makan, bawain gue makanan kalo pulang mengajar. Alhamdulillah, gue nggak perlu beli makanan lagi di luar," papar Laura
"Wait, bentar. Beli makanan di luar? Kan elu tinggal sama Om dan Tante elu. Ngapain beli makanan di luar?" tanya Adrian yang bingung.
"Gue nggak diberi makan di sana. Gue cuma dapat tempat tinggal. Tapi, itu juga gue sudah bersyukur. Setidaknya gue dapat tempat tinggal," jujur Laura.
"Astaghfirullah, Ra. Kenapa elu nggak ngomong sih sama gue? Elu bikin gue semakin merasa bersalah tau nggak," cetus Adrian yang merasa resah dan tak habis pikir dengan Laura.
"Ngomong gimana? Elu aja nggak pernah masuk sekolah kok. Lagian belum tentu elu peduli. Inget gue aja kali enggak," rutuk Laura.
"Gue peduli sama lu! Dengan sikap elu ini, gue merasa elu nggak menganggap gue ada," tekan Adrian.
"Elu juga nggak pernah menganggap gue ada. Sebelum ini bahkan elu cuma jadiin gue objek taruhan elu, kalo elu lupa!" Lauratak mau kalah.
"Maaf. Gue salah untuk itu. Sepertinya semua cewek memang ahli sejarah ya. Kesalahan apa pun pasti diingat," lirih Adrian sambil menyunggingkan senyum masam.
__ADS_1
"Pada kenyataannya, gue nggak akan pernah bisa lupa seumur hidup gue, Rian. Apa yang terjadi, apa yang lu ucapin seperti mimpi buruk yang membayangi gue setiap hari," papar Laura.
"Maafin gue, Ra. Asal lu tahu semenjak kejadian itu, gue juga sering meminum obat tidur. Kalo enggak, gue nggak bisa tidur. Gue juga dihantui rasa bersalah," ungkap Adrian dengan jujur.
Laura sampai menoleh ke Adrian. Apa sedalam itu rasa bersalah Adrian?
Hingga suasana kembali hening, tak ada yang bersuara. Laura berpura-pura sibuk melihat buku yang akan dipelajari oleh muridnya.
"Bila, kalo lu mau beli sesuatu di jalan. Mungkin elu ngidam sesuatu, ngomong aja jangan sungkan. Entar kita bisa berhenti," ucap Adrian akhirnya.
"Iya, tapi gue nggak pengen apa pun. Ohya, elu cukup anter aja. Entar pulang, gue bisa balik sendiri," sahut Laura.
"Jangan, dong. Gue bakal nunggu lu di mobil. Elu ngajar aja, nggak apa-apa. Gue nggak ada kegiatan lain, kok," tolak Adrian.
"Tapi, gue nggak enak ngerepotin elu," cetus Laura.
"Gue nggak merasa elu repotin, Ra Santai aja. Gue malah takut membayangkan elu naik turun angkot, sendirian pula di kehamilan elu yang sudah mulai besar. Gue takut elu kenapa-kenapa," ucap Adrian khawatir.
"Bukannya elu seharusnya bersyukur? Kalo gue dan anak gue kenapa-kenapa, elu bisa lepas dari tanggung jawab," sindir Laura.
"Gue nggak sejahat itu. Gue nggak bakal biarin elu dan bayi lu kenapa-kenapa. Gue akui gue salah, gue pengecut tapi gue masih punya hati nurani, Laura" jelas Adrian.
Laura pun terdiam, dia hanya menghela nafas panjang. Hingga akhirnya, mereka sampai di depan rumah Soni.
"Gue turun dulu," pamit Laura melepas seat belt nya.
Laura hanya diam. Dia keluar dari mobil sambil menenteng tas selempangnya.
Laura memencet bel, dan dibukakan asisten rumah. Laura kemudian melangkah masuk dan duduk di teras rumah. Terasa aneh hari ini, si Bibi asisten rumah tampak tak tersenyum padanya. Bahkan anak-anak muridnya tak terlihat satu pun. Apa mereka semua belum datang?
"Laura," panggil Mama Soni yang keluar dari pintu depan.
"Bu..." sahut Laura sopan sambil mengangguk.
Mama Soni kemudian duduk di kursi teras sambil membawa sebuah amplop putih.
"Ra, ini gaji dari semua ibu-ibu. Dikumpulin satu amplop ini," ucap Mama Soni memulai pembicaraan. Laura hanya mengangguk dan melihat amplop yang cukup tebal.
"Ini untuk Laura, tolong terima dulu," ucap Mama Soni menyerahkan amplop pada Laura..
"Sebelumnya, kami mau minta maaf. Mulai hari ini Laura tak harus mengajar anak-anak lagi," sambung Mama Soni.
Laura terkejut tiba-tiba mama Soni memutuskan sepihak.
"Maaf bu, kalo boleh tau kenapa?" tanya Laura
"Kami mendengar kabar kalau kamu hamil di luar nikah. Apa itu betul?" tanya Mama Soni hati-hati.
Laura terkesiap. Tak menyangka jika mama Soni sudah tahu kabar itu. Laura yakin kalau ini ulah tantenya. Laura tetap diam, rasanya dia mau pergi saja.
__ADS_1
"Ibu-ibu sepakat untuk mencari guru pengganti. Maafin ibu ya, ibu harap kamu mengerti," ucap Mama Soni.
"I-iya, Bu. Tak apa, saya berterima kasih untuk gajinya. Saya permisi, Assalamualaikum," ucap Laura pamit. Dia berdiri cepat dan melangkah pergi. Tanpa menjelaskan pada Mama Soni apa yang sebenarnya terjadi.
"Wa'alaikumsalam," sahut Mama Soni.
Laura jadi khawatir. Jika Tante Tri dan Om Permana nekat memberitahu tentang dia dengan ibu-ibu muridnya. Apa tidak mungkin Tante dan Om itu memberitahu ke ibu pantinya dan pihak sekolah?
"Loh, kok cepat banget?" tanya Adrian saat Laura sudah masuk ke dalam mobil.
Laura tak menjawab, justru menangis tersedu. Tangannya menutupi muka. Laura kalut dan ketakutan. Dia takut dipermalukan lebih dari ini.
"Ra, ada apa?" tanya Adrian hati-hati.
"Jalan, Rian. Kita jangan ke sini lagi," ucap Laura cepat.
"Okey, gue jalan. Tapi elu harus menenangkan diri dulu. Terus ceritakan masalahnya apa," sahut Adrian.
Laura masih menangis, hingga beberapa belas menit kemudian tangisnya baru mereda. Tisu sudah banyak yang berhamburan. Laura benar-benar kacau.
"Elu udah merasa lebih baik? Mau ke suatu tempat yang mungkin bisa bikin elu lebih tenang?" tanya Adrian hati-hati.
Laura menggeleng. "Gue diberhentikan dari mengajar Soni dan teman-temannya," ucap Laura akhirnya.
"Cuma itu? Elu masih bisa mengajari gue kan?" sahut Adrian.
"Bukan cuma itu! Tante Sri dan Om Herman cerita ke ibu-ibu murid gue, kalo gue hamil. Gue jadi takut, Rian. Gimana kalo Om dan Tante nekad cerita ke ibu panti dan pihak sekolah," lirih Laura.
Adrian terdiam. Ini sungguh di luar dugaan mereka.
"Gue takut, Rian. Gue cemas. Gue masih ingin sekolah sampai lulus," Laura kembali menangis tersedu.
"Elu tenang ya. Gue yakin mereka nggak bakal sampai berani datang ke sekolah," ucap Adrian berusaha menenangkan Laura
"Dari mana keyakinan elu datang?" tanya Laura bingung.
"Hmm... gue yakin aja," jawab Adrian asal. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlalu banyak masalah yang dia hadapi saat ini.
Laura hanya diam. Sesekali terdengar isak tangisnya. Pikirannya masih kalut. Takut dilaporkan ke pihak sekolah.
Tak lama, ponsel Adrian berbunyi. Adrian segera mengambil ponselnya dan tertulis di layar ponsel nama Dedi.
"Halo, Di" sapa Adrian saat mengangkat panggilan telepon.
"Halo, Rian. Elu buruan ke sini sekarang. Search lokasi gue kirim ke elu," ssahut Dedi ari seberang telepon.
jangn lupa follow, like, dan komen novel nya.
semangat membaca sahabat novel ku Assalamu'alaikum
__ADS_1