TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
TANPA JUDUL


__ADS_3

Adrian terpaksa berhenti dan untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat mobil mereka. Mereka harus menunggu dua jam lamanya karena ramainya bengkel.


"Maaf dik, mobilnya baru bisa kita perbaiki. Hari ini ramai banget yang datang ke bengkel," ucap bapak pemilik bengkel tak enak.


"Nggak apa, Pak. Santai aja," sahut Adrian.


Hingga tengah hari, akhirnya mobil Adrian selesai diperbaiki. Baru saja mereka masuk ke dalam mobil, bunyi perut Laura terdengar.


"Lu laper?" tanya Adrian yang sudah duduk di balik kemudi. Laura hanya mengangguk malu.


"Ya udah, kita cari makan pinggir jalan aja ya," sahut Adrian. Lagi-lagi Laura hanya mengangguk setuju.


"Males banget kalo bawa si cupu ini ke restoran. Pinggir jalan juga oke, nggak mungkin sakit perut nih cewek," rutuk Adrian dalam hati.


Hingga mobil berhenti di sebuah warung makan. Mereka berdua memilih bakso. Setelah makan dengan hening, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Rian, berhenti di pom bensin ya. Gue mau ganti pakaian," ucap Laura.


"Ah, nggak usah! Entar kita kesorean. Ini aja udah jam tiga," tolak Adrian.


Laura hanya mengangguk pasrah. Dia tak berani membantah.


"Kita mau kemana sih?" tanya Laura penasaran.


"Kita mau lihat sunset di pinggiran kota," jawab Adrian yang menggunakan kaca mata hitamnya. Menambah level kegantengan Adrian di mata Laura.


Laura hanya bisa mengangguk setuju.


Laura cukup tegang. Dia tidak pernah pergi sejauh ini hanya berdua dengan laki-laki. Tapi, dia terlalu dibutakan oleh cinta.


"La, gue haus. Kayaknya nggak ada minimarket sekitar sini. Tuh ada minuman, ambilin dong," pinta Adrian menunjuk sebuah botol minum yang diberikan oleh Dedi dan Revan tadi.


Laura mengambil botol minum dan membuka tutupnya. Lalu segera menyerahkan pada Adrian. Karena begitu hausnya, tanpa sadar Adrian menghabiskan satu botol minumnya.

__ADS_1


Sementara Laura yang juga kehausan tetap diam. Dia tidak mau terlalu banyak bicara. Takut Adrian marah.


Namun, satu jam kemudian reaksi minuman mulai dirasakan Adrian. Hingga Adrian hilang kendali, dan hal yang tidak di inginkan pun terjadi.


Laura berlari sekencang mungkin setelah keluar dari mobil. Berjalan cukup jauh hingga kakinya terantuk batu dan terkena pecahan beling.


Laura meringis, menepi ke balik rimbunnya pepohonan. Tak ada rumah penduduk. Hanya ada pepohonan lebat di sekitarnya. Mencabut sendiri beling yang menancap di kakinya. Menggigit bibir bawahnya agar tak berteriak. Dia takut ketahuan Adrian. Wajah Adrian yang tampan berubah mengerikan bagi Laura.


Temaram senja kali ini penuh luka, sang surya bahkan tak tahan lagi kembali pada peraduan. Meminta rembulan berganti peran. Menerangi malam agar tak gelap mencekam.


Sementara Shabila berusaha mengambil beberapa daun sirih yang merambat di pepohonan tempatnya duduk bersandar. Laura meremas beberapa daun, menempelkan pada lukanya agar tak infeksi.


Daun-daun sirih yang merambat di pepohonan cukup lebat dan cukup menyembunyikan tubuhnya.


Tiba-tiba dari jalanan, ada sinar lampu mobil yang menyorot jalanan. Mobil berjalan pelan seperti mencari seseorang.


Sementara Laura ketakutan luar biasa. Dia menahan nafasnya agar tak terdengar. Shabila takut mobil yang berada di jalan adalah mobil Adrian. Suara rumput dan ranting di injak semakin mendekat. Membuat Laura makin dicekam ketakutan.


"Hei, sedang apa kamu disini?" ucap suara yang datang.


Laura akhirnya memberanikan diri mendongakkan wajah. Lampu emergency menyorot wajah Laura.


"Sa-saya tersesat, kaki saya terkena pecahan kaca," ucap Laura terbata. Laura masih ketakutan. Bagaimana kalau orang yang berada di hadapannya ini adalah orang jahat.


"Ayo ikut Om, di mobil ada istri Om juga. Udah malem, kamu nginep di rumah kita dulu aja," ucap bapak tersebut ramah.


Laura bimbang. Tapi, daripada dia bertemu Adrian lebih baik ikut bapak ini. Laura akhirnya berjalan terpincang-pincang ke mobil. Sampai masuk ke mobil, ternyata ada beberapa orang gadis di dalam mobil. Di kursi depan ada bapak tadi dan seorang wanita tua, mungkin istrinya.


"Nama kamu siapa? Nama saya Om Sutris dan ini istri Om namanya Laila," ucap Om Sutris memperkenalkan diri.


"Saya Laura om . Terima kasih Om, tante, sudah menolong saya," jawab Laura. Entah mengapa Laura merasa ada yang aneh. Entah mengapa beberapa gadis di mobil ini seperti orang ketakutan.


Salah satu gadis bahkan terang-terangan matanya melotot dan menggeleng-gelengkan kepala. Entah mengapa.

__ADS_1


"Shabila, ini sudah mulai malam. Jadi, menginap dulu ya di rumah tante," ucap Tante Laila.


"I-iya, tante," ucap Shabila menurut. Setengah jam perjalanan mereka sampai di sebuah rumah yang cukup tersembunyi dari jalan. Tak ada tetangga kiri kanan. Rumah ini harus melewati begitu banyak pepohonan.


Perasaan Laura tiba-tiba menjadi tak nyaman. Gadis-gadis tadi segera turun dari mobil. Sementara Laura diminta menunggu di mobil, tante Laila akan mengambilkan sandal untuk Laura.


Tak lama, Laura dibantu tante Laila masuk ke rumah. Tante Laila dengan cekatan mengobati kaki Shabila.


"Kamu mau mandi?" tanya Tante Laila lembut.


"Iya, Tante," jawab Shabila singkat.


"Ya, sudah. Tante ambilkan handuk baru," ucap Tante Laila yang kemudian berdiri dan mengambil handuk di lemari.


Laura hanya diam, duduk di sebuah sofa. Rumah ini cukup mewah untuk ukuran sebuah rumah di tengah hutan. Entah mengapa tante Laila dan suaminya mau tinggal di tempat ini.


Sementara gadis-gadis tadi yang bersama Shabila di mobil tak terlihat lagi.


" Laura, ini handuknya. Ayo ikut tante ke belakang," seru tante Laila.


Laura segera berdiri, berjalan tertatih mengikuti langkah tante Laila.


"Nah, itu kamar mandinya. Kamu mandi dan ganti baju ya. Semua udah tante siapin," ucap tante Laila tersenyum lalu berlalu kembali ke depan.


Laura hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih ada orang baik yang mau menolongnya. Di tangan Laura ada handuk baru dan satu setel pakaian tidur baru.


Saat Laura hendak melangkah masuk ke kamar mandi, seorang wanita tua menyelipkan sebuah kertas di dalam handuk Laura dan memberi kode pada Laura untuk diam.


Laura yang bingung hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Laura membaca pesan di kertas.


"CEPAT TINGGALKAN TEMPAT INI. DI SINI SINDIKAT PERDAGANGAN WANITA. SAYA SUDAH MENYIAPKAN KURSI PLASTIK, LARI LEWAT KAMAR MANDI."


Pesan yang mampu membuat Laura terkejut dan cemas luar biasa. Laura langsung mendongak ke atas, ada sebuah ventilasi yang kacanya sudah lepas. Lalu sebuah kursi plastik merah di atas kloset.

__ADS_1


Laura segera mengganti bajunya terlebih dahulu, kembali memakai jaket lalu menyalakan kran air untuk menipu orang diluar kamar mandi. Setelah itu, Shabila naik ke atas kursi plastik melempar sandal keluar, melempar handuk dan dia segera berusaha keluar dari ventilasi sempit tersebut.


__ADS_2