
"Cemen lu!Gitu doang," cibir kedua temannya.
"Kita tambahin deh taruhannya," tawar Dedi lagi.
"Apa penawaran kalian?" tanya Adrian yang mulai tertarik.
"Kalo hape keluaran terbaru yang logonya buah apel di gigit deh," tawar Dedi.
"Gue setuju. Gimana, bro?" Revan ikut menimpali.
Adrian tampak berpikir. Mereka bertiga sebenarnya sama-sama anak orang berada dan dari keluarga terpandang. Tapi, demi gengsi dan tak mau dianggap remeh teman-temannya, Adrian menyetujui taruhan.
"Oke, deal!" setuju Adrian akhirnya.
"Ssttt... Van, gue ada ide," bisik Dedi saat mereka berdua ke toilet sekolah.
"Apaan?" sahut Revan mendekati Dedi setelah dia mencuci tangannya di wastafel.
"Gimana kalo si cupu kita kasih obat gitu, kita bisa rekam lewat kamera di dalam mobil," usul Dedi yang pikirannya paling liar.
"Obat apaan? Efeknya apa?" Revan terlihat bingung dengan maksud Dedi.
"Yaelah lu. Obat gituan, biar dia kepanasan terus mohon mohon sama Adrian minta gituan. Biar orang tahu dia tuh nggak cupu tapi suhu," jelas Dodit tertawa.
"Terus?"
"Adrian nggak mungkin mau sama tuh cupu. Kita cuma perlu rekaman pas dia mohon mohon gitu, terus kita sebarin videonya di sekolah ," beber Dedi sambil menaik turunkan alisnya.
"Njirr, ide lu keren juga, hahaha," ucap Revan. Mereka berdua tos tangan. Tertawa terbahak membayangkan serunya mempermalukan Laura.
"Eh, tapi jangan kasitau Adrian!" lanjut Dedi.
"Emang kenapa, Bro?" tanya Revan
"Yaelah, biar di rekaman wajah mereka tuh natural. Nggak di buat-buat. Kalo kita kasitau, entar akting Adrian kaku gaes," jelas Dedi.
"Bener juga lu, Bro. Oke, gue setuju," Revan kembali tos tangan dengan Dedi.
Mereka berdua kemudian menjalankan misi mereka. Meletakkan sebuah kamera tersembunyi di mobil saat hari minggu pagi. Beruntung, mobil sedang tidak dikunci. Tak lama tampak suara langkah kaki dari dalam rumah.
__ADS_1
"Bro, jadi kan rencana kita hari ini?" tanya Dedi pura-pura lewat depan rumah Adrian. Dia sudah memakai pakaian olahraga berpura-pura lari pagi.
Sementara Revan juga ikut pura-pura melakukan gerakan lari di tempat.
"Tumben lu berdua olahraga. Menteri olahraga habis mampir ke rumah lu berdua ya! Sok iyes lu olahraga," cibir Adrian yang sudah tampil dengan pakaian kasual.
"Nggak! Kita mau latihan, soalnya mau ikut lomba entar tujuh belasan," celetuk Revan asal.
"Dih, lomba apaan?" cibir Adrian lagi yang menyandarkan tubuhnya di belakang body mobil.
"Lomba lari, Bro!" jawab Dedi.
"Iya, lomba lari dari kenyataan kan!" kekeh Adrian. Cowok yang tahun depan genap berusia 18 tahun ini tampak tampan dengan kaos t-shirt dan celana jenis chino. Tak lupa sepatu sneakers yang keren. Wajahnya yang tampan seperti oppa Korea menjadi daya pikat gadis-gadis di sekolah.
Laura salah satunya. Gadis kutu buku itu sering kali tertangkap basah sedang mencuri pandang pada Adrian. Karena hal inilah Dedi dan kawannya melakukan taruhan.
"Bro, kita tadi beliin lu cemilan di minimarket. Nah itu ada botol minum untuk Laura," Dedi menyerahkan satu kantong keresek cemilan pada Adrian.
"Ini minuman apa, bro?" tanya Adrian yang memegang botol minum tanpa merek.
"Oh, itu cuma kopi susu. Buat si Laura aja, kali dia haus," jawab Dedi berbohong.
"Iya, bener bro. Untuk Laura ya ,"timpal Ivan meyakinkan Adrian.
"Dah, buru lu pergi! Laura pasti udah nunggu," kelit Dedi mendorong pelan bahu Adrian ke arah pintu mobil.
Adrian berdecak kesal. Lalu masuk ke dalam mobil. Meletakkan kantong keresek berisi makanan di kursi samping kemudi. Lalu dia mulai menyalakan mesin mobil.
Teman-teman Adrian melambaikan tangan saat Adrian sudah melesatkan mobilnya ke jalanan.
"Yes, berhasil!" seru Dedi yang melakukan tos tangan dengan Revan.
"Semoga kita dapat rekaman yang seru, Bro," sahut Revan.
"Pastinya, Bro. Ayolah kuy kita maen game di rumah gue," ajak Dedi.
"Okey, kita tanding, Bro," setuju Ivan. Mereka berjalan bersisian menuju rumah Dedi Mereka bertiga memang tinggal di satu kawasan komplek perumahan yang sama.
Sementara Adrian segera meluncur ke kawasan tempat tinggal Laura. Dia sudah berjanji bertemu dengan Laura di depan gang tempat panti asuhan Laura tinggal.
__ADS_1
Sementara Laura sudah menunggu sedari tadi. Dia menunggu dengan hati berdebar. Dia tahu dia salah. Dia sering kali mendengar ceramah kalau pacaran sebelum menikah itu tidak diperbolehkan.
Bahkan saat ini dia berbohong pada ibu pantinya. Dia izin keluar dengan alasan ada kegiatan di sekolah. Bahkan demi meyakinkan ibu panti, dia memakai pakaian sekolah. Laura berencana akan berganti pakaian di pom bensin nantinya.
Dia tahu dia sudah mengkhianati hati kecilnya sendiri. Tapi, asmara itu berakar kuat di hatinya. Melemahkan logika dan mengaburkan ayat ayat cinta dari Tuhannya.
Laura yang sedari kecil tak mengenal orang tua, tak tahu rasanya di timang ibu apalagi di manja ayah. Dia merindukan rasanya di kasihi, di sayangi oleh seseorang.
Selama ini di sekolah dia dibully, diremehkan, di rendahkan tak pernah dianggap ada. Dia masih dipertahankan di sekolah karena prestasi yang luar biasa, yang tak dimiliki oleh anak-anak lain di sekolah. Teman-temannya terlalu terlena dengan fasilitas dan harta orang tua.
Saat Adrian menawarkan cinta dan perhatian, Laura seperti menemukan fase di padang pasir yang tandus. Dia bisa berdiri tegap dan berjalan penuh percaya diri karena berpacaran dengan ketua Osis tampan di sekolah.
Tiara, teman akrab Laura sudah mengingatkan Laura untuk tidak menerima Adrian. Tiara curiga, rasanya terlalu aneh Adrian yang terlalu 'wah' mau berpacaran dengan Laura yang terlalu biasa saja.
Laura tiba-tiba mengingat obrolan dirinya dan sahabatnya Tiara.
"Jadi menurut lu gue nggak pantes buat Rian?!" ucap Laura yang kesal kala itu.
"Bukan gitu, La. Tapi ini aneh. Cewek yang di dekatinya selama ini yang high class gitu," jelas Tiara hati-hati.
"Intinya maksud lu, dia terlalu Wah buat gue yang sederhana, gitu kan?!" Laura mendengus kesal.
"Nggak gitu dong, La. Tapi firasat gue nggak enak. Mending lu putus, deh," usul Tiara.
Laura sampai hari ini tidak mengerti maksud Tiara. Apa karena dia anak yatim piatu atau penampilannya yang terlalu biasa hingga sahabatnya meminta dia putus dari Adrian.
Tiin...tiin...
Suara klakson mobil Adrian membuyarkan lamunan Laura. Gadis itu menoleh tersenyum manis menyongsong mobil kekasih hatinya.
Tangan Laura meraba-raba rambut kepang duanya. Berharap tatanan rambutnya tidak diterbangkan oleh angin nakal hari ini. Mobil berhenti tepat dihadapan Laura.
Adrian hanya memberi kode dari jendela mobil agar Laura masuk ke dalam mobil. Laura mengangguk dan membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kok lu pake seragam sekolah?" tanya Adrian bingung. Adrian benar-benar muak melihat seragam lusuh Laura apalagi di tambah kepang dia nya, Sungguh gadis yang tak menarik hatinya!
"Maaf, Rian. Gue takut di marah ibu panti, entar berhenti di pom bensin ya. Gue ganti baju dulu," jujur Laura. Dia takut Adrian marah.
"Ck, serah lu deh!" decak kesal Adrian.
__ADS_1
Sebenarnya Adrian tidak pernah benar-benar bersikap manis pada Laura. Dia hanya bersikap manis saat membutuhkan Laura, butuh contekan misalnya!
Mobil segera melesat kembali ke jalanan. Hingga sampai satu jam perjalanan, mobil mereka terhenti. Ban mobil terkena paku.