TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Hari kedua mencari keberadaan Laura


__ADS_3

Akhirnya panggilan telepon diakhiri dengan salam.


Pencaharian Laura diteruskan dengan foto saat dia bayi dan lukisan Laura dari sang Mama.


Sementara Tiara menoleh pada Adrian di ujung dinding. Tiara melotot tajam pada Adrian.


Adrian yang juga terkejut dengan ucapan sang guru, berusaha berpikir cepat. Apalagi Tiara terlihat melotot.


"Bu!" seru Adrian tunjuk tangan.


"Iya, Rian. Kamu juga mau ikut?" tanya sang guru.


"Bu, ngapain lihat Laura. Entar juga kalo sehat dia kembali masuk sekolah," ucap Adrian asal menjawab. Dia tak terpikir ide lain lagi.


"Kamu ini, Rian! Setidaknya kita harus menjenguk teman kita yang sakit. Tunjukkan rasa kepedulian kamu terhadap teman," nasihat sang guru.


Beberapa teman bahkan melihat ke arah Adrian. Menatap heran pada Adrian. Bukankah Adrian akhir-akhir ini terlihat perhatian pada Laura? Tapi kenapa saat Laura kecelakaan malah menolak untuk menjenguk Laura?


"Aneh lu, temen lagi sakit. Elu malah melarang kita menjenguk," celetuk Ikhwan.


"Bukan gitu lo, pasti nanti kan, Laura masuk sekolah juga. Ngapain kita ke panti," celetuk Adrian lagi.


"Huuhhh," sorak beberapa temannya yang akan ikut menjenguk lo.


"Sudah... sudah! Adrian, kalo lo nggak mau ikut jenguk Laura tak apa. Cukup beberapa orang saja," putus sang guru.


Adrian diam. Tak lagi menjawab. Dia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tiara, kamu mau ikut menjenguk?" tanya sang guru.


"I-iya, Bu. Saya ikut," sahut Tiara.


"Ya, sudah. Kalau begitu yang bawa kendaraan sendiri bisa berangkat sendiri. Kalau yang tidak bawa kendaraan, bisa ikut temannya yang bawa kendaraan ya. Ikuti mobil ibu. Kita bertemu lima belas menit lagi diparkiran," putus sang guru.


"Iya, Bu," sahut anak-anak yang segera membereskan buku-bukunya.


Sang guru kemudian keluar kelas lebih dulu. Sementara beberapa anak-anak tampak berembuk dan mengumpulkan uang untuk membeli buah-buahan untuk Laura m


"Ah, ribet amat sih! Cupu sakit aja pake acara di jenguk. Bikin ribet emang tuh anak, iya kan, Yank," rutuk Angel sambil menoleh ke Adrian meminta persetujuan.


"Ck, diem lu! Banyak omong banget jadi cewek," decak kesal Adrian yang pusing memikirkan jalan keluar dari masalah siang ini.

__ADS_1


"Ih, kok gitu sih! Kita jalan yuk, ke cafe atau ke mall deh," ajak Angel mendekati kursi Adrian.


"Elu sendiri aja sono gue lgi pusing, Udah sana pulang lu," rutuk Adrian yang kesal melihat Angel mendatanginya.


Angel tampak mencebikkan bibirnya. Dia sungguh kecewa dengan Adrian.


"Elu kenapa sih? Gini banget sama gue. Gue tuh cewek lu, hargai dong gue," gerutu Angel dengan wajah sedih dan menahan kesal.


"Please, gue lagi pusing. Elu lihat dong di media sosial aja, kita tuh beritanya masih tranding. Muka gue nih terpampang di mana-mana. Elu jangan nambahin masalah gue," dengus Adrian yang mencangklong tasnya.


"Tapi kan beritanya sudah diredam dengan video keburukan si F dan N. Banyak kok netizen yang belain kalian. Seharusnya elu senang sekarang. Apa lagi yang harus elu pikirin?" Angel terlihat bingung dengan pemikiran Adrian.


"Gue mau pulang! Udah minggir lu," ketus Adrian yang berdiri dari duduknya dan meminta Angel menyingkir dari kursinya.


"Gue ikut ya pulang," pinta Angel tersenyum. Masih berusaha agar kembali dekat dengan Adrian.


"Enggak! Pulang sendiri lu. Gue mau ikut ke panti asuhan," putus Adrian yang memilih menyingkirkan meja dibelakangnya agar bisa keluar dari kursinya. Angel tak mau bergeser dari tempat berdirinya.


"Hah, ngapain sih? Bukannya elu nggak setuju besuk si Cupu. Kenapa tiba-tiba mau ikut?" Angel tersentak kaget dengan keputusan Adrian.


"Suka-suka gue!" seru Adrian yang berjalan cepat keluar dari kelas.


Angel menghentakkan kakinya di lantai. Dia sungguh kesal pada Adrian "Si Cupu, awas lu ya! Enggak masuk aja bikin ulah sampe Adrian nggak perhatian sama gue. Apalagi kalo masuk sekolah, uuhh... kesel!" rutuk Angel dalam hati.


"Sueb!" panggil Tiara pada Sueb saat bertemu di parkiran.


"Kenapa?" jawab Sueb menoleh ke belakang.


"Ini kunci motor gue. Elu ke panti naik motor gue aja," ucap Tiara menyerahkan kunci ke tangan temannya yang berbadan bongsor itu.


"Nah, pucuk di cinta, motor pun tiba. Makasih sahabatku yang baik hati. Daku tak bingung lagi ke panti asuhan naik apa," sahut Sueb dengan gaya lucunya.


"Alay lu! Udah gue mau nyusul Adrian," cetus Tiara yang kembali berlari kecil menyusul Adrian.


"Rian!" seru Tiara.


Adrian yang baru mau membuka pintu mobilnya langsung menoleh ke belakang.


"Apa?" tanya Adrian.


"Elu mau ke panti asuhan kan? Gue ikut lu" ucap Tiara.

__ADS_1


"Ya udah, ayo," ucap Adrian.


"Hei, kok elu ikut cowok gue," seru Angel yang berlari-lari dari belakang yang terlihat marah melihat Tiara hendak naik mobil Adrian.


Tiara dan Adrian menoleh ke belakang. Adrian berdecak kesal. Angel lagi... Angel lagi!


"Udah ayo, Ra. Nggak usah hiraukan," celetuk Adrian yang segera masuk ke dalam mobil.


"Oke," sahut Tiara yang ikut masuk ke dalam mobil.


Angel datang tepat saat pintu mobil sudah tertutup.


"Hei, buka!" jerit Angel dari luar menepuk-nepuk kaca mobil. Angel berusaha membuka pintu mobil, tapi sayang sudah terkunci dari dalam.


"Keluar elu berdua! Dasar perempuan nggak bener lu! Tiara, keluar lu," jerit Angel histeris dari luar.


Namun, Adrian tak peduli. Dia sudah menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Sementara Angel dari kejauhan menjerit memanggil nama Adrian.


"Gue berasa kepergok selingkuhan yang lagi digerebek istri sah. Ribet amat cewek lu," celetuk Tiara sambil menoleh ke belakang. Melihat Angel dari kaca mobil belakang.


"Santai aja. Gue udah bosen males banget gue sama Angel.


Banyak ngaturnya, lebih-lebih dari Nyokap gue," ungkap Adrian.


Mobil Adrian akhirnya sudah keluar dari lingkungan sekolah dan mulai melaju di jalanan mengikuti rombongan guru dan teman-temannya.


"Wah, badboy banget emang lu! Gampang banget sih lu ngomong gitu. Kasihan anak orang elu permainkan," decak kesal Tiara yang menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan kelakuan Adrian.


"Ah, biar aja. Entar dia bosen sendiri dan menjauhi gue," celetuk Adrian enteng.


"Ih, elu salah satu mahluk bumi yang harus dihindari cewek-cewek.


Btw, gue ikut lu bukan buat mendekati elu seperti pikiran si Angel ya!" ketus Tiara.


"Iya, gue paham. Sekarang elu punya ide nggak? Kita harus gimana ?" tanya Adrian.


"Ih, enggak tahu. Elu yang punya ide, elu dong yang menyelesaikan segala kerumitan masalah ini. Semua masalah juga bermula dari elu dan kedua teman lu itu," rutuk Tiara.


"Iya, gue tahu. Rencana gue kurang matang. Tapi, mau bagaimana lagi? Gue juga bingung ini ," keluh Adrian.


"Pokoknya sebisa mungkin elu harus punya alasan kalau ibu panti dan ibu guru ngobrol yang menjurus ke arah laura. Kita juga nggak mungkin bawa Laura ke panti. Bisa-bisa ketahuan!" jelas Tiara.

__ADS_1


"Ketahuan gimana?" tanya Adrian bingung.


"Duh! Gini ya, Laura tuh selama ini nggak ketahuan di sekolah karena posisi dia tuh duduk dan meja dia dibelakang sekali. Nggak ada yang memperhatikan. Lagian posisi perutnya ada dibawah meja. Aman dong! Nah kalo orang sakit, itu pasti tiduran. Nggak mungkin Laura akting duduk santai saat guru datang di panti asuhan. Kalo udah tiduran, perut Laura tuh kelihatan kalo lagi hamil," papar Tiara.


__ADS_2