TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
MENCARI KEBERADAAN SI CULUN


__ADS_3

Tiara hanya bisa memeluk dan menenangkan Laura. Sahabatnya benar-benar sedang dalam tekanan.


"Gue bego, ra. Seharusnya gue dengar omongan lu," raung Laura yang menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Tiara diam dan makin mengencangkan pelukan.


Andai waktu bisa diulang. Dia tidak akan mengalami semua ini. Hanya karena dia bahagia ada laki-laki yang mengaku menyayanginya, Laura langsung percaya.


"Seharusnya gue sadar, Ra. Dia siapa dan gue ini siapa. Nggak mungkin banget dia suka sama gue yang jelek dan nggak punya orang tua ini," Laura menangis dan meraung.


"Lu nggak jelek, lu tuh cantik. Lu berharga, sekolah aja namanya makin terkenal karena lu. Elu yang menyumbang banyak piala untuk sekolah. Lu inget kan!" Tiara mencoba menenangkan Laura.


"Percuma, Ra. Gue nggak mau sekolah lagi. Gue malu," raung Laura.


"Nggak! Lu harus tetap sekolah. Buktiin ke mereka kalo lu baik-baik aja. Lu harus jadi orang sukses, biar suatu hari mereka bisa menunduk di hadapan lu," ucap Tiara menatap lekat mata Laura.


"Gue sebatang kara, Ra. Gue sendirian," suara Laura bergetar. Matanya sudah membengkak. Bajunya sudah basah oleh air mata.


"Lu nggak sendirian, ada gue. Kita bakal hadapin ini sama-sama. Lu harus jadi cewek kuat. Jangan mudah percaya sama cowok lagi," tekan Tiara.


Laura mengangguk lemah. Dia sudah kehabisan tenaga bahkan untuk menangis.


Tok...tok...tok...


Suara pintu terdengar di ketuk.


"Non, air mandinya udah siap," ucap mbok Darti dari luar.


"Iya, Mbok. Makasih Mbok," seru Tiara dari dalam kamar.


"La, elu mandi dulu ya. Entar gue telponin Ibu panti biar nggak khawatir sama lu," ucap Tiara.


Laura hanya mengangguk.


Laura berdiri dibantu Tiara. Berjalan hingga ke kamar mandi. Lalu Tiara kembali ke kamar menelepon ibu panti mengabarkan kalau Laura baik-baik saja. Laura akan menginap beberapa hari di kost Tiara.


***


Adrian dan Dedi sudah sampai di pinggiran kota. Mereka berkeliling mencari Shabila.


"Rian, terakhir lu ninggalin dia di mana?" tanya Dedi.


"Di sana!" tunjuk Adrian di pinggir jalan yang sepi dekat pepohonan yang tumbuh lebat.


"Kita berhenti dulu, terus turun. Barangkali aja si Cupu ninggalin jejak apa kek," usul Dedi.


Adrian mengangguk setuju lalu menepikan mobilnya. Mereka melihat kawasan sekitar yang memang sepi walau hari sudah menjelang siang.


"Dit, kok banyak darah di sini," seru Adrian yang terkejut saat turun dari mobil dan memperhatikan jejak darah di jalan.


"Kita ikuti arah jejaknya," sahut Dodit menepuk bahu Adrian. Kedua remaja itu pandangan matanya fokus melihat ceceran darah di jalan.


Pikiran mereka berdua berkecamuk. Mereka takut terjadi sesuatu dengan Laura, tentu saja mereka akan jadi tersangka.


"Arah jejak darahnya ke balik pohon itu, Di," ujar Adrian yang cemas.


"Nggak ada siapa-siapa di sini. Tapi rumput dibalik pohon ini rebah. Berarti sebelumnya ada orang yang sempat duduk di sini," papar Dedi.

__ADS_1


"Gimana kalo itu Laura? Kalo terjadi sesuatu dengan dia, nasib kita gimana?" Adrian histeris.


"Ayo kita balik ke mobil. Gue takut ada binatang buas," ucap Dedi mengajak Adrian. Mereka merinding sendiri melihat keadaan sekitar yang sepi dan dikelilingi pohon-pohon besar.


"Elu nyetir deh. Kita balik pulang. Gue telepon Ivan dulu," kata Dedi. Mereka berdua sudah kembali masuk ke dalam mobil.


Adrian segera memutar arah mobil, kembali ke kota. Sementara Dedi mengambil ponsel dan mulai menekan nomor telepon Revan.


"Bro, gimana di sekolah?" tanya Dedi langsung saat panggilan sudah tersambung. Dedi segera menekan tombol pembesar suara agar Adrian bisa ikut mendengarkan.


"Nggak ada, Bro. Demi lu berdua gue datang pagi banget. Gue nungguin di gerbang sekolah tapi dia nggak nongol. Gue cari di kelas juga nggak ada. Tiara juga nggak masuk," jelas Revan.


Adrian dan Dedi saling melirik. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Dedi segera mematikan teleponnya.


"Di, apa mungkin Tiara lagi mencari si culun juga?" tanya Adrian akhirnya.


"Gue nggak tahu. Kalo kita cek dia di panti gimana?" Dedi mengusulkan ide dengan ragu.


"Gue nggak berani, Dit. Gimana kalo Laura mengamuk pas lihat gue?" ucap Adrian yang tak berani.


"Ya, udah. Kita diemin aja masalah ini. Anggap aja nggak pernah terjadi apa pun," putus Dedi akhirnya.


"Tapi ini udah terjadi, Dit! Cepat atau lambat Laura pasti menuntut gue! Gue udah nggak butuh motor sport atau ponsel sekalipun!" erang Adrian yang terlihat putus asa.


"Elu tenang, Bro! Kita beri dia duit tutup mulut, masalah pasti kelar ," remeh Dodit.


"Lu yakin? Cewek kayak Laura mau diberi duit tutup mulut?" Adrian menatap Dodit ragu. Perbuatan mereka sudah kelewatan. Rasanya tak pantas diselesaikan dengan uang.


"Gue yakin dia mau. Kalo dia nolak, dia sendiri rugi. Kalo dia lapor sekolah, dia juga yang bakal rugi. Orang-orang nggak akan percaya sama dia, Bro!" papar Dedi yakin.


Mobil terus melaju menuju ke arah kota. Hingga siang berlalu, tanpa sadar Adrian sudah sampai di depan lorong sebuah panti asuhan.


"Rian, elu mau jenguk Laura?" tanya Dedi bingung.


"Gue nggak tahu. Kenapa gue nyetir mobil sampai ke sini," Adrian menghela nafas berat.


"Ya udah. Biar gue yang turun. Gue bakal ke panti, pura-pura beri bantuan," putus Dedi akhirnya.


Adrian hanya mengangguk setuju. Pikiran Adrian kalut tak tahu apa yang harus dia lakukan.


Dedi akhirnya keluar dari mobil.


Melangkah berjalan memasuki lorong sempit. Tak lama berjalan sampailah Dedi di depan sebuah panti asuhan sederhana. Tempat Laura di besarkan selama ini.


"Selamat siang, Bu," sapa Laura saat sampai di depan pintu panti asuhan. Suasana terasa sepi, mungkin karena anak-anak panti banyak yang sekolah.


"Siang, silahkan masuk," sahut ibu panti yang berdiri dan menyambut Dedi. Ibu panti segera menyilahkan Dedi untuk duduk.


"Kedatangan saya ke sini karena mau memberikan bantuan, Bu," ucap Dedi saat sudah duduk di sebuah kursi.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak atas bantuannya. Silahkan isi nama dan hajatnya di buku ini. InsyaaAllah akan kami bantu doakan ," kata ibu panti yang terlihat sumringah mendapatkan bantuan dana.


Dedi mengisi sembarang nama di buku pengunjung. Dia tidak mau ada jejak namanya di buku itu. Setelah mengisi buku, Dedi segera menyerahkan sejumlah uang pada ibu panti asuhan.


"Bu, boleh saya izin ke toiletnya?" pinta Dedi.

__ADS_1


"Oh, silahkan. Lewat pintu itu, lurus saja ke belakang," ibu panti tanpa curiga menunjukkan arah jalan pada Dodit.


"Terima kasih, Bu," ucap Dedi yang kemudian berdiri dan melangkah ke belakang.


Mata Dedi mengedar melihat seluruh sudut ruangan. Dia hanya ingin tahu apakah Laura sudah sampai panti asuhan atau belum.


Melewati ruang bermain, ada dua orang anak kecil yang sedang bermain boneka. Dedi tak sengaja menangkap pembicaraan mereka.


"Kak Laura nyebelin. Katanya mau nemenin kita main boneka. Tapi malah nggak pulang," cebik seorang anak kecil perempuan. Wajahnya tertekuk sedih.


"Iya, tadi Lana dengar waktu Ibu terima telepon dari kak Tiara. Katanya kak Laura lagi bobok di rumah kak Tiara," sahut anak kecil satunya yang sedang menyisir rambut boneka.


Dedi menarik segaris senyuman. Dia sudah dapat informasi tentang Laura. Dedi buru-buru permisi pulang pada ibu panti. Berjalan tergesa ke mobil di depan lorong.


"Rian, kita ke kost Tiara aja. Dia ada di sana," ucap Dedi saat sudah masuk ke dalam mobil.


"Tau dari mana lu?" tanya Adrian yang langsung menyalakan mesin mobil dan melaju ke jalanan.


"Tadi gue nggak sengaja dengar dari anak kecil yang lagi main. Cepetan kita temui Shabila aja," ujar Dedi.


"Oke, semoga dia mau menerima duit dari kita!" ucap Adrian penuh harap.


Mobil melesat cepat ke arah kost Tiara. Beberapa belas menit akhirnya mereka sampai di kost Tiara yang tampak sepi.


"Assalamualaikum," seru Dedi dari luar pagar yang terkunci.


"Wa'alaikumsalam," jawab mbok Darti yang tergopoh-gopoh dari belakang. Dia segera membuka kunci pagar dan membukakan pintu pagar.


"Ada yang bisa dibantu, Den?" ucap mbok Darti yang melihat dua orang remaja laki-laki berdiri kaku di dekat pagar.


"Mau apa lu berdua!" belum sempat Dedi dan Adrian menjawab, teriakan Tiara sudah terdengar. Tiara muncul dari pintu utama kost.


"Tiara, kita mau ngomong sama Laura," ucap Adrian memberanikan diri.


PLAAAKK!


PLAAK!


Dua tamparan keras mendarat di pipi Adrian dan Dedi. Kedua remaja laki-laki itu tampak terkejut dan memegang pipinya yang sakit.


"Itu nggak seberapa dibanding perbuatan kalian! Gila kalian berdua udah menghancurkan masa depan Laura," raung Tiara yang berdiri di hadapan Adrian dan Dedi.


"Elu nggak perlu emosi! Kita bakal tanggung jawab. Kita bakal beri duit yang banyak untuk Laura," ucap Dedi yang kesal pipinya di tampar.


Plak!


Plakkkk!


Dua buah tamparan kembali melayang ke pipi Adrian dan Dedi. Wajah Tiara memerah. Bisa-bisanya Adrian dan Dedi menilai seorang gadis dengan uang.


bersambung......


mw tau lanjut ceritanya ikuti novel nya setiap hari ya dan jangan lupa follow, komen jga ulasan nya biar semakin semangat nulis nya.


happy Reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2