
Di lain tempat, seorang pria tua berwajah bule baru saja turun dari tangga pesawat dikawal dua orang berpakaian hitam.
Pria tua itu meski berwajah asing karena berasal dari luar negeri, tapi tampak kumal dan tak terurus. Dia digiring ke sebuah mobil hitam.
Hingga setengah jam kemudian mobil hitam itu sampai di rumah Om Leon. Pria tua itu dibawa kehadapan Om Leon di sebuah ruangan.
Om Leon memperhatikan dengan seksama wajah pria tua yang diduga salah satu penculik Laura di saat bayi. Namun, karena sudah belasan tahun berlalu. Wajah pria dihadapannya ini hampir tak bisa dikenali. Hanya mata abu-abunya masih sama persis dengan mata penculik Laura.
"Pak, kami menemukan pria tua ini disebuah negara kepulauan terpencil. Dia selama ini bersembunyi disana. Bekerja sebagai peternak," papar anak buah Om Leon.
Om Leon mengangguk, dia berdiri dari kursinya dan melangkahkan kaki mendekati pria tua.
"Kamu salah satu dari mereka, bukan?" tanya Om Leon dengan tatapan mengintimidasi lawan. Om Leon menggunakan bahasa Inggris agar si pria tua mengerti.
Pria tua hanya mengangguk takut. Dia sudah dicecar pertanyaan oleh anak buah Om Leon sebelum ini. Tentu dia mengerti maksud pertanyaan Om Leon.
"Kalau begitu dimana bayi yang kalian culik waktu itu? Kembalikan dia pada kami keluarganya," suara Om Leon sedikit tercekat. Ada nada emosional dalam suaranya kali ini.
Membayangkan terpisah dengan buah hati selama belasan tahun. Orang tua mana yang sanggup!
"Sa... saya tidak ingat pastinya.
Saat itu setelah menculik, saya jatuh kasihan pada bayi perempuan itu. Akhirnya, saya tidak jadi mengantarkannya ke markas kami. Saya lari pergi sambil membawa bayi itu. Namun, saya hampir tertangkap. Karena itu saya meletakkan bayi itu di suatu tempat. Saya sertakan secarik kertas di selimut bayi bertuliskan namanya LAURA," papar pria tua itu menangis dan gemetaran.
Mencari Laura selama ini, tuan. Anda harus lebih dulu menemukan Laura sebelum mereka," timpal pria tua itu.
"Coba kamu ingat, mungkin ada ciri-ciri bangunan atau apa pada saat kamu meninggalkan Laura?" tanya Om Leon.
__ADS_1
Pria tua tampak diam dan berpikir keningnya tampak mengerut mengingat kejadian belasan tahun yang lalu.
"Waktu itu, saya melarikan diri di malam hari. Daerah itu jalannya sempit dan penerangan sangat minim. Saya bersembunyi di belakang rumah seseorang. Tapi, karena Laura menangis, saya hampir ketahuan. Bayi itu sepertinya kelaparan. Saya terus berlari malam itu di jalanan sempit dan becek. Hingga tiba disebuah rumah tua bercat putih, saya meletakkannya di depan pintu. Bayi itu diam saat saya letakkan disana. Lalu saya segera kembali berlari," jelas pria tua itu setelah beberapa saat berpikir.
"Hanya itu? Rumah tua bercat putih dan jalanan sempit?" cecar Om Leon mengejar pertanyaan.
"Hmm... Ohya di dekat pagarnya ada sebuah tulisan kalau tidak salah Panti Asuhan..." Pria tua itu coba mengingat kembali kejadian.
"Panti Asuhan apa?" Om Leon dan Tante Chacha kompak bertanya.
Pria tua itu tampak terkesiap Saat kedua orang dihadapannya, bertanya secara mengejutkan.
"Sa-saya tidak tahu, saya hanya ingat ada tulisan itu aja tapi tidak tahu lagi," tutur si pria tua.
"Lalu kamu benar-benar tidak ingat di daerah mana rumah tua itu?" tanya Om Leon lagi.
Om Leon dan Tante Chacha tampak diam dan berpikir.
"Kita harus menemukan Laura sebelum mereka yang menemukannya," sahut Tante Chacha.
"Selama ini pencarian kita menyebar ke berbagai negara. Karena kelompok mereka memang bukan berasal dari negara ini. Ternyata, Laura selama ini ada di negara ini," sahut Om Leon.
"Tuan tolong saya, saya kan sudah memberikan informasi yang sejujurnya pada anda. Tolong jangan bebaskan saya. Lindungi saya, Tuan. Selama ini saya hidup dengan ketakutan. Jika kelompok mereka mengetahui keberadaan saya, saya pasti sudah dihabisi," mohon si pria tua.
"Baiklah. Untuk sementara kamu disini. Kamu akan tetap diawasi selama disini," putus Om Leon yang kemudian memanggil anak buahnya dan membawa si pria tua.
Tak lama, Om Leon memanggil anak buahnya yang lain.
__ADS_1
"Iya, Pak!" sahut anak buahnya.
"Perkecil area pencaharian kerahkan seluruh orang kita. Cari ke semua panti asuhan di negara ini!" perintah Om Leon tegas.
"Baik, Pak!" sahut anak buahnya.
"Jangan lupa perbanyak foto Laura saat bayi. Setiap kalian harus membawa satu foto Laura," perintah Tante Chacha.
"Baik, Nyonya!" sahut serempak anak buah mereka.
Ruangan kembali hening, saat anak buah Om Leon telah keluar ruangan. Hanya tinggal Om Leon dan Tante Chacha.
"Jaringan kelompok penjahat itu tak memiliki banyak akses di negara ini. Mereka tak memiliki markas di negara ini. Tenanglah, kita akan menemukan Laura," ucap Om Leon menenangkan Tante Chacha.
"Saya pikir, Laura selama ini dibawa ke negara I atau negara lainnya, tempat markas mereka berasal. Ternyata pencaharian kita selama diluar negeri sia-sia," lirih Tante Chacha yang menyeka air matanya.
Sudah segala usaha mereka lakukan. Bahkan bekerjasama dengan pihak berwajib di negara asal penjahat. Tapi, tetap saja tak membuahkan hasil. Hingga Om Leon bergerak sendiri melakukan operasi senyap dengan anak buahnya.
"Saya yakin kejadian di toko bunga kemarin. Karena mereka pun sedang mencari Laura Mereka hanya menyebar anak buahnya disini. kebetulan sekali Athan keluar dari rumah," papar Om Leon.
"Sayang sekali, pihak berwajib datang terlambat saat itu. Tapi, syukurlah kita bisa mengatasi keadaan dan tidak ada korban jiwa," ucap Tante Chacha.
"Bagaimana jika gadis yang dilihat Athan benar-benar Laura? Bukankah ini kebetulan yang aneh? Nama sama dan wajah mirip? Jika dihubungkan dengan cerita si pria tua, rasanya semua masuk akal," jelas Om Leon.
"Bisa jadi. ayo kita ke toko bunga itu lagi," ajak Tante Chacha.
Om Leon mengangguk setuju. Lalu menarik jaket kulit yang tersampir di kursinya, mereka berdua melangkah keluar dari ruangan.
__ADS_1