
"Maaf," ucap Adrian yang tak tahu lagi mau bicara apa.
"Maaf aja yang lu bisa! Pinggirin nih mobil," rutuk Laura
"Mau apa?" tanya Adrian.
"Pinggirin!" seru Laura
"Iya, ini gue pinggirin. Aelah, marah mulu lu. Awet tua entar!" rutuk Adrian.
Mobil segera berhenti saat di pinggir jalan.Laura yang memang sudah sangat marah, langsung melampiaskan emosinya ke Adrian.
"Rasain lu ya! Biar lu tahu menderitanya gue gara-gara lu," jerit Laura mulai menarik rambut Adrian menjewer telinga Adrian dan memukul bahu Adrian sampai ngos-ngosan.
Adrian hanya bungkam. Kali ini dia tidak menjerit. Dia hanya menerima jambakan dan pukulan Laura. Apalagi terdengar isak tangis Laura yang sepertinya sedang mengeluarkan seluruh emosi dalam hatinya.
"Udah?" tanya Adrian saat Laura berhenti memukulnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Udah. Jalan sekarang!" sahut Laura yang menarik nafas dalam-dalam. Lalu mengambil tisu dan mengelap air matanya. Laura merasa lebih lega setelah memukul Adrian, entah mengapa. Beban di hatinya jauh berkurang setelah melampiaskan pada Adrian.
"Gue benci lu Adrian! Sangat membenci elu!" tekan nya yang emosinya sering tidak stabil.
Adrian segera menjalankan mobilnya. Dia akan mencari warung-warung kecil. Adrian hanya diam, mendengarkan ucapan Laura. Tak lama, Adrian melihat sebuah warung kecil di jalanan yang tak terlalu luas
"Ra, itu warung. Kita belanja di situ?" tanya Adrian mencairkan suasana.
"Iya! Ayo turun!" sahut Laura ketus. Mulutnya masih mengerucut kesal Laura sendiri kadang bingung dengan dirinya. Kenapa begitu menggebu dan emosi saat bertemu Adrian.
Mereka kemudian memborong beras, tepung, minyak sayur bahkan sabun. Ada lima warung kecil yang mereka borong belanjaannya.
__ADS_1
"Segini banyak cuma habis tiga juta ya?" tanya Adrian yang masuk ke dalam mobil setelah mereka belanja.
"Iya. Bagi lu kecil. Bagi kami ini besar," celetuk Laura
"Ya udah. Kita bagi-bagi sekarang ya," ajak Adrian.
"Iya, ayo," setuju Laura
Mereka berdua kemudian mendatangi perkampungan kumuh. Memberi setiap rumah beras, tepung dan kebutuhan lainnya. Adrian tak lupa menyelipkan uang di setiap bungkusan tepung.
Hingga sore tak terasa Laura dan Adrian terlihat akur saat membagikan berbagai bahan pokok pada orang-orang tak mampu.
"Ra elu benar juga, Rasanya hepi banget bisa berbagi dengan orang-orang. Elu lihat nggak binar mata mereka waktu gue kasih sekarung beras, mereka seperti bahagia banget.
Bahagianya mereka tuh menular ke gue," ucap Adrian senang saat mereka sudah kembali ke dalam mobil.
"Tuh kan. Kalo elu lagi ada masalah atau sedih, elu berbagi aja. Lihat banyak orang yang lebih nggak beruntung dari elu. Lihat tadi bahkan ada yang rumahnya dari kardus, atap rumahnya nggak ada. Dia membuat rumah kardus di bawah jembatan biar nggak kehujanan," papar Laura
"Sama-sama. Udah anter gue balik. Entar lagi magrib," pinta Laura
"Okey, lu tunjukkan aja jalannya ," sahut Adrian.
"Iya," jawab Laura
Mereka akhirnya melajukan mobilnya. Hingga sebelum magrib, Laura sudah sampai di depan rumah tante Sri.
"Gue turun ya. Mampir aja lu ke masjid depan sana. Jangan nggak sholat lu," celetuk Laura sambil melepaskan seat belt.
"Iya, gue bakal mulai rajin sholat. Ohya, ini belanjaan untuk lu jangan lupa," sahut Adrian sambil mengambil beberapa kantong belanjaan dari kursi belakang.
__ADS_1
"Makasih ya. Assalamualaikum," pamit Laura membuka pintu mobil.
"Wa'alaikumsalam," sahut Adrian.
Laura segera melangkah ke rumah tante Sri. Sementara Adrian memperhatikan sampai Laura masuk rumah. Barulah Adrian melajukan kembali mobilnya.
"Bagus! Jam segini kamu baru balik! Darimana kamu? Turun dari mobil mewah ya, sambil bawa kantong belanjaan?" hardik tante Sri saat Laura masuk ke rumah.
Laura terkejut dia pikir tante Sri akan kembali besok.
"Tante... Om... maaf. Laura pikir Om dan Tante balik ke rumah besok," ucap Laura dengan gemetar.
"Oh, jadi kalo kami nggak di rumah, kamu bebas ke mana aja, iya? Sama Om-om mana kamu, heh?" murka sang suami tante Sri yang sudah bercakak pinggang.
"Nggak, Om. Tadi itu teman Laura" sahut Laura yang takut mendengar suara om yang menggelegar.
"Ah, mana mungkin teman memberi baju sebanyak ini, mahal lagi! Mau bohongin kami kamu ya!" sembur tante Sri menarik paksa kantong belanjaan Laura dan melemparnya ke lantai.
Laura mundur satu langkah. Dia semakin merasa terancam. Wajah Om dan tante tak bersahabat sama sekali.
" Laura nggak bohong, Tante. Itu memang teman Laura yang beliin," ucap Laura dengan perasaan cemas.
"Masih nggak mau ngaku kamu ya! Dasar perempuan nggak benar! Lepas aja jilbab kamu!" tuduh tante Srii yang menarik jilbab Laura.
"Jangan, Tante," ucap Laura histeris berusaha mempertahankan jilbabnya.
Tapi, tenaga Laura kalah dengan tenaga tante Sri.
suami dan Tante Sri terkejut, saat jilbab sudah terlepas. Terlihat perut Laura yang sedikit menyembul dari bajunya.
__ADS_1
Laura makin ketakutan. Kakinya kembali mundur ke belakang.
" LAURA..... kamu hamil ya!" jerit tante Sri.