
Adrian baru saja sampai di kelas. Dia melirik sekilas Laura yang mulai mengeluarkan bukunya. Gadis itu memang sangat rajin belajar. Saat remaja lain mencari hiburan dengan bermain game atau jalan-jalan. Hiburan Laura justru berbeda, dia lebih memilih menyelesaikan soal-soal rumit yang sulit dikerjakan siswa biasa.
Adrian segera duduk di kursinya berada didekat dinding ujung. yang Meletakkan tas diatas meja. Rasanya tak nyaman saat dia bertengkar dengan laura, Adrian memutar otak agar bisa menegur Laura.
Adrian segera membuka tasnya. Mengambil sebuah buku lesnya. Adrian memang meminta Laura menjadi guru lesnya semenjak Laura tak bisa lagi mengajar rombongan Soni, muridnya.
"Ra, gue mau minta ajarin soal yang ini. Masih belum paham," ucap Adrian yang sudah berdiri disamping meja Laura.
"Bukannya kemarin sudah gue jelasin panjang lebar?!" sahut Laura mendongakkan wajahnya.
Mengernyit heran menatap Adrian.
"Iya, tapi gue lupa lagi," ceplos Adrian asal.
"Ck, makanya jangan kebanyakan main game. Nggak baik! Bisa bikin nggak konsentrasi belajar," omel Laura.
"Iya, maaf. Guru gue satu ini ngomel mulu," canda Adrian.
Laura hanya melotot kesal dan mulai mengajari Adrian Matematika. Adrian berpura-pura fokus memahami penjelasan Laura. Padahal dia sebenarnya sudah paham dari kemarin.
"Adrian, elu dipanggil guru olahraga tuh," ucap Angel yang baru datang ke kelas. Dia menghampiri Adrian yang sedang belajar bersama si cupu.
Tak Terasa beberapa menit mereka belajar, teman-teman mereka mulai berdatangan.
"Di panggil kenapa gue?" tanya Adrian.
"Mana gue tahu. Udah buruan lu sana ke ruang guru," jawab Angel.
"Ck, iya gue ke sana. Oh ya Ra, makasih ya. Udah paham gue sekarang pelajaran yang ini," ucap Adrian tersenyum pada Laura
Sementara Laura hanya mengangguk. Sedangkan Angel menahan emosinya selama Adrian masih ada disitu.
Adrian kemudian berdiri dan pergi dari kelas. Mata Angel menyorot tubuh Adrian hingga tak terlihat lagi dari pandangan.
"Eh, Cupu. Gue udah sabar banget ya selama ini sama lu! Tiap hari elu ikut mobil cowok gue karena alasan kaki lu yang kecelakaan. Tapi, elu jangan rebut juga dong perhatian cowok gue!" omel Angel bercakak pinggang.
"Ngomong apa sih lu! Kalo lu merasa nggak diperhatikan Adrian, seharusnya lu ngomong dengan Adrian. Bukan sama gue. Lagian Rian cuma minta ajarin matematika, kok," jelas Laura.
"Gue kasih peringatan sama lu ya! Jangan coba-coba elu ngerebut cowok gue. Kalo nggak, gue nggak akan segan-segan sama lu," ancam Angel sambil menunjukkan jarinya ke wajah Laura
"Nggak usah ngancem lu. Gue nggak takut sama lu," Laura berusaha tetap berani. Tasnya dia letakkan didepan perut Laura takut Angel menyadari perubahan tubuhnya.
"Heh, balik lu ke meja lu. Nggak ada kerjaan banget. Orang habis kecelakaan juga malah lu omel-omelin," labrak Tiara yang menghalangi Angel.
Tiara berdiri tepat dihadapan Laura sehingga menghalangi pandangan Angel pada Laura.
"Ck, Minggir lu. Gue belum puas ngomongin temen lu yang nggak tahu diri ini," rutuk Angel.
__ADS_1
"Hei, teman-teman. Coba lihat itu diluar. Kayaknya Dedi deh. Dia akhirnya sekolah juga," celetuk Ikhwan melihat arah luar dari jendela kaca.
"Mana... mana..." murid-murid pada heboh melihat dari jendela kaca kelas. Membuat perhatian Angel terpecah. Dia jadi ikut menoleh keluar kelas.
"Tadi gue sempat ketemu di jalan. Dia naik motor matic gaes," celetuk salah satu teman mereka.
"Masak sih? Nggak mungkin bingits. Seorang Dedi naik motor? Please deh, harga baju kaosnya aja seharga motor," celetuk yang lainnya lagi.
"Gue denger sih, Dedi, Adrian dan Revan semenjak kejadian dengan dua penipu itu. Ekonomi keluarga mereka terguncang. Bokap Adrian aja, harus melepas dua perusahaannya terus Dedi kabarnya beberapa rumah mereka disita negara belum termasuk aset lainnya," papar salah satu teman mereka.
"Waduh, jatuh dong usaha mereka. Turun ya jumlah kekayaan mereka," cetus yang lainnya.
"Angel, elu masih mau sama Adrian. Tuh, bisnis keluarga mereka mulai berjatuhan," celetuk Nurul melihat Angel yang berdiri di dekatnya.
"Apaan sih lu? Resek banget," ucap Angel tak suka. Dia kemudian kembali ke kursinya.
Sementara Dedi sudah mulai melangkah mendekati kelasnya. Semua teman-teman mereka kembali ke tempat duduknya. Seolah-olah tidak terjadi kehebohan apa-apa.
Dedi memperhatikan seisi kelas, saat sampai didepan pintu kelas. Semua mata berpura-pura tak melihatnya.
Dedi mendengus kesal dia ke sekolah karena dipaksa mamanya sekolah. Sebenarnya, dia malu pergi ke sekolah. Apalagi cuma naik motor. Sepatu dan tasnya pun berubah. Tak lagi menggunakan merek terkenal.
Dedi melangkah ke kursinya, Sementara teman-temannya memperhatikan penampilannya dari arah belakang Dedi. Melihat hampir tak percaya. Orang super kaya bisa jatuh seketika.
"Kalo Allah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Mengerikan, baru balasan di dunia belum akhirat ," bisik Tiara pada Laura yang bergidik ngeri sendiri.
"Ssssttt... semoga mereka menyadari kesalahan mereka setelah ini. Manusia tak boleh sombong dengan harta. Yang berhak sombong hanya Allah," cetus Laura berbisik pelan.
Dedi yang merasa tak nyaman, mengirim pesan pada Adrian dan Revan menanyakan keberadaan mereka.
"Kenapa lu semua aneh pagi ini. Ada yang salah sama gue?" rutuk Dedi sendiri sambil mengawasi seisi kelas.
Tak ada yang menjawab. Semua hanya menoleh sekilas lalu kembali menekuri buku masing-masing. Berpura-pura sibuk.
"Angel, lu apa-apaan sih! Nggak ada guru yang manggil gue. Bikin malu aja lu," omel Adrian saat kembali ke kelas.
"Hah, tadi elu dipanggil kok. Apa gue salah inget nama ya," sahut Angel berakting.
"Resek lu. Lainkali nggak mau lagi gue denger omongan lu. Nggak percaya gue," sembur Adrian yang berdiri didepan meja Angel.
"Maaf, Yank. Kayaknya gue salah nama deh. " ucap angel.
"Rian, ayo duduk. Mana Revan?" tanya Dedi.
Adrian segera menghampiri Dedi dan duduk dekat Dedi
"Telat kali. Akhir-akhir ini macet terus jalanan," sahut Adrian.
__ADS_1
"Iya, sih. Ada tugas nggak? Nyontek dong," pinta Dedi.
"Ada, bentar gue ambilin buku gue," ucap Adrian yang segera membuka tasnya dan mengambil buku tulisnya.
Dedi segera membuka buku Adrian dan memperhatikan jawaban Adrian yang terlihat benar.
"Kayaknya jawaban elu bener nih. Soalnya panjang jawaban lu. Biasanya juga pendek banget, asal jawab," ceplos Dedi
"Iyalah, betul itu. Gue sekarang les privat sama Laura," sahut Adrian.
"Oh!" jawab singkat Dedi yang segera menulis ulang jawaban Adrian.
Tak lama, Revan datang. Sahabat mereka satu itu, ternyata memang terkena macet.
"Macet, Bro?" sapa Adrian menyunggingkan senyum.
"Banget, Bro. Mana gue pake mobil butut lagi. Semua mobil lambo gue udah dijual buat tambahan modal usaha Nyokap Bokap," keluh Revan yang duduk di kursinya dan menarik nafas lelah.
"Bersyukur lu, bro. Lihat gue pake motor matic,"Dedi menimpali sambil tetap menulis tugas sekolah.
"Eh, beneran ucapan lu semalam waktu kita maen game. Mau naik motor? Kirain lu bercanda doang. Tau gitu gue jemput ke rumah lu," ucap Revan.
"Jauh rumah gue. Sekarang gue tinggal di komplek perumahan tipe 36 gitu. Duh panas banget dah, kecil banget rumahnya. Kayaknya besarnya cuma setengah dari kamar gue dulu deh," keluh Dedi.
"Sabar ya, Bro. Mulai besok kita bertiga naik motor semua aja gimana?" usul Ivan.
"Wah, gue nggak bisa, Bro. Gue antar jemput Laura Kasihan dia," sahut Adrian mengedipkan mata memberi kode pada kedua temannya.
"Oh iya. Elu kan jiwa sosialnya tinggi. Kita ngerti kok," sahut Dedi yang menyadari maksud Adrian.
Mereka tentu tak mau ada yang curiga. Apa yang sebenarnya terjadi. Laura juga tak mungkin mengungkapkan ke pihak sekolah, dia juga takut dikeluarkan dari sekolah.
"Bro, elu ngerjain apa? Ada tugas sekolah ya?" tanya Revan panik.
"Elu pikir gue kerajinan belajar Nyontek Lah, Bro. Buruan sini, nulis bareng gue," jawab Dedi.
Ivan segera mengambil bukunya dan segera menghampiri Dedi. Dengan kekuatan tangan super cepat, menyalin tugas sebelum bel masuk berbunyi.
Hingga bel masuk akhirnya berbunyi, mereka akhirnya selesai mengerjakan tugas.
Pagi ini, guru bahasa Indonesia sudah memasuki kelas mereka. Semua murid segera mengucapkan salam dan berdoa bersama sebelum memulai pelajaran.
Guru mulai menjelaskan pelajaran di papan tulis. Semua murid berusaha fokus mendengarkan dan memperhatikan pelajaran. Kecuali Dedi Revan dan Adrian yang mengantuk.
"Dedi, Revan dan Adrian pergi ke toilet. Cuci muka kalian! Masih pagi, sudah pada menguap," perintah sang guru yang menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ketiga muridnya.
"Baik, Bu," jawab mereka bertiga kompak. Mereka keluar dari kelas.
__ADS_1
Tapi, bukannya ke toilet, kaki mereka justru melangkah ke kantin sekolah.
"Mana ilang ngantuk gue cuma cuci muka. Bakso nih baru ilang ngantuk gue," ucap Dedi menyunggingkan senyum lalu memesan bakso.