
"Elu mau ke mana?" tanya Adrian masih mengikuti Laura. Dia tak peduli dengan ucapan Laura tadi.
"Ke mana aja, ngapain lu nanya! Eh, ngapain sih elu ngikutin gue! Nggak ada kerjaan lu!" sewot Laura yang tiba-tiba berhenti dan berbelok arah jadi berhadapan dengan Adrian.
Adrian segera menghentikan langkahnya cepat. Sebelum dia menabrak tubuh Laura yang berdiri tepat di hadapannya.
"Gue cuma pengen tahu, elu ke mana? Cuma itu, kok!" gumam Adrian yang penasaran.
"Dih, elu bukan siapa-siapa gue! Pergi lu!" usir Laura dengan wajah cemberut tak bersahabat.
Percuma dia baik, Adrian juga tak akan bertanggung jawab pada anak yang dikandungnya. Percuma juga dia menuntut, Adrian tetap tak mau bertanggung jawab atas kelakuannya. Laura lelah, biarlah semua berjalan apa adanya.
"Lu marah sama gue?" tanya Adrian.
"Pikir sendiri! Otak lu dipake makanya! Udah sana lu, risih gue lihat lu!" Laura kembali mengusir Adrian.
Laura kembali berjalan. Tapi, Adrian masih mengikuti. Tak mengindahkan ucapan Laura yang mengusirnya tadi.
"Apa sih mau lu?" Laura menghentakkan kakinya kesal. Setiap melihat Adrian, emosinya meluap hingga ke ubun-ubun kepala.
Adrian menghela nafas melihat Laura yang tak senang melihat dirinya. Tatapan mata Laura 180 derajat berbeda dari yang dulu.
"Gue nggak mau apa pun. Cuma pengen tahu elu mau ke mana?" lirih Adrian lemah. Hati Adrian mencelos. Gadis di hadapannya ini seperti bukan Laura. Dia berubah, Hanya ada tatapan benci.
Rasanya dia tak terima saat Laura berubah. Adrian ingin Laura tetap memandangnya dengan penuh puja sama seperti dulu. Sebelum tragedi itu terjadi.
Lauraa mendengus kesal mendengar jawaban Adrian, Lauraa kembali berjalan. Kali ini, dia mencoba tak peduli. Menganggap Adrian tak ada. Dulu, dia sibuk mengekori langkah Adrian dengan hati berdebar senang, sekarang Adrian yang sibuk mengekori langkah kaki Laura
Laura berjalan cepat ke arah rumah Soni. Jarak satu rumah lagi dia sampai.
"Elu berhenti sampai di sini!" seru Shabila berbalik arah dan tangannya memberi isyarat pada Adrian agar berhenti.
"Kenapa?" tanya Adrian mengernyitkan kening.
"Gue mau ke rumah itu! Elu jangan ngikutin gue," jelas Laura menunjuk rumah Soni.
"Gue ikut aja. Gue mau tahu kegiatan lu," sahut Adrian enteng.
"Apa? Elu sekarang bekerja jadi petugas pemeriksa pekerjaan penduduk, hah? Kurang kerjaan banget lu," hardik Laura yang melototkan matanya.
__ADS_1
Entahlah, Laura sungguh berani tak ada rasa takut pada Adrian. Mungkin pengaruh janinnya, dia merasa lebih berani.
"Ya udah. Elu jawab dong, ngapain lu ke situ?" tekan Adrian yang kekeh bertanya pada Laura.
"Gue mengajar private di situ. Elu lihat buku sekolah ini, gue mau balikin ke anak murid gue!" jelas Laura sambil menunjukkan buku yang ada di tangannya.
"Oh, lu sekarang mengajar les gitu! Okey, gue ngerti," Adrian mengangguk paham.
Beberapa bulan tak bertemu, Adrian sungguh tak tahu apa yang terjadi pada Laura Apa yang sudah dilalui gadis itu selama ini, bahkan dia lupa pada Laura
"Ya udah. Kalo lu udah ngerti! Udah pergi sana. Ngapain masih di sini?" hardik Laura heran melihat Adrian masih berdiri di hadapannya.
"Gue tungguin lu di sini! Udah lu ke sana, tapi jangan lama," ucap Adrian.
"Hah..." Laura menggantung kalimatnya. Dia menghela nafasnya frustasi.
"Mau lu apa? Elu mau tanggung jawab sama gue! Sama anak yang gue kandung! Hayuk, kalo gitu!" tantang Laura bercakak pinggang. Dia sudah tak tahan melihat wajah Adrian. Muak!
"Gue mau ngobrol sama lu!" ucap Adrian.
Entah mengapa, Adrian ingin bertemu lebih lama dengan Laura. Ingin menceritakan segalanya. Dia butuh tempat cerita. Meski Laura membenci dirinya. Tapi, entah mengapa Adrian justru tetap nyaman di dekat Laura. Dulu, saat Laura begitu mencintainya, dia malah ingin menjauhi Shabila. Risih dengan Laura Sekarang terbalik, Laura yang risih dengan kehadirannya.
"Please, mau ya!" pinta Adrian memohon dengan wajah memelas.
"Enggak mau!" tegas Laura dengan wajah tak ramah.
"Orang tua gue mau bercerai! Gue butuh tempat cerita, Ra!" lirih Adrian lemah. Dia akhirnya harus berkata jujur tentang apa yang terjadi. Dia butuh seseorang untuk berbagi.
"Orang tua lu mau cerai, serius? Jangan main-main!" sahut Laura tak percaya.
Adrian mengangguk lemah." Ngapain gue main-main tentang orang tua gue?!" gumam Adrian.
Hening beberapa saat. Laura tak menyangka kalau orang tua Adrian akan bercerai.
"Jadi... elu nggak masuk sekolah selama ini, apa karena masalah ini? Bukan karena elu menghindari gue?" tanya Laura ingin tahu.
Untung perumahan elit itu sepi. Tak terlihat orang lewat sama sekali. Mereka berdua masih berdiri di pinggir jalan. Tak jauh dari rumah Soni, murid Laura.
Adrian menggeleng lemah. "Gue nggak menghindari elu. Gue stress, melihat kelakuan Nyokap Bokap gue," erang Adrian.
__ADS_1
Laura terdiam. Meneliti wajah Adrian yang sepertinya memang punya masalah.
"Ya, udah. Elu tungguin di sini. Gue ke rumah itu sebentar. Mau balikin ini buku," putus Laura akhirnya.
"Oke makasih ya Ra," Adrian mengangguk. Dia lega Lauraa mau mendengarnya.
Laura hanya mengangguk. Lalu berjalan kembali ke arah rumah Soni. Sementara Adrian memilih duduk di pinggir jalan sambil menunggu Lauraa.
Laura memencet bel pagar rumah. Tak lama asisten rumah muncul. Laura tersenyum dan dibalas senyuman pula.
"Assalamualaikum, Bi. Soni ada ?" tanya Lauraa
"Wa'alaikumsalam. Den Soni nggak ada. Mereka lagi jalan-jalan sekeluarga. Kan hari minggu. Laura, kenapa ke sini?" tanya si Bibi.
"Oh gitu. Ini buku Soni terbawa sama Lauraa. Sepertinya Lauraa kemarin nggak fokus deh. Lauraa maau balikin buku ini," ucap Laura
"Oh, buku Den Soni. Entar Bibi sampaikan ya. Sepertinya mereka pulang sore," sahut si Bibi yang mengambil buku dari tangan Laura.
"Makasih, Bi. Tolong sampaikan maaf saya, beneran nggak sengaja," pinta Laura
"Santai aja. Kemarin sabtu, Den Soni nggak sekolah. Gurunya ada kegiatan apa gitu, cuma datang absen nama, terus pulang deh. Bibi tahu, karena Bibi yang antar Den Soni kemarin sekolah," papar si Bibi.
"Alhamdulillah. Berarti nggak kumpul tugas sekolah kemarin ya?" ucap Laura yang lega mendengar cerita si bibi.
"Enggak, tenang aja. Mau masuk dulu enggak? Kita ngobrol di dalam," tawar si Bibi.
"Makasih, Bi. Laura pulang aja. Mau belajar untuk persiapan ujian akhir," jawab Laura berbohong.
"Ya udah. Hati-hati di jalan. Trotoar lagi perbaikan, soalnya banyak yang rusak," cetus si Bibi.
"Iya, Bi. Terima kasih. Assalamualaikum," pamit Laura.
bersambung.....
jangan lupa follow, like dan komen
happy readingš„°
"Wa'alaikumsalam," sahut si Bibi yang kembali mengunci pintu pagar dan masuk ke dalam.
__ADS_1