TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
004


__ADS_3

"Oh, mereka bertiga ya. Gimana ya, mereka bertiga salah sih, tapi lebih salah bapak sama dua penipu itu menurut gue," papar Tiara.


"Iya, gue mau kirim pesan ke Adrian. Tapi, gue takut ganggu," ucap Laura.


"Kirim aja lagi. Biar dia merasa lebih kuat. Setidaknya ada elu yang masih perhatian ke dia. Kali aja dia bakal tanggung jawab sama kehamilan elu kalo tau baiknya elu," usul Tiara.


"Gitu ya. Ya udah gue kirim pesan dulu," putus Laura m


[Assalamualaikum, Rian. Elu dimana? Apa kalian bertiga baik-baik aja? Gue harap kalian baik-baik aja. Ohya, asisten rumah lu tadi udah datang. Makasih uangnya]


Laura mengirim pesan ke nomor Adrian. Sebenarnya Laura tak ingin menerima uang tersebut. Tapi, melihat situasi yang terjadi saat ini. Lebih baik dia menerima saja uang itu. Tak perlu memperpanjang masalah.


[Wa'alaikumsalam. Makasih udah nanyain kabar gue, Ra. Kita bertiga baik-baik aja. Sekarang lagi ditempat pengacara. Kita males pulang ke rumah orang tua. Makasih juga akhirnya elu mau menerima duit dari gue. Jaga diri elu baik-baik. Doain ya biar kita nggak sampe di penjara]


Adrian membalas pesan Laura membaca balasan pesan Adrian, membuat Laura tersenyum. Dia kembali membalas pesan Adrian.


[Jangan lupa sholat ya. Minta tolong sama Allah. Cuma Allah yang bisa menolong kalian bukan uang apalagi kekuasaan. Semangat ya, Rian]


Laura membalas pesan dan diakhiri dengan emoticon senyum, membuat Adrian yang membacanya ikut tersenyum. Setidaknya hatinya terhibur ditengah tekanan publik dan bayang-bayang ketakutan akan status hukum mereka.


[Iya, gue bakal inget pesan elu. Barusan gue sholat Isya. Makasih sudah mengingatkan]


Adrian memberikan emoticon tersenyum juga diakhir pesannya. Dia kesulitan tidur malam ini, sementara obat tidurnya tidak dia bawa.


[Pantes nggak bales beberapa menit. Ih... harus ya di ingetin dulu, baru sholat]


Sebuah pesan kembali masuk ke hape Adrian. Tiba-tiba Adrian merasa kangen di omelin Laura, bahkan kangen di jambak dan di pukul oleh Laura.


Rasanya lebih baik dia di pukul Laura setiap hari daripada harus menghadapi situasi seperti saat ini.


[Iya, ingetin gue terus ya, hehehe! Udah malem, tidur Ra, Besok elu mesti sekolah pagi]

__ADS_1


Pesan Adrian yang langsung dibaca oleh Laura Tak ada lagi balasan dari Laura Sepertinya Laura benar-benar menurut.


Sementara di tempat pengacara, keluarga Dedi, keluarga Revan dan keluarga Adrian datang malam ini. Anak-anak mereka tak mau pulang. Maka mereka yang mendatangi anak-anak mereka.


Plakkk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dedi hingga pipi Dedi terlihat merah dan berbentuk telapak tangan.


"Anak kurang ajar! Papa besok dipanggil dewan kehormatan gara-gara kamu. Keluarga kita di sorot oleh semua orang. Bikin malu aja!" marah sang Papa.


Sementara Mama Dedi menangis dan memeluk anaknya. Dia melindungi Dedi gar tak kembali ditampar papanya.


"Sudah, Pa! Ini semua salah kamu. Kenapa anak bisa jadi begini, seharusnya kamu sadar," jerit sang Mama.


Lalu Papa Dedi terduduk lemas di sofa. Dia mengendurkan dasinya. Dia terlihat begitu frustasi.


Sementara di ruang satunya, Mama dan Papa Adrian juga menemui Adrian.


"Mama juga malu. Keluarga besar kita bahkan sampai menghubungi mama tidak berhenti seharian ini," lirih sang Mama.


"Mama dan Papa mau menyalahkan siapa? Rian, hah? Siapa yang duluan membuat skandal, hah? Seharusnya Mama dan Papa berpikir sebelum bertindak. Jangan egois. Coba kalo kalian nggak macem-macem, nggak mungkin kami ujuk-ujuk memukul dua penipu itu," tekan Adrian.


"Maafin Mama, Rian. Mama salah," lirih sang mama.


"Papa juga salah. Maafin Papa. Masalahnya sekarang, kita sudah tidak bisa menegakkan kepala kita lagi. Semua orang sudah tahu bobrok keluarga kita. Papa malu, saham kita juga turun hari ini," ungkap sang Papa.


Mama dan Papa Adrian tampak sangat terpukul dengan semua pemberitaan. Apalagi keluarga mereka tidak pernah terendus berita jelek selama ini.


Sepertinya hanya keluarga Revan yang paling bisa berpikir dengan kepala dingin.


Mama Ivan memeluk sang anak dan menanyakan dengan lembut apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Papanya hanya duduk dan mendengarkan cerita versi Revan.

__ADS_1


"Ma, Pa, tolong Revan dan teman-teman. Kami terdesak saat itu. Karena ketahuan mereka, makanya Dedi menghajar mereka berdua," papar Ivan di ujung ceritanya. Dia memohon pertolongan kedua orang tuanya.


Papa Revan menghela nafas Kali ini kehebohan bukan hanya di media. Tapi menggemparkan perusahaan mereka. Para penanam saham bahkan meragukan kredibilitas dirinya. Jika mengurus seorang anak saja tidak becus, bagaimana mengurus sebuah perusahaan besar?


"Mama dan Papa akan berusaha yang terbaik buat kamu. Papa akan berbicara dulu dengan pengacara," putus papanya.


"Bukan cuma buat Revan, Pa. Tapi untuk kami bertiga Revan, Adrian dan Dedi," sahut Revan yang memang sangat setia kawan pada teman-temannya.


Papanya mengangguk dan menarik nafas yang terasa berat. Dia berdiri dari duduknya dan menepuk pelan bahu anaknya. Kemudian melangkah ke ruang pengacara mereka.


Ketiga orang tua Adrian, Dedi dan Revan sudah berkumpul di hadapan pengacara. Mereka mendengarkan laporan dari pengacara kondang tersebut.


"Saya akan usahakan yang terbaik buat anak-anak bapak dan ibu. Bagaimana pun mereka masih anak-anak. Pikiran mereka masih labil. Saya akan berusaha maksimal menangani kasus ini," papar sang pengacara.


"Tolong usahakan jangan sampai anak kami di penjara," ucap Mama Revan.


"Tolong pastikan kedua penipu yang bakal dimasukkan ke dalam penjara," tekan Papa Adrian.


"Kami ingin anak-anak kami bebas. Mereka hanya emosi sesaat," cetus Mama Dedi.


"Jabatan saya saat ini sedang digoyang karena kasus ini. Saya sungguh cemas. Saya benar-benar meminta tolong pada bapak untuk membantu kami keluar dari kasus ini ,"mohon Papa Dedi.


"Saya mengerti anak bapak juga bercerita dia sempat mendapat tendangan juga dari N. Maka, tadi kami sudah cek visum. Setidaknya kita juga punya bukti bahwa N juga melukai Dedi. apalagi banyak sekali bukti yang dikumpulkan anak-anak bapak dan ibu. Termasuk foto dan video kalian sedang bersama F dan N ," papar pengacara kondang tersebut.


Ketiga pasang orang tua tampak terdiam dan malu. Kelakuan mereka yang tidak patut di contoh sudah diketahui.


"Saya harap kasus ini bisa menyadarkan bapak dan ibu untuk lebih perhatian pada anak dan tidak egois mencari kesenangan diluar. Bagaimanapun keluarga adalah tempat ternyaman bukan untuk pulang?!" nasihat pengacara tersebut.


Semua terdiam, Terutama orang tua Adrian dan Papa Dedi Mereka benar-benar malu.


"Saya akan mengusahakan agar kedua penipu mendapatkan hukuman dan anak-anak tidak mendapat hukuman. Saya mohon doa dan kerjasama bapak dan ibu sekalian," sambung sang pengacara.

__ADS_1


__ADS_2