TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
sambungan yang ke 4


__ADS_3

"InsyaaAllah. Setidaknya hati lu tenang. Gue udah di fase merasa tenang dan menerima masalah gue. Meskipun gue benci banget kalo ketemu elu," jujur Laura


Adrian menoleh dan melihat Shabila dari samping.


"Gue pasrah, Adrian! Gue serahkan semua sama Allah. Masalah gue juga berat. Gue yatim piatu dan hamil di luar nikah. Gue nggak punya apa pun untuk kehidupan anak gue di masa depan," tutur Laura.


"Gue bakal bantu lu. Gue bakal beri lu uang biar elu nggak kesusahan di masa depan," putus Adrian.


Laura tersenyum getir, Lalu tertawa sedih. Adrian masih belum berubah.


"Kapan sih elu sadar, hah? Nggak semua hal bisa selesai dengan uang, Rian! Coba deh dibalik, seandainya elu itu gue. Gimana perasaan elu, kalo laki-laki yang menghamili elu nggak tanggung jawab dan cuma mau kasih lu duit aja?" tanya Laura


Adrian terdiam. Dia menghela nafas.


Berat rasanya memikirkan segala yang terjadi saat ini.


"Gue nggak siap jadi seorang bapak, Bila. Masalah gue sekarang aja udah berat," papar Adrian.


"Okey, terserah lu. Gue nggak bisa maksa elu, sekeras apapun usaha gue, percuma!" Laura menyerah.


"Biarkan gue menyelesaikan masalah dengan orang tua gue. Setelah itu, gue akan selesaikan masalah kita," pinta Adrian.


"Dengan apa? Dengan uang?" cibir Laura.


"Cuma itu solusi dari gue saat ini ," tutur Adrian.


Laura dan Adrian kemudian sama-sama terdiam. Mereka berusaha menikmati keindahan pantai.


"Den, mau beli kelapa muda nggak? Bapak jual kelapa muda," tawar seorang bapak tua yang menghampiri Adrian dan Laura.


"Ra, elu mau kelapa muda?" Adrian menoleh pada Laura.


"Boleh, gue mau," putus Laura mengangguk setuju.


"Pak, kelapa mudanya dua ya," ucap Adrian.

__ADS_1


"Iya, Den. Ditunggu ya," cetus bapak penjual kelapa muda sumringah. Ada pembeli yang mau membeli dagangannya. Dia segera berjalan cepat ke arah tempat dagangannya.


"Elu udah cek kandungan belum? Apa ya namanya? hmm... yang bisa lihat jenis kelamin itu?" Adrian tampak mengingat-ingat.


"USG namanya," jawab Laura.


"Nah, iya itu! Apa jenis kelamin bayinya?" tanya Adrian yang tetap tak bisa menyebut bayi kita.


"Gue nggak cek USG. harga pelayanannya cukup mahal buat gue. Gue cuma berdoa semoga anak ini bukan perempuan," ucap Laura berharap.


"Gue yang bakal membiayai USG. Elu tenang aja. Btw, kenapa elu nggak mau bayi cewek? Kan lucu bisa di kepang rambutnya," Adrian terkekeh membayangkan seorang anak perempuan yang lucu dengan rambutnya di kepang dua.


Laura memperhatikan reaksi Adrian. Terlihat sekali laki-laki di sampingnya ini belum dewasa. Dia hanya remaja. Adrian tak tahu kerasnya hidup. Selama ini dia terlalu dimanjakan dengan uang orang tua.


"Kasihan bayi ini kalau perempuan. Dia akan banyak ditolak laki-laki. Dia akan malu saat akan menikah, jika dia sudah dewasa," papar Laura sedih.


"Loh, kenapa seperti itu? Apa karena kalian akan kesusahan di masa depan? Enggak, gue bakal siapin rumah buat lu! Semua keperluan lu bakal gue siapin," janji Adrian.


"Bukan itu, Adrian! Tapi dia akan bernasab pada gue, ibunya. Saat dia menikah, nama gue yang akan jadi nasabnya. Semua orang akan tahu dia anak yang lahir di luar pernikahan, Rian!" Laura berbicara dengan suara bergetar. Setitik air mata jatuh ke pipinya.


"Gue nggak tahu. Gue hanya berdoa agar bayi ini laki-laki. Jika dia perempuan, laki-laki mana yang mau dengannya? lirih Laura


"Gue memang laki-laki pengecut. Gue terlalu takut menghadapi kenyataan. Apalagi melihat keadaan orang tua gue. Gue merasa gue nggak punya masa depan lagi," papar Adrian.


"Den, ini kelapa mudanya," ucap bapak penjual tadi.


"Makasih, Pak," ucap Adrian yang kemudian menyerahkan uang ke bapak penjual.


"Makasih, Den," cetus si bapak tersenyum.


"Sama-sama, Pak," jawab Adrian.


Kemudian si bapak penjual kembali ke tempat jualannya.


"Ra, ini kelapa muda elu," ucap Adrian menyerahkan sebuah kelapa muda pada Laura.

__ADS_1


"Makasih," sahut Laura mengambil buah kelapa dari Adrian.


"Elu hati-hati ya, makan dan minum. Pilih yang sehat buat elu dan bayi," nasehat Adrian.


"Elu nggak perlu khawatir. Kayaknya gue lebih tahu soal itu! Elu tahu kelapa muda ini baik nggak buat ibu hamil?" tanya Laura.


"Enggak tahu," Adrian menggeleng-gelengkan kepala. Dia tak suka membaca buku, mana dia tahu. Tugas sekolah pun hanya mencontek. Dia hanya mengandalkan orang tuanya agar bisa selalu naik kelas.


"Buah kelapa muda bagus banget buat ibu hamil, asal jangan berlebihan, cukup satu ini aja. Apalagi kandungan gue bukan lagi trisemester pertama, jadi udah lebih kuat janinnya," ucap Laura.


"Oh, gitu. Kita habis dari pantai ke dokter, yuk. Kita cek kandungan. Gue mau lihat perkembangannya," tawar Adrian.


Laura terkekeh. Dia tak menyangka Adrian menawarkan dirinya untuk ke dokter.


"Kok lu tertawa? Ada yang salah?" tanya Adrian mengernyitkan kening.


"Nggak sih. Cuma gue aneh aja dengan sikap lu!" jujur Laura


Adrian yang menatap Laura, melihat dua orang yang tak asing, berada tak jauh dari mereka duduk.


"Raa, ayo ikut gue. Kita sembunyi," bisik Adrian yang langsung menarik tangan Laura.


"Nggak usah pegang tangan gue. Gue bisa jalan sendiri," rutuk Laura, Mereka berdiri dan bersembunyi dibalik pepohonan.


Laura ikut bersembunyi dibalik pohon. Dia masih sempat meminum air kelapa muda dari pipet.


"Siapa sih?" tanya Laura heran.


Adrian yang matanya tajam memandang lurus ke depan hanya diam dan menunjuk arah depan.


Tampak seorang laki-laki dan seorang wanita yang sedang hamil. Mereka terlihat bahagia, tertawa bersama. Bersenda gurau seperti dunia hanya milik mereka berdua.


"Itu siapa?" tanya Laura bingung. Shabila ikut memperhatikan arah pandang Adrian.


Adrian masih terdiam. Hatinya kembali di hujam luka. Perih dan semakin sakit. Mungkin seharusnya dia tidak ke pantai. Pemandangan di depan mata sungguh merajam dada.

__ADS_1


__ADS_2