
Sementara Laura kembali berjalan menemui Adrian yang terduduk di jalan. Kepalanya menunduk melihat aspal. Sungguh kasihan.
"Rian!" panggil Laura yang berdiri di hadapan Adrian.
Adrian mendongak dan menatap lauraa.
"Udah?" tanya Adrian.
"Udah. Sekarang elu mau cerita apa?" tanya Laura
Adrian kemudian berdiri dan membersihkan celananya yang sedikit kotor terkena pasir dan debu.
"Kita ke pantai yuk. Gue mau ngobrol panjang sama lu," pinta Adrian.
"Gue nggak mau ikut lu.
Terakhir gue ikut lu, kehormatan gue hilang," ucap Laura terus terang. Kata-katanya tepat menghujam ke jantung Adrian. Membuat Adrian diam terpaku tak bisa berkata apa-apa.
lauraa kemudian kembali berjalan ke arah depan, menuju rumah tante Tri.
"Gue minta maaf soal itu. Tapi, kali ini gue nggak bakal macam-macam. Gue janji!" gumam Adrian akhirnya. Dia tahu dia salah tapi dia tak bisa apa-apa.
"Maaf lu nggak bisa mengembalikan apa pun lagi, Rian," lirih Laura yang tersenyum getir. Laura menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan tingkah Adrian. Apalagi isi kepala Adrian, sungguh Laura tak mengerti. Apa susahnya bertanggung jawab?
"Okey, gue nggak tahu lagi mau ngomong apa. Gue benar-benar dalam masalah, Laura Please, bantu gue," mohon Adrian yang berjalan di belakang Laura
Laura menoleh ke belakang. Menelisik wajah Adrian yang memelas dan memang butuh bantuan.
"Okey, mana duit lu. Gue naik taksi aja ke pantai!" pinta Laura
"Gue bawa mobil. Bareng aja," usul Adrian.
"Gue nggak mau bareng lu. Gue udah dengar ceramah. Kalo dua orang laki-laki dan perempuan itu nggak baik dalam satu ruangan karena bukan mahram!" jelas Laura.
"Okey, gue ngalah," Adrian kemudian mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang merah.
"Banyak amat! Gue cuma butuh satu lembar doang, buat ongkos taksi !" tolak Laura yang mengembalikan uang ke Adrian.
"Ambil aja untuk keperluan lu! Elu pasti punya banyak keperluan. Gue bahkan masih simpan kartu ATM khusus buat lu, kalo lu mau," sahut Adrian.
__ADS_1
"Nggak perlu. Gue nggak butuh duit lu. Gue minta duit taksi karena elu maksa gue ke pantai. Anggap aja ini adalah harga curhatan lu!" tekan Laura
Adrian hanya mengangguk. Dia menemani Laura menunggu taksi. Setelah Laura naik ke dalam taksi, Adrian segera menyusul dengan mobilnya.
Setengah jam perjalanan, mereka sampai juga ke pantai. Laura lebih dulu sampai. Dia menunggu di parkiran.Laura sebenarnya tak ingin bertemu apalagi mengobrol dengan Adrian. Tapi, melihat Adrian dengan wajah frustasi apalagi sampai berbulan-bulan tak masuk sekolah pasti dia punya masalah yang tak ringan. Biarlah, dia hanya menolong sebagai sesama manusia.
Tak lama, Adrian sampai dan memarkirkan mobilnya. Adrian turun sambil membawa satu kantong cemilan.
"Sorry, elu udah lama nunggu? Gue tadi belanja cemilan dulu. Mungkin aja lu lapar, gue dengar ibu hamil cepat lapar," sapa Adrian sambil menunjukkan sekantong makanan yang berasal dari mini market.
"Nggak juga. Baru lima menit yang lewat gue sampai. Ayo," ajak Laura yang berjalan ke arah pantai.
Adrian hanya mengangguk. Lalu mengikuti langkah kaki Laura. Mereka berdua memilih duduk di sebuah pohon kayu tua yang sudah rebah di pasiran. Cukup jauh dari pengunjung lain. Setidaknya mereka bisa bercerita tanpa harus di dengar orang lain.
"Di sini tak terlalu ramai. Elu bisa cerita masalah lu!" ucap Laura yang barusan duduk.
"Gue bingung mau mulai dari mana cerita. Dada gue sesak banget!" sahut Adrian.
"Setiap orang pasti punya masalah, Rian. Mungkin Allah mau lu ambil pelajaran dari masalah yang lu hadapi sekarang," jelas Laura berusaha bijak.
"Iya, pasti gitu ya. Orang tua gue mau bercerai. Bokap gue lebih memilih sekretarisnya, sementara mama gue lebih memilih brondongnya. Nggak ada yang memilih gue. Gue merasa di buang," Adrian memulai curhatnya.
Adrian kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan memulai memantik api di rokok. Dia butuh ketenangan.
"Elu merokok? Sejak kapan?" Laura terkejut.
"Baru beberapa bulan ini. Dedi mengajari gue, Kayaknya enak juga merokok," ucap Adrian terkekeh.
Laura mendengus kesal melihat asap rokok yang mengepul di sampingnya.
Laura segera mengambil rokok dari jari Adrian lalu membuangnya. Laura menginjak-injak rokok hingga apinya padam.'
Adrian hanya diam dan menghela nafasnya melihat reaksi Laura.
"Btw, gue masih punya sebungkus rokok lagi. Mau lu buang juga?" Adrian terkekeh sambil menunjukkan sebungkus rokoknya pada Laura.
Laura menyambar bungkus rokok lalu membawanya ke sebuah kotak sampah. Adrian hanya diam dan matanya mengekori langkah kaki Laura. Satu bungkus rokok itu, Laura buang ke kotak sampah.
"Elu sudah jadi laki-laki nggak bertanggung jawab pada anak lu! Terus elu merokok juga depan gue! Emang nggak ada pikiran lu," sembur Laurasaat sudah kembali dari tempat sampah.
__ADS_1
"Gue cuma merokok biar resah gue berkurang!" kelit Adrian.
"Makanya lu baca buku, dong! Rokok itu bahaya. Bukan cuma buat lu, tapi juga buat gue dan janin yang gue kandung!" omel Laura pada Adrian. Laura kembali duduk di tempatnya tadi.
"Oh, maaf. Gue nggak tahu!" sahut Adrian.
"Elu tuh selama ini udah hidup enak, Rian. Sekalinya elu diuji, langsung nggak kuat sangking terlenanya elu dengan kenikmatan dunia," ujar Laura yang bergeser tempat duduk lebih jauh dari Adrian.
"Elu nggak punya orang tua, Ra. Elu nggak tahu rasa sakitnya saat orang tua berpisah," tutur Adrian.
"Setidaknya elu selama belasan tahun bahagia kan? Sampai elu nggak punya empati sama orang lain. Hanya tahu bersenang-senang," tekan Laura
"Gue bahkan nggak tahu siapa ayah dan ibu gue. Sedari kecil gue sering duduk di dekat jendela kaca. Menunggu ayah atau ibu gue menjemput. Setiap ada orang yang datang, gue selalu berharap itu ayah dan ibu. Tapi, sampai hari ini hanya orang lain yang datang," jelas Laura yang memandang deburan ombak kecil di pantai.
"Ra... mungkin lebih enak nggak tahu siapa orang tua, daripada elu tahu tapi ternyata berakhir seperti gue," seru Adrian.
"Nggak! Gue tetap mau bertemu ayah dan ibu gue apa pun yang terjadi. Gue nggak akan benci mereka. Gue yakin mereka pasti punya alasan sampai meletakkan gue di panti asuhan," tegas Laura
"Hati lu luas banget, Ra." lirih Adrian yang ikut memandangi pantai. Mendengarkan nyanyian suara alam.
"Kehidupan yang gue jalanin memaksa gue untuk menerima apa pun yang terjadi," tutur Laura.
"Elu bahkan mau dengerin curhatan gue. Padahal gue sudah menyakiti lu," lanjut Adrian.
"Entahlah. Mungkin karena gue tahu rasanya sendirian, gue tahu rasanya saat berada di titik terendah dalam hidup. Elu lagi di fase itu," celetuk Laura.
"Apa yang harus gue lakukan, Ra? Gue nggak mau orang tua gue pisah," desah Adrian.
"Gue nggak bisa bantu lu. Cuma Allah yang bisa bantu lu. Elu sholat deh dan satu lagi elu balik sekolah," nasehat Laura.
"Sholat?" pertanyaan Adrian menggantung. Rasanya dia sangat jarang sholat.
"Iya, elu sholat," tekan Laura.
"Emang masalah gue bisa selesai dengan sholat?" tanya Adrian ragu.
Bersambung.......
jangan lupa follow, like, dan komen
__ADS_1
makasih semua nya