TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
tanpa judul


__ADS_3

Sementara sang Papa terlambat mengejar Adrian. Anaknya sudah keburu pergi.


Di dalam mobil angkot, Adrian menghembuskan nafas frustasi. Dia tak tahu ke mana arah tujuannya saat ini. Bahkan mobil angkot ini mau ke mana juga Adrian tak tahu.


Mobilnya tertinggal di parkiran pantai tadi. Ah, kemana dia harus pergi?


Adrian berpikir cepat. Menentukan tujuannya. Dia tak mau pulang ke rumah. Bukankah dia punya kartu ATM. Dia bisa pergi ke mana pun dia mau pergi tanpa takut kekurangan uang.


"Pak, apa ini ke arah jalan Raya Bambu?" tanya Adrian pada seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.


"Iya, tapi tidak sampai ke Jalan Raya Bambu. Hanya sampai sebatas gerbangnya mobil ini bisa menurunkan penumpang. Kalo mau masuk ke jalan itu hanya dengan mobil pribadi," jelas bapak di sebelah Adrian.


Adrian mengangguk. Tempat yang bisa dia datangi saat ini hanya rumah Dedi. Dia akan memutar arah lewat arah Jalan Raya Bambu untuk ke rumah Dedi. Tidak melewati komplek utama perumahan mereka.


"Paling adik jalan dulu dari gerbang kalo mau ke sana," lanjut bapak tadi.


"Iya, Pak. Terima kasih," ucap Adrian mengangguk sopan.


"Iya, sama-sama," ucap si penumpang di sebelah Adrian.


Adrian memperhatikan cara penumpang lain turun dari mobil. Ternyata cukup mengucapkan kata ' Pinggir Pak' atau 'Berhenti Pak'. Adrian manggut-manggut memperhatikan cara kehidupan rakyat biasa.


Adrian melihat bapak yang tadi di sebelahnya membawa sebuah bakul. Entah apa isinya. Tapi, saat bapak itu menggeser bakul, tampak kain yang tersibak dari bakulan dan sebuah boneka beruang yang masih dalam plastik. Juga sebuah baju berbungkus plastik bening. Sepertinya baju untuk perempuan.


Bapak di sebelah Adrian tampak tersenyum melihat Adrian memperhatikan isi bakulnya.


"Bapak dari jualan di pasar. Anak bapak ingin boneka beruang dan istri bapak baju di rumahnya


hanya ada dua dan sudah lusuh, kasihan. Dagangan bapak hari ini habis. Untung dagang hari ini Alhamdulillah 60 ribu, bisa beli daster walau masih nyicil tanpa bunga sama teman pedagang kain. Terus beli boneka kecil ini. Sisanya bisa untuk makan hari ini dan besok," jelas si bapak dengan wajah penuh suka cita.


Hati Adrian terenyuh. Bapak di sebelahnya bisa tersenyum dengan 60 ribu?


"Uang segitu cukup, Pak?" lirih Adrian bertanya. Dia tak habis pikir, uang 60 ribu cuma cukup untuk dia beli secangkir kopi di cafe.


"Alhamdulillah, cara Allah ada saja untuk mencukupi kebutuhan. Terkadang cuma dapat 30 ribu sehari kalo dagangan sepi," sahut si bapak masih dengan senyumnya yang tanpa beban.


"30 ribu? Bisa untuk apa, Pak?" Adrian tercengang.


"Alhamdulillah bisa makan, Nak. Duit kalo untuk hidup InsyaaAllah berapa pun cukup, yang penting halal. Tapi kalo untuk gaya hidup, berapa pun duit nggak akan cukup, Nak," papar si bapak.


Adrian mengangguk. Wajahnya tertunduk. Menyelami perbedaan antara keluarganya dan bapak di sampingnya ini. Ternyata uang sedikit pun tetap bisa membuat orang tertawa.


"Bapak pulang setiap hari ke rumah?" tanya Adrian polos.


"Oh iya, harus. Untuk apa duit banyak tapi nggak bisa kumpul sama keluarga di rumah," jawab sang bapak.

__ADS_1


Kalimat jawaban sang bapak mampu membuat Adrian tercengang. Seperti menggambarkan keadaan keluarganya.


Uang mereka banyak, tapi mereka hampir tak pernah berkumpul. Meja makan selalu sepi. Adrian sering makan sendiri. Setiap hari dia lebih dekat dengan asisten rumah tangga. Bahkan apa makanan kesukaannya, mungkin mama dan papanya tak tahu.


"Bapak turun dulu. Rumah bapak masuk lorong itu," tunjuk sang bapak pada sebuah jalan kecil yang becek.


Adrian mengangguk. Si bapak lalu turun dari mobil angkot. Setelah itu mobil kembali meneruskan perjalanan.


Hingga sampai di pinggir Jalan Raya Bambu. "Berhenti, Pak," seru Adrian.


Mobil angkot berhenti tepat di depan gerbang jalan. Adrian turun lalu menyerahkan sebuah kartu ATM.


"Duit tunai aja, Dik," ujar supir angkot.


"Dompet saya ketinggalan di mobil, Pak. Adanya kartu ATM, di gesek aja, Pak," ucap Adrian.


"Oalah, ini angkot bukan mesin ATM," rutuk pak supir.


Adrian menelan ludahnya payah. Malu dilihat para penumpang di dalam angkot.


"Pak, saya bayar pakai jam tangan aja! Ini harganya sepuluh juta ," tawar Adrian.


"Kemahalan, dik. Tarif angkutan cuma lima ribu saja," ujar pak supir.


Adrian tetap melepaskan jam tangan dari pergelangan tangannya. Meletakkan di kursi sebelah supir yang kosong.


"Oalah, bocah sekarang. Aneh-aneh saja," celetuk pak supir menggelengkan kepala.


Adrian berlari hingga tak terlihat lagi angkot yang tadi dia naiki. Adrian menghembuskan nafas lega.


Adrian melihat sebuah mesin ATM di halaman mini market. Adrian segera ke sana. Menarik sejumlah uang. Dia butuh uang untuk bertahan hidup di luar rumah.


Setengah jam berjalan, Adrian akhirnya sampai di depan rumah Dedi. Tampak penjaga di depan rumah Dedi. Keluarga Dedi memang keluarga pejabat.


Satpam membiarkan Adrian masuk, karena tahu Adrian siapa.


"Cari den Dedi ya den Adrian?" tanya pak satpam.


"Iya, Pak. Dedi ada?" tanya Adrian.


"Ada, Den. Tadi di garasi lagi otak-atik mobilnya. Langsung aja Aden ke sana," ucap pak satpam menunjuk arah bagasi rumah Dedi yang luas tak kalah dengan bagasi di rumahnya.


"Di!" seru Adrian yang melihat Dedi sedang menunduk memeriksa bumper mobilnya.


Dedi menoleh dan terkejut. Adrian datang ke rumahnya. Selama ini Adrian menghindarinya. Dedi tersenyum senang, akhirnya Adrian mau berteman dengan dirinya lagi.

__ADS_1


"Hai, Bro! Akhirnya lu maen ke sini lagi," sapa Dedi tersenyum.


"Gue ganggu lu, nggak?" tanya Adrian yang duduk di sebuah kursi di pinggir dinding bagasi.


"Enggaklah, ohya bro... elu ada apa ke sini? Wajah lu kayak kecapean gitu, bentar gue panggil si bibi," ucap Dedi


Adrian hanya diam. Dia haus dan lapar.


"Bibi..." panggil Adrian pada asisten rumahnya.


"Iya, Den?" sahut si bibi datang tergopoh-gopoh.


"Buatin minum untuk teman saya," perintah Dedi.


"Baik, Den," si bibi mengangguk patuh.


"Bi, tolong tambah satu botol air mineral dan makanan. Terserah makanan apa, saya lapar," cetus Adrian tanpa sungkan. Mereka bertiga sudah berteman sejak lama. Sudah biasa main ke rumah masing-masing.


"Iya, Den," ucap si bibi yang kemudian melangkah masuk kembali ke dalam rumah.


Adrian menghempaskan punggungnya ke belakang sandaran kursi. Lalu menghembuskan nafas yang terasa berat menghantam dada.


"Rian, elu baik-baik aja?" tanya Dedi yang mengernyitkan kening melihat aneh temannya yang seperti sedang ada beban pikiran berat.


"Samsak tinju lu masih ada di belakang?" tanya Adrian.


"Masih, ada di belakang tempat biasa," jawab Dedi


Adrian segera berdiri, dia melangkah ke belakang. Dedi semakin mengernyit heran. Dia mengikuti langkah Adrian.


"Bi, entar minum dan makanan bawa ke belakang!" teriak Dedi sambil berjalan ke belakang.


"Iya, Den," seru si Bibi.


Sesampainya di belakang, Adrian memakai sarung tinju dan langsung menghantam samsak tinju. Dia memukul berkali-kali. Sekuat tenaga dan berteriak melegakan perasaannya yang membuncah sakit.


Sementara Dedi memperhatikan dari sebuah kursi di sudut dinding. Melihat tingkah Adrian, Dedi bisa menyimpulkan Adrian tidak baik-baik saja.


"Den, ini minum dan makannya," ucap bibi yang baru datang.


"Letak di meja, Bi," sahut Dedi.


Asisten rumah tersebut meletakkan makanan dan minuman di meja sesuai perintah majikannya. Menoleh sekilas ke Adrian yang tiba-tiba berteriak. Tapi, asisten rumah itu tak mau ambil pusing, dia segera melangkah keluar.


Baginya, masalah orang kaya itu aneh-aneh. Ada-ada saja kelakuan mereka.

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2