TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
003


__ADS_3

Athan tak memberi ampun dia terus kembali memukul perut Adrian berkali-kali. Menonjok pipi Adrian dia melampiaskan segala amarahnya.


Athan menjerit diantara pekatnya malam. Mengingat betapa pucat wajah adiknya saat dia temui.


"Elu bukan manusia, elu lebih rendah dari hewan! Laura sampai depresi dan tak mau melihat bayinya gara-gara elu!" jerit Athan kembali menghantam Adrian di bagian kakinya.


Adrian masih bisa mendengarkan tapi sudah tak bisa bicara maupun melawan. Tubuhnya tersungkur jatuh ke tanah.


"Adrian!" jerit Revan dan Dedi yang datang.


"Oh, datang juga kalian! Bagus, gue punya dua mainan baru," gumam Athan tersenyum dengki.


"Kurang ajar lu. Elu apain teman gue!" berang Dedi maju ke depan.


Dedi berusaha menghantam Athan dengan tangannya. Tapi, gerakan Athan cepat dan tak terbaca. Dalam hitungan detik, justru Dedi yang menjerit kesakitan.


Tubuh Dedi terpelanting ke tanah setelah terkena terjangan kaki Athan.


"Oopss sorry... kekencangan nih kaki gue. Maklum ya gue latihan bela diri terus sih. Nggak kayak kalian cuma tukang ngabisin duit orang tua," ejek Athan


Dedi berusaha bangkit untuk kembali melawan. Kali ini Dedi mengambil ancang-ancang dan berlari lalu meloncat berayun di udara hendak menerjang Athan dengan kakinya yang panjang.


Tapi, Athan yang memang sudah berlatih berbagai bela diri sedari kecil bisa membaca gerakan Dedi. Athan segera menghindar, tubuhnya berdiri dan meliuk ke belakang. Menahan bobot tubuhnya di kedua kaki agar tak jatuh ke bawah.


Sementara Dedi, tendangan nya justru hanya mengenai angin tak mengenai Athan sama sekali, sedetik kemudian posisi pun berubah.


Athan yang ahli menjaga keseimbangan, sudah kembali berdiri tegak. Lalu kakinya dengan cepat menerjang Dedi dan tangannya berkali-kali menghantam kepala dan perut Dedi, hingga Dedi tersungkur.


"Aarkhhhh," jerit Dedi kesakitan. Dia sudah tergeletak di tanah dengan posisi terlentang.


"Berteriak Lah sekencang mungkin. Tak akan ada yang mendengar suara kalian," sahut Athan


Darah sudah mengalir dari tubuhnya, bibir Dedi pecah hidungnya berdarah. Sementara Athan mengumpulkan kekuatan, memusatkan kekuatan pada telapak tangannya.


Menggunakan tenaga dalam, Athan menghantam dada Dedi dengan tapak tangan. Sebuah tanda tapak tangan berwarna merah pekat tepat berada di dada Dedi Mata Dedi detik berikutnya terpejam tak bisa melihat langit malam lagi.

__ADS_1


Revan mundur ke belakang dia sangat ketakutan, sementara Athan maju tersenyum dengan dengki.


"Seharusnya elu jangan ikut-ikutan. Sayangnya, elu sudah ikut-ikutan," hardik Athan.


Dengan sekali terjangan saja, Revan langsung tersungkur. Athan hanya memukul Revan tiga kali tapi, Revan sudah pingsan.


Adrian, Revan dan Dedi tergeletak tak berdaya di tanah lapang berumput. Malam semakin mencekam sementara Angel masih pingsan di dalam gudang.


"Tuan muda, apa tuan terluka?" tanya anak buahnya.


"Tenang paman saya tidak terluka sama sekali. Ayo, pergi," perintah Athan


"Tapi, mereka bagaimana?" tanya anak buahnya.


"Biarkan saja. Mereka nggak bakal mati, kok. Ini hanya pelajaran kecil, belum pelajaran yang sesungguhnya," sahut Athan melangkah cepat. yang


"Baik, tuan muda," sahut mereka.


"Apa CCTV sudah kalian rusak, paman?" tanya Athan saat tiba di mobil.


"Sudah dari sebelumnya, Tuan muda. Semua aman dibawah kendali kita," papar anak buahnya.


Dua mobil sedan hitam itu keluar dari lingkungan sekolah. Meninggalkan keempat orang di belakang sekolah.


"Saya tidak menyangka, tuan muda benar-benar menghajar mereka. Apa tuan muda terluka?" ucap mbok pengasuh khawatir.


Mbok tua itu segera membuka jaket Athan. Melihat dengan seksama kulit majikannya. Takut ada goresan atau luka. Dia yang merawat Athalla sedari kecil. Menghibur Athan saat menangis merindukan orang tuanya. Atau memandikan Athan saat dia sedang manja.


"Athan baik-baik saja, Mbok. Tenang saja," ucap Athan tersenyum.


Mbok pengasuh menghela nafas lega. Tak ada luka.


"Jangan lagi ya, Den. Jantung mbok rasanya mau copot. Takut Aden kenapa-kenapa loh," pinta si mbok.


"Iya, Mbok. Kita pulang ya, Athan capek," sahut Atham yang dibalas anggukan mboknya.

__ADS_1


Mobil melesat ditengah malam. Jalanan tampak lengang. Hanya ada satu dua mobil yang melaju di jalanan.


Hingga mereka akhirnya sampai di rumah Athan segera masuk dan hendak naik ke undakan tangga ke lantai dua.


"Athan, dari mana aja kamu?" tanya Papa Birru yang tiba-tiba ada di dekat Athan


"Papa kok disini?" tanya Athan terkejut.


"Papa mencari kamu makanya Papa ke sini. Insting Papa mengatakan kamu pulang kesini. Apa kamu habis menghajar mereka?" tanya sang Papa dengan tatapan tajam.


Athan melangkah mundur dari tangga pertama. Dia menghadapkan tubuhn ya ke hadapan papanya.


"Al-Qur'an surat Fussilat ayat dua puluh tujuh!" ucap Papanya serius.


Athan langsung membacakan surat yang diperintahkan Papanya.


فَلَنُذِيْقَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَذَابًا شَدِيْدًاۙ وَّلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَسْوَاَ الَّذِيْ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ


Maka sungguh, akan Kami timpakan azab yang keras kepada orang-orang yang kafir itu dan sungguh, akan Kami beri balasan mereka dengan seburuk-buruk balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.


"Kamu paham kan artinya?" tanya Papanya.


"Allah yang akan memberi balasan..." Athan kemudian menjelaskan surat yang diminta papanya.


"Kamu tahu itu. Lalu surat Al-Baqarah ayat 155!" ucap Papanya lagi.


Athan membacakan lagi surat yang diminta papanya.


وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.


"Artinya tentu kamu tahu kan, Athan!" sahut papanya.


"Allah memberi cobaan, Pa. Dan akan diberikan berita gembira bagi orang-orang yang sabar, Pa," tutut Athan menunduk.

__ADS_1


"Lalu, apakah kamu termasuk orang-orang yang bersabar dengan ujian ini?" tanya Papanya.


Athan semakin menunduk dalam tak berani menatap Papanya.


__ADS_2