
Ibu panti tampak gelisah dan cemas setelah ibu guru dan teman-teman Laura pulang.
Ibu panti segera mengambil hapenya yang ada di kamar. Dia berusaha menelpon Sri, saudara jauhnya. Tapi, sudah dua kali telepon tak diangkat juga.
"Aduh, kemana Sri ini! Laura kecelakaan, kok nggak mengabari!" rutuk ibu panti.
Panggilan ketiga tetap tak ada jawaban dari Sri
"Ya sudah. Kalo begini saya yang akan ke rumah Sri" cetus ibu panti sendiri. Dia meletakkan hapenya ke meja dan hendak melangkah ke kamar berganti pakaian.
Namun, baru beberapa langkah hape ibu panti berbunyi. Ibu panti tak jadi melangkah. Dia kembali ke meja dan mengambil hapenya. Tertulis nama Sri di layar hapenya.
"Halo, Assalamualaikum Sri," sapa ibu panti saat aaamenekan tombol terima panggilan.
"Wa'alaikumsalam, bude. Ada apa?" sahut tante Sri dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kamu baru bangun tidur, Sri? Saya nelepon kamu dari tadi," gumam ibu panti yang resah.
"Iya, baru tadi pagi tadi balik dari perjalanan dinas ikut mas Permana. Sekalian jalan-jalan. Ada apa, Bude?" tanya Tante Sri yang tak ingat dengan Laura lagi.
"Loh, kamu gimana sih! Kok bisa-bisanya ikut perjalanan dinas. Tadi ibu guru Laura ke sini. Katanya Laura kecelakaan," ungkap ibu panti yang heran dengan Tante Sri.
"Kecelakaan? Laura kecelakaan? Masak sih?" tante Sri malah bertanya balik.
"Loh... loh... kamu ini bagaimana, Sri? Laura kan sama kamu. Kok kamu tanya balik. Sekarang Laura dimana?" cerocos ibu panti yang mulai kesal. Dia mencium gelagat mencurigakan dari saudaranya.
"Enggak! laura nggak sama saya lagi, loh. Itu anak nakal, badung, nggak mau diurus malah bikin malu!" ceplos tante Sri.
__ADS_1
"Bikin malu bagaimana? Kamu berarti meragukan didikan saya laura itu anak baik. Nggak pernah macem-macem!" balas ibu panti yang tak terima anak asuhnya dijelekkan.
"Walah, kenyataannya emang gitu kok! Sebentar, saya akan ke panti asuhan. Akan saya ceritakan semuanya!" putus Tante Sri yang emosinya meluap lalu mematikan hape tiba-tiba.
"Loh, halo... halo Sri. Walah, kok dimatikan hapenya, pamit aja belum loh. Laura dirawat dimana juga nggak dikasitau." rutuk ibu panti sendiri lalu menghela nafas gusar melihat hapenya yang sudah berubah menjadi gelap layarnya.
"Ya sudah. Saya tunggu di rumah saja kalo sri mau kesini." putus ibu panti akhirnya.
Sementara itu, di rumah Tante sri. Dia segera membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.
"Mas... mas bangun," panggil tante sri.
Sang suami tampak tak bergeming. Masih tertidur pulas.
"Ih, kalo udah tidur susah banget bangunnya. Mas... bangun," seru tante Sri menggoyangkan bahu sang suami lebih keras.
"Ck, Mas... bangun!" jerit tante Sri tak sabar.
"Apa sih! Ya ampun, orang lagi enak-enak ttidur malah di ganggu segala" rutuk sang suami.
"Maaf, tapi ayo kita ke panti asuhan," ajak sang istri.
"Aduh, ngapain sih ke sana kita? Nggak penting banget kita ke sana!" gerutu sang suami yang masih mengantuk.
"Ayolah, Mas. Tadi aku ditelepon, di tanyain tentang Laura. Laura itu kecelakaan, mereka mengira kalo Laura masih disini. Kita harus jelasin ke sana, apa yang terjadi dengan Laura. Kalo dia tuh hamil diluar pernikahan," ungkap tante Sri.
"Apa! Kecelakaan dan mengira anak yatim piatu itu masih disini. Enak aja! Berarti itu anak nggak cerita ke ibu pantinya dan sekarang menghilang mungkin. Kehamilan dia pasti makin besar," geram Om Herman yang segera bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Iya, ayo mas kita berangkat Aku siap-siap dulu," ucap tante Sri.
"Mas sebenarnya masih ngantuk lo dek! Tapi, ya sudahlah cuci muka aja," putus Om Herman yang turun dari tempat tidurnya. Lalu beranjak ke kamar mandi.
Kedua suami istri itu kemudian bersiap-siap pergi. Tak lama, mereka sudah turun ke lantai bawah. Lalu keluar rumah dan naik ke mobil.
"Ayo, Mas. kita berangkat," ajak sang istri saat mereka berdua sudah didalam mobil.
"Iya, ayo," sahut om Herman yang segera menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya ke jalanan.
"Pokoknya nanti di panti asuhan bakal kuceritakan semua keburukan Laura Mas," cetus sang istri.
"Iyalah, bila perlu kamu tambahin bumbu biar kita tuh nggak terlihat bersalah. Bilang aja kalo Laura itu pemalas, cuma tidur aja. Keluar kamar kalo mau makan aja. Semua urusan rumah kamu yang kerjakan," gumam Om Herman.
"Iya, Mas. Biar ibu pantinya tahu kalau dia itu bukan gadis baik-baik. Kalo dia gadis baik, nggak mungkin hamil diluar nikah. Dasar gadis nakal !" rutuk tante Sri.
"Iya, begitu. Buat cerita yang meyakinkan. Laura perlu kamu akting nangis," sahut om Herman terkekeh.
Kedua suami istri itu kemudian tertawa senang, membayangkan mereka akan menceritakan keburukan Laura saat tinggal di rumah mereka.
Hingga tiba di persimpangan jalan. Sebuah mobil melintas didepan mereka dari arah lain. Mobil itu tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi.
"Awas, Mas..." jerit Tante Sri terkejut.
Om Herman berusaha menginjak rem agar mobil terhenti. Tapi, karena panik dan mengantuk yang terinjak justru pedal gas. Mobil semakin melaju kencang ke depan.
"Aaaarkhhhh..." jerit kedua suami istri itu.
__ADS_1