TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
002


__ADS_3

"Thanks ya sudah bantuin. Ini duit untuk lu," ucap Nurul memberi selembar uang merah pada Tiara.


Nurul merasa tak enak, jika tak membagi uang pada Tiara. Toh, dia anggap membersihkan perpustakaan adalah pekerjaan yang diberikan Angel untuk mereka.


"Duit apaan ini?" tanya Tiara mengernyit heran.


"Sebenarnya gini, Ra. Angel lagi baik hati. Dia ngasih gue duit, tapi syaratnya bersihin perpustakaan bareng elu. Kan lumayan buat duit jajan," jawab Nurul tersenyum.


"APA! Jadi Angel nyuruh kita bersihin perpustakaan, bukan guru?" jerit Tiara terkejut. Matanya terbelalak hampir tak percaya.


"I-iya. Disuruh Angel gitu. Lagian gue pikir cuma gini aja. Paling dia lagi jahil sama kita berdua. Nggak apa dong, kan dapat duit juga," jelas Nurul.


"Aduh, bego banget sih lu! Aarkhhhhh," jerit Tiara yang langsung berlari ke kelas tak peduli lagi dengan Nurul yang kebingungan dengan kecemasan Tiara.


Sesampainya di kelas, laura sudah tak ada.


"laura......." seru Tiara.


"Ra... laura lu dimana?" jerit Tiara lagi. Suara Tiara sampai menggema di setiap ruangan dan koridor sekolah.


Tiara berlari ke sana kemari mencari laura, Menelepon laura tak diangkat juga.


Sementara di gudang, laura semakin meringis kesakitan. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung memenuhi wajahnya. Tubuhnya lemas berasa tak bertulang.


Pencahayaan minim di dalam gudang. Hanya mengandalkan cahaya dari ventilasi - ventilasi kayu kecil di dinding atas gudang.


"Darah?" lirih laura saat tangannya menyentuh lantai di dekat kakinya.


Tiba-tiba pikiran laura semakin kalut. Memikirkan nasib dirinya dan bayinya. Bahkan ucapan Adrian yang menyakitkan tadi pagi, ikut berputar - putar di kepalanya.


"Tolong..." suara laura lemah.


Namun, tak terdengar oleh siapapun. Sementara, perutnya semakin terasa sakit. Terutama nyeri dibagian bawah perut. Makin menit makin terasa menyiksa sakitnya.


Di koridor sekolah, Tiara masih berlari ke sana kemari. Peluhnya sudah bercucuran. Bahkan suara nafasnya sudah terdengar hingga ke telinganya.


Hingga di ujung bangunan, Tiara melihat kursi roda tergeletak di atas rerumputan. Mata Tiara terbelalak. Dia berlari cepat.


"Laura..." jerit Tiara panik. Mata Tiara menyapu seluruh halaman berumput.


Matanya kembali terbelalak, melihat sandal yang dipakai laura tergeletak di rerumputan. Mata Tiara menatap ke depan. Tepat searah dengan arah sandal yang terlepas. Gudang sekolah!


Tiara kembali berlari. Matanya tanpa sadar sudah berlinang airmata. Panik dan cemas luar biasa. Menyesal meninggalkan laura tadi di kelas.


" Laura, elu didalam? Jawab gue," jerit Tiara dari luar pintu gudang sekolah.


"Tiara... tolong," lirih laura dari dalam berusaha menjawab sekeras mungkin.


Tiara memasang telinganya lekat ke pintu gudang , sayup terdengar suara laura.


"Ya Allah, beneran laura di dalam." ucap Tiara panik.


"Tunggu ya Ra, gue bukain dulu pintu gudang nya... ," jerit Tiara lagi.


"Cepet, Ra. Perut gue sakit. Gue nggak kuat," lirih laura dari dalam. Wajahnya sudah memucat menahan rasa sakit. Sementara darah mulai makin menggenang di lantai.


Tiara dengan cepat melihat sekitar. Sebuah batu besar ada didekat sebuah pohon. Tiara berlari cepat mengambil batu. Lalu berlari lagi ke pintu gudang. Dengan cepat memukul gembok di pintu.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


Berkali-kali batu dipukul ke gembok pintu gudang. Hingga tangan Tiara ikut terluka karena pukulan batu yang salah sasaran. Justru memukul tangannya.


Tiara tak peduli. Dia hanya memikirkan Shabila yang terdengar suaranya yang begitu lirih dari balik pintu gudang.


"laura.....lu gak pa pa" jerit Tiara saat pintu sudah terbuka.


"Ra, tolong gue. Perut gue sakit," lirih laura tak berdaya.


"Ya Allah, Ra Ini gimana, darah semua. Ayo kita keluar cari bantuan. Gue papah elu ya," Tiara panik luar biasa. Dia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini.


laura menggeleng lemah. "Gue sudah nggak kuat, Tiara. Selamatkan bayi ini Ra. Gue sudah pasrah," lirih laura lagi. Tubuhnya sudah semakin melemah.


Tiara berpikir cepat ditengah serangan panik yang melanda dirinya.


"Oh, lu tunggu di sini ya Ra, Sabar ya, Gue inget ada bidan yang praktik didepan sekolah. Gue ke sana," ungkap Tiara.


Tanpa menunggu persetujuan laura, Tiara berlari sekencang mungkin ke luar dari sekolah. Beruntung pagar sekolah masih terbuka. Sepertinya satpam lupa mengunci pintu pagar.


Setibanya di klinik, bidan terkejut. Saat Tiara menjelaskan temannya sudah pendarahan di gudang.


Bidan itu dengan gerak cepat ditemani asistennya membawa berbagai peralatan dan selimut.


Mereka berlari cepat kembali ke gudang sekolah. Sesampainya di gudang sekolah, Bidan segera mengecek keadaan laura


"Kita nggak bisa membawanya. Kepala bayi sudah terlihat. Ayo, bantu persalinan," ucap sang bidan.


Tiara bahkan diminta mengambil sebuah matras tua. laura hanya menggeser kepalanya diatas matras.


Mengikuti instruksi bidan, tak lama seorang bayi laki-laki akhirnya lahir ke dunia.


Laura hanya sayup mendengar suara bayinya. Namun, detik berikutnya matanya sudah terpejam. Laura pingsan.


"Neng... Neng... Pingsan ini bu bidan," ucap asistennya.


"Telepon supir kita, bilang ajak suami saya juga kesini, bawa tandu ke sini. Kita harus ke rumah sakit. Bayinya terlalu kecil. Pendarahan juga. Peralatan saya nggak lengkap," jelas sang bidan


"Baik, Bu," sahut sang asisten. Dia segera menelepon.


Sementara sang bidan mengurus sang bayi dan kembali mengecek laura. Hingga tandu akhirnya datang.


Sementara Athan baru saja sampai di sekolah yang sepi. Dia berdiri didepan sekolah sambil mencocokkan dengan maps di layar hape.


"Bener ini sekolahnya udah sepi ya. Nanya sama siapa gue?" tanya Athan sendiri yang menoleh ke kiri dan ke kanan kebingungan.


Athan melihat sebuah klinik bersalin di sebrang jalan sekolah. Terlihat beberapa orang disana.


"Apa gue tanya ke sana aja ya?" tanya Athan sendiri.


Namun, saat Athan kembali memandang sekolah. Ada dua orang sedang membawa tandu. Seorang perempuan membawa bayi dan dua orang perempuan lain membawa berbagai peralatan.


Athan terdiam di tempat saat tandu melewatinya, wajah Laura terlihat. Mata Athan membulat besar Itu Laura saudara kembarnya!


Athan berjalan cepat mengejar rombongan yang membawa tandu laura Melepas kumis palsu yang tadi dia pasang untuk mengelabui musuh. Dia tak mau laura bingung melihat dirinya dengan kumis palsu.


"Laura kenapa?" seru Athan cemas.Tiara menoleh dan mengernyit heran.


"Tolong siapa pun jawab. Dia kenapa?" Athan kembali bertanya.


"Gadis ini baru saja melahirkan, tetapi kami harus segera membawanya ke rumah sakit," ucap perawat.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" tanya Athan yang semakin panik.


"Laura melahirkan di usia kandungan tujuh bulan," sahut Tiara memandang heran pada Athan yang terlihat begitu panik.


Sementara itu, Laura sudah dimasukkan ke sebuah mobil pribadi jenis APV milik bidan yang di desain dalamnya mirip ambulans. Tandu tadi bisa langsung masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang mobil.


"Bu bidan, bawa Laura ke rumah sakit terbaik. Saya akan menanggung semua biayanya," pinta Athan pada sang bidan.


"Baik, kami akan usahakan yang terbaik," jawab bidan tersebut cepat.


Tiara langsung naik ke dalam mobil yang membawa Laura,Begitu juga Athan ikut naik. Mobil segera melaju ke jalanan, sementara di kursi depan ada ibu bidan yang menggendong bayi Laura yang sangat kecil.


"Elu siapa sih?" tanya Tiara mengernyit heran menatap Athan yang duduk diseberang tempat duduknya. Sementara ditengah ada Laura yang berbaring diatas tandu. Belum sadarkan diri.


"Gue Athan, saudara kembar Laura" ungkap Athan.


"Hah, maksudnya?" tanya Tiara makin bingung.


"Elu lihat nggak wajah kita berdua mirip," jawab Athan mendekatkan wajahnya ke wajah Laura yang pucat dan mata terpejam. Agar Tiara bisa membandingkan wajah mereka berdua.


Sementara tangan Athan mengelus tangan Laura. Sebuah jarum infus tampak terpasang di tangan laura


"Eh, iya. Kok mirip," ceplos Tiara tiba-tiba.


Hidung, mata, bentuk bibir bahkan alis mereka mirip. Hanya saja laura tulang pipinya lebih lebar dan pipinya lebih tembam sedangkan Athan lebih tirus dengan garis rahang tegas. Satu lagi, Athan memiliki tahi lalat kecil di puncak hidungnya yang mancung.


"Gue dan keluarga sudah lama mencari keberadaan laura, Sampai suatu hari gue lihat laura di jalan keluar dari toko bunga dari situ gue selalu cari keberadaan laura," cerita Athan.


Tiara mengangguk dan masih bengong melihat kemiripan Laura dan Athan.


"Gimana ceritanya Laura bisa terpisah dari kalian?" tanya Tiara.


"Gue bakal ceritain semuanya nanti. Sekarang gue telepon keluarga gue dulu," ucap Athan yang masih memegang tangan Laura seperti takut saudaranya akan terpisah lagi.


Tiara hanya mengangguk setuju. Athan kemudian mengambil hapenya dari saku celana.


"Assalamualaikum, Tante," sapa Athan di telepon.


"Wa'alaikumsalam. Anak badung, Kamu dimana?" jawab sang Tante yang terlihat kesal di telepon.


"Tante Cha, Athan nemuin laura Sekarang Athan lagi sama Laura," seru Athan senang.


"Apa? Athan kamu jangan jahil dengan tante kalo soal Laura," rutuk tantenya.


"Serius, Tante. Bentar Athan video call," sahut Athan yang mengubah tombol panggilan menjadi video call.


Athan kemudian memperlihatkan wajah Laura yang matanya terpejam di tandu.


"Ya Allah, Alhamdulillah, hiks..." tante Chacha sampai menangis terharu di video.


Hape tante Chacha langsung direbut oleh om Leon.


"Atha, kamu dimana? Biar Om ke sana," tanya Om Leon.


bersambung.......


jgn lupa like, komen, follow, dan ulasan nya 🥰


selamat membaca🥰


happy reading and happy enjoy😇🥰

__ADS_1


__ADS_2