TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

" Laura sudah lebih kuat, Ma. Udah bisa naik sendiri ke brankar," sahut Laura tersenyum.


Laura kemudian berjalan pelan ke brankar nya dibantu Mama Runi. Dia naik ke tempat tidurnya. Mama Runi kemudian menyelimuti tubuh Laura.


"Laura mau tidur?" tanya Mama Runi.


"Belum, Ma. Baru jam segini. Mama sudah bertemu ibu asuh Laura?" tanya Laura.


"Sudah sayang. Nanti lusa adik-adik panti kamu akan pindah ke rumah Panti baru. Papa sudah minta tolong karyawannya untuk cari lokasi Panti yang baru," ungkap sang mama.


"Loh kenapa, Ma? Kenapa nggak renovasi rumah yang ada aja?" tanya Laura. Rasanya dia sangat sayang dengan rumah tua pantinya. Bagaimana pun kenangan masa kecilnya ada di rumah itu.


"Pemilik aslinya sudah menjual rumah itu. Katanya sudah laku Mereka butuh uang sayang," tutur Mama Runi.


"Rumah itu punya kakek Dedi, Ma. Dihibahkan untuk panti setahu Laura. Tapi, suratnya memang nggak di ibu panti," sahut Laura.


"Nah itu, nggak punya kekuatan apapun kalo nggak pegang surat. Tapi, nggak apa. Semoga Papa bisa menemukan rumah yang lebih besar dan luas untuk adik-adik pantimu," cetus Mama Runi.


"Aamiin. Jangan lupa buatin taman bermain di halaman ya, Ma," ucap Laura.


"Iya, sayang. Ibu panti tadi banyak bercerita tentang Laura kecil. Mama dan Papa sangat bangga denganmu, Nak. Mama jadi sedih nggak ada untuk kamu selama ini," sesal sang mama.


"Tapi, Laura udah sangat senang sekarang. Mama dan Papa ada disini bersama Laura, Mama dan Papa pasti punya alasan kuat sampai kita terpisah," sahut Laura.


"Kamu benar sayang, ada cerita dibalik hilangnya kamu. Apa kamu siap mendengarnya, Nak?" tanya Mama Runi.


" InsyaAllah Laura siap, Ma," jawab Laura antusias.


"Mama dan Papa awalnya begitu bahagia dengan pernikahan kami. Apalagi setelah Athan dan Laura lahir ke dunia. Tapi, kami berdua tidak menyangka masa lalu masih membayangi kami. Sebelumnya Papa Birru dijodohkan dengan Viona, tapi papa menolak. Hingga sebuah kecelakaan terjadi, karena Papa menolak menikah dengan Viona. Papa berusaha menghentikan mobil yang ditumpanginya bersama Viona, sayangnya terjadi kecelakaan," ungkap Mama Runi memulai ceritanya.


"Viona meninggal saat itu, sementara Papa mengalami koma. Bahkan mama dan Papa tidak bertemu selama lima tahun. Hingga kami bertemu lagi dan akhirnya menikah. Papa Viona yang memang mencari keberadaan papamu selama ini, akhirnya menyadari kalau papamu masih hidup setelah melihat video pernikahan kami. Ada nenek dan kakekmu yang ikut mendampingi di pelaminan. Membuat penjahat itu menyadari laki-laki yang bernama Birru adalah Charlie, Papamu," lanjut Mama Runi.


"Nama asli Papa adalah Charlie?" tanya Laura.


"Iya, Papa kan darah campuran. Nenekmu dari Amerika sementara kakek Laura dari Indonesia. Namun, untuk melindungi Papamu. Keluarga Papa sepakat mengganti identitas Papamu," jelas Mama Runi.


Laura terkesiap, tapi dia tetap diam dan berusaha mendengarkan dengan serius cerita mamanya.


****


Cerita masa lalu saat Laura masih empat puluh hari.


Saat itu, Mama Birru sedang bersama perawat. Mereka bersantai dan menjemur kedua bayi kembarnya di taman belakang rumah.

__ADS_1


Laura dan Athan tampak tenang di kereta bayinya. Mama Runi sedang berdendang sholawat badar. Ketika sekelompok penjahat mengepung mereka.


Satpam didepan rumah mereka sudah dilumpuhkan. Bahkan para asisten rumah sudah diikat didalam. Hingga sekelompok penjahat itu sudah mengepung Mama Runi di taman halaman belakang.


Mama Runi segera menggendong Laura, Sementara perawat menggendong Athan. Mereka berdua mundur ke belakang.


"Kalian siapa? Mau apa?" tanya Mama Runi cemas.


"Apa kau kenal dengan saya, Nyonya?" tanya seorang pria yang membuka penutup kepalanya.


"Ti-tidak. Siapa kamu?" tanya Mama Runi yang makin memeluk erat Laura kecil.


"Perkenalkan nyonya. Saya Alex. Suamimu tentu sangat tahu siapa saya!" ucap Alex sambil menyunggingkan senyum dengki nya.


"Kalo kalian mencari suami saya, dia sedang di kantor cari ke kantor saja," tegas Mama Runi.


"Sayangnya saya bukan mencari suami anda. Saya mencari kedua bayi anda!" ungkap Alex.


"Pergi kalian!" teriak Mama Runi. Merasa keadaan bahaya, Mama Runi memberi kode perawatnya untuk lari bersama.


Mama Runi dan perawat hendak lari kebelakang. Namun sayang, jumlah penjahat sangat banyak. Mereka benar-benar terkepung puluhan orang.


"Ambil kedua bayi itu!" perintah Alex.


Begitu juga perawat, dia berusaha menghindari penculik. Dia berusaha mempertahankan Athan.


Namun, pukulan di tengkuk leher, membuat Mama Runi kesakitan dan pingsan. Sementara langsung langsung diambil salah satu penculik.


"Berikan bayi itu, atau nyawamu yang kuambil!" ancam Alex menodongkan sebuah senjata pada perawat.


Karena ketakutan, perawat itu, menyerahkan Athan dengan tangan gemetar pada penculik.


"Katakan pada tuanmu. Saya Alex papa Viona sudah mengambil hartanya yang paling berharga. Sengaja saya tidak membunuh dia ataupun istrinya, biar dia ikut merasakan rasanya kehilangan anak bagaimana! Semoga tuanmu menjadi gila setelah ini, HAHAHA..." derai tawa Alex membahana.


Sekelompok penjahat itu kemudian pergi dari rumah. Mereka sengaja meninggalkan jejak agar Papa Birru mengejar mereka.


Setelah penjahat pergi, perawat tadi segera membangunkan Mama Runi. Namun, Mama Runi masih belum sadarkan diri.


Perawat itu, akhirnya berlari ke dalam meminta pertolongan. Dia segera membuka ikatan tali salah satu asisten rumah. Lalu menelepon Papa Birru.


Papa Birru, Om Leon dan Tante Chacha segera datang ke rumah. Saat Papa datang, Mama Runi sudah sadar dan menangis kencang.


"Sayang, kita pasti akan menemukan anak kita. Sekarang kita akan lapor polisi, tunggulah di rumah ," ucap Papa Birru menenangkan mama Runi.

__ADS_1


Mama Runi mengangguk, tante Chacha memeluk hangat sahabatnya. Penjagaan diperketat. Bukan hanya satpam. Tapi, bodyguard juga ditambah, anak buah Om Leon.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan tapi tak ada kabar apapun dari kedua anaknya. Alex bekerjasama dengan penjahat internasional. Polisi menduga Laura dan Athan sudah dibawa kabur ke luar negeri. Ke asal negara Alex.


Akhirnya di bulan keempat, ada titik terang. Om Leon yang bergerak bersama anak buahnya berhasil menghubungi Alex.


"Dia mau memberikan anak kalian, asal kalian mau menyerahkan segala harta kalian. Mereka punya jaringan yang luas. Kita tidak bisa bertindak gegabah, apalagi lapor ke pihak berwenang. Mereka melakukan pengancaman," jelas Om Leon.


"Apa Laura dan Athan ada? Apa kamu melihatnya Leon?" tanya Mama Runi dengan berlinang air mata.


"Kami hanya berhasil menghubunginya lewat video. Tapi, Alex sempat menunjukkan kedua bayi kalian masih hidup. Kami berusaha melacak sumber video, tapi ahli IT mereka juga mengacaukan pelacakan kami. Maafkan saya, kemampuan Alex dan komplotannya sebanding dengan kemampuan anak buah saya. Kami selalu seri," sesal Om Leon.


"Tak apa, Leon. Kami sungguh sangat berterima kasih. Tak masalah jika harta kami diberikan pada mereka. Asal anak kami kembali. Harta dunia bisa dicari tapi anak-anak kami lebih berharga," tutur Papa Birru. Mama Runi mengangguk setuju.


"Bagaimana jika ini jebakan?" cetus Tante Chacha.


"Kita akan mengepung mereka. Rencana harus matang. Setelah Birru menandatangani surat, kita akan mengepung mereka!" usul Om Leon yang disetujui semua.


Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, ditempat yang ditentukan mereka bertemu. Sebuah gedung tua pinggiran kota di negara A. Tempat asal Alex.


Alex dan rombongannya keluar dari sebuah mobil. Sementara Papa Birru mereka minta datang sendiri.


Dibalik gedung kosong, para anak buah om Leon sudah siap siaga. Sementara Papa Birru sudah dikenakan baju anti peluru dibalik baju kemeja dan jasnya. Kemungkinan gencatan senjata akan terjadi.


Papa Birru tak henti berdoa. Dia melangkahkan kakinya ke depan. Maju ke meja kosong dan berdebu. Sebuah map berisi kertas penyerahan harta dan perusahaan tergeletak diatas meja.


"Apa kabar Charlie? Upss... sekarang bernama Muhammad Darren Albirru, hahaha..." tawa Alex berderai.


Alex berdiri di sebrang meja bersama kedua orang anak buahnya yang menggendong Laura dan Athan.


"Alhamdulillah, baik. Saya akan menandatangani surat ini. Tapi, kamu harus berjanji menyerahkan kedua bayi kembar saya saat ini juga," tegas Papa Birru.


"Hahaha... sabar Charlie! Saya ingin bertanya dulu, bagaimana rasanya ditinggal anak, heh? Sakit bukan?" tanya Alex dengan mata menyorot marah.


"Saya minta maaf jika Viona sampai meninggal. Itu sebuah kecelakaan. Diluar kuasa siapapun. Nyawa milik yang kuasa," tutur Papa Birru.


Brakkk!


Meja di gebrak oleh Alex. Emosinya kembali terpancing.


"Laki-laki bodoh! Kalo kamu tidak berusaha merebut setir mobil, kecelakaan bisa dihindari! Kurang apa anak saya, hah? Dia cantik, baik hati, banyak laki-laki jatuh cinta padanya, tapi dia memilih kamu. Seharusnya kamu bersyukur bisa menikah dengan anak saya! Tapi, kamu malah memilih wanita kasta rendahan yang tak punya apa-apa," cibir Alex tak suka.


Sementara Papa Birru berdebat dengan Alex. Om Leon dan anak buahnya bergerak. Mereka melumpuhkan penjagaan ring luar. Mengurangi kekuatan Alex yang membawa banyak anak buah.

__ADS_1


__ADS_2