TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
MEMINTA TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

Tiara mengetuk pintu


berkali-kali memanggil Laura. Tangisan Laura di dalam kamar mandi membuat Tiara khawatir.


"Laura elu nggak apa-apa kan? Bukain pintunya, Ra!" seru Tiara mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali.


Hening seketika tak ada jawaban dari dalam.


"Lauraaa..." Tiara kembali memanggil.


Ketukan dan panggilan kesekian kali akhirnya Laura membukakan pintu.


Laura tampak berantakan dengan mata yang bengkak oleh air mata.


"Ra..." suara Laura parau memanggil Tiara.


Tiara tak perlu bertanya lagi, testpack yang dipegang Laura sudah menunjukkan segalanya. Hasilnya positif.


"Gue harus gimana, Ra?" lirih Laura. Dia berjalan lemah keluar kamar mandi. Tubuhnya luruh ke lantai rasanya bumi. tak ingin lagi memijak


Bahu Tiara merosot ke bawah, hatinya ikut hancur saat tahu hasilnya positif. "Laura..." Tiara tak sanggup melanjutkan kata, dia segera merangkul Laura yang menangis pilu.


Masa depan tiba-tiba terasa gelap. Seperti awan yang menghitam pekat kala akan turun hujan lebat.


"Gue pengen mati aja, Ra. Nggak guna gue hidup," Laura mulai meracau tak jelas.


"Nggak! Elu harus hidup, Ra. Inget akan selalu ada pelangi setelah hujan berlalu," sahut Tiara berusaha menenangkan Laura.


"Pelangi tak selalu muncul setelah hujan, Tiara. Gue pengen ngilang aja dari bumi. Nggak ada yang peduli, nggak ada yang sayang gue. Hidup gue hancur," laura histeris. Tiara menguatkan rangkulannya.


"Istighfar Laura. Kebahagiaan pasti datang ke elu. Lu cuma perlu sabar ya," Tiara berkata lembut sambil memandu Laura mengucap istighfar berkali-kali. Berharap kesadaran Laura kembali ke titik terang.


"Gue harus apa, Ra?" lirih Laura yang kebingungan.


"Kita harus ngomong dengan Adrian. Dia harus tanggung jawab," tegas Tiara menatap manik mata Laura yang penuh air mata.


"Apa? Gimana kalo dia nggak mau tanggung jawab?" Laura meragu.


"Dia harus tanggung jawab, La! Harus!" tekan Tiara. Jika Adrian tidak mau, maka Tiara akan memaksanya. Bagaimanapun caranya.


"Gue nggak tahu, Ra. Gue nggak yakin. Dia terlalu pengecut!" cibir Laura. Dia masih mengingat bagaimana Adrian menyodorkan sebuah ATM untuknya.


"Besok gue bakal temenin lu ngomong sama dia," putus Tiara.


Laura hanya mengangguk lemah. Kepalanya terlalu pusing. Dia tak bisa berpikir jernih lagi.


***


Pagi ini, sekolah masih tampak sepi. Murid-murid belum banyak yang datang. Laura dan Tiara memang datang lebih awal.

__ADS_1


Laura terlihat duduk termenung di kursinya. Sementara Tiara mondar mandir sedari tadi melirik dari pintu dan kaca jendela kelas. Menunggu Adrian yang belum menampakkan batang hidungnya.


"Nah itu dia datang!" celetuk Tiara saat melihat Adrian yang berjalan menuju kelas.


Tiara melangkah lebar keluar kelas. Sementara Laura menunggu di kelas dengan cemas. Wajahnya tak pernah lagi terlihat ceria semenjak kejadian itu.


"Ikut gue lu!" seru Tiara dengan tatapan tajam pada Adrian. Adrian mengernyit heran melihat tingkah Tiara.


"Mau apa lu?" tanya Adrian.


"Gue nggak bisa ngomong di sini! Ikut gue ke belakang kelas," tekan Tiara yang berjalan.


Adrian hanya berdecak kesal, tapi tak urung dia mengikuti langkah kaki Tiara. Mata Laura hanya mengekori langkah Adrian ke belakang sekolah.


Laura menghela nafas panjang. Akhirnya dia ikut berdiri dan berjalan juga ke belakang sekolah.


"Jadi, mau lu apa?" tanya Adrian


saat dia dan Tiara sudah sampai dibelakang sekolah yang sepi. Hanya ada tumpukan kayu-kayu tua dan tempat pembakaran sampah.


"Nih! Elu tau kan artinya ini?" Tiara menyerahkan sebuah testpack ke Adrian.


Adrian terdiam beberapa saat. Mencerna maksud Tiara.


"Positif? Elu positif? Apa hubungannya dengan gue," cibir Adrian kesal.


"Eh, Paijo! Gesrek lu ya! Kapan gue hoho hehe sama lu, emang berapa cewek yang udah sama lu, hah!" sindir Tiara.


"Apa? Kecuali apa, hah?" tantang Tiara dengan mata melotot.


"Maksud lu ini testpack punya Laura?" Adrian terperangah.


"Iya, punya gue!" sahut Laura yang datang. Tatapan mata Laura kosong. Dia tak banyak berharap pada Adrian.


"Nggak mungkin! Kalian berdua pasti bohongin gue!" Adrian menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


Laura dan Tiara sama-sama menatap Adrian. Tiara memandang dengan tatapan benci sementara Laura dengan tatapan sendu.


"Seharusnya elu berpikir sebelum elu ngelakuin hal yang buruk pada Laura! Mau enaknya nggak mau susahnya lu!" hardik Tiara berkacak pinggang.


"Please, Laura. Elu jangan bohong. Gue cuma melakukan kesalahan satu kali. Nggak mungkin bisa langsung jadi," Adrian masih tak percaya.


"Buktinya ini terjadi, Rian! POSITIF!" tekan Tiara mengacungkan benda berupa testpack di depan wajah Adrian.


Langkah kaki Adrian mundur. Wajahnya pucat pasi. Dia tak menyangka semua akan jadi seperti ini.


"Mau kalian apa?" lirih Adrian akhirnya.


"Tanggung jawab! Gue mau lu tanggung jawab!"tekan Laura.

__ADS_1


"Apa? Tanggung jawab gimana maksud lu?" tanya Adrian yang sudah tak bisa berpikir jernih.


"Nikahi Laura!" Tiara yang menjawab pertanyaan Adrian.


"Gila! Gue masih sekolah. Apa kata keluarga gue kalo tahu!" cibir Adrian.


"Oh, lu jadi nggak mau tanggung jawab!" ucap Laura yang sudah menduga dari awal.


"Bisa aja lu hamil sama yang lain kan?" tuduh Adrian yang tak berpikir panjang.


Plak.


Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Adrian. Nafas Laura memburu. Emosinya memuncak.


"Elu sudah ngancurin hidup gue, terus lu sekarang ngerendahin gue. Elu pikir gue cewek apaan? Kupu-kupu malam, heh?!" Laura berterus terang. Kalimat yang keluar dari mulutnya sudah sangat frontal.


Adrian menunduk sambil memegang pipinya. Dia tahu dia sudah keterlaluan. Tapi, sungguh dia tak siap.


"Oke, kita gugurin aja. Gue yang bakal menanggung biayanya!" putus asa Adrian.


Laura terkejut. Laura langsung menoleh pada Tiara yang sama-sama terkejut.


"Gila lu! Dosa lu udah banyak, lu udah melakukan hubungan yang dilarang agama sekarang lu mau bunuh bayi lu sendiri! Parah, LU BUKAN LAKI!" sembur Tiara menunjuk wajah Adrian dengan jari.


Adrian hanya diam. Terpojok di dinding.


"Ayo, Ra! Nggak usah pedulikan pengecut satu ini!" ajak Tiara menarik tangan Shabila.


"Elu dan kedua teman lu pasti dapat balasannya! Tunggu aja, Allah nggak pernah tidur!" ucap Laura penuh penekanan.


Tiara segera mengajak Shabila pergi sebelum sekolah semakin ramai. Percuma mengharapkan Adrian.


"Hapus air mata lu, Laura! Pecundang itu nggak pantes lu tangisi," tekan Tiara.


Laura segera menghapus jejak air matanya. Sekolah mulai ramai. Jangan sampai ada yang curiga dengan tangisannya.


Hati Laura makin hancur dengan penolakan Adrian. Laki-laki tanggung itu benar-benar pengecut. Hanya bisa berkelit dari masalah. Laura benar-benar kecewa dan menyesal. Mulai sekarang Laura tidak akan mau lagi mengenal laki-laki. Cukup sudah rasanya sungguh sesakit ini!


Sementara Adrian masih di belakang sekolah. Menjerit dan mengamuk sendiri. Meluapkan segala emosi yang ada. Melemparkan kayu-kayu tua ke sembarang arah.


Pikiran Adrian kalut. Rasa bersalah dan berdosa mendominasi. Tapi rasa takut juga menyelimuti. Dia masih muda dan masih ingin mengejar cita-cita. Apa kata keluarganya jika tahu ini semua?


"Aaarrrkkkh." Adrian meremas rambutnya frustasi. Kali ini Adrian berpikir harus menemui Dedi dan Revan. Mereka harus tahu dan ikut bertanggung jawab.


*bersambung


jangan lupa ikutin novel saya, follow novel saya, jgn lupa like dan juga komentar nya ya


bantu follow IG saya

__ADS_1


@sasafebry5


happy Reading and happy enjoy*


__ADS_2