TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
NIAT MENYINGKIRKAN LAURA


__ADS_3

Angel mengekori Dedi hingga berada di belakang ruang laboratorium yang sepi.


Dedi melirik ke sana kemari agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Apaan sih lu, lirik sana sini? Jadi apa rencana lu?" tanya Angel tak sabar.


"Gue cuma mau pastiin semua aman. Nggak ada yang dengar omongan kita," jelas Dedi


"Okey, gue rasa sudah aman ya. Cepetan lu ngomong," Angel terlihat sudah tak sabaran.


"Gue mau Laura di keluarkan dari sekolah ini!" ucap Dedi setengah berbisik pada Angel.


"Okey... caranya?" Angel mengernyitkan kening dan memicingkan mata curiga pada Dedi.


"Hei, gue serius Angel Gue nggak bakal jebak lu. Gue serius ngajak lu kerjasama," jelas Dedi yang merasa dicurigai.


"Baiklah, gue terima kerjasama ini. Jadi, apa rencana lu?" tanya Angel.


"Kita jebak dia. Sini lu gue bisikin," panggil Dedi agar Angel mendekat.


Angel mendekatkan telinganya. Angel tampak berpikir setelah mendengar ide dari Dodit.


"Lu yakin ide lu aman buat kita?" tanya Angel ragu.


"Yakin gue! Lu tenang aja, pasti berhasil kok," Dedi berusaha meyakinkan Angel.


" lu mau gak kita nyingkirin si cupu itu. " ucap lagi Dedi.


Angel tampak kembali berpikir.


"Okey, gue setuju!" Angel akhirnya menganggukkan kepala.


"Siip, entar pas pelajaran olahraga kita beraksi," Dedi tersenyum puas bisa bertemu orang yang mau diajak kerjasama dengannya.


Angel mengangguk, mereka segera kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi.


Tak lama, bel berbunyi. Semua murid sudah di kelas. Belajar pelajaran pertama. Laura anak yang cerdas. Selalu menjadi kebanggaan semua guru.


Piala yang berjajar rapi di ruang guru adalah hasil jerih payah Laura. Puluhan piala menghiasi lemari kaca. Menjadi kebanggaan sekolah bahkan menaikkan level pamor sekolah mereka sebagai sekolah yang mencetak anak-anak cerdas.


Mulai dari lomba matematika sampai sains dilahap habis oleh Laura. Saat di kelas seperti ini, guru yang mengajar selalu menunjuk Laura untuk maju dan mengerjakan tugas.

__ADS_1


Angel tampak mencibirkan bibirnya. Dia harus berdiri di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan matematika di papan tulis. Sedang Laura berhasil menyelesaikan soal yang rumit menurut Angel.


Angel kembali mendengus kesal, saat sang guru memuji kecerdasan Laura.


"Awas aja lu! Tunggu aja lu gue kerjain!" ucap Angel dalam hati.


Hingga pelajaran pertama usai, hukuman Angel akhirnya selesai.


"Adrian, capek banget gue berdiri," keluh Angel saat kembali duduk di kursinya.


"Elu lagi sial aja, sampe dipanggil mengerjakan tugas di depan," cetus Adrian cuek.


"Iya, gitu deh," pasrah Angel yang kemudian memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.


"Okey, gue ke kamar mandi dulu deh. Mau ganti baju olahraga," ucap Angel tersenyum. Sementara Adrian hanya mengangguk.


Adrian juga mengeluarkan baju dan celana olahraga dari dalam tasnya. Dia segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi pria di ujung koridor.


"Ra, yok kita ganti baju berdua. Elu kuat kan olahraga hari ini?" tanya Tiara khawatir. Laura baru saja kemarin dari klinik.


"InsyaaAllah, Ra. Kalo nggak kuat gue bakal ke UKS," ucap Laura sambil tersenyum. Laura dan Tiara menenteng baju olahraga mereka masing-masing lalu berjalan melangkah keluar kelas menuju kamar mandi perempuan.


Saat tak ada satupun orang di kelas, Dedi menyelinap masuk ke dalam kelas. Matanya mengawasi kiri kanan. Dirasa aman, Dedi segera memasukkan sesuatu ke dalam tas Laura.


Angel yang sudah di lapangan, melirik Dedi. Melihat Angel yang menatapnya, Dedi memberi kode dengan anggukan.


Bahwa rencana mereka berhasil. Setelah ini giliran Angel yang akan berakting.


Cuaca panas terik siang ini, membuat Laura kembali merasa tak enak badan. Wajahnya sudah memucat. Laura berjongkok di pinggir lapangan.


Tubuh Laura berasa sudah tak bertulang. Rasanya dia sudah tak sanggup meneruskan olahraga.


"Ra, eh lu kenapa? Wajah lu kok pucat lagi?" Adrian menghampiri Laura.


Laura menggeleng lemah. Matanya kembali berkunang-kunang. Keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Laura tak sanggup kalau harus melanjutkan pelajaran olahraga.


"Tolong panggilkan Tiara," pinta Laura yang sudah tak kuat.


Adrian segera berlari mencari Tiara yang sedang bermain Voli.


"Tiara... tolong Laura dulu," seru Adrian dari pinggir lapangan.

__ADS_1


"Hah? Ada apa?" Tiara berlari-lari dari lapangan menuju Adrian.


" Laura pucat banget. Kita bawa ke UKS aja," Adrian tampak khawatir.


"Hayuk," Tiara tak kalah khawatir. Dia segera meninggalkan lapangan Voli. Untungnya sang guru mengizinkan mereka untuk pergi.


"Ra," seru Tiara saat sampai di depan Laura yang terduduk di tanah. Laura tak menjawab. Bahkan untuk bersuara pun, Laura sudah kehabisan energi.


Tiara segera memapah Laura. Wajah Laura sudah putih pucat. Penglihatannya sudah mengabur.


"Gue bantu ya, sini sama gue," Adrian berusaha membantu memapah Laura.


Laura menggeleng. Dia sama sekali tak sudi dibantu Adrian. Satu inchi tubuhnya pun sudah tak ingin disentuh. Dia membenci Adrian. Semua hal tentang Adrian, Laura membenci.


Bahkan sepatu, baju, mobil Adrian pun Laura membencinya.


Laura bahkan pernah menginjak-injak pena Adrian yang jatuh ke lantai. Dia membenci semua yang berhubungan dengan Adrian, apa pun.


Tiara menyorot tajam melihat Adrian, memberi kode untuk menyingkir. Adrian mengerti. Laura tak ingin dibantu. Adrian menghela nafas, membiarkan Tiara membawa sendiri Laura ke ruang UKS.


Adrian juga tak ingin orang-orang curiga. Lebih baik dia menjaga jarak dengan Laura. Adrian akhirnya kembali ke lapangan, bermain bola kembali.


Tak berapa lama, Tiara dan Laura sudah sampai di ruangan UKS. Tiara membantu Laura merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Lalu membuka sepatu Laura.


Tiara menatap khawatir sahabatnya.


"Ra, mau gue panggilin petugas kesehatan nggak?" tanya Tiara.


Laura menggeleng lemah." Jangan, Ra. Gue takut ketahuan kalo petugasnya memeriksa tubuh gue," lirih Laura dengan suara yang semakin mengecil.


"Oh iya, bener juga kata lu," Tiara mengangguk-angguk mengerti. Tiara melangkah ke lemari obat, berharap bertemu obat yang mungkin saja dia tahu dan bisa membantu Laura sembuh.


"Nah gue nemuin minyak kayu putih, Ra," Tiara sumringah menemukan botol minyak.


Tiara segera membalurkan minyak kayu putih di beberapa bagian tubuh Laura. Lalu mencium kan aroma minyak kayu putih di hidung Laura.


"Gimana,udah lebih enakan?" tanya Tiara.


"Iya, makasih, Ra. Gue berasa lebih enakan," Laura sambil tersenyum. Dia mengambil botol minyak dari tangan Tiara dan menghirup aroma khas minyak kayu putih. Sepertinya sang janin sangat suka dengan aroma minyak yang menenangkan.


"Muka lu pucat banget, Ra. Gimana lu mau aktifitas kalo gini setiap hari?" celetuk Tiara memperhatikan Laura.

__ADS_1


*bersambung.....


jangan lupa follow, like, dan komen ya guys🥰*


__ADS_2