
Adrian memilih pergi dari taman sekolah. Emosinya benar-benar memuncak. Sementara Dedi pun sangat kesal. Rencananya tak berhasil. Dedi memungut sebuah batu dan melemparkan ke kolam. Berharap kekesalannya berkurang.
Dedi kemudian duduk di bangku taman lalu kembali berpikir. Dia tetap berniat mengeluarkan Laura dari sekolah. Tiba-tiba sebuah ide kembali terlintas dipikirannya.
Dedi menyunggingkan sebuah senyuman mengerikan. Dia takut Laura membocorkan rahasianya, kalau masih tetap bersekolah. Maka, dia punya seribu cara untuk mengeluarkan Laura.
Dedi melangkah ringan kembali ke kelas. Sementara kelas heboh karena pengakuan Adrian mencuri ponsel.
"Eh, masak sih Adrian mencuri ponsel?" bisik salah satu murid pada temannya.
"Gue dengar gosipnya sih gitu," ujar murid satunya.
"Tapi ya, Adrian kan emang kayak musuhan gitu sama Laura, kali aja Adrian sengaja biar nama Laura jelek, ya nggak sih?" murid lain menimpali.
"Kalo buat jelek nama Laura, ngapain si Rian ngaku di ruang BP?" murid lain ikut bicara.
"Lah iya juga ya," ujar yang lain bingung.
"Eh, elu semua ngegosip aja! Adrian nggak mencuri ponsel gue. Dia cuma ngaku-ngaku aja. Karena kasihan dengan si Cupu yang lagi sakit!" cecar Angel yang tak suka nama Adrian jadi jelek.
Teman-teman di kelas hanya ber-oohh. Lalu berpura-pura sibuk membuka buku pelajaran. Mereka malas kalau harus berurusan dengan Angel.
"Angel, Laura memang nggak mencuri! Adrian tadi di ruang BP udah mengaku kalo dia yang mencuri !" berang Tiara yang tak terima nama Laura di jelekkan.
"Heh, lu mikir dong! Cowok gue orang kaya, nggak mungkin tak bisa membeli ponsel. Beda level dong sama temen lu yang anak panti itu!" sembur Angel melotot ke arah Tiara.
"Emang kenapa kalo anak panti? Jangan fitnah orang, dong!" suara Tiara makin meninggi.
Melihat Angel dan Tiara seperti akan bertengkar, Laura yang sedari tadi duduk karena menahan pusing kepala segera berdiri. Dia menarik tangan Tiara ke kursinya.
"Bila, ini nggak bisa dibiarkan. Dia udah kelewatan!" Tiara menolak saat tangan Laura menariknya.
Satu gelengan lemah dan tatapan mata sayu Laura akhirnya membuat emosi Tiara mereda. Laura lebih membutuhkan dirinya daripada meladeni si Angel.
"Huh! Nggak berani kan lu! Kalo salah ngaku dong!" cibir Angel.
Tiara hanya mendengus kesal. Matanya melotot tajam mengikuti pergerakan tubuh Angel yang sudah kembali ke tempat duduknya.
Suasana kembali hening. Mereka sedang menunggu guru untuk pelajaran berikutnya.
__ADS_1
" Ra hari ini nggak usah kerja ya. Wajah lu pucat banget," ucap Tiara khawatir.
Laura hanya mengangguk lemah. Lalu menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan di atas meja.
"Obat udah lu minum, Ra?" tanya Tiara lagi. Lagi-lagi Laura mengangguk lemah. Suara-suara di kelas mulai terdengar seperti dengungan lebah. Sepertinya kehamilan Laura kali pertama ini sungguh lemah.
Tak lama, seorang guru bahasa Inggris tampak masuk ke kelas. Laura berusaha menegakkan kepalanya. Mengikuti pelajaran tanpa konsentrasi. Tak satu pun penjelasan guru yang masuk ke pikiran Laura.
Sepertinya dia memang harus istirahat total. Tubuhnya sudah di ambang batas energi Laura tak kuat.
Beruntung pelajaran terakhir ini, hanya satu jam. Laura menghembuskan nafas lega. Tapi, hembusan nafasnya pun terasa panas. Laura menyentuh dahinya dengan telapak tangan. Ah, tubuhnya panas lagi.
Saat guru keluar kelas, Laura langsung menjatuhkan kepalanya kembali ke meja di atas lipatan kedua tangannya.
" Ra, bangun," panggil Tiara menggoyang-goyangkan bahu Laura.
Laura hanya memiringkan wajahnya, melihat Tiara dengan mata sayu dan merah.
"Ya Allah, badan lu panas, mata lu juga merah sangking panasnya badan lu," seru Tiara terkejut. Dia segera memasukkan buku-buku ke dalam tas Laura.
"Elu kuat nggak kalo pulang, Ra? Kita naik motor soalnya," tanya Tiara.
Laura hanya mengangguk lemah. Tapi Laura tak beringsut sama sekali dari tempat duduknya.
Tiara menoleh pada Adrian yang sudah mencangklong tasnya di bahu. Tiara ragu, tapi kondisi Laura memang tidak memungkinkan untuk naik kendaraan roda dua.
"Ra, lu ikut Adrian aja ya. Entar gue ikutin lu dari belakang," ucap Tiara akhirnya.
Laura menoleh pada Tiara. Menggeleng lemah, dia tak mau.
'' Lau,gue aja yang anter lo ya Please, gue cuma nganter lu doang Nggak ada lebih ," ujar Adrian yang berjongkok di depan meja Laura agar Laura bisa mendengarkan suaranya.
Laura tak bergeming. Dia takut ikut Adrian. Tapi, dia tahu kondisi tubuhnya tak memungkinkan untuk ikut Tiara.
"Ra,gue ikutin lu! lu tenang aja ya," Tiara kembali membisikkan kata di telinga Laura.
Akhirnya, Laura mengangguk lemah. Tiara langsung membantu Laura berdiri. Memapah Laura yang jalan terhuyung. Sementara Adrian membawa tas Laura.
Dedi dan Angel hanya memperhatikan dari jauh. Angel menerjang kursi yang ada di hadapannya saat Adrian sudah keluar dari kelas. Dia sungguh kesal. Wajah Angel sungguh tak bersahabat.
__ADS_1
"Elu pasti kesel banget ya?" cibir Dedi melihat Angel yang ada di kursi depan tak jauh dari tempatnya duduk.
"Pake nanya segala lagi lu! Kesel lah gue, Adrian lebih peduli sama si Cupu dari pada gue!" dengus Angel. Bibirnya sudah komat kamit tak jelas.
"Tenang, gue bakal pisahkan mereka, Udah yuk pulang aja," ajak Dedi yang berdiri dari duduknya dan menyampirkan tas di bahunya.
"Caranya gimana?" Angel tampak antusias.
"Ada deh, nanti lu bakal tau juga. Pelan-pelan aja ngancurin dia. Jangan terlalu ketara kali ," Dedi tersenyum misterius. Angel hanya menggedikkan bahu. Lalu ikut berjalan keluar menuju parkiran mobil.
Sementara Laura sudah lebih dulu sampai di parkiran bersama Tiara dan Adrian. Adrian cepat-cepat membuka pintu belakang mobil agar Laura bisa tiduran di kursi belakang.
Untungnya Adrian sudah mengganti mobilnya. Dia tidak lagi menggunakan mobil merah yang dulu pernah dibawanya saat kejadian.
"Itu ada bantal boneka, Ra," tunjuk Adrian pada Tiara yang membantu Laura masuk ke mobil.
Tiara langsung mengambil bantal dan meletakkan di bawah kepala Laura.
" Ra, gue keluar dulu ya. Elu tenang aja, gue ikutin lu dari belakang," Tiara menenangkan Laura.
Laura hanya mengangguk lemah. Dia sudah tak punya tenaga bahkan hanya untuk bicara.
Tiara segera keluar dari mobil, menutup pintu mobil dengan pelan.
"Gue titip, Laura. Awas lu macam-macam, gue nggak bakal tinggal diam!" ancam Tiara sambil mengacungkan jarinya di depan Adrian.
Tiara sambil mengacungkan jarinya. Lalu berjalan ke motornya.
Adrian hanya menghembuskan nafasnya. Dia tahu dia salah. Sudah satu bulan ini pergolakan batinnya terjadi.
Adrian segera berjalan ke arah depan. Masuk ke dalam mobil di belakang kemudi. Menoleh sekilas ke belakang. Melihat wajah Laura yang pucat dan terpejam.
Adrian beringsut ke belakang, mengambil kaca mata tebal yang masih bertengger di hidung Laura. Beberapa saat Adrian menikmati wajah Laura yang terlihat berbeda saat tidak menggunakan kacamata. Cantik!
Adrian kemudian melajukan mobilnya ke jalanan. Mengantar Laura pulang ke panti asuhan. Sementara Laura benar-benar tertidur. Aroma kopi yang menjadi pengharum mobil justru menjadi penenang bagi Laura.
Adrian melirik ke belakang melalui kaca spion. Tiara benar-benar mengikutinya dari belakang.
Hingga akhirnya Adrian sampai di depan lorong panti asuhan. Tak lama Tiara juga sampai.
__ADS_1
"Mobil nggak bisa masuk, lorong terlalu sempit. Kita berdua harus memapa Laura," usul Adrian keluar dari mobil.
bersambung........