
"Elu mau makan apa? Gue beliin makanan yang hangat, ya?" tanya Adrian.
Laura kembali menggelengkan kepala.
"Oh, atau lu ada ngidam sesuatu? Mau gue beliin?" tawar Adrian lagi.
Laura menatap benci pada Adrian. Perhatian Adrian hanya menambah kebencian dalam hati Laura.
"Gue minta lu pergi dari sini!" pinta Laura akhirnya.
"Gue nggak bisa. Sekarang udah malam, gue nggak berani pulang," Adrian beralasan.
Laura mendengus kesal. Laki-laki ini ternyata keras kepala juga. Laura menarik selimutnya lalu kembali merebahkan tubuh.
Kepala Laura miring ke kiri, dia lebih memilih menghadap tembok daripada melihat Adrian yang duduk di sebelah kanan brankar.
"Elu pasti lapar, gue tadi beli cemilan," ucap Adrian memberi sebuah roti. Tapi, Laura tak bergeming. Wajahnya tetap mengarah ke tembok.
" Ra, makan ya. Biar lu sehat, elu pasti lapar," tutur Adrian.
Bunyi perut Laura terdengar. Ah, laura memang sangat lapar.
"Tuh, perut lu bunyi, Ra. Nih roti coklat pasti enak banget," tawar Adrian lagi. Tangannya menyodorkan roti di hadapan wajah Shabila.
Laura tak kuasa menahan lapar, akhirnya dia mengambil roti yang di sodorkan Adrian. Laura memilih duduk dan bersandar pada dinding di belakang brankar. Mulai membuka bungkus roti dan memakannya.
"Ini minumnya," Adrian menyodorkan sebotol minuman air mineral.
Laura menatap ragu pada botol minum tersebut. Dia tiba-tiba mengingat kejadian waktu itu. Semua juga berawal dari botol minum.
"Ini air minum biasa, Ra. Elu lihat kan masih bersegel tutupnya," Adrian seperti paham keraguan yang muncul dari wajah Laura.
laura segera mengambil botol minum dari tangan Adrian. Makan roti membuat tenggorokannya kering. Laura segera minum hingga tandas.
Adrian tersenyum senang. Entah mengapa, hatinya bahagia melihat Laura mau makan roti yang dia beli.
__ADS_1
Tak lama, ponsel Laura berbunyi. Tertulis di layar ponsel nama Tiara. Laurasegera mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum, Ra," sapa Laura sambil meletakkan ponselnya di telinga.
"Wa'alaikumsalam, Ra! Elu di mana sih? Ibu panti nyariin lu. Katanya elu nggak angkat telepon dari tadi?" tanya Tiara khawatir.
"Astaghfirullah, maaf Ra. Gue nggak tahu kalo ponsel gue bunyi," ucap Laura tak enak.
"Iya, elu di mana? Apa masih anter bunga? Ini udah malam?" tanya Tiara lagi.
"Hmm, enggak! Gue nggak kerja hari ini. Kayaknya ibu Laksmi juga kirim pesan ke gue," ujar laura.
"Elu baik-baik aja kan?" Tiara makin khawatir
"Gue di klinik, Tiara. Gue nggak bisa pulang. Besok baru di perbolehkan pulang oleh dokter," jelas Laura.
"Hah, klinik mana? Elu kenapa?" jerit Tiara di ponsel.
"Gue baik-baik aja, tadi cuma sempat pingsan. Gue di klinik permata darma," jawab laura.
"Ada Adrian di sini. Dia jagain gue," sela laura. Dia tak mau sahabatnya khawatir.
"Gue nggak salah dengar? Tuh orang di sana. Gue bakal tetap ke klinik, Ra. Gue nggak percaya sama Rian!" Tiara tetap pada keputusannya. Dia akan ke klinik.
"Ya udah. Lu hati-hati ya. Tolong beli sate ayam pake lontong ya, gue kepingin," pinta Laura
"Siap, gue bakal beliin. Udah ya, Assalamualaikum," Tiara mengakhiri panggilan telepon.
"Wa'alaikumsalam," sahut Laura yang juga mematikan teleponnya.
Laura segera mengecek pesan yang masuk. Ternyata benar ibu Laksmi pemilik toko bunga tempatnya bekerja mengirim pesan. Menanyakan mengapa dia tidak datang hari ini.
"Ra, kalo lu mau sate kenapa nggak ngomong sama gue! Gue juga bisa beliin lu," celetuk Adrian. Dia merasa Laura benar-benar tak memperdulikan keberadaannya di sini.
Laura hanya diam. Dia sibuk mengetik pesan untuk ibu Laksmi. Meminta maaf tidak bisa datang dengan alasan sakit.
__ADS_1
"Bila, gue lagi ngomong sama lu. Elu jawab dong," pinta Adrian lembut.
"Emang lu siapa gue? Emang lu dengar omongan gue waktu dulu di mobil? gue minta lu berhenti melakukan hal menjijikan. Tapi lu nggak dengar kan?" protes Laura mencibirkan bibirnya.
Adrian menghela nafasnya. Laura kembali mengungkit masalah yang lalu. Laura seperti sengaja mengingatkan Adrian akan dosanya waktu itu.
"Gue udah minta maaf, Ra! Please!" mohon Adrian menatap Laura.
"Masalahnya kesalahan lu nggak bisa terhapus hanya dengan minta maaf! Paham lu!" tekan Laura yang balik menatap tajam Adrian.
Adrian kembali terdiam. Dia tak ingin mendebat Laura lagi.
"Sebaiknya lu pulang! Tiara bakal menemani gue di sini," usir Laura
"Nggak! Gue nggak mau pulang. Udah gue bilang ini udah malam, gue bakal jagain lu," tegas Adrian.
"Oh, lu mau jadi satpam? Sorry, gue nggak sanggup bayar gaji lu," sindir Laura
Adrian sebenarnya tersinggung. Tapi, dia berusaha memaklumi. Akhirnya, Adrian beranjak dari kursinya menuju sofa. Adrian menyalakan televisi, mengalihkan pembicaraan dengan Laura yang hanya berakhir dengan pertengkaran.
Laura dulunya hanya diam, pemalu dan penurut. Tapi, Adrian seperti melihat orang lain dalam diri Laura. Gadis itu berubah. Dia menjadi keras kepala, berani memberontak dan mendebat dirinya.
Adrian tak menemukan lagi tatapan cinta di mata Laura. Dulu tatapan Laura begitu memujanya, sekarang mata itu hanya melihatkan sorot kebencian.
Setiap bertemu, mata Laura yang penuh benci sekaligus penuh luka itu seakan mengingatkan Adrian pada malam penuh petaka saat itu.
"Assalamualaikum," sapa suara dari pintu depan ruangan setelah beberapa belas menit berlalu dalam hening antara Laura dan Adrian.
"Wa'alaikumsalam," jawab Laura tersenyum sumringah. Wajahnya langsung berubah ceria saat tahu Tiara yang datang.
Adrian memperhatikan perubahan mimik wajah Laura. Gadis itu terlihat lebih bahagia saat bersama sahabatnya.
Tiara melirik sekilas ke arah Adrian yang duduk di sofa. Tatapan tak suka di tunjukkan Tiara pada Adrian.
" Ra, nih sate pesenan lu. Elu pasti laper banget ya?" ucap Tiara perhatian.
__ADS_1
"Iya, gue laper banget nih. Tapi, besok gue bakal kurangin makan," sahut Laura