TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
DI BAWAH PERLINDUNGAN OM LEON


__ADS_3

Untuk beberapa saat Om Leon dan Tante Chacha terpaku mendengar ucapan Athan. Tapi, Om Leon dengan cepat merangkul bahu Athan lalu memasukkannya ke mobil mereka.


Di luar terlalu berbahaya bagi Athan. Remaja satu ini memang sedang di fase ingin tahu segalanya. Beberapa kali melarikan diri dari penjagaan. Bukan karena sistem penjagaan yang tak ketat, tapi remaja bandel satu ini selalu berhasil membuat para penjaga kasihan padanya dan mengizinkan dia keluar.


"Jalan!" perintah Om Leon pada supirnya, setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil.


"Siap, Pak!" sahut sang supir yang berpakaian serba hitam.


Pakaian hitam memang dress code mereka. Bahkan Om Leon dan Tante Chacha juga selalu menggunakan pakaian hitam.


Om Leon, laki-laki kharismatik dengan wajah tampan meski tak lagi muda. Tubuhnya tetap terjaga, terlihat atletis hasil latihannya setiap hari. Keahliannya membidik peluru tepat pada sasaran dan ilmu bela diri yang tak bisa diragukan.


Sedang Tante Chacha juga tak bisa diremehkan. Seorang perempuan yang ahli bela diri, pernah mewakili negara di saat muda untuk pertandingan bela diri tingkat Internasional dan menjadi juara dunia.


Dunia hitam bahkan mengakui dan menghormati Om Leon dan Tante Chacha. Mereka berdua disegani di kalangan dunia bisnis maupun dunia hitam. Mereka terkenal karena bisa membawa satu juta pengikut dunia hitam kembali hijrah pada jalan kebenaran.


Tante Chacha tampak serius memandang Athan sementara mobil terus melaju.


"Athan, kamu lagi nggak buat alasan biar nggak tante hukum kan?" tanya Tante Chacha menyelidik Matanya memicing curiga.


Athan memasang wajah sok lugu memandang Tante Chacha dengan tatapan mata beningnya.


"Beneran, Tante! Bandelnya saya kali ini ada manfaatnya loh," jawab Athan


"Ohya? Coba ceritakan kalo begitu!" pinta sang Tante.


Selama di perjalanan, Athan akhirnya menceritakan apa yang dia lihat dan dia lakukan sampai tiba-tiba ada suara tembakan menembus dinding kaca toko bunga tadi.


Tante Chacha dan Om Leon saling pandang. Mereka tampak berpikir dalam diam.


"Tante, kok diam? Nggak pake reaksi menangis seember gitu atau terkejut gimana gitu?" cerocos Athan


Pletak!


Satu jitakan gemas dari tante Chacha mendarat di kepala Athan.

__ADS_1


"Ih, enak deh di jitak Tante Chacha. jitak lagi dong, Tante," canda Athan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Anak ini benar-benar ya! Kamu ini fotokopian papamu banget, canda aja kerjaannya," omel Tantenya.


Sementara om Leon hanya menyunggingkan senyum dengan tingkah Athan. Hampir setiap hari Athan selalu meramaikan suasana rumah dengan tingkah konyolnya. Membuat tawa semua penghuni rumah bahkan para penjaga.


Hingga mobil tak terasa sudah sampai di rumah. Rumah besar dengan pagar tembok yang super tinggi dan penjagaan super ketat.


Athan harus berlindung dari sekelompok penjahat yang mengincar dirinya. Turun dari mobil, mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah.


"Segera mandi! Tante tunggu di meja makan," ucap sang Tante mengelus sayang rambut Athan


"Tante, entar ada yang cemburu loh, kalo elus-elus kepala Athan." canda Athan lagi sambil mengerjap-ngerjapkan matanya manja.


Tante Chacha mendelik judes. Tangan Tante Chacha menunjuk arah lantai atas memberi kode agar Athan naik ke lantai atas.


"Oke Tante Cha, yang cantik jelita sepanjang masa harum sepanjang hari," Athan terkekeh lalu langsung berlari menaiki tangga sebelum Tante Chacha melayangkan tatapan judesnya lagi.


Tante Chacha hanya menggelengkan kepala menatap Athan yang berjalan menuju lantai atas.


Athan melepaskan bajunya lalu melangkah ke kamar mandi. Menyalakan shower dan berdiri di bawah kucuran air. Tangannya menyentuh bahu belakangnya.


Ada bekas luka tembakan sepuluh tahun yang lalu. Luka yang akan menjadi ingatan Athan seumur hidupnya. Karena luka itu pula dia harus hidup terpisah dari Mama dan Papanya.


Dibalik keceriaan Athan yang diperlihatkan ke semua orang, ada tangisan dari hati yang hanya bisa dia lepaskan di bawah derasnya air shower saat mandi.


Athan masih mengingat dengan jelas kejadian saat dia berumur delapan tahun. Mama, Papa dan Athan harus berpindah-pindah tempat demi bisa bertahan hidup dari sekelompok penjahat yang mengincar mereka sedari Athan lahir.


Saat dia berumur delapan tahun, untuk kesekian kalinya Athan dan kedua orang tuanya berpindah tempat. Athan harus bersekolah di tempat yang baru lagi.


Namun, kepindahan mereka kali ini sepertinya keputusan yang salah. Di hari pertama Athan masuk sekolah tragedi itu terjadi.


Sepuluh tahun yang lalu...


"Athan belajar yang baik ya, Nak! Nanti mama jemput lagi ke sekolah," ucap sang Mama pagi itu.

__ADS_1


Athan dengan senyum khas anak-anak, senyum secerah matahari pagi mengangguk senang pada


Mamanya.


Mereka baru saja turun dari mobil dan sampai di depan gerbang sekolah. Sang mama hendak mengantarkan Athan memasuki halaman sekolah.


Tapi, dari arah belakang tiba-tiba banyak teriakan dari orang-orang sekitar. Anak-anak sekolah dan para orang tua yang mengantar anak mereka berteriak panik saat melihat seorang pria menodongkan pistol ke arah depan.


Dari jarak tiga meter, pelatuk pistol itu mengarah pada Athan. Mama Athan dengan cepat melindungi putranya dengan tubuhnya.


Suara proyektil peluru dalam hitungan detik telah melesat. Mama Athan terkena tembakan di punggung.


"MAMA!" jerit Athan kecil histeris.


Sang Mama masih berusaha kuat, tubuhnya masih memeluk Athan dengan gemetar. Hanya kalimat zikir yang mengalun dari bibir mamanya.


Tembakan kedua kembali melesat. Diiringi jeritan orang-orang sekitar yang tak berani melawan. Di depan mata Athan, Mamanya ambruk ke jalanan. Tak mampu lagi berdiri melindungi Athan.


"Mama..." kali ini suara Athan terdengar lirih diiringi isak tangisnya. Meminta sang mama membuka matanya yang mulai tertutup.


Pria pembawa pistol tadi maju beberapa langkah tepat berdiri di depan Mama Athan yang terbaring di jalan dan Athan yang berjongkok sambil memeluk Mamanya.


Athan kecil mendongak, melihat wajah seorang pria yang lehernya bertato. Pistol mengarah ke arah Mama Athan


"Jangan jahatin Mama, Om," Athan mengeratkan pelukan ke tubuh Mamanya. Isak tangisnya tak berhenti. Athan kecil sungguh ketakutan. Tapi, dia tetap berusaha melindungi mamanya dengan tubuhnya. Athan semakin terisak saat melihat darah Mamanya sudah menggenang di jalan.


Satu tembakan kembali melesat. Kali ini bukan Mama Athan yang kena. Tapi, bahu belakang Athan terkena tembakan. Baju sekolah berwarna putih itu dalam sekejap berubah warna jadi merah.


Suara jeritan orang-orang sekitar terdengar seperti kumbang di telinga Athan Dalam sekejap dia rebah di atas tubuh Mamanya.


Saat sadar dia sudah berada di rumah sakit. Athan hanya mendengar kalau penjahat yang menembaknya sudah tertangkap. Beruntung Polisi segera datang saat itu.


Bersambung.........


jangan lupa follow, komen, dan like ya

__ADS_1


happy reading 🥰


__ADS_2