TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
002


__ADS_3

Meski ragu, Adrian dan Revan mengikuti langkah Dedi, Mereka dengan pelan mengintai dari luar pagar yang besinya sudah karatan dan bengkok.


"Ayo," ucap Dedi hanya dengan gerakan mulut tanpa suara serta gerakan tangan meminta temannya bergerak.


Mereka masuk lewat celah pagar belakang yang rusak. Dengan cepat berjalan ke samping rumah. Dengan kode tangan, Dedi memberi perintah.


"Periksa depan," perintah Dedi dengan gerakan mulut tanpa suara dan tunjuk tangan pada Revan.


Revan hanya mengangguk dan bergerak pelan. Dia membungkukkan badan, setiap melewati jendela.


Sesampainya di dinding pembatas antara dinding samping dan depan, Revan berhenti. Melihat suasana sepi. Hanya ada dua mobil mewah, Revan yakin kedua mobil itu hasil kelicikan dua penipu.


Revan kembali ke belakang, ia menghampiri Dodit dan Adrian. Menggelengkan kepala tanda tak ada siapapun. Aman!


Tapi, tak lama suara mobil dihidupkan. Mereka bertiga melotot. Revan dengan cepat kembali bergerak ke depan. Mengintip dari sudut dinding. Beruntung banyak tanaman rimbun di halaman itu. Sehingga Revan cukup tenang tak perlu takut ketahuan.


"Ayo, cepetan kak! Kita rayain kemenangan kita. Makan dong, hahaha," derai tawa sang adik terdengar.


"Iya, ih. Nggak sabaran banget sih, ini tadi balik lagi ambil tas loh," celetuk Farida sang kakak.


"Iya,deh. Hayo kita naik mobil sport. Bersenang-senang dong. Biar orang di jalan pada lihatin kita. Betapa kerennya kita, kak," ucap Niko sambil memakai kacamata hitamnya yang mahal.


"Ah, elu mau pamer pasti ya, sama cewek-cewek di jalan," sindir sang kakak terkekeh. Farida kemudian memasang seat beltnya.


"Buat kepuasan hati, dong. Come on," Sahut Adiknya lalu menyalakan mobil dan mereka akhirnya meluncur ke jalanan.


Revan dengan cepat kembali ke tempat Adrian dan Dedi.


"Mereka pergi makan, ini kesempatan kita," bisik Ivan.


"Tapi, ada satu pembantu setau gue didalam," bisik Adrian.


Dodit segera menunjuk tali yang ada di Ivan. "Kalo ketahuan kita kunci dia di kamar, sumpal mulutnya atau ikat dia," bisik Dedi.


Adrian dan Revan hanya mengangguk. Mereka mulai bergerak.


Lewat pintu belakang. Keberuntungan di pihak mereka. Pintu belakang belum terkunci. Sepertinya pembantu mereka lupa mengunci atau karena daerah ini begitu aman. Sehingga kewaspadaan si pemilik agak berkurang.

__ADS_1


Disisi lain, Laura berkali-kali melihat ke arah jalan sempit yang tadi dilewati Adrian. Tak ada tanda-tanda Adrian keluar dari sana.


Laura menunggu dengan gusar, tadinya dia sempat tertidur sebentar. Namun, saat bangun ternyata Adrian belum juga kembali.


Suara Adzan magrib berkumandang dari kejauhan Laura ingin sholat. Tapi, dia tidak tahu dimana masjid di kawasan itu. Kalau dari suara adzan yang terdengar tadi, sepertinya cukup jauh.


"Duh, si Rian nih! Tadi ngomongnya sebentar. Bikin bete aja, gimana mau sholat ini. Apa gue jalan aja cari masjid. Cuma kalo masjidnya ternyata jauh, gue bakal ketinggalan waktu sholat juga dong," ucap Laurasendirian.


Laura masih terlihat bingung dan berpikir. Takut melewatkan waktu sholat.


"Ah, itu kan ada air minum. Gue pake aja buat wudhu." cetus Laura lalu mengambil satu botol minum di kursi belakang.


Laura membuka pintu mobil dan mulai berwudhu. Beruntung dia memakai pakaian yang sangat lebar dan tertutup. Setelah selesai wudhu, Laura kembali menutup pintu mobil.


Laurakembali meletakkan botol minum ke belakang. Lalu memakai kaos kakinya. Memeriksa arah kiblat di hape. Syukurlah, arah kiblat pas lurus ke depan.


Laura bingung mau sholat di mobil atau ditempat lain. Hingga Shabila melihat rumah kosong yang pagarnya sedikit terbuka. Ada teras yang masih terlihat bersih meski halaman banyak semak yang tinggi.


Laura meneguk ludahnya. Dia keluar dari mobil dan berjalan ke halaman rumah kosong.


Akhirnya Laura sholat dengan tenang tanpa ada gangguan apa pun dan ia kembali ke mobil dengan berjalan cepat.


"Alhamdulillah ya Allah." ucap laura lega saat sudah kembali masuk ke dalam mobil.


Sementara Adrian, Dedi dan Revan sudah berada di lantai atas. Mereka mencoba membuka sebuah berangkas di kamar atas.


"Bro, nggak bisa di buka ini," celetuk Adrian.


"Apa ya kodenya?" tanya Dedi kepada Rian.


"Bro, mungkin tanggal lahir tuh perempuan!" Sahut Revan menepuk bahu Dedi menunjuk dekorasi dinding berhiaskan ucapan selamat ulang tahun.


"Iya, tuh ada tanggalnya. Ayo, coba," bisik Dedi.


Adrian mengangguk. Mencoba memutar tombol sesuai dengan tanggal di dinding.


"Yes, beneran terbuka," seru Adrian dan Revan senang.

__ADS_1


"Sstttt," bisik Dedi mengingatkan.


Revan dan Adrian langsung membungkam. Refleks menutup mulut mereka dengan tangan.


"Ayo, cepat. Masukkan ke tas kain elu, Rian. Gue bakal cari tas lain yang bisa dipake," sambung Dedi yang berjalan menuju lemari pakaian.


"Gila, Bro. Dia nyimpen banyak emas batangan, perhiasan berlian sama banyak sertifikat," bisik Ivan pada Adrian. Revan sampai melongo dan menggelengkan kepala.


"Benar-benar penipu licik mereka. Ayo, Van cepetan!" sahut Adrian.


"Iya," jawab Revan dengan singkat.


Mereka berdua dengan cepat memasukkan berbagai perhiasan mewah ke dalam tas.


"Bro, ini ada tas kain pake aja," celetuk Dedi memberi tas pada Adrian.


Adrian segera menyambut tas dari Dedi Kali ini dia memasukkan berbagai sertifikat berharga ke dalam tas.


Sementara Dedi menuju meja rias. Dia mengambil sekotak perhiasan. Mata Dodit terbelalak. Perhiasan yang ada di tangannya adalah perhiasan ibunya yang hilang tahun lalu. Jadi, perhiasan itu bukan hilang, tapi diberikan Papanya pada perempuan licik. Pikir Dedi.


Dedu menggeram kesal Emosinya terasa meledak. Dengan cepat dia mengambil perhiasan dan memasukkan dalam tas. Dia akan kembalikan perhiasan berharga itu pada Mamanya. Pemilik sebenarnya.


Dedui bergerak cepat kembali ke lemari pakaian. Mungkin saja ada tempat rahasia tempat si penipu menyimpan sesuatu. Benar saja, ada sebuah koper dibawah lemari. Dicela yang hampir tak kelihatan. Isinya uang cash dan surat-surat kendaraan.


Dedi mengambil koper tersebut dan kembali mengeram kesal. Ada secarik kertas bertuliskan nama Papanya yang menyatakan kalau Papanya memberikan uang dalam bentuk cash agar tak dicurigai istrinya.


Emosi Dedi semakin tak terkendali. Rasanya dia butuh pelampiasan. Sementara Ivan dan Adrian mengangkat spring bed. Mungkin saja dibawahnya ada sesuatu hal yang penting.


Kali ini, Revan dan Adrian terbelalak. Mereka menemukan foto-foto syur dan memori card yang bisa jadi akan menjadi senjata si penipu untuk memeras di masa depan.


Adrian dan Revan saling melihat dan sama-sama mengangguk. Mereka dengan cepat mengambil semua barang bukti. Hati anak mana yang tak sakit hati melihat foto-foto syur yang bertebaran dibawah tempat tidur. Adrian berusaha menahan laju air matanya. Sesakit ini rasanya disakiti orang yang disayangi.


"Bro, sudah semua?" tanya Dedi.


"Sudah. Ayo," jawab Adrian. Dedi membawa koper, Revan membawa satu tas kain dan Adrian membawa dua tas kain.


Mereka bertiga kompak keluar. Mengintip dari celah pintu. Diluar sepertinya sepi. Dedi memberi kode dengan tangannya untuk mengikuti langkah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2