TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
003


__ADS_3

"Saya akan mendoakan agar putri kalian segera ketemu," ucap laki-laki tua itu. Laki-laki tua itu kemudian pamit sambil membawa paper bag berisi jaket tebal. Hatinya sungguh gembira bisa mendapatkan jaket bagus dengan harga murah.


Hal ini, tidak luput dari perhatian seorang pria memakai topi dan masker. Dia berpura-pura memilih pakaian didekat Papa Birru yang duduk dibalik meja kasir.


"Abang, bukankah tadi jaket satunya berharga lima puluh dollar? Tiga jaket seharusnya seratus lima puluh dollar? Tapi, abang jual dengan harga dua puluh dollar?" tanya Mama Runi dalam bahasa Inggris.


Papa Birru tersenyum. Dia menarik tangan Mama Runi agar mendekat padanya.


"Sayang, harganya memang lima


puluh dollar. Tapi, itu kalo kita lagi berdagang dengan manusia. Sedangkan tadi, kita sedang berdagang dengan Allah. Abang sebenarnya ingin memberi saja jaket itu pada pria tua tadi, tapi dia sudah membawa uangnya dan berharap membeli. Pria itu punya harga diri. Makanya abang bilang harganya dua puluh dollar. Ini adalah sedekah terselubung, sayang," ungkap sang suami.


"MasyaaAllah, pria tua itu dan keluarganya setidaknya akan terhindar dari cuaca dingin saat musim dingin minggu depan, Abang," ucap Mama Runi tersenyum.


"Iya, sayang. Semoga anak kita juga dilindungi Allah," lirih Papa Birru sambil memandang foto Laura, sang putri kecilnya.


"Aamiin," balas sang istri yang kembali menitikkan airmata.


Pria bermasker dan memakai topi tadi akhirnya pergi. Hatinya tersentuh oleh kebaikan kedua suami istri.


Sebenarnya dia adalah anak buah Alex. Dia diperintahkan untuk memantau Papa Birru.


Namun apa yang barusan dia lihat, membuat mata hatinya terbuka. Cerita dari Alex kalau Birru membunuh anaknya rasanya sangat berbanding terbalik dengan apa yang barusan dia lihat.


Birru yang dia lihat memiliki hati yang lembut dan berjiwa sosial tinggi. Rasanya tak mungkin mau mencelakai orang lain.


Akhirnya pria itu pergi dan kembali ke markasnya. Dia mengatakan tak menemukan apapun di toko Birru.


Alex mencari tahu keberadaan Laura. Sebenarnya Alex juga kehilangan Laura, anak buahnya mengkhianatinya. Mereka saat ini mengejar anak buahnya yang membawa Laura.


Alex takut, anak buahnya itu berkomplot dengan Birru. Dia takut Birru yang Laura duluan mendapatkan


Setelah berpikir cukup panjang, pria memakai masker itu, satu malam membongkar brankas milik Alex. Dia adalah orang kepercayaan Alex. Dia sering melihat Alex membuka brankasnya.


Pria bermasker itu, mengambil sebuah map. Map yang pernah ditandatangani Papa Birru untuk pengalihan harta. Sebelumnya pria bermasker juga telah membuat Alex mabuk dan menandatangani surat pernyataan bahwa dia mengembalikan seluruh harta dan perusahaan milik Birru.


Malam itu, pria bermasker itu, mengetuk pintu toko Papa Birru. Papa Birru yang baru saja selesai sholat tahajud segera menuju ke depan toko.


Hatinya tergerak untuk membuka toko padahal sudah jam dua dini hari.


Saat Papa Birru membuka tokonya yang sudah tutup. Dia tak menemukan siapapun, kecuali dua map dilantai bawah toko.


Papa Birru menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepi tak ada siapapun. Membuat dia mengernyit heran.

__ADS_1


"Siapa, Bang? Udah malam kenapa dibuka?" tanya Mama Runi yang cemas. Dia masih memakai mukenanya.


Papa Birru mengambil map dan segera kembali mengunci tokonya.


"Hati abang tergerak untuk membuka pintu tadi. Tak ada siapapun, sayang. Hanya saja abang menemukan dua map ini di lantai," jawab Papa Birru.


"Coba buka, Bang. Mungkin punya pembeli pakaian kita terjatuh. Mungkin ada alamatnya didalam," cetus Mama Runi.


Papa Birru segera membuka map. Mereka berdua tercengang melihatnya.


"MasyaaAllah, ini surat pernyataan yang waktu itu abang tandatangani," seru Papa Birru terkejut.


"Ini bang ada pesannya," ucap Mama Runi.


Bunyi pesan itu mengatakan." Maaf hanya ini yang bisa saya lakukan untuk kalian. Saya tidak tahu dimana anak kalian berada. Saya hanya tahu tempat Alex menyembunyikan surat ini."


Papa Birru dan Mama Runi saling pandang. Mereka sama-sama tidak menyangka.


"Ini pasti anak buah Alex, Bang!" seru Mama Runi.


"Iya, sayang. Kita harus segera menghubungi Leon," ucap Papa Birru yang segera mengambil hapenya diatas meja. Lalu segera menghubungi Om Leon untuk berkoordinasi.


Setelah malam itu, Papa Birru dan Om Leon segera bergerak. Mereka mengambil kembali perusahaan dan lainnya. Bagaimanapun Papa Birru butuh biaya besar untuk mencari Laura.


Banyak karyawan mogok kerja di berbagai perusahaan milik keluarga Birru selama kepemimpinan Alex. Dia bertindak arogan dan semaunya.


Sementara Papa Birru begitu memanusiakan karyawannya. Dulu, saat Papa Birru memimpin, banyak karyawan yang dibantu. Ratusan karyawan di Indonesia banyak yang diumrohkan saat Birru menikah dengan Arunika.


Sementara di perusahaan mereka di negara lain, para karyawan merasa lebih sejahtera saat Birru memimpin. Akhirnya demo para karyawan di mana-mana. Mereka mogok kerja dan melakukan perlawanan dari dalam.


Masalah intern banyak terjadi. Hingga Birru akhirnya bisa mendesak Alex menyingkir dan melarikan diri. Tampuk pimpinan perusahaan kembali pada Birru.


Pencaharian Laura diteruskan, Papa Birru dan Mama Runi masih berpindah-pindah tempat sambil mencari Laura. Mereka juga banyak menyewa detektif dan meminta bantuan Om Leon juga pihak berwajib.


Seluruh tenaga dan upaya mereka kerahkan selama ini.


***


"Jadi, begitulah sayang ceritanya. Kami tidak pernah membuangmu, Nak. Kami mencarimu ke seluruh penjuru dunia. Ke berbagai negara," ucap Mama Runi terisak. Air matanya tak berhenti mengalir selama bercerita.


Laura menghapus air mata di pipi mamanya, dia tersenyum manis.


"Ma, Laura percaya sama Mama. Laura tidak pernah berpikir selama ini, kalau orang tua Laura membuang Laura. Laura yakin ada alasan kuat sampai Laura ada di panti asuhan. Walau selama ini, Laura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi," tutur Laura.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Sudah percaya dengan Mama dan Papa. Sungguh, belasan tahun kami tak bisa tidur nyenyak, tak bisa makan enak memikirkan nasibmu, Nak. Papa hanya makan nasi dan sayur setiap hari. Belasan tahun tak pernah makan daging. Katanya Laura makan apa diluar?" lirih sang mama kembali menangis.


Laura kembali menyeka air mata mamanya. Dia bisa merasakan kesusahan orang tuanya selama ini. Mereka sama-sama tersiksa oleh perpisahan.


"Laura tahu, baru kemarin papa mau makan ayam bakar," ucap sang mama menyunggingkan senyum.


"Papa makan dengan lahap, begitu juga mama. Kami baru bisa makan enak kemarin, Nak. Setelah bertemu denganmu, hidup kami kembali. Terima kasih sayang, kamu bertahan selama ini," tangis sang mama kembali pecah. Dia memeluk Laura


Punggung mama Runi bergetar hebat. Dia menangis penuh haru. Menemukan sang anak disaat yang tepat.


" Laura juga berterima kasih, Ma. Laura senang bertemu mama, papa dan kakak. Terima kasih sudah begitu menyayangi Laura," lirih Laura menangis bahagia.


Malam itu, semua tumpah dalam keharuan. Ibu dan anak itu menangis bahagia. Sementara malam semakin pekat hingga nantinya menjemput pagi.


Sementara di rumah sakit lain, Adrian masih berkali-kali menelepon Laura lagi. Dia mengirim pesan lagi pada Laura Tapi, tak ada satupun pesan tersampaikan. Begitu juga teleponnya tak juga diangkat.


Adrian akhirnya berinisiatif menelepon Tiara. Panggilan ketiga baru diangkat TiaraTiara.


"Halo, Assalamualaikum. Nggak punya kerjaan lu ya! Malem gini ganggu tidur orang!" rutuk Tiara yang suaranya terdengar baru bangun dari tidurnya.


"Wa'alaikumsalam. Maaf Tiara ganggu lu. Gue kepikiran Laura. Elu pasti tahu dimana Laura. Please kasitau gue," pinta Adrian memelas.


"Dih, siapa lu nanyain bestie gue! Kagak kenal gue sama lu!" sembur Tiara mematikan teleponnya.


"Halo... halo... Tiara! Ck, dimatiin lagi telpon gue, Aarkhhh!" decak kesal Adrian.


Adrian tak bisa tidur. Kalaupun dia tidur, dia selalu bermimpi. Dia bermimpi yang menatap Laura marah padanya dan suara tangis bayi di lantai dan darah yang menggenang di lantai. Sungguh menghantuinya.


Adrian tertekan. Dia dihantui rasa bersalah.


Adrian kembali menelepon Tiara. Kali ini hape Tiara tak aktif. Membuat Adrian menarik nafasnya dalam-dalam. Dia sungguh tak bisa tidur.


Mata Adrian terbuka hingga pagi menjelang. Dia sendirian di brankar rumah sakit. Tubuhnya sakit dan jiwanya juga tak tenang.


Garis dibawah matanya sudah menghitam. memikirkan Laura dan bayinya. Tapi, Adrian bahkan tak menguap sekalipun. Dia tak mengantuk sama sekali.


"Ra..... elu dimana? Please, kasitau gue. Maafin gue, Ra. Gue minta maaf. Jangan pergi. Gue bakal tanggung jawab," racau Adrian sendiri.


Sementara diluar ruangan, sang surya sudah datang. Cahayanya yang hangat mulai memandikan bumi.


Tapi, Adrian masih terlentang tak berdaya di brankarnya. Tatapan matanya kosong. Kepalanya berdenyut sakit.


"Laura, elu dimana?" racau Adrian lagi. Membuat Mamanya yang masuk ke ruangan mengernyit heran.

__ADS_1


"Siapa Laura, Rian?" tanya Mamanya.


__ADS_2