TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
003


__ADS_3

"Om langsung ke rumah sakit aja ya, Laura mau di bawa ke rumah sakit," jawab Athan.


"Baik, Om langsung ke sana," sahut Om Leon. Setelah salam mereka akhirnya mengakhiri panggilan.


Ada banyak pertanyaan yang melekat di benak keluarga laura,Apa yang terjadi pada Laura selanjutnya?


Hingga mobil akhirnya sampai di rumah sakit besar. Laura dan bayinya segera ditangani dokter. Bidan diajak untuk menjelaskan kondisi pasien sebelumnya.


Sementara Athan dan Tiara menunggu di kursi tunggu.


Di bandara, sebuah jetpri baru saja mendarat. Sepasang suami istri turun dari pesawat. Sang suami adalah pria karismatik sementara istrinya masih sangat cantik meski tak lagi muda.


Sang suami dengan hati-hati menggandeng tangan sang istri turun dari pesawat. Sementara dibawah tangga pesawat, Tante Chacha sudah menanti.


Tante Chacha dan Mama Arunika erpelukan erat. Kedua sahabat sedari kecil itu melepas rindu.


"Ayo, Runi. Kita akan bertemu dengan Laura," ucap Tante Chacha yang membuat Mama Arunika terkejut.


Tangan Mama Arunika menggenggam erat tangan sahabatnya.


"Cha, saya lagi nggak salah dengar kan?" tanya sang Mama.


"Cha, apa ini betul?" Papa Albirru ikut terkesiap mendengar ucapan tante Chacha.


"Iya, Athan baru saja beberapa saat lalu menemukan Laura Ayo," ajak tante Chacha tersenyum senang.


Mereka bertiga kemudian segera pergi. Air mata bahagia tercetak jelas dari wajah ketiganya.


Air mata bahagia itu akhirnya tertumpah. Air mata yang menggantikan air mata cinta, air mata doa, air mata harapan yang selama belasan tahun ini mereka teteskan.

__ADS_1


Rindu yang akan segera terobati dari ruang hati yang kosong itu akan segera di isi. Permata hati itu telah kembali. Tunggu Mama dan Papa, Nak! Sebentar lagi kita akan bertemu.


Mobil yang berjalan cepat tetap terasa lambat karena tak sabarnya mereka ingin bertemu.


Pernah ada ribuan hari tanpamu, Nak. Senyum kami pudar bahkan kami lupa caranya tersenyum lepas semenjak kehilangan dirimu. Pagi tak pernah menawarkan kehangatan hanya kehampaan, sang surya bahkan membakar harapan. Lukisan di langit senja bahkan tak punya nilai keindahan tanpamu, Shabila!


Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Sementara Om Leon sudah tiba lebih dulu di rumah sakit.


Om Leon membawa penjagaan super ketat. Keluarga mereka langsung menyewa satu lantai rumah sakit demi kenyamanan dan keamanan. Setiap sudut banyak para bodyguard berjaga.


Tiara sampai heran dan kebingungan. Siapa Laura sebenarnya? Kenapa seperti anak sultan yang dijaga ketat pasukan. Apa sebegitu pentingnya Laura?


"Athan," seru sang Mama berlari menyongsong ke arah Athan.


Athan menoleh mama nya, ia langsung berdiri dan berlari menyongsong mamanya. Tangis haru terdengar. Athan, Mama Runi dan Papa Birru berpelukan erat.


Hingga beberapa belas menit kemudian, pelukan mereka bertiga merenggang.


"Mana Laura, Nak?" tanya sang Mama.


Athan tak menjawab, dia hanya menunjuk sebuah ruangan yang ada dihadapan mereka.


"Laura sedang ditangani dokter dari tadi. Kita tunggu disini dulu," ucap Om Leon.


"Apa yang terjadi?" tanya Papa Birru cemas.


Om Leon dan Tante Chacha menggeleng. Mereka semua kompak melirik Tiara yang duduk di kursi. Membuat Tiara merasa kikuk, Sepertinya keluarga Laura bukan orang biasa.


"Namanya Tiara, dia sahabat laura," jelas Athan.

__ADS_1


Keluarga mereka ingin bertanya segala hal pada Tiara. Tapi, pintu ruang tindakan terbuka.


"Dokter, bagaimana anak saya?" tanya mama Runi yang langsung mendekati dokter.


"Alhamdulillah, pasien sudah melalui kondisi kritis. Silahkan jika ingin melihat. Tapi hanya boleh dua orang yang boleh masuk," jelas sang dokter.


KKeluarga Laura semuanya mengangguk. Mama Runi dan Papa Birru segera memakai pakaian khusus dan masuk ke dalam ruangan.


Sepasang mata kedua orang tua itu langsung berkaca-kaca. Mereka melihat anak mereka Laura.


Gadis cantik yang terakhir kali berada di gendongan dan masih bayi dan hanya bisa menangis belasan tahun yang lalu. Kini sudah tumbuh menjadi seorang remaja.


Mama Runi dengan gemetar menyentuh wajah Laura. Nyata! Dia benar-benar menyentuh wajah laura. Papa Birru langsung memegang tangan sang buah hati. Menangis dalam diam. Belasan tahun terpisah ruang dan waktu.


"Laura, ini Mama, Nak!" seru Mama Runi dengan suara gemetar.


"Laura sayang, ini Papa, Nak. Bangun sayang," panggil Papa Birru pelan.


Lamat-lamat telinga Laura seperti mendengar suara yang dia rindukan. Apakah itu ibu dan ayah?


Laura membuka matanya pelan melihat segala serba putih. Apakah dia sudah tiada? Jika dia di surga bisakah dia bertemu ibu dan ayah?


"Sayang, ini Mama," ucap Mama Runi tersenyum.


Suara yang Laura rindukan, wajah yang mirip dengannya. Laura tersenyum dalam keadaan setengah sadar.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu ayah dan ibu. Mungkinkah ini sudah di surga..." batin Laura Dia kembali menutup matanya. kembali hilang kesadaran.


bersambung jgn lupa like komen dan follow

__ADS_1


__ADS_2