TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
KEMBALI SEKOLAH


__ADS_3

Adrian dan Dedi terkesiap. Dua kali mereka di tampar. Pipi mereka terasa pedas. Untuk ukuran seorang perempuan, tamparan Tiara cukup keras.


"Puas lu nampar kita! Temen lu tetap aja udah kotor. Salah temen lu murahan!" hardik Dedi.


Tiara ingin menampar lagi. Tapi, tangannya berhasil di cekal Dedi. Mata mereka beradu. Sama-sama berkilat marah.


"Kalian cowok nggak tahAdrian yang tertunduk.


"Gue mau ketemu Shabila. Biar gue selesaikan masalah ini," pinta Adrian.


"Untuk apa? Untuk memberi duit tutup mulut, heh! Elu harus tanggung jawab!" marah Tiara.


Sementara Laura tak berani keluar. Dia hanya berdiam diri di kamar mengintip dari jendela kamar. Air matanya berderai. Dia tidak menyangka Adrian sekejam itu pada dirinya.


Laura makin merasa hancur. Merasa tak ada satu pun orang yang menyayanginya. Bahkan cinta yang dia dapat pun ternyata palsu.


"Kenapa gue masih hidup ya, padahal gue nggak guna. Semau diri! Kalian lahir dari rahim seorang ibu, dan ibu kalian seorang perempuan. Seharusnya temen lu ini tanggung jawab!" jerit Tiara sambil menunjuk Adrian yang tertunduk.


"Gue mau ketemu Laura. Biar gue selesaikan masalah ini," pinta Adrian.


"Untuk apa? Untuk memberi duit tutup mulut, heh! Elu harus tanggung jawab!" marah Tiara.


Sementara Laura tak berani keluar. Dia hanya berdiam diri di kamar mengintip dari jendela kamar. Air matanya berderai. Dia tidak menyangka Adrian sekejam itu pada dirinya.


Laura makin merasa hancur. Merasa tak ada satu pun orang yang menyayanginya. Bahkan cinta yang dia dapat pun ternyata palsu.


"Kenapa gue masih hidup ya, padahal gue nggak guna. Semua orang nggak butuh gue dan nggak peduli. Gue cuma di manfaatin, hiks." Laura membenturkan kepalanya ke dinding. Berharap bebannya bisa menghilang.


"Gue masih muda! Hidup gue masih panjang, yang bener aja gue harus tanggung jawab," tolak Adrian.


"Pergi lu semua! PERGI!" teriak Tiara yang mendorong pintu pagar hingga Dedi dan Adrian terdorong keluar pagar.


Tiara segera menggembok pintu pagar. Dadanya bergemuruh kesal berhadapan dengan Dedi dan Adrian.


"Mbok! Ingetin ya wajah kedua cecunguk ini. Kalo mereka datang jangan di bukain pintunya," seru Tiara berbicara pada mbok Darti.


"Iya, Non. Maafin mbok tadi bukain pintu," sahut mbok Darti.


Tiara hanya mengangguk dan melangkah masuk kembali ke dalam. Sementara Adrian dan Dedi sudah kembali ke mobil dan pergi.


"Ah, kesel banget gue. Apa-apaan sih Tiara? masih untung kita mau ganti kerugian, iya kan!" rutuk Dedi.


Sementara Adrian hanya diam, pikirannya berkecamuk meski tangannya tetap fokus menyetir. Ada rasa bersalah terselip di hati Adrian. Tapi, dia juga tak tahu apa yang harus dia lakukan.


Mungkin mulai sekarang, dia tak harus terlalu dekat dengan Dedi dan Revan. Kedua temannya keterlaluan.


Andai saja mereka berdua tidak merencanakan hal-hal aneh. Semua ini tidak akan terjadi.


Sementara di kost Tiara, Laura masih menangis. Dia duduk menekuk kakinya dan kepalanya tertunduk, sedang tangannya merangkul lipatan kedua kakinya. Pikirannya kosong seperti tak ada harapan masa depan lagi. Hanya ada kegelapan dan masa depan yang suram.


"Laura... lu kenapa?" tanya Tiara lembut saat masuk ke dalam kamar.


Laura hanya menggeleng lemah.


"Gue mau mandi lagi, gerah banget. Elu nonton tivi aja ya," ucap Tiara lalu menyalakan tivi. Laura memilih acara seorang ustaz yang sedang ceramah di sekolah. Tiara segera meninggalkan Shabila, menarik handuk dan keluar dari kamar.


Laura menonton, meski pikirannya tak karuan. Hingga seorang siswa bertanya pada sang ustad. "Ustad apa benar pacaran itu di larang agama?" tanya siswa tadi.


Pertanyaan siswa tersebut, mengembalikan kesadaran Laura. Dia menyimak serius jawaban dari ustad.


"Dalam surat Al-isra ayat 32 sudah dijelaskan, kalo kita ini tidak boleh mendekati yang namanya zina. Termasuk pacaran tadi, Nak. Berdosa ya. Kalo sudah waktunya insyaaAllah jodoh akan datang. Minta jodohnya sama Allah bukan lewat pacaran, apalagi sentuh-sentuhan fisik. BAHAYA," jelas sang ustad.


Hati Laura tercubit. Ah, memang Alquran tidak pernah salah. Semua untuk kebaikan manusia. Memang dia yang salah tak mengindahkan peringatan dari Allah.


Laura menunduk lagi. Merenung dalam-dalam. Melihat sebuah hijab tergantung di dinding. Mulai hari ini Laura ingin berubah lebih baik lagi. Dimulai dari menutupi kepalanya dengan hijab.


Bunyi hapenya terdengar. Pemilik toko bunga tempatnya bekerja menelpon. Laura bekerja sebagai pekerja lepas di toko tersebut. Dia akan datang setiap pulang sekolah untuk mengantar pesanan bunga ke rumah pembeli.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Shabila di telepon.


"Wa'alaikumsalam, lau. Kamu nggak datang hari ini?" tanya sang pemilik toko.


"Kaki Laura terkena pecahan beling, Bu. Kemarin baru dijahit. Belum bisa bekerja," jawab Laura.


"Oh, begitu. Semoga kamu lekas sembuh ya. Pesanan bunga kita sedang banyak," ucap ibu pemilik toko bunga.


"Iya, Bu. Terima kasih," sahut Laura. Setelah itu ibu pemilik toko bunga mengakhiri dengan salam dan menutup telepon.


***


Dua hari istirahat di rumah Tiara, Laura akhirnya kembali ke sekolah. Kakinya masih belum sembuh betul. Tapi, setidaknya sudah lebih baik.


Shabila sampai di gerbang sekolahnya. Berdiri dengan gamang. Rasanya dia sudah tak ingin lagi kembali ke sekolah. Tapi, mengingat dia sudah di kelas 12, rasanya sayang jika tak dilanjutkan sekolah. Setidaknya dia harus punya ijazah SMA untuk melanjutkan bekerja.


"Eh, neng Laura. Nggak kelihatan dua hari, Neng," sapa pak satpam sekolah.

__ADS_1


Laura terkesiap. Sapaan satpam sekolah membuyarkan lamunannya.


"Iya, Pak. Kemarin Laura sakit," sahut Laura


"Oh, gitu. Tampilan neng Laura sekarang berubah. Lebih cantik pake hijab," puji pak satpam.


"Terima kasih, Pak," ucap


Laura yang kemudian melangkah masuk melewati gerbang sekolah.


Penampilan Laura berubah. Dia sudah mengenakan hijab, rok panjang dan baju lengan panjang. Kacamata yang biasa bertengger di hidungnya yang mancung sudah tak ada. Diganti dengan


softlens untuk mata minus. Tiara yang membelikan.


Laura berjalan menuju


kelasnya. Menarik nafas berkali-kali. Menguatkan mental. Di kelas dia akan bertemu dengan Adrian, Dedi dan Revan.


"Laura," seru Tiara dari belakang. Laura menoleh dan tersenyum.


"Hei, cantik banget lu," puji Tiara merangkul bahu Laura. Mereka berjalan bersama menuju kelas.


"Heh, kenapa lu duduk di tempat Tiara?" ceplos Tiara pada Angel saat tiba di kelas.


"Dih, temen lu aja menghilang dua hari. Noh, duduk di kursi belakang," sewot Angel yang mencibirkan bibirnya pada Tiara dan Laura.


Tiara hendak menjawab lagi tapi Laura memegang bahu Tiara dan menggeleng.


Laura segera melangkah ke bangku belakang. Menaruh tas di laci bawah meja dan duduk.


"Laura nggak enak duduk di belakang. Lagian di depan kan emang bangku lu," rutuk Tiara.


"Udah, nggak apa-apa. Gue males nyari perkara dengan Angel," sahut Laura


"Oke, serah lu deh. Gue ke bangku gue dulu," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Laura.


Tak lama, Adrian datang. Melirik Laura sekilas tapi Laura tampak cuek. Tak memperdulikan Adrian. Penampilan Laura yang berubah, membuat Adrian cukup terpana.


Dua hari ini, Tiara menghibur Laura Membawanya ke salon, perawatan dari atas kepala sampai kaki. Hasilnya wajah Laura yang sebenarnya memang cantik, akhirnya terpancar juga auranya.


Laura sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mau mengenal Adrian lagi. Laki-laki itu secara tidak langsung sudah mengatakan dia tidak mau bertanggung jawab.


"Laura," panggil Adrian yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kursi Laura.


"Elu kemana dua hari ini? Lu beneran sakit? Sakit apa?" Adrian memberondong pertanyaan pada Laura. Dua hari ini pikirannya penuh oleh Laura


Tapi, Laura hanya diam. Tak menggubris pertanyaan Adrian sama sekali.


"Gue mau ngomong. Nanti istirahat di perpustakaan, bisa?" tanya Adrian.


Laura tetap aja diam.


"Laura, lu dengar kan gue ngomong! Gue tunggu!" tekan Adrian yang kemudian pergi kembali ke mejanya.


Laura mendengus. Dia tidak akan datang. Laura belum kuat kalau harus berbicara dengan Adrian. Hatinya terlalu sakit.


Adrian kembali melirik laura dari tempat duduknya. Gadis itu terlihat diam tak meliriknya sama sekali seperti yang selama ini dilakukan Laura. Memujanya dan selalu tersenyum pada Adrian Laura sekarang berubah.


Hingga bel masuk berbunyi. Pelajaran di mulai. Adrian berkali-kali melirik Laura. Tapi, Laura tak melirik Adrian sekalipun. Shabila fokus dengan pelajarannya.


Hingga tiga jam kemudian, bel istirahat berbunyi. Semua anak berebut keluar dari ruang kelas.


"Laura, ke ruangan ibu ya. Ada lomba matematika, kali ini sekolah kita terpilih mewakili provinsi karena kemarin kan kamu udah menang tingkat provinsi. Kali ini kita maju tingkat nasional," papar sang guru.


"Baik, Bu," sahut Laura yang kemudian berdiri dan mengikuti langkah kaki gurunya. Sementara Adrian mengekori langkah kaki Laura hingga tak terlihat lagi.


"Ah, gue nggak bisa ngobrol dengan Laura kalo gini!" dengus Adrian sendiri.


"Bro, lu kenapa sih? Seperti menghindar dari kita?" sapa Revan menepuk bahu Adrian.


"Nggak! Perasaan lu aja kali," jawab Adrian cuek.


"Kita ke kantin yok," ajak Dedi


"Lu berdua duluan aja. Gue entar aja," Adrian mulai menghindar.


"Lu marah ya sama kita berdua. Kita bener-bener minta maaf," ujar Revan tak enak.


"Bro, gimana pun kita sohib. Motor sport lu hari ini bakal sampe ke rumah lu, terus ini ponsel yang kita janjikan," ucap Dedi menyorongkan sebuah ponsel ke meja Adrian.


"Gue nggak butuh lagi ponsel ataupun motor sport. Jangan ganggu gue dulu," tegas Adrian berdiri dari duduknya hendak melangkah keluar.


"Wah, beneran lu marah. Kita kan udah minta maaf," ucap Dedi.


Adrian tidak menghiraukan ucapan teman-temannya. Dia tetap berjalan keluar dari kelas. Sementara Dedi dan Revan hanya melongo bingung dengan perubahan sikap Adrian.

__ADS_1


Adrian memilih duduk di kursi taman sekolah. Dia berharap Laura tidak pernah mengadukannya ke sekolah.


"Rian, sendiri aja lu. Biasanya sama si cupu," sapa Angel.


"Udah deh. Lu pergi sana. Gue mau sendiri," ucap Adrian yang tak mau diganggu di saat pikirannya sedang tak baik-baik saja.


"Ck, gitu aja. Udah lu sama gue aja. Kita kan selevel. Cantik gue lagi dari cupu," goda Angel.


Adrian menatap Angel. Gadis ini memang cantik. Kulit putih dan pastinya mereka sama-sama anak orang berada. Orang tua ada, keturunan yang jelas. Berbeda dengan Laura yang hanya anak panti. Tak tahu siapa orang tuanya.


"Lu mau jadi cewek gue?" tanya Adrian.


"Iya," jawab Angel yang pipinya bersemu merah.


"Ya udah, hayoo," sahut Adrian asal.


"Jadi kita pacaran mulai sekarang?" tanya Angel antusias.


"Iya, kalo mau lu begitu," jawab Adrian ringan. Dia hanya berbicara sembarangan, sudah terlalu pusing dengan masalah Laura. Setidaknya ada Angel yang akan menghiburnya.


Angel segera bergelayut manja. Merangkul tangan Adrian. Disaat bersamaan, Laura muncul berjalan di koridor sekolah. Melewati taman sekolah.


Mata Laura melebar melihat Adrian dan Angel yang begitu dekat. Hatinya mencelos. Merasa dirinya seperti barang bekas. Setelah dipakai lalu dibuang. Kejadian dua hari yang lalu masih membekas dan terbayang di pelupuk mata Laura.


Tapi, laki-laki yang bernama Adrian itu sudah bersama gadis lain. Sungguh hati Laura sangat sakit.


Adrian yang melihat Laura di koridor, refleks melepaskan tangan Angel. Adrian terkejut melihat tatapan tajam mata Laura.


"Kenapa sih?" tanya Angel kesal tangannya di singkirkan Adrian.


Mata Angel mengikuti arah pandangan mata Adrian. Oh, ternyata ada Laura Si gadis cupu!


Angel mendengus tak suka. " Awas lu Laura gue bakal buat perhitungan!" rutuk Angel dalam hati.


Sementara Laura sudah kembali berjalan ke kelas. Laura bertekad akan melupakan Adrian. Tidak mau lagi mengenal laki-laki bernama Adrian.


"Laura, tunggu!" panggil Adrian dari belakang. Tapi, Laura tak peduli. Dia mempercepat langkah kakinya walau masih terasa nyeri di telapak kaki.


"Tunggu dulu, Laura!" ucap Adrian mencekal tangan Laura. Hingga Laura harus menghentikan langkahnya.


Laura hanya diam. Tatapan matanya menyorot tajam pada Adrian. Gemuruh amarah di dalam dada Laura rasanya ingin dia keluarkan pada laki-laki tak bertanggung jawab di hadapannya ini.


"Gue mau ngomong tapi nggak di sini!" pinta Adrian.


"Lepasin tangan gue!" tekan Laura.


"Oke! Gue tunggu lu pulang sekolah," ucap Adrian serius.


Laura melanjutkan langkahnya. Tak menjawab ya ataupun tidak. Laura tahu Adrian paling hanya akan menawarkan uang. Laura tak butuh uang Adrian. Shabila kembali ke kelas.


Hingga beberapa jam kemudian, jam pulang sekolah berbunyi. Laura tampak mengemas buku dan peralatan sekolah.


"Ra, elu kerja sore ini?" tanya Tiara menghampiri laura.


"Iya, gue mau kerja. Tadi bos gue udah menelpon, lumayan hari ini ada lima alamat yang harus gue antar," senyum Laura mengembang. Laura di upah sesuai jumlah alamat yang dia kirim. Satu alamat dia mendapatkan upah dua puluh ribu. Jumlah uang yang sangat membantu Laura. Dia akan menabung untuk kuliah.


"Ya, udah. Gue balik duluan kalo gitu ya. Hati-hati di jalan," ucap Tiara.


"Elu juga. Hati-hati ya," balas Laura tersenyum. Lalu mencangklong tasnya yang sudah mulai pudar warnanya.


Laura berjalan keluar dari sekolah menuju halte bus. Tanpa Laura sadari, ada Adrian mengekori.


"Ra, gue mau ngomong," ucap Adrian dari belakang.


Laura menoleh ke belakang. Berdecak kesal dibuntuti oleh Adrian.


"Mau lu apa, Rian?" ketus Laura Untungnya tempat itu sepi. Hampir tak ada siswa yang menunggu bis di halte. Kebanyakan mereka anak orang berada. Membawa mobil atau dijemput mobil pribadi.


"Ini buat lu," ucap Adrian menyodorkan sebuah kartu ATM.


Laura mengernyit heran. Memandang tajam pada Adrian. Begini Kah caranya menghargai seorang perempuan? Ambil hal berharga lalu bayar sesuka hatinya. Shabila merasa seperti perempuan yang menjual harga dirinya.


"Di dalam ATM ini ada uang dua ratus juta. Ini semua untuk lu. Gue harap lu mau maafin kesalahan gue dan ngelupain semuanya," lirih Adrian.


Air mata Laura tak terbendung. Hatinya terluka.


"Lu pikir dengan uang ini bisa mengembalikan kehormatan gue. Iya, Rian?" hardik Laura menatap tajam Adrian.


"Gue tahu, gue nggak bisa mengembalikan hal yang paling berharga dari lu. Tapi, setidaknya gue tanggung jawab. Ini duit untuk lu. Gue harap lu bakal tutup mulut, anggap semua yang terjadi tak pernah terjadi," pinta Adrian penuh harap.


"Lu bukan laki-laki! Gue benci lu Adrian! Lu sama teman-teman lu pasti dapat karmanya, lihat aja!" kutuk Laura sambil menangis sembilu.


Sebuah bus berhenti di halte. Shabila buru-buru naik bus. Sementara Adrian masih berdiri terpaku di halte. Di tangannya masih menggantung sebuah ATM yang bahkan tak di lirik Laura sama sekali.


Kata-kata karma terngiang di telinga Adrian. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Apa yang akan terjadi pada dirinya nanti?

__ADS_1


__ADS_2