
" are you oke, bro?? " tanya nya pada Adrian.
" aku lagi tidak baik-baik, Di. " jawab nya pada Dedi
" yaudah bro, lu makan aja dulu siap makan lu bisa nyeritain masalah lu ke gue. " ucap nya.
" Oke, Di. "
Adrian pun memakan yang sudah di ambilkan oleh art nya si Dedi hingga habis.
" akhirnya kenyang juga..... " ucap Adrian.
" lu kenapa bro, lu belum ada makan? mau di tambah makanan nya, biar gue suruh bibi ambil kn lgi. " ujar nya pada Adrian.
" makasih Di, gue udah kenyang kok tadi gue belum makan dari tadi pagi sejak masuk sekolah hingga pulang sekolah gue belum sarapan dan juga makan siang, gue streess liat keluargague " jelasnya.
" kenapa lagi dengan keluarga lu Adrian. " tanya Dedi.
" pusing deh liatnya, bokap gue selingkuh dengan sekretaris nya di kantor. bokap gue udah ketangkep basah sama nyokap jdi nyokap gue balas keselingkuhan bokap gue. gue gak mau hancur keluarga gue, Di. " ucap nya dengan sedih.
"Elu yakin sekretaris papa lu pelakunya?" tanya Dedi
"Iya, gue yakin. Tapi masalahnya sekretaris bokap gue ada dua. Nggak tahu yang mana?!" jelas Adrian.
Dedi tampak berpikir. Dia ingin menolong Adrian.
"Rian, gue punya rencana," ucap Dedi enatap Adrian.
"Apa?" tanya Adrian.
Lalu Dedi mendekati Adrian dan membisikkan ke telinganya.
***
Di lain tempat, Laura yang sudah selesai dari toko bunga kini sudah sampai bersama Tiara di depan rumah tante Sri.
Tapi, rumah terlihat di gembok. Laura tak tahu tante Sri ke mana, tante Sri tidak mengabarinya sama sekali.
"Ini rumah tante sri itu?" tanya Tiara yang masih duduk di atas jok motornya.
"Iya, tapi kayaknya nggak ada orang deh," ucap Laura.
"Pergi ke mana ya? Elu nggak diberi kunci rumah?" tanya Tiara.
Laura menggeleng. Jangankan kunci rumah, kamarnya saja tidak ada kunci.
"Ra, anterin gue beli kunci gembok yuk," pinta Laura.
"Buat apaan?" tanya Tiara.
"Buat kamar gue. Nggak ada kuncinya," jelas Laura.
"Busyet, rumah aja yang gede! Giliran kunci kamar aja nggak ada. Pelit banget tante lu," cerocos Tiara yang menghidupkan mesin motornya.
__ADS_1
"Ngomel aja lu, entar nambah cantik!" ucap Laura sambil terkekeh.
"Anak ayah emang cantik, bodynya bagus, hahaha," Tiara ikut terkekeh sambil menirukan salah satu kalimat jargon artis terkenal.
"Ayo, naik," sambung Tiara meminta Laura naik ke atas motornya.
Laura segera naik. Mereka segera menuju toko.
Tak lama, mereka sudah sampai toko. Laura turun membeli dua kunci kamar sekaligus.
"Banyak amat beli lu Laura kuncinya" celetuk Tiara.
"Iya, buat pintu atas sama bawah. Biar kuat gitu nggak mudah didorong," jawab Laura
"Okey, kalo gitu," ucap Tiara.
"Gue mau mengajar setelah ini," sahut Laura.
"Ayo, gue anterin sekalian. Gue temenin lu mengajar," ucap Tiara.
Laura segera naik ke motornya. "Makasih bestieku," ucap Laura.
"cama-cama, my bestay" jawab Tiara yang kembali menghidupkan motornya dan melaju ke jalanan.
Laura memberikan arahan rute jalan ke Tiara hingga mereka sampai di depan rumah mama Soni.
Di teras tampak beberapa orang ibu-ibu berpakaian mewah. Mereka sepertinya kalangan atas. Juga ada lima orang anak termasuk Soni.
"Bila, itu murid lu semua? Lumayan cuannya bestie," Tiara terkikik senang.
"Assalamualaikum," sapa Laura saat sampai di teras rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu-ibu kompak.
"Sini, Laura sayang" panggil Mama Soni yang berdiri dari duduknya.
Laura segera mendekati mama Soni.
"Ibu-ibu ini namanya Laura. Dia ini anak cerdas di sekolah. Udah juara tingkat provinsi di bidang matematika sampai sains. Loncat kelas dua kali," ucap Mama Soni memperkenalkan Laura.
Ibu-ibu tampak mengangguk dan kagum dengan pencapaian prestasi Laura.
"Salam kenal, ibu-ibu," ucap nya
"Wah, ini dia yang kita cari. Kamu mau ya mengajar anak-anak kita?" tanya seorang ibu.
"InsyaaAllah saya mau, Bu," sahut Laura tersenyum.
"Ada lima anak yang bakal Laura ajari. Untuk gaji tenang saja. Ibu-ibu ini pasti memberi gaji lumayan kan, ibu-ibu?" seru mama Soni tersenyum.
"Iya, dong! Seorang guru tuh wajib dihargai. Namanya ilmu itu mahal, saya jadi miris dengan guru honorer atau guru di desa terpencil. Gaji mereka udah kecil dan telat lagi dibayar," cerocos seorang ibu.
"Iya, semoga nanti ada keadilan untuk guru-guru di daerah terpencil," sahut ibu satunya.
__ADS_1
Laura kemudian duduk di dekat anak-anak yang duduk lesehan di atas karpet. Mereka sudah membawa masing-masing meja kecil untuk belajar. Tak sengaja Laura menyenggol meja di sampingnya.
Sebuah majalah lama jatuh. Majalah itu terbuka. Tepat di sebuah berita "BAYI SEORANG PENGUSAHA HILANG"
Laura tertarik membaca sebentar cerita itu. Seorang pengusaha yang terlihat tampan di foto di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik yaitu istrinya. Mereka masing-masing menggendong seorang bayi lucu. Tertulis di sana pengusaha itu bernama Muhammad Darren Albirru dan istrinya Arunika Rahayu sari
Sang pengusaha bahkan menyediakan imbalan yang besar bagi siapa pun yang bisa menemukan keberadaan putrinya.
"Laura, lagi baca majalah lama ya ?" tanya mama Soni.
"Eh, iya. Maaf, Bu," sahut Laura tak enak. Tiara duduk di sebelah Laura.
"Tak apa. Itu majalah lama, sekitar delapan belas tahun yang lalu
"Oh, udah lama banget," Tiara menyeletuk.
"Duh, dulu heboh banget loh. Sampe masuk televisi beritanya," ucap seorang ibu.
"Oh, yang dulu ya, Jeng. Duh, kasihan. Kabarnya sampai saat ini, anaknya nggak ditemukan," timpal ibu yang satunya.
"Nggak bisa dibayangkan sih, stress banget pasti kehilangan anak kayak gitu," ucap ibu satunya lagi.
"Memang anaknya hilang gimana, Bu?" tanya Laura.
"Kabarnya diculik gitu. Tapi siapa penculiknya sampai sekarang nggak tahu siapa," jawab ibu tersebut.
"Berarti udah profesional banget penculiknya," celetuk ibu satunya lagi.
"Delapan belas tahun yang lalu, bahkan banyak anak-anak yang ketakutan nggak boleh main keluar. Sangking hebohnya saat itu," ucap si ibu.
Laura hanya mengangguk. Dia mengelus foto yang ada di halaman majalah lama. Foto yang kertasnya bahkan mulai di makan rayap dan memudar. Entah mengapa masih disimpan mama Soni.
Saat menyentuh foto itu, seperti foto itu berbicara padanya. Ada perasaan aneh menelisik hatinya. Perasaan asing seperti campuran rasa sedih dan rindu. Entah apa?
Padahal Laura bahkan tak mengenal kedua orang di dalam foto itu.
Laura kemudian menutup majalah dan mulai mengajar.
***
Athan yang menunggu mobilnya diperbaiki terlihat melamun. Dia masih memikirkan siapa gadis tadi yang wajahnya cukup mirip dengannya.
"Aduh, kok gue nggak terpikir sih! Kan dia dari toko bunga, gue tanya aja ke sana." ucap Athan sendiri.
Dia kemudian bangkit, meninggalkan orang yang sedang memperbaiki mobilnya. Kembali menyeberang dan masuk ke dalam toko bunga.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa ibu Laksmi ramah.
"Siang, Bu. Saya mau bertanya sesuatu," ucap Athan.
"Boleh. Ada apa, Nak?" tanya Ibu Laksmi yang berdiri dibalik etalase kaca yang tingginya hanya sebatas perut.
"Sekitar beberapa belas menit yang lalu, saya melihat ada seorang gadis berhijab keluar dari toko ibu. Kalo boleh tahu apa ibu mengenalnya?" tanya Athan.
__ADS_1
"Namanya siapa? Dari tadi ada beberapa orang yang berhijab datang ke toko saya," jawab ibu Laksmi.
"Hmm... saya nggak tahu