
Pagi ini, Laura sudah memakai seragam sekolah. Seragam baru. Mamanya dengan cepat menyiapkan segalanya untuk Laura.
Sang Mama bahkan membantu Laura menggunakan korset.
"Bagus banget, Ma. Korset ini beda, bikin nyaman," cetus Laura.
"Iya, ini korset khusus. Ada ion apa gitu, biar tubuh lebih berbentuk dan cepat kembali ramping gitu," tutur Mama Runi.
"Pasti mahal ya, Ma?" ucap Laura tak enak.
"Enggak kok. Cuma berapa belas juta gitu," jawab sang mama ringan.
Jawaban sang mama yang sukses membuat Laura melotot. Untuk sebuah korset saja, Mamanya merogoh kocek belasan juta Laura masih sering kaget.
Bagi mamanya, mungkin beberapa belas juta sama dengan beberapa belas ribu. Tapi, bagi Laura yang bahkan tak pernah melihat bentuk uang belasan juta dia masih kaget.
"Mama juga panggil MUA ke sini, wajah Laura masih pucat. Biar MUA itu sulap Laura biar lebih terlihat segar tidak seperti orang habis melahirkan ," cetus sang mama.
Seorang MUA maju ke depan. Dia dengan lihai menghias wajah Laura dengan riasan yang lembut. Karena harus ke sekolah, riasannya disesuaikan.
Setelah itu memakaikan hijab dengan merek terkenal dan akhirnya Laura siap.
"Duh, cantiknya anak mama. Kalo seger gini nggak akan ada yang tahu kalo kamu baru saja melahirkan. Apalagi perut Laura sudah sangat terlihat rata," ucap mama Runi memperhatikan penampilan Laura
Lalu, seorang pelayan membawa sepatu dengan merek Nike dan juga kaos kakinya.
Laura kembali melebarkan matanya. Berapa jumlah uang yang dikeluarkan mamanya untuk penampilannya kali ini. Mulai dari hijab sampai sepatu.
"Mbak, saya pakai sepatu sendiri saja," ucap Laura tak enak pada pelayan yang ingin memakaikan kaos kaki dan sepatu pada Shabila. Sementara Laura posisinya duduk dan asisten berjongkok.
"Tak apa, Nak. Laura tak boleh banyak menunduk dulu. Tolong dibantu anak saya, ya," pinta mama Runi.
"Baik, Nyonya," sahut pelayan tersebut.
__ADS_1
Laura akhirnya setuju saja, dia hanya duduk dan dipasangkan sepatu. Tak lama, Athan pun muncul.
Athan tampak tampan dengan baju kaos hitam dan celana panjang. Tak lupa sepatu sport.
"Sudah siap?" tanya Athan.
"Sudah, kak. Ayo," jawab ly. Athan segera mencangklong tas sekolah Laura. Lalu mereka pamit pada Papa Birru, Mama Runi dan Dayyan.
Bayi mungil itu tampak komat kamit tak jelas, mungkin ingin mengatakan "hati-hati di jalan, Bunda."
Athan dan Laura akhirnya turun ke bawah. Mereka naik ke dalam mobil. Diiringi lima mobil. Dua mobil di depan dan tiga mobil dibelakang.
Pihak kepolisian juga sudah dihubungi. Agar bisa membantu pengamanan.
Laura sampai melirik ke belakang dan ke depan. Merasa aneh dengan begitu banyaknya rombongan yang mengantarnya sekolah.
"Kalo Laura sekolah umum ya begini. Kita bakal di kawal, area sekolah bakal disisir. Jangan sampai ada penyusup dari pihak musuh. Makanya kakak hanya home schooling," tutur Athan yang mengerti mengapa adiknya bengong.
"Tapi, berlebihan nggak sih, Kak? Berasa orang penting banget kalo dikawal begini," cetus Laura
"Iya juga sih," ucap Laura mengangguk mengerti.
Hingga akhirnya mereka tiba di sekolah. Disana ternyata orang-orang Om Leon juga sudah ada. Mereka baru saja selesai memeriksa sekolah.
Mobil yang ditumpangi Laura baru masuk ke parkiran sekolah saat kepala keamanan dari pihak Om Leon menyatakan keadaan aman.
"Kak, ini udah boleh keluar?" tanya Laura bingung.
"Udah. Ayo, kakak antar ke kelas. Kakak nggak pernah sekolah umum gini. Pengen tahu rasanya gimana," celetuk Athan.
"Ayo, kak," sahut Laura senang diantar kakaknya ke kelas.
Banyak pasang mata melihat mereka berdua. Apalagi Laura yang yatim piatu turun dari mobil Mercedes-Benz. Siapa yang percaya? Tentu saja semua bertanya-tanya.
__ADS_1
Sementara Papa Birru juga sudah sampai di sekolah tak lama dari Laura tadi. Dia segera ke ruangan kepala sekolah. Agar pihak sekolah tahu status Laura dan tak terkejut jika pihak mereka setiap hari akan mengadakan pengamanan jika Laura sekolah.
"Wih, sama siapa tuh Laura? cakep bener. Apa artis ya?" tanya Nurul kepo.
"Wah, iya. Laurakenapa tampilannya berubah ya. Itu kan tas mahal, jilbabnya juga itu merek terkenal loh," sahut teman mereka yang lain.
"Busyet. Apa yang terjadi nih? Laura jadi Cinderella. Pake digandeng cowok lagi. Wah... wah...wah.... tiga hari yang mengubah segalanya," ucap Sueb kagum.
"Dapet dimana Laura cowok bening kayak gitu? Cowoknya ya?" celetuk teman mereka yang perempuan.
Murid-murid mengintip dari jendela kaca kelas. Sampai laura masuk ke kelas, pandangan mereka
juga mengikuti. Gadis-gadis memandang takjub pada Athan. Sementara remaja laki-laki takjub melihat tampilan Laura yang lebih berkelas.
"Cubit gue. Itu manusia bukan sih? Ganteng pake banget," seru salah satu gadis.
"Iya, ih. Berasa melihat Oppa lee min ho secara langsung, huahhh," histeris gadis satunya.
"Ajak kenalan yuk. Ini oppa lee min ho tapi versi rada ada bule nya dikit ya," ucap satunya.
Mereka bertiga mendekati lagi. "Hai, Ra," sahut mereka.
Laura menoleh ketiga gadis ini tak pernah menganggap Laura ada selama ini. Tak pernah menegur Laura dan sekarang hari ini mereka menegur Laura
"Sorry, kalian mau apa? Tumben tegur Laura? Biasanya nggak mau kenal," cibir Tiara menutupi Laura yang sudah duduk di bangkunya.
"Ih, awas dong! Kita mau kenalan sama cowoknya Laura cetus mereka.
"Sorry semuanya, kalian bukan tipe gue. Silahkan pergi," ucap Athan menjentikkan jarinya.
Athan duduk didekat Laura dia ingin merasakan ramainya sebuah kelas bagaimana. Mendengar ucapan Tiara ketiga gadis tadi tak pernah mau berteman dengan adiknya, membuat Athan tak suka.
Sementara tiga gadis tadi mencebikkan bibirnya. Mereka kecewa cowok super keren di mata mereka tak mau berkenalan.
__ADS_1
"Kak, sebentar lagi ujian. Kakak tunggu di mobil ya," bisik Laura
"Okey, jangan lupa baca doa. Semangat," ucap Athan sambil mengacak hijab di kepala adiknya gemas lalu berdiri dan pergi.