TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
tanpa judul 2


__ADS_3

"Jaga mulut kamu! Sebentar lagi surat panggilan dari pengadilan akan datang. Tak perlu lama-lama saya meneruskan pernikahan dengan kamu!" berang sang suami.


"Saya malah sangat bersyukur bisa bebas dari kamu! Hidup saya tidak lagi berada di bawah tekanan kamu yang otoriter. Mengatur inilah mengatur itulah," cibir sang istri tak suka.


"Saya juga bersyukur! Seharusnya dari dulu saya ceraikan kamu! Perempuan yang cuma mau duit saja, kerjaan kamu cuma arisan, kumpul-kumpul sama teman sosialita kamu itu!" murka sang suami.


"Capek saya meladeni kamu! Saya mau ke ruang guru," ucap sang istri yang langsung melangkah ke arah ruang guru.


Sang suami mendengus kesal lalu mengekor di belakang. Jika pihak sekolah tidak mengabari, mereka tidak tahu Adrian tak sekolah bahkan tak pulang ke rumah.


Baru satu jam yang lalu, Papa Adrian menelepon ke rumah. Menanyakan keberadaan Adrian.


Saat sampai di ruang guru, seorang guru mengantarkan kedua orang tua Adrian ke ruang kepala sekolah.


"Selamat siang, Bu!" sapa Mama dan Papa Adrian saat tiba di depan pintu ruang kepala sekolah.


"Siang Bu, Pak! Silahkan masuk dan duduk," ucap kepala sekolah sopan.


Orang tua Adrian banyak membantu sekolah. Bahkan gedung sekolah bisa menjadi beberapa tingkat karena bantuan orang tua Adrian, Dodit dan Ivan.


Mama dan Papa Adrian akhirnya duduk di kursi di hadapan kepala sekolah. Sementara kepala sekolah sedang berpikir dan menyusun kata-kata yang tepat.


Bagaimana pun orang tua Adrian sangat berjasa untuk kemajuan sekolah mereka.


"Begini Pak, Bu, kami ingin menanyakan keberadaan Adrian. Apakah Adrian sakit atau bagaimana? Kami sudah mencoba bertanya pada Dodit dan Ivan, teman akrab Adrian. Tapi, mereka berdua pun tidak tahu," jelas ibu kepala sekolah.


"Iya, Bu! Kami lupa mengabarkan kalo sebenarnya Adrian sedang sakit. Ini surat keterangan dari dokter," ucap Papa Adrian berbohong.


Papa Adrian menyodorkan sebuah kertas berisi keterangan sakit dari dokter kenalan mereka.


Ibu kepala sekolah mengambil surat dan membacanya.


"Dua minggu ya untuk pemulihan! Memang Adrian sakit apa kalo boleh tahu?" tanya kepala sekolah.


"Sakit perut!" ucap Papa Adrian.


"Sakit kepala!" Mama Adrian menjawab bersamaan dengan Papa Adrian.


Kepala sekolah mengernyit heran. "Jadi, yang betul sakit perut atau sakit kepala Pak, Bu?" tanya kepala sekolah.

__ADS_1


"Maksud kami hmm... Adrian sakit perut... hmm...sangking sakitnya sampai... merambah ke kepala. Sekarang... kepalanya juga ikut sakit," ucap Papa Adrian. Kalimatnya terputus-putus karena bingung merangkai cerita bohong.


"Nah, iya! Itu maksud kami, Bu," Mama Adrian berusaha meyakinkan.


Kepala sekolah sebenarnya mencium gelagat tidak beres dari kedua orang yang ada di depannya ini. Tapi, dia hanya bisa mengangguk saja. Berpura-pura mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut.


Beginilah susahnya berhadapan dengan kekuasaan. Bohong pun kita harus percaya karena ditekan kekuasaan.


"Baiklah, kalo begitu! Kami mengerti," ucap kepala sekolah.


"Tolong anak saya jangan dibuat alpa di rapot. Buat tetap masuk seperti biasa!" tekan Papa Adrian.


Kepala sekolah menarik nafas yang terasa berat. Dia tak berani melawan daripada dia di pecat dengan manipulasi kasus yang mencoreng namanya.


"Baik, Pak, Bu. Akan kami usahakan," ucap kepala sekolah melemah.


Login


"Oke, tidak ada lagi yang harus dibicarakan kan?" tanya Mama Adrian.


"Tidak ada, Bu. Hanya itu saja," ucap kepala sekolah.


"Kalau begitu, kami permisi! Selamat siang," tutur Papa Adrian yang berdiri lebih dulu. Lalu disusul Mama Adrian.


kepala sekolah lalu keluar dari ruangan. Papa dan Mama Adrian berjalan menuju parkiran tanpa saling menoleh lagi. Saling membuang muka, saling membenci tak bersisa lagi rasa yang dulu pernah ada.


Sesampainya di parkiran, mereka naik ke mobil masing-masing dan pulang dengan arah jalan yang berbeda. Tak hanya pikiran yang tak sejalan, bahkan arah jalan pun mereka sudah berbeda.


Sementara di kelas, guru yang mengajar saat ini tidak masuk. Murid-murid hanya diberikan tugas oleh guru pengganti.


"Ra, kok Adrian nggak masuk-masuk ya? Aneh deh!" celetuk Tiara saat mereka mengerjakan tugas bersama di meja Laura.


"Iya sih, Aneh! Bahkan Dedi dan revan nggak gangguin gue. Beneran aneh!" ucap Laura ikut mengernyitkan kening.


"Sepertinya mereka bertiga sedang ada masalah," sahut Tiara.


Sementara orang yang mereka bicarakan, Dedi dan Revan sudah kabur dari kelas. Mereka keluar dari sekolah menuju tempat persembunyian Adrian. Mereka ingin mengabarkan kalau orang tua Adrian tadi ke sekolah.


"Masalah? Masalah apa yang membuat mereka jadi nggak gangguin gue? Bukannya mereka biasa menyelesaikan masalah dengan duit!" cetus Lauraa yang berbicara sambil menulis tugas sekolah.

__ADS_1


"Entah, mungkin berat banget kali! Kita jadi nggak bisa ngomong masalah kemarin dengan Adrian," papar Tiara.


"Biarin dulu, Ra. Jujur aja seminggu ini gue merasa tenang banget. Perut gue nggak kram semenjak mereka nggak peduli sama gue," lirih Laura yang menghela nafas lega.


"Segitunya ya, efek buat lu? Elu nggak mau periksa gitu? Biar bisa ketahuan sejak dini, takutnya ada masalah dengan kandungan lu," bisik Tiara. Untung tak ada murid lain di dekat mereka.


Murid-murid lain lebih banyak kabur ke kantin. Atau mengambil gitar di ruang kesenian dan bermain gitar.


"Kayaknya aman aja perut gue. Asal nggak ditekan dengan mereka aja," ucap Laura.


"Eh, Laura! Ke mana Adrian nggak masuk, heh!" Angel tiba-tiba datang dan menggebrak meja Laura.


Laura terkejut dan refleks memegang perutnya. Rasanya dia terlalu banyak mendapat tekanan selama kehamilan.


"Gue nggak tahu!" seru Laura tak suka.


"Heh, tali jemuran! Elu cari ke rumahnya. Tanya sama emaknya! Kenapa lu tanya sama kita!" bentak Tiara berdiri dari duduknya.


"Dih, gue nggak ngomong sama lu jepit rambut gajah! Gue ngomong sama teman lu!" hardik Angel tak mau kalah.


"Otak lu dipake! Teman gue lu tanya, dia taunya kimia, fisika, matematika. Paham lu!" seru Tiara.


"Elu tanya soal pelajaran aja ya. Hayo yang mana yang mau lu tanya? Entar gue ajarin deh, biar lu nggak di hukum berdiri lagi di depan kelas!" sindir Laura yang sudah tak tahan lagi selalu ditekan Angel.


"Elu, awas ya!" geram Angel menghentakkan kakinya ke lantai kelas. Lalu pergi dengan bersungut-sungut tak jelas.


Tiara dan Laura terkikik dan mereka melakukan tos tangan.


"Gitu dong, Laura! Dia mah aslinya penakut, asal kita sok-sokan berani! Mana lagi sekutunya si Adrian, Dedi dan revan nggak ada di sini. Mana berani dia sama kita!" Tiara terkekeh.


"Iya, makasih ya bestie selalu bantu gue, menyemangati gue dan buat gue lebih berani sekarang," ucap Laura tulus.


"Biasa aja bestie. Nyontek dong," Tiara langsung menyambar buku tugas Laura


"Dasar kebiasaan tak baik. Tinggal satu soal lagi, kita ke perpustakaan yuk," ajak Laura


"Okey, hayuk!" Tiara setuju. Mereka kemudian diam dan melanjutkan mengerjakan tugas. Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai dan segera berdiri dan melangkah keluar. Menuju ruang perpustakaan.


Sesampainya di sana, Tiara dan Laura segera mencari buku yang mereka suka.

__ADS_1


Laura yang hobi membaca mencoba melangkah ke lemari buku bagian belakang yang jarang dikunjungi siswa.


bersambung....


__ADS_2