TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
tanpa judul


__ADS_3

Sementara teman-teman yang lain juga mulai mengerjakan soal ulangan. Ibu guru terlihat patroli berkeliling kelas. Melihat murid-murid mengerjakan soal kimia darinya.


Setiap ibu guru berbalik badan ke arah depan, ada saja yang saling menoleh meminta kunci jawaban. Bahkan ada yang melempar kertas pada temannya memberikan jawaban.


Laura terlihat tenang mengerjakan soal kimia. Dia tidak terlihat rusuh seperti teman-temannya. Angel sempat sekilas melihat tubuh Laura dari belakang.


Angel mencibirkan bibirnya. Menganggap Laura sok pintar. Mata Angel seperti mata elang, menunggu guru lengah. Saat guru lengah, Angel langsung menarik kertas kecil dari balik ikat pinggangnya.


Angel sangat senang. Tujuh dari sepuluh soal, tertulis jawabannya di dalam contekan yang dia buat.


Sangking asyiknya menyontek, Angel tak sadar ibu guru sudah berada di sampingnya. Ibu guru rupanya berjalan dari arah barisan kursi belakang.


"Angel, maju ke depan!" marah sang guru sambil menunjuk arah papan tulis.


Angel gelagapan. Terlalu asyik menulis sampai tidak memperhatikan arah jalan sang guru sudah sampai di tempatnya. Wajah Angel memucat. Ibu guru langsung menarik kertas contekan.


"Berani sekali kamu di pelajaran saya menyontek!" berang sang guru yang memeriksa tubuh Angel. Alhasil ditemukan tulisan rumus di tangan dan kertas-kertas kecil di dalam kaos kaki.


Jantung Angel berdebar hebat. Semua mata temannya tertuju padanya. Angel malu, dia seperti seorang tersangka.


"Ayo, ke depan kamu! Berdiri di depan kelas sekarang!" seru sang guru yang merampas kertas ulangan Angel.


Mau tak mau Angel berdiri dan maju ke depan. Menahan rasa malu diperhatikan oleh seisi kelas.


"Inilah contoh murid yang tak mau belajar. Berpikir pendek dengan menyontek! Kalian pikir kalian di sekolahkan orang tua untuk belajar jadi penipu, iya? Atau menjadi orang yang licik?" Semua murid tampak tertunduk saat ibu guru berdiri di depan kelas dengan wajah marah.


"Mau jadi apa generasi bangsa kita ke depannya, kalau ulangan saja kalian curang?" Jika kalian ditakdirkan menjadi pemimpin di masa yang akan datang, mulailah belajar jujur dari hal paling kecil. Bangsa kita sudah banyak orang pintar, Nak! Kita hanya kekurangan orang yang jujur dan berani adil. Paham kalian!" Ibu guru memberi wejangan pada semua muridnya.


"Iya, Bu," sahut murid-murid. Sementara Angel berdiri pasrah di depan kelas. Dia menggerutu dalam hati. Menyesali keputusan memilih duduk di tempat Laura. "Ah, gue sial pasti gara-gara memilih duduk di tempat Laura." rutuk Angel dalam hati.


Sementara teman-temannya mulai fokus mengerjakan soal ulangan lagi. Tak ada yang berani membuka kertas contekan lagi. Antara sadar dengan wejangan sang guru juga rasa takut ketahuan lalu di hukum berdiri seperti Angel.

__ADS_1


"Anak-anak, yang sudah mengerjakan ulangan boleh dikumpulkan di meja ibu. Boleh keluar kelas yang sudah mengumpulkan ulangan," ucap ibu guru.


Tak ada satu pun murid yang berdiri dari duduknya. Hanya Laura yang berdiri dari duduknya lalu meletakkan kertas ulangan di meja guru.


"Laura kamu, boleh keluar. Kamu benar-benar belajar, cuma setengah jam kelar," Ibu guru mengacungkan jempolnya.


"Iya, Bu. Laura keluar dulu," sahut Laura yang kemudian keluar kelas. Diiringi tatapan mata teman-temannya yang menggeleng-gelengkan kepala. Berdecak kagum pada kecerdasan Laura.


Mata Angel bahkan mengekori jalan Laura hingga keluar dari pintu kelas. Hatinya sangat kesal. Seandainya dia secerdas Laura. Tentu dia tidak berdiri di depan kelas seperti ini.


Dedi merampungkan jawabannya dengan cepat. Melihat Laura keluar kelas, apalagi di jam pelajaran tentu di luar sepi. Waktu yang tepat untuk berbicara dan menekan Laura


Dedi mengerjakan asal jawaban ulangannya. Dia juga tidak belajar. Semalam dia asyik bermain game.


Toh, tak ada yang mengawasinya di rumah. Hanya ada asisten rumah tangga. Orang tuanya sudah berangkat lagi, entah kali ini perjalanan dinas ke mana, Dedi tak peduli.


"Bu, saya sudah selesai," ucap Dedi menyerahkan lembar jawaban pada gurunya.


"Kamu yakin, jawaban kamu benar?" tanya sang guru.


"Yakin, Bu!" jawab Dedi pura-pura yakin. Dia tidak peduli jika jawabannya salah. Dia pasti bisa lulus dengan mudah. Orang tuanya punya pengaruh di sekolah. Tentu sekolah akan membantu, pikir Dedi.


Ibu guru terlihat menggelengkan kepala. "Kalo kamu yakin, ya sudah. Kamu boleh keluar. Tapi, benar kamu tidak ingin memperbaiki jawaban kamu?" tanya ibu guru.


Dedi menggeleng. "Saya sudah yakin dengan jawaban saya, Bu," ucap Dedi walaupun dia tahu, jawabannya tidak ada yang benar.


"Baiklah, silahkan keluar," sahut ibu guru akhirnya.


Dedi segera keluar. Tak memperdulikan Angel yang menatapnya. Dedi segera mencari keberadaan Laura


"Tuh Cupu nggak mungkin ke kantin! Dia mana ada duit." ucap Dedi sendiri.

__ADS_1


Matanya awas ke mana pun. Dedi berpikir sejenak.


"Ah, pasti dia ke perpustakaan. Tuh Cupu pasti lagi baca buku. Kan dia kutu buku." Dedi tersenyum senang. Dia segera berjalan menuju ruang perpustakaan.


Tak berapa lama, Dedi sampai di luar perpustakaan. Dedi mengintip dari jendela kaca. Mencari keberadaan Laura


"Nah, benar kata gue! Si Cupu pasti di sini." Dedi bicara sendiri.


Dedi memperhatikan sekitar, tak ada murid lain di perpustakaan. Karena ini memang masih di jam pelajaran. Sementara guru yang biasa menunggu di perpustakaan juga tak terlihat. Dedi menyunggingkan senyum kemenangan.


"Hai Cupu, asyik benar baca buku! Gimana rasanya di usir dari panti asuhan?" sindir Dedi


Laura yang sedang fokus membaca buku ensiklopedia tampak terkejut. Dia mendongakkan kepala. Melihat Dedi sudah berdiri di samping meja tempatnya membaca.


Laura melirik kanan kiri tak ada orang. Tiba-tiba perasaan takut menyergap perasaan Laura. Dedi pasti sengaja menyusulnya ke sini.


"Kenapa? Takut ya?" Dedi mengintimidasi Shabila dengan tatapan matanya yang tajam.


Laura menggeleng lemah. "Lu mau apa? Gue nggak ada salah sama lu," tanya Laura memberanikan diri.


"Nggak ada salah? Selama lu nggak menuruti keinginan gue, lu bakal gue ganggu terus!" tekan Dedi yang duduk dengan santai di kursi sebelah Laura


Laura beringsut, menggeser kursinya agar menjauh dari Dedi


"Gue punya penawaran buat lu, dengarkan gue!" tawar Dedi menatap Laura yang terlihat memberanikan diri menatap Dedi


"Gue bakal biarin elu sekolah dengan tenang, dan kembali ke rumah lu yang bernama panti itu asal ..." Dedi menggantung kalimatnya, menatap mata Laura tajam agar gadis di depannya ini merasa tertekan.


Laura tetap diam. Kendati dia takut luar biasa, tapi Laura berusaha tetap tenang.


"Asal elu mau menggugurkan kandungan lu," tekan Dedi.

__ADS_1


Laura terkesiap. Dia tak berani menghilangkan kehidupan. Bagaimanapun dia harus bertanggung jawab terhadap kehidupan yang telah dihembuskan ke dalam rahimnya.


__ADS_2