
Deburan ombak bersahutan dengan suara dua orang manusia. Satunya seorang pria dengan usia yang hampir senja, tampak bergandengan tangan mesra dengan seorang wanita yang jauh lebih muda dari si pria.
"Mas, makasih gelang berliannya, aku suka banget," ucap si wanita sambil tetap menggandeng mesra tangan si pria yang ternyata Papanya Adrian.
Mereka berdua berjalan menyusuri tepian pantai.
"Apa pun untuk kamu sayang, yang penting kamu bahagia dan calon anak kita jaga baik-baik ya," sahut Papa Adrian sambil mengelus perut si wanita.
"Eh jangan, Mas," tolak si wanita langsung menyingkirkan tangan Papa Adrian dari perutnya.
"Loh, kenapa Farida?" tanya Papa Adrian bingung.
"Hmm... geli kalo dielus gitu," ucap Farida beralasan.
"Oh, semenjak hamil kamu jadi sensitif ya," ujar Papa Adrian terkekeh.
"Iya, Mas. Ohya, kita duduk di situ yuk, Mas," ajak Farida mengalihkan pembicaraan.
"Boleh," sahut Papa Adrian. Mereka duduk di pohon kayu tumbang yang tadi diduduki Adrian dan Laura
Jarak mereka sekarang sangat dekat dengan Adrian dan Laura yang berada dibalik rimbunnya pepohonan. Hingga suara Papa Adrian dan Farida terdengar.
Adrian merapatkan tubuhnya dibalik pohon kayu besar agar tak terlihat. Sementara Laura berada di dekat Adrian berdiri.
"Sayang, kapan kamu bakal menceraikan istri kamu?" tanya Farida manja pada Papa Adrian. Dia merebahkan kepalanya di bahu Papa Adrian.
"Sabar, Sayang. Sekarang lagi proses pengadilan. Mas sudah berbicara dengan pengacara agar bisa cepat mengurus perceraian," jawab Papa Adrian sambil mencium tangan Farida dengan mesra.
"Benar ya, Mas. Janji loh! Perutku nanti makin besar nih," Farida kembali bermanja pada Papa Adrian.
"Iya, Mas janji. Setelah menceraikan dia, kita akan menikah," janji Papa Adrian yang tersenyum manis pada Farida.
Adrian yang mendengar percakapan Papanya tampak mengepalkan tangan. jarinya memerah menekan kayu pohon. Menyalurkan emosi yang membuncah dalam dada.
Laura sampai meringis melihat Adrian yang emosi. Sedari tadi Laura berdiri, Adrian bahkan tak menjawab pertanyaannya. Laura merasa dia benar-benar tak pernah dianggap Adrian.
"Mas, rumah besar tempat tinggal kalian bagaimana? Masak sih untuk perempuan itu?" cetus Farida dengan suara lembut dan mendayu.
"Gimana ya, Mas juga nggak tahu. Semua Mas serahkan ke pengacara," jelas Papa Adrian.
__ADS_1
"Ih, tapi kan mas yang beli rumah itu. Pake duit Mas loh. Mending buat anak kita aja," hasut Farida sambil mencebikkan bibirnya.
"Tapi, Mas punya dua anak lain. Mereka juga berhak dapat bagian dari hasil keringat Mas," bantah Papa Adrian.
"Iya, Mas. Frida nggak masalah kalo untuk anak mas. Farida cuma nggak rela kalo untuk istri Mas yang suka selingkuh itu!" cebik Farida yang mengerucutkan bibirnya.
Tapi, dalam hati Farida berharap bisa menguasai segala harta Papa Adrian.
"Iya Sayang, nanti Mas usahakan ," ucap Papa Adrian mengalah.
"Habis dari pantai, temanin ke toko perhiasan ya. Farida pengen beli kalung berlian lagi. Kalung yang Mas belikan, baru lima buah loh," rayu Farida.
"Iya, tenang saja Sayang. Kartu black card punya Mas udah di kamu. Pokoknya kamu bebas belanja apa saja," papar Papa Adrian.
"Makasih, Mas," senyum Farida terkembang.
"Sama-sama, Sayang," sahut Papa Adrian.
Rasanya Farida sudah tak sabar berbelanja, membeli berbagai barang mewah yang dia inginkan. Bahkan diam-diam Farida sudah mentransfer uang dalam jumlah yang besar secara bertahap dari rekening Papa Adrian ke rekeningnya.
Adrian masih memperhatikan dari balik pohon. Dia tak bergeming dari tempatnya. Sementara Laura kakinya sudah letih, Laura ingin pergi saja. Tapi, jika dia mengeluarkan suara, Laura takut di dengar oleh Papa Adrian dan wanita di sampingnya.
"Mas, anterin pulang ke rumah yuk. Nanti mau ke mall," ajak Farida.
"Boleh, ayo berdiri," ucap Papa Adrian setuju dan mengajak Farida berdiri. Mereka kemudian berjalan berdua masih dengan bergandengan tangan.
Adrian yang sedari tadi memantau, segera menarik tangan Laura untuk mengikuti kedua orang yang sudah lebih dulu pergi.
"Adrian, kaki gue pegel. Jangan tarik-tarik," desis Laura yang kakinya sudah kesemutan. Belum lagi nafasnya yang ngos-ngosan mengimbangi langkah kaki Adrian yang menariknya. Laura sampai refleks memegang perutnya.
Adrian sama sekali tak menggubris ucapan Laura, Matanya fokus melihat ke depan. Sampai dia tak mendengar keluhan Laura.
Sesampainya di parkiran, dengan mengendap-endap Adrian menuju ke mobil miliknya.
"Ra,elu masuk mobil cepetan," ucap Adrian pelan.
Laura sebenarnya ingin protes. Dia ingin pulang naik mobil angkot saja. Tapi, dorongan halus dari Adrian di punggung belakangnya membuat dia mau tak mau masuk ke dalam mobil.
Adrian kemudian dengan cepat, ikut masuk ke dalam mobil dibalik kemudi.
__ADS_1
Matanya awas melihat mobil sedan mewah warna hitam yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
"Rian, gue turun aja ya. Gue mau pulang," celetuk Laura.
"Ck, nggak usah ribet deh. Entar elu gue anter pulang. Sekarang temani gue dulu mengintai tuh mobil ," decak Adrian yang matanya hanya fokus pada mobil di depan.
Laura menghembuskan nafasnya. Merutuk kesal dalam hati. Kenapa dia harus ikut. Dia tidak ada hubungannya dengan semua masalah ini.
"Emang mereka siapa, sih?" tanya Laura kesal.
"Itu Bokap gue sama sekretaris kesayangannya," jawab Adrian cepat.
Adrian segera menghidupkan mesin mobilnya. Dia mulai mengikuti pergerakan mobil di depan yang mulai melaju ke jalanan.
"Oh, yang elu ceritain. Muda banget yang perempuan," cetus Laura
"Iya, karena itu Bokap gue tertarik kali," jawab Adrian asal.
Laura merebahkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Lalu meluruskan kakinya walau tak benar-benar bisa lurus karena berada di mobil.
Pinggang Laura terasa nyeri, kakinya masih pegal meski rasa kesemutan di kakinya mulai berkurang.
"Kayaknya mereka mau ke rumah si sekretaris gatal tuh!" celetuk Adrian.
"Kok lu tahu?" tanya Laura sambil memegang perutnya.
"Gue beberapa bulan ini mengikuti Bokap gue terus ke mana aja dia!" jujur Adrian.
"Hah, segitunya lu sampe menguntit bokap lu?" Laura terkesiap tak menyangka.
"Elu nggak tahu rasanya,Ra! Saat orang yang elu sayang menyakiti perasaan lu. Itu sakit banget, nggak bisa gue jelasin dengan kata-kata," jelas Adrian sambil tetap fokus menyetir.
"Gue tahu rasanya! gue pernah sesayang dan sebucin itu dengan seseorang. Tapi, saat gue mengandung dia bahkan tak bertanggung jawab. Sama bukan, rasanya?" sindir Laura yang merasa kehadirannya tak pernah dianggap Adrian.
Adrian terdiam. Hatinya tercubit. Laura sedang menyindirnya.
"Maafin gue, Ra. Gue emang salah. Please, elu jangan mengungkit masalah itu lagi," keluh Adrian.
"Kalo Papa lu minta maaf atas kesalahannya terus meminta elu menerima si perempuan itu dan nggak mengungkit masalah mereka lagi, menurut elu gimana? Elu bisa melakukan itu? Bisa memaafkan dan melupakan?" tekan Laura.
__ADS_1
Adrian terdiam, Laura mendesaknya dengan pertanyaan yang menjebak dirinya.