
"Gue harap ini cuma sementara, Ra. Elu kan tahu gue harus kerja. Setidaknya gue bisa membantu ibu panti, walau nggak seberapa dan gue bisa nabung untuk kuliah," jelas Laura.
"Gila semangat lu, berkobar banget. Salut gue, girl! By the way, gimana kalo lu cari kerja yang lain aja? Yang nggak harus capek keliling panas dan antar-antar bunga gitu," usul Tiara yang menarik sebuah kursi lalu duduk di samping tempat tidur.
"Bu Laksmi baik banget, Ra. Nggak enak kalo mau berhenti, lagi pula lumayan hasilnya," sahut Laura.
"Iya, Alhamdulillah bos lu baik. Tapi, kesehatan lu gimana? Nggak mungkin di jalan elu tiba-tiba pingsan atau mata lu berkunang, bahaya. Elu pikirin lagi deh, La," papar Tiara yang kembali mengoleskan minyak kayu putih di telapak tangan dan telapak kaki Laura.
Laura menghembuskan nafasnya dan berpikir. Rasanya memang tak mungkin dia bekerja seperti biasa. Tapi, dia butuh pekerjaan supaya tetap dapat uang.
"La, elu terima aja duit dari Adrian sama teman-teman gilanya. Toh, dia juga nggak peduli, nggak mau tanggung jawab. Minimal lu nggak rugi banget kalo nerima duit mereka, nggak harus mikirin biaya hidup lu," usul Tiara lagi.
"Gue benci mereka, Ra. Kalo gue terima duitnya, mereka bakal makin merendahkan gue. Berasa jual harga diri gue, kalo nerima duit dari mereka," dengus Laura yang tak mau menerima bantuan Adrian dan teman-temannya.
"Iya sih, tapi ke depannya lu butuh banyak duit, Laura. Untuk lahiran, untuk beli perlengkapan bayi, untuk cek kandungan. Semua pake duit," Tiara mencoba membuka jalan pikiran Laura.
Laura menggigit bibir bawahnya. Dia tak berpikir sejauh itu. Laura menghembuskan nafasnya lagi. Berharap resahnya hati dapat dikurangi.
Maaf, lau Elu jadi kepikiran ya Tiara jadi merasa bersalah.
"Nggak apa-apa. Makasih elu sudah ngingetin gue. Setidaknya gue bisa memikirkan jauh-jauh hari hal ini," Laura berusaha menarik seulas senyuman.
"Pulang sekolah ini nggak usah kerja dulu ya, gue cemas sama lu," pinta Tiara.
"Iya, teman gue yang paling bawel," ucap Laura
"Gue bawel tapi tetap manis seperti gula," Tiara terkekeh sendiri.
" Ra, menurut pikiran gue, lu harus tetap cari pekerjaan lain aja. Mungkin ada lowongan kerja yang lebih baik," sambung Tiara.
"Hmm, kerja apa yang bisa dikerjain sambil sekolah?" Laura tampak berpikir dan mengernyitkan kening.
"Iya ya, kerja apa? hmm... lu kan pinter, gimana kalo buka kursus calistung online gitu. Sekarang kan zaman canggih, elu bisa mengajar lewat tatap muka online gitu," usul Tiara.
Laura tampak berpikir. Usul dari Tiara cukup menggiurkan. Tiba-tiba dia mengingat percakapan dirinya dan pelanggan bunganya.
Ibunya Soni pernah memintanya untuk memberi les privat untuk anaknya. Bahkan ibunya Soni berkata waktu itu, ada beberapa teman anaknya yang juga butuh bimbingan les privat.
__ADS_1
"Elu mikirin apa, Ra?" tanya Tiara yang membuyarkan pikiran Laura.
"Waktu itu, salah satu langganan bunga gue meminta gue mengajar les privat untuk anaknya gitu," ucap Laura.
"Nah, itu aja. Tapi elu minta belajar lewat online aja, biar lu nggak capek ke sana," usul Tiara lagi.
"Entar gue coba, kebetulan gue masih menyimpan nota pembayarannya. Ada nomor ponsel ibunya Soni di nota," papar Laura.
"Alhamdulillah, ada jalan untuk lu," Tiara tersenyum senang.
Sementara itu, pelajaran olahraga akhirnya usai. Semua anak kembali ke kelas. Tapi, terjadi kehebohan di kelas.
"Loh, ponsel gue mana?" Angel berteriak histeris saat kembali ke kelas.
"Kenapa, Angel? Mungkin lu lupa meletakkan di mana kali?" sahut temannya.
"Nggak! Gue letakkan di dalam tas kok," ucap Angel yang sibuk mengeluarkan semua isi tasnya.
Teman-temannya mulai memperhatikan Angel yang terlihat panik.
"Enggak! Gue bawa kok tadi," sahut Angel meyakinkan.
"Ada apa ini?" guru olahraga masuk ke kelas, saat melihat dari jendela kaca murid-murid berkumpul mengerubungi Angel.
"Ponsel saya hilang, Pak," ucap Angel. Di sekolah mereka, murid diperbolehkan membawa ponsel asal dimatikan saat proses belajar. Para guru mengizinkan membawa ponsel agar murid bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang tua. Minta dijemput sepulang sekolah misalnya.
"Kamu letak di mana, Angel?" tanya gurunya lagi.
"Di dalam tas, Pak! Saya minta semua tas diperiksa, Pak!" pinta Angel pada gurunya.
Sang guru tampak berpikir lebih dulu. Rasanya memang cuma ini caranya agar ponsel Angel ditemukan.
"Baiklah, semua maju ke depan kelas. Jangan ada yang membawa apapun," putus Pak Guru.
Semua murid akhirnya beringsut berjalan ke depan. Angel juga ikut-ikutan ke depan. Dia menyunggingkan senyuman. "Kena kau Laura!" pikir Angel.
Setelah semua murid berdiri di depan kelas. Pak guru segera mengecek satu demi satu tas para murid bahkan laci meja.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pak Guru tiba di meja Laura. Hati Angel bersorak gembira, dia akan melihat pertunjukan spektakuler setelah ini. Dedi yang orang tuanya cukup berpengaruh di sekolah akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeluarkan Laura dari sekolah.
Pak guru menemukan sebuah ponsel di tas Laura. Ponsel dengan casing foto Angel.
"Angel, ini ponsel kamu bukan?" tanya pak guru.
"Iya, Pak. Itu ponsel Angel," ucap Angel pura-pura terkejut.
"Tas siapa ini?" tanya pak guru menggelengkan kepala.
"Tas Laura, Pak," jawab murid-murid.
Pak guru segera membawa tas Laura.
"Mana Laura? Ikut saya ke ruang BP," putus sang guru yang wajahnya sudah tak bersahabat.
"Sepertinya tadi Laura di ruang UKS, Pak," celetuk salah satu murid.
"Panggil dia ke ruang BP," perintah sang guru yang keluar kelas membawa tas Laura dan segera menuju ruang BP.
Salah satu murid langsung keluar dan menuju ruang BP. Sementara Angel tersenyum samar, matanya bertatap dengan mata Dedi. Mereka sama-sama merasa puas.
"Nggak nyangka gue, si Laura mencuri," celetuk salah satu murid.
"Iya, padahal pendiam. Gue kira cupu ternyata suhu," cibir murid lainnya.
"Gitu deh, kalo nggak punya orang tua. Nggak ada yang membimbing, nggak ada yang menasehati. Dia kan anak panti," ucap murid yang lain mengejek.
"Kalian jangan sembarang kalo ngomong! Belum tentu Laura salah !" Adrian yang diam sedari tadi akhirnya bersuara juga.
Entahlah, Adrian akhir-akhir ini merasa kasihan pada Laura. Kalau dulu, pasti dia akan ikut menikmati dan mencemooh Laura kalau hal ini terjadi. Tapi, semenjak kejadian saat itu Adrian jadi memikirkan Laura setiap hari. Rasa bersalahnya sungguh besar.
"Kok lu bela si cupu sih! Dia kan udah mencuri ponsel gue," rutuk Angel tak terima.
Sementara murid-murid lain hanya diam dan saling berbisik.
bersambung.......
__ADS_1