TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
ATM Rian di bekukan


__ADS_3

Adrian masih menimang keputusan sambil memegang ponselnya. Uang di dompetnya tidak lebih dari satu juta. Mana cukup untuk dia yang terlahir dalam keluarga sendok perak.


Sementara Laura masih duduk di sofa, menunggu Adrian.


"Halo, Dit." sapa Adrian di telepon. Adrian akhirnya memutuskan menelepon Dedi daripada orang tuanya.


Belum tentu orang tuanya akan bersedia mengirimkan uang sekarang. Apalagi Mamanya, pasti mengomel dahulu dengan kecepatan menyamai kereta api ekspress.


"Halo, Rian. Kenapa lu telepon? Baik aja kan lu?" tanya Dedi. "Gue, baik. Elu di mana?" tanya Adrian lagi.


"Di rumah ,Gue dikunci di kamar Revan juga sama, kita pulang cuma buat dapat hukuman," rutuk Dedi.


"Aduh, gimana ini? Gue lagi belanja di mall. Tapi, ternyata kartu ATM gue dibekukan. Gue telepon lu sebenarnya mau minta tolong," papar Adrian.


"Mall mana nih? Entar gue minta asisten rumah gue nyamperin lu. Butuh berapa duit lu?" tanya Dedi yang memahami kesulitan Adrian.


"Mall Indah Permata, Di. Gue tunggu sekarang ya, Di toko baju muslim lantai satu," jawab Adrian.


"Oke. Duitnya berapa, Bro?" ucap Dedi.


"Hmm... mungkin sepuluh juta. Besok lu dan Revan jangan nggak sekolah. Ada hal penting yang perlu gue kasitau ke elu," pinta Adrian.


"Apaan, Bro?" tanya Dedi penasaran.


"Besok aja! Nggak bisa lewat telepon. Udah dulu ya, bye!" ucap Adrian langsung mematikan ponsel tanpa menunggu Dedi menjawab lagi karena ada Laura menghampirinya.


"Rian, kok lu di sini? Ada apa?" tanya Laura menghampiri.


"Sorry, Ra. Kartu gue dibekukan," ucap Adrian jujur.


"Oh, gitu. Ya udah balik aja yuk, nggak usah beli bajunya," usul Laura.


"Jangan dong! Gue nggak enak dilihat orang. Tunggu bentar aja, entar asisten rumah Dedi nyamperin ke sini," tolak Adrian.


"Hmm, sebenarnya baju yang lu beli juga kebanyakan," celetuk Laura.


"Ayo, kita duduk di sofa disudut itu aja. Entar lu capek lagi," ajak Adrian yang melangkah lebih dulu ke sebuah sofa.


Laura hanya mengikuti. Dia duduk di sebuah sofa bulat. Sementara Adrian duduk di sofa panjang.


"Elu sering merasa kecapean ya?" tanya Adrian yang melihat Laura kembali memijit kakinya.


"Iya, makin tua usia kehamilan gue, makin terasa cepat capek. Apalagi pinggang gue, rasanya nyut-nyutan," sahut Laura


"Mau ke spa, nggak? Entar bisa dipijat gitu, biar badan lu enakan?" tawar Adrian.


"Kartu lu aja udah dibekukan, Rian. Gimana bayarnya?" tolak Laura


"Elu tenang aja. Gue minta sepuluh juta dari Dodit tadi. Cukup kok, untuk dua hari. Di dompet gue juga masih ada, tapi nggak nyampe satu juta," papar Adrian.


"Hah, sepuluh juta dua hari, Rian?" Laura melototkan matanya tak percaya. Baginya sepuluh juta bisa untuk dia dan adik-adik pantinya makan sebulan.


"Iya, hemat kan gue semenjak minggat dari rumah?" ucap Adrian dengan bangganya.


Laura tak bisa berkata-kata dengan kehidupan orang kaya.


"Kenapa? Kok terkejut gitu lu?" ucap Adrian heran.


"Elu tuh berlebihan. Sepuluh juta tuh banyak. Bisa untuk makan puluhan orang berminggu-minggu kalo lu mau tahu. Lagian elu nggak takut di akhirat ditanya malaikat, elu pake untuk apa duit lu? Entar dicambuk malaikat, kalo cuma untuk foya-foya. Sementara banyak orang kelaparan di mana-mana," cerocos Shabila sambil bergidik ngeri membayangkan dicambuk.

__ADS_1


"Terus kalo bukan buat foya-foya, buat apaan dong? Gue juga bingung cara menghabiskan duit gue gimana?" tanya Adrian.


"Rasanya gue pernah ngomong sama lu buat sedekah ke orang nggak mampu biar hati rasanya senang. Nanti keluar dari mall, kita sedekah yuk," ajak Laura dengan mata berbinar.


"Hmm boleh juga, kira-kira berapa ya Ra. Gue nggak pernah!" ucap jujur Adrian.


"Bebas, kok. Duit boleh atau bahan pokok gitu, kita bisa belanja dulu di warung-warung kecil," usul Laura.


"warung kecil? Kenapa nggak di mall ini aja sekalian?" Adrian mengernyit heran.


"Kalo di warung kecil kita bisa sekalian bantu perekonomian orang bawah. Siapa tahu mereka sedang menunggu pembeli di warungnya. Mereka tuh cari untung nggak besar, paling untuk mereka makan sehari-hari," jelas Laura.


"Oke, berarti selain membantu orang nggak mampu, kita juga sekalian membantu warung kecil ya?" ujar Adrian.


"Iya, gitu. Elu mau?" tanya Laura meyakinkan.


" Gue mau aja mah gue pengen tahu rasanya bahagia versi elu, Ra. Selama ini bahagia versi gue tuh beda dengan lu," ucap Adrian tersenyum sambil menatap lurus ke depan.


"Iya, bahagia versi lu cuma senang-senang menghabiskan uang. Di luar sana bahkan ada orang yang makan hanya satu kali sekali, atau makan nasi campur garam. Elu harus banyak bersyukur, Rian. Setidaknya setelah elu diberi Allah bahagia belasan tahun, ujian lu baru sekarang ada," nasihat Laura.


"Tapi, gue tetap sakit hati dengan kelakuan orang tua gue," ucap Adrian.


"Iya, gue tahu pasti sakit banget. Tapi, elu harus tetap bersyukur di setiap keadaan,udah banyak nikmat yang Allah beri ke elu," sambung Laura.


"Oke, makasihya Raa. Gue bakal ingat omongan lu. Bersyukur di setiap keadaan," tekan Adrian.


Laura mengangguk tersenyum. Matanya kemudian mengawasi sekeliling toko, ponsel Adrian kemudian berbunyi, Adrian segera mengangkat teleponnya.


"Ra, gue ke depan toko dulu ya. Asisten Dedi udah datang. " pamit Adrian.


"Oke, gue tunggu di sini aja," ucap Laura.


"Den, ini kartu ATM punya Den Dedi Katanya terserah Aden butuh berapa, ambil aja" ucap asisten rumah Dedi.


"Oke. Makasih ya, Mang," celetuk Adrian.


"Sama-sama. Pin nya kata Den Dedi nanti dikirim lewat pesan. " jelas asisten rumah tersebut.


"Oh iya, ini Dodit kirim nomor pin nya," ucap Adrian yang membuka layar ponselnya.


"iya, Den. Saya permisi dulu," pamit asisten rumah Dedi.


"Iya, Mang, hati hati di jalan mang" ucap Adrian mengangguk.


Setelah itu, Adrian kembali ke kasir. Membayar belanjaan tadi.


"Maaf lama, Mbak," ucap Adrian pada seorang kasir sambil menyerahkan kartu ATM.


"Iya, nggak apa-apa," sahut kasir tersebut tersenyum lalu membungkus belanjaan Adrian.


Melihat Adrian sudah menenteng beberapa kantong tas belanjaan, Laura berdiri. Dia melangkah mendekati Adrian.


"Yuk, kita keluar," ajak Adrian.


Laura mengangguk dan mengikuti langkah kaki Adrian.


"Ra, gue ke ATM dulu. Mau tarik uang tunai," ucap Adrian saat melihat sebuah tempat mesin ATM disudut dekat parkiran.


"Okey, gue duduk disitu," sahut Laura menunjuk sebuah kursi panjang.

__ADS_1


Adrian mengangguk dan segera pergi. Menarik sejumlah uang untuk kebutuhan dirinya. Lalu mengajak Melihat Adrian sudah menenteng beberapa kantong tas belanjaan, Laura berdiri. Dia melangkah mendekati Adrian.


"Yuk, kita keluar," ajak Adrian. Laura hanya mengangguk saja.


Laura segera kembali ke mobil.


"Kita ke dokter dulu ya," ajak Adrian mulai melajukan mobilnya keluar dari mall.


"Hmm, serah lu. Tapi elu nggak boleh ikut masuk ke ruangan dokter," pinta Laura.


"Loh kenapa? Gue kan pengen tahu juga perkembangan janin," ucap Adrian heran.


"Gue bakal diperiksa dokter. Pasti disingkap gitu deh baju gue, buat cek kehamilan," jawab Laura kikuk.


"Ya iyalah. Kan pasti perut elu mau dicek. Makanya gue pengen tahu "pinta Adrian.


"Tapi, gue nggak mau lu lihat tubuh gue," tolak Laura mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha...elu lucu. Gue udah lihat semuanya kali," Adrian terkekeh.


"Itu sebuah kesalahan Adrian! Elu harus ingat itu! Sekarang gue nggak mau elu ikut," Laura tetap menolak.


"Sekali aja ya gue mau lihat gimana sih pemeriksaan orang hamil ," ucap Adrian yang penasaran.


"Ogah! Elu bukan suami gue. Elu nggak berhak lihat pemeriksaan gue!" tegas Laura


Adrian mendengus kesal, Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Laura seperti memasang tembok yang tinggi untuknya sekarang.


"Okey, asal lu nyaman aja. Gue bakal menunggu di ruang tunggu," ucap Adrian mengalah.


"Ohya, cari klinik yang lagi sepi aja ya. Terakhir gue periksa, tempatnya rame. Gue nggak nyaman diperhatikan banyak orang," pinta Laura.


"Siap, entar gue cari di mbah gugel dulu," jawab Adrian.


Adrian menepikan mobilnya dan melihat ponselnya.


"Nah, ini aja ya?" tanya Adrian sambil menunjukkan pada Laura layar ponselnya.


"Okey, boleh deh," sahut Laura


Adrian kembali melajukan mobilnya, mengikuti rute yang dilihat di layar ponselnya.


"Rian, berapa banyak elu beli pakaian?" tanya Laura penasaran melihat ke kursi belakang ada beberapa kantong tas belanjaan.


"Sepuluh potong pakaian untuk lu," ucap Adrian.


"Hah? Banyak banget, Rian," ucap Laura.


"Iya, nggak apa-apa. Sekali-kali doang," balas Adrian.


"Gue jujur ya. Gue cuma punya beberapa potong baju. Entar, kalo gue pake baju mahal dari elu, orang curiga lagi gue nyolong," cemas Laura


Tiba-tiba dia teringat tante Sri yang suka mencurigainya bahkan hanya sebuah makanan pun tante Sri curiga.


"Tapi, elu kan nggak nyolong, Ra. Nggak mungkin orang curiga," kelit Adrian.


"Gue yatim piatu. Gue orang nggak punya. Kebanyakan orang pasti berpikir gue nggak mungkin sanggup beli baju mahal seperti itu. Makanya orang bisa curiga," papar Laura sendu.


"Kasitau gue kalo ada orang seperti itu. Elu pantes lagi pake baju yang gue beli!" cetus Adrian.

__ADS_1


__ADS_2