TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

"Ya udah. Ayo," Revan segera mengambil dua tas dan Dedi juga mengambil tas. Mereka langsung membawa ke atas. Mengecek jendela apakah benar-benar terkunci lalu keluar dan mengunci pintu kamar.


Tak lama, penjaga villa tadi datang lagi. Langsung memijat Dedi dan Revan.


"Capek banget kayaknya den. Habis jatuhkah? Ini ada salah urat," tanya penjaga villa.


"Iya, jatuh mang," jawab singkat Dedi.


Dari luar terdengar suara mobil menderu masuk halaman. Penjaga villa ingin mengecek tapi di cegah Revan.


"Biar saya aja, Mang. Itu pasti teman saya," cegah Ivan.


Penjaga Villa hanya mengangguk mengerti Revan segera menyongsong ke pintu depan. Sesuai dugaan, memang Adrian yang datang.


"Bro, syukurlah elu udah sampe," sambut Revan dan langsung tos tangan dengan Adrian.


"Yo'i, Bro. Kuy bantu gue turunin barang. Gue beli persediaan makanan," ucap Adrian.


"Asyik nih, pesta makanan kita," sahut Revan sumringah. Dia segera membantu Adrian membawa barang ke dalam villa.


"Bro, mau dipijit nggak lu? Gue bentar lagi kelar nih," sapa Dedi.


"Enggak deh. Gue pilih makan aja. Laper banget," sahut Adrian.


Tak lama, penjaga villa selesai memijat Dedi. Lalu pamit pulang. Ivan segera mengunci pagar villa dan menutup pintu villa.


"Udah aman, Bro?" tanya Adrian.


"Udah. Semua udah gue kunci," jawab Revan.


"Ayo, kita makan dulu. Setelah ini baru kita rembukan," ajak Dedi.


Mereka bertiga yang memang lapar, akhirnya memilih makan terlebih dahulu. Setelah itu, mereka kompak naik ke atas. Berkumpul dalam satu kamar.


Mereka bertiga berdiri dan saling pandang. Kemudian tanpa aba-aba, mereka segera membongkar isi tas-tas yang mereka kumpulkan dari rumah Farida.


"Van, kita susun sesuai jenisnya. Elu kumpulin emas batangan dan duit. Elu Rian kumpulin kertas berharga, gue bakal ngumpulin perhiasan," perintah Dedi.


Revan dan Adrian mengangguk setuju. Ketiga sahabat itu fokus memisahkan barang sesuai jenisnya.


Beberapa menit kemudian.


"Gue kelar," ucap Revan.


"Selesai," sahut Adrian.


"Gue juga, bonus nih dua hape punya dua penipu itu!" kata Dedi menyunggingkan senyum.


"Wooaaa, nggak nyangka gue. Hasil buruan kita banyak juga ya. Kalian tau nggak seumur-umur baru kali ini gue melakukan tindakan paling mendebarkan," papar Revan takjub.


"Juga menakjubkan, dong!" bangga Dedi

__ADS_1


"Jangan lupa sangat membahayakan bagi kita. Kalian sadar nggak sih, kita ini sudah masuk kategori remaja nakal!" sahut Adrian melihat teman-temannya.


"Jangan terlalu dipikirin, Bro. Nikmatin aja masa muda. Terkadang kita perlu melakukan hal diluar nalar untuk menegakkan keadilan," balas Dedi


"Keadilan dari mana, Bro? Kalian kepikiran nggak gimana kalo mereka lapor polisi?" ucap Adrian.


"Iya ya. Terus gimana kalo mereka lewat gaes setelah dihajar Dedi tanpa ampun?" Revan sampai melotot saat membayangkan dua penipu itu tiada.


"Kalo mereka lewat, berarti kita sudah membantu membersihkan bumi dari sampah, Bro. Tinggal tabur bunga aja diatas tanahnya," sahut Dedi enteng.


"Ih, serem banget sih lu. Entar mereka jadi arwah penasaran gimana? Kita digangguin mereka?" lanjut Revan yang mulai ketakutan.


"Elu alay, Bro. Kebanyakan nonton horor. Nih kalung nyokap gue yang hilang satu tahun lalu. Ternyata bukan hilang, tapi ada di perempuan murahan itu," papar Dedi.


Adrian segera melihat kalung yang ditunjuk Dedi


"Pantes lu ngamuk banget. Elu nemu fakta tentang bokap elu dan si Farida," sahut Adrian.


"Gue tahu kalung ini. Nyokap lu dulu pernah pake waktu arisan di rumah gue. Katanya ini kalung kesayangan. Dibeliin Bokap elu waktu anniversary pernikahan," papar Revan.


"Nah itu, asli gue sakit hati banget. Sekarang kita lihat barang-barang ini. Kita foto semuanya terus kalo lu ngerasa ini ada yang punya orang tua lu, ambil! Sisanya kita bakal cari tahu darimana asal barang ini," perintah Dedi


Akhirnya Dedi dan Adrian sibuk memisahkan barang yang ada. Sementara Revan asyik mengotak atik hape Farida.


"Gue nemu lima surat penting yang gue tahu punya orang tua gue," ucap Adrian.


"Gue juga nemu surat, duit, sama perhiasan berharga punya keluarga gue," balas Dedi.


Dedi tampak menghembuskan nafas. Dia berpikir sebelum menjawab.


"Satu hal yang tak terpikir oleh kita, CCTV bro," ucap Adrian terpaku.


"Orang tua kita pasti nggak bakal tinggal diam. Kalo pun mereka punya bukti CCTV, kita juga punya banyak bukti untuk memberatkan mereka. Bro, gue yakin kita bisa melewati ini semua," papar Dedi meyakinkan.


"Wow... wow... wow, Bro! Lihat temuan gue. Ternyata Farida menyimpan semua file di email-nya. Gue kirim sekarang ke email lu, Di," ucap Revan.


"Oke, jangan lupa hapus riwayat kiriman email. Kita harus gerak cepat. Sebelum tuh dua penipu mengubah sandi emailnya," jelas Dedi.


"Gue bakal cek hape si brondong kalo gitu," sahut Adrian yang segera mengambil hape satunya diatas meja.


Sementara Dedi sibuk melihat email yang dikirim oleh Revan.


"Busyet... Hahahaha," tawa berderai dari Dedi.


"Kenapa lu, Bro?" tanya Adrian heran.


"Cewek gila. Dia merekam segala kelakuan dia dengan banyak laki-laki. Kayaknya video video ini direkam diam-diam. Gue yakin dia punya niat jelek. Mungkin suatu hari bakal mengancam dengan video oh no oh yes," papar Dedi.


"Jangan dilihat terus video kayak gitu, Bro. Nggak baik, Bro. Kata pak ustad ada hadisnya kalo nggak salah hadis riwayat Muslim tuh. Katanya kita laki-laki nggak boleh melihat aurat laki-laki begitu juga perempuan dengan perempuan nggak boleh. Apalagi laki-laki melihat aurat perempuan. Dosa tau, jangan di tonton," papar Evan.


"Artinya kita nggak boleh nonton video yang gituan ya?" celetuk Adrian.

__ADS_1


"Gitu deh! Tapi ya kalo gue lihat dari galeri fotonya. Dia tuh sudah aneh-aneh dari zaman sekolah SMA. Lihat nih foto," Evan menunjukkan sebuah foto.


"Ini kayaknya foto kiriman dari hape lain deh. Mungkin dia ganti hape," sahut Dedi ang mengambil hape dari Ivan dan memperhatikan foto Farida bersama seorang laki-laki.


"Kita pegang banyak bukti. Ini foto-foto dia juga banyak yang kita temui dibawah tempat tidurnya," jelas Adrian.


"Kalo mereka macam-macam, nggak ada cara lain. Kita serang mereka balik," putus Dedi.


"Terus sampai kapan kita disini?" tanya Revan.


"Kita lihat perkembangan, Bro. Aktifkan hape kalian. Kita lihat reaksi orang tua kita setelah gue kirim video frida dan adiknya," ucap Dedi sambil menaikkan kakinya keatas meja.


"Video yang lu minta itu, elu kirim ke para orang tua kita?" tanya Adrian.


"Iyes. Kita lihat selanjutnya seperti apa?! Simpan semua bukti di berangkas, Van. Firasat gue bilang bukti-bukti ini penting buat kita," ucap Dedi


"Okey, gue simpan dulu," ucap Revan berdiri dan mulai memasukkan ke dalam berangkas.


Sementara ditempat lain, malam itu Papa Dedi masuk rumah sakit. Dia terkena serangan jantung ringan setelah menonton sebuah video dari nomor tak dikenal.


Sementara Papanya Adrian sampai bertemu istrinya. Menunjukkan video yang dia dapat yang ternyata sang istri juga dapat.


"Kira-kira siapa pengirim video ini?" tanya sang istri.


"Nggak penting siapa pengirimnya. Pastinya kedua orang ini sudah menipu kita!" geram Papa Adrian.


"Lalu kita harus apa?" tanya sang istri.


"Kita bisa apa? Nggak mungkin kita lapor polisi. Bisa bisa nama kita tercoreng," papar Papa Adrian.


Tak lama, sebuah telepon berbunyi. Pembantu mereka mengabarkan kalau sebuah mobil sport sudah sampai di rumah. Dikirim oleh Dedi teman Adrian.


Kedua orang tua itu keheranan. Mereka berdua segera pulang ke rumah utama.


***


Pagi setelah subuh terjadi kehebohan di media sosial. Beredar rekaman CCTV tiga orang anak pengusaha melakukan pencurian dan tindakan kekerasan di rumah wanita berinisial F.


Banyak warga net mengomentari. Mereka semua menyalahkan ketiga pemuda. Bahkan kasus sudah sampai ke kepolisian.


Bahkan mereka segera menandai akun Papa Dedi yang seorang pejabat. Akun sang Papa menjadi bulan-bulanan warga net karena kelakuan anaknya dan teman-temannya.


Semua lontaran kebencian, ejekan dan sumpah serapah menyerang mereka di internet. Sampai Papa Dedi kondisinya semakin memburuk.


Sang mama langsung menelepon Dedi Sementara orang tua Adrian juga menelepon. Orang tua Revan juga tak kalah kaget saat mendapat aduan dari asistennya. Ketiga pasang orang tua itu terkejut luar biasa.


Dedi, Revan dan Adrian yang masih tertidur pulas dan malas sholat subuh terbangun oleh dering suara hape mereka.


Mereka kompak terbangun dan sama-sama mengangkat telepon.


"Adrian, dimana kamu cepat pulang!" jerit suara diseberang telepon saat Adrian mengangkat telepon. Jerit suara Mamanya yang langsung membuatnya tersentak kaget.

__ADS_1


__ADS_2