
"Ih, jahil," cerocos Shabila tapi tetap terkekeh dengan perhatian sang kakak. Sementara Tiara juga sudah kembali ke tempat duduknya.
"Gokil! Ssttt, dapet dimana cowok keren tadi? Namanya siapa, kenalin dong sama temannya," celetuk Nurul.
"Tuh guru sudah masuk, balik lu ke tempat duduk lu," sahut Laura.
Nurul segera balik ke tempat duduknya. Sementara Laura melihat ke segala penjuru kelas. Empat orang tak ada. Adrian, Dedi, Revan dan Angel. "Kemana mereka?" Laura bertanya dalam hati.
Hingga dua jam lamanya, Laura akhirnya selesai mengerjakan ujiannya. Dia dengan langkah percaya diri mengumpulkan tugasnya ke depan kelas.
"Laura kamu udah sembuh kakinya?" tanya ibu guru.
"Alhamdulillah, sudah bu," jawab Laura tersenyum.
"Syukurlah. Duduk kembali ya ke kursi. Ada pengumuman," cetus sang guru.
"Baik, Bu," sahut Laura kembali duduk.
Laura menarik nafas lega. Dia bisa berjalan bebas tanpa takut perutnya kelihatan. Korset dari ibunya benar-benar mampu menyembunyikan tanda-tanda sisa selesai melahirkan.
Menunggu beberapa belas menit akhirnya semua murid sudah selesai mengumpulkan lembar jawaban.
Semua murid kemudian diminta kembali duduk di bangku masing-masing.
"Anak-anak, sekolah kita sedang mengalami musibah. Selama tiga hari kita libur, ada empat siswa dari kelas kita mengalami musibah. Adrian, Dedi dan Revan ditemukan dalam keadaan tidak sadar dan tubuh babak belur di dekat gudang sekolah. Saat ini mereka sedang dirawat insentif di rumah sakit. Bahkan Dedi sudah tiga hari terhitung hari ini hari keempat dia belum sadarkan diri," ungkap sang guru.
Murid-murid jadi saling pandang dan heboh. Begitu juga Laura melirik Tiara. Dia tak menyangka sama sekali. Laura datang ke sekolah untuk menunjukkan dia baik-baik saja pada orang-orang yang menyakitinya. Tapi, justru dia terkejut dengan kabar yang dia dengar.
"Bu, kenapa mereka bisa babak belur di belakang sekolah?" tanya Ikhwan.
"Itu sedang diselidiki. Tapi, kita tak ada petunjuk apapun.Bahkan Revan dan Adrian mengaku tak mengingat apapun saat kejadian. Sementara Angel ditemukan dalam keadaan dehidrasi dan berhalusinasi karena terkurung tiga hari di gudang sekolah," papar sang guru.
__ADS_1
Murid-murid semakin heboh dan berbisik-bisik. Sementara Laura sampai melotot tak percaya, Angel bisa di gudang sekolah? Bagaimana bisa?
"Nah, ibu harap kalian berhati-hati. Karena kita tidak tahu siapa pelakunya. Ibu harap kalian tidak menceritakan pada siapapun, karena ini terjadi di lingkungan sekolah kita. Terus kalo sudah selesai sekolah langsung pulang ke rumah. Jangan main ke rumah teman atau keluyuran. Kalian mengerti!" nasihat sang guru.
"Iya, Bu," seru murid-murid kompak.
"Siang ini, kita akan membesuk keempat teman kalian di rumah sakit. Tunjuk tangan yang mau ikut?" tanya ibu guru.
Beberapa murid tunjuk tangan. Termasuk ketiga gadis centil juga Ikhwan, Nurul dan Sueb.
Sementara Laura dan Tiara hanya diam, Laura tak ingin menjenguk Adrian. Toh, Adrian bahkan tak peduli pada dia dan bayinya.
"Baik, anak-anak boleh pulang sekarang. Untuk yang ingin menengok ke rumah sakit kumpul di parkiran ya," ucap sang guru.
Tak lama, murid-murid akhirnya bubar. Athan yang duduk di depan mobil tampak tersenyum saat Laura berjalan ke arahnya.
"Sudah?" tanya Athalla tersenyum.
"Sudah dong, Kak," jawab Laura balas tersenyum.
"Eh, lihat. Tatapan mata cowok itu tadi, kayaknya sayaaanggg banget sama Laura. Bikin gue iri," celetuk salah satu gadis yang ingin berkenalan dengan Athan tadi.
"Iya, ih. Beruntung banget Laura dapet cowok ganteng, tajir plus sayang banget sama dia. Kita kapan," seru yang satunya. Ketiga gadis itu mencebikkan bibirnya. Merasa kurang beruntung karena belum mendapat yang mereka inginkan.
Tak lama, murid-murid yang akan ke rumah sakit akhirnya sudah berkumpul. Mereka naik mobil masing-masing dan beriringan keluar dari sekolah.
Di rumah sakit, Revan dan Adrian baru saja selesai mengerjakan ulangan dengan diawasi guru pengawas. Hanya mereka berdua yang mengikuti ujian.
Sementara Dedi dan Angel belum bisa mengikuti ujian. Dedi belum sadar sementara Angel masih mengalami halusinasi parah.
"Assalamualaikum," ucap guru wali kelas Adrian dan teman-temannya yang datang menjenguk.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," ucap Adrian dan Ivan juga guru pengawas. Dia segera menyerahkan kertas ujian pada guru pengawas. Begitu juga Revan yang mengikuti ujian di ruang rawat Adrian.
Revan yang paling ringan sakitnya. Dia bisa duduk di kursi roda dan menulis sambil duduk. Sementara Adrian harus tetap terlentang tiduran belum bisa duduk.
"Adrian, Revan, bagaimana keadaan kalian?" tanya sang guru khawatir.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Bu," sahut Ivan.
Sementara Adrian celingukan. Dia tak menemukan Laura diantara teman-teman yang menjenguknya.
"Laura mana?" celetuk Adrian bertanya pada teman-temannya.
"Nggak ikut. Dia mah pulang bareng cowoknya," cetus salah satu temannya yang gadis.
"Maksud lu?" tanya Adrian tak mengerti. Nafasnya memburu menahan rasa cemas.
"Nih ya, Laura tadi uh... dia berubah banget. Udah nggak pake kursi roda lagi. Dari atas sampe bawah penampilannya berkelas banget," celetuk temannya.
"Terus nih, dia dianter sama cowok ganteng pake mobil Mercedez Benz. Bayangin! Tuh cowok ganteng banget. Dia rela anter Laura sampai kelas, terus ditunggui gitu selama ulangan, pulangnya bareng cowok itu lagi," lanjut temannya yang lain.
"Yang buat iri tuh ya! Cara pandang cowok itu ke Laura kayak sayang banget, tatapan matanya tuh dalam banget. So sweet banget," sambung temannya yang lain.
"Duh, kapan ya dapat cowok model gitu. Tajir melintir, ganteng, baik hati, sayang banget sama gue," ungkap temannya yang gadis. Gadis-gadis itu sedang mengkhayalkan Athan.
Sementara Adrian, rahang pipinya mengeras. Giginya bergemelatuk. Jari-jemari tangannya menggenggam seprei dengan kuat.
Adrian tak terima. Siapa laki-laki itu?
"Laura, dia siapa? Apa semudah itu elu lupain gue? Bagaimana bayi kita yang baru lahir? Gue bapak bayi itu bukan dia!" ucap Adrian dalam hati.
"Laura, ара semudah itu elu lupain gue! Maafin gue, Ra." jerit Adrian dalam hati.
__ADS_1
"Please, Ra. Kenapa elu nggak jenguk gue hari ini. Elu dimana, Ra? Maafin gue. Jangan lupain gue Ra, dan Siapa laki-laki itu, Ra" Adrian kembali meraung dalam hatinya. Pikirannya kusut. Hatinya makin merasa tak nyaman.
Malam itu, Adrian kembali tak bisa tidur.