
"Pencuri? Maaf bu, anak-anak kami, selalu kami ajarkan untuk tidak melakukan tindakan tercela," jelas ibu panti yang masih terkejut dengan pernyataan mama dan papa Dedi.
"Lalu ini apa?" potong papa Dedi menunjukkan foto-foto di ponsel, saat Laura di ruang BP dan saat penggeledahan tas di kelas.
Dedi sempat-sempatnya memfoto diam-diam saat kejadian pencurian pura-pura itu terjadi. Sementara orang tua Dedi meyakini kalau anaknya adalah anak yang baik, tidak pernah macam-macam.
"Laura..." ucap Ibu panti tak percaya saat melihat foto-foto di ponsel papa Dedi.
"Benar kan ini anak panti sini?" ketus Mama Dedi sambil mengipas wajahnya dengan kipas yang dia bawa. Panti asuhan ini tidak punya Air Conditioner (AC)
"I-iya, Bu. Tapi Laura anak baik, tak mungkin mencuri. Mungkin ini hanya kesalahpahaman saja," bela ibu panti yang meyakini Laura tak bersalah.
"Loh, tapi ini buktinya ada! Ibu nggak bisa menyangkal!" Papa Dedi menekan sambil menunjuk foto di ponsel.
"Saya yang mengasuh Laura sedari kecil. Anak itu tak pernah mencuri," lirih ibu panti sedih. Dia tak percaya anak yang dia asuh sedari kecil melakukan pencurian.
"Pokoknya kami minta anak yang bernama Laura keluar dari panti asuhan ini. Jika tidak, semua dana akan kami hentikan dan silahkan tinggalkan tempat ini," tekan mama Dedi mengancam ibu panti, yang kemudian berdiri dari duduknya. Diikuti papa Dedi yang ikut berdiri.
"Kami permisi,
Assalamualaikum," ucap papa Dedi
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu panti lemas, Sementara Laura yang tadinya ingin mengangsurkan minuman ke depan, urung melakukannya. Air matanya mengalir lagi. Tangannya gemetar.
__ADS_1
Baru saja tubuhnya mau sehat, dengan semangat dia ingin sekolah besok. Tapi, hari ini dia kembali di hadapkan dengan ujian.
Dia harus pergi, jika ingin adik-adik pantinya tetap bisa makan dan sekolah. Shabila tak mungkin tinggal di sini, jika pemilik rumah saja sudah mengusirnya.
Ibu panti tampak diam merenung, duduk di sofa tua yang berada di ruang tamu.
"Bu," panggil Laura. Matanya sembab oleh air mata.
"lau, sini Nak," suara ibu panti yang lembut dan menenangkan memanggil Laura. Suara yang sama yang menyanyikan lagu nina bobo saat Laura kecil.
Tangan ibu panti mengelus lembut rambut Laura. Laura terduduk di lantai, kepalanya rebah di atas pangkuan ibu pantinya.
Laura tidak mengenal ibu lain. Hanya ini ibunya. Tapi, hari ini ada orang yang ingin memisahkan dia dan ibu yang sudah membesarkannya.
Laura ditemukan saat subuh hari. Belasan tahun yang lalu, terdengar suara tangis bayi di depan pintu panti asuhan.
"Laura tidak mencuri, Bu," lirih Laura. Air mata tak henti mengalir dari kedua pelupuk matanya.
"Ibu tahu. Laura nggak salah. Tapi kita orang kecil terkadang tak punya daya melawan orang yang merasa punya kuasa," jelas ibu panti sedih.
"Laura harus ke mana, Bu?" tanya Laura dengan tatapan sendu.
Ibu panti terdiam beberapa saat. Dia tampak berpikir.
__ADS_1
"Laura, ibu punya saudara jauh yang tinggal di blok X sekitar satu jam dari sini. Dia dengan suaminya belum memiliki anak sampai sekarang. Apa Laura mau tinggal dengan mereka dulu sementara, sampai suasana kondusif?" tanya ibu panti hati-hati.
Laura tak berpikir panjang, dia langsung mengangguk. Tak apa jauh dari sekolah. Bagi Laura yang terpenting dia dapat tempat tinggal. Serta adik-adiknya tetap bisa mendapatkan biaya dan tempat tinggal.
"Maafin ibu ya," sesal ibu panti.
Laura menggeleng cepat." Ibu nggak salah. Laura hanya di fitnah di sekolah," papar Laura.
"Kalo begitu, Laura siap-siap ya. Besok ibu antarkan ke sana," ucap ibu panti.
"Hari ini saja, Bu. Besok Laura harus pergi sekolah," putus Laura
"Baiklah, kalo begitu. Laura kemas pakaian ya. Ibu telepon saudara ibu dulu," putus ibu panti.
Laura mengangguk. Dia segera pergi ke kamarnya. Menyusun bajunya yang hanya sedikit ke dalam tas ukuran sedang.
Laura pasrah. Mungkin di tempat baru dia bisa lebih leluasa. Di panti asuhan ramai, bisa saja ada yang memergokinya saat perutnya sudah membesar.
Setengah jam kemudian Laura sudah siap dengan ibu panti. Mereka berdua berjalan ke depan lorong. Menyetop sebuah angkot.
Selama di perjalanan, Laura hanya memandang jalan yang dilaluinya. Ah, hatinya sedih meninggalkan sementara panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Ibu, Ayah, mungkinkah kalian mencari Laura satu hari nanti? Laura sudah tidak di panti asuhan lagi. Apa kalian masih bisa menemukan Laura nanti?
__ADS_1
Laura rindu kalian, walau tak tahu rupa apa yang harus Shabila bayangkan. Tahukah Ibu, cinta ibu padaku mungkin dimulai dari umur ibu 25 tahun atau 27 tahun saat ibu mengandung dan melahirkan Laura Tapi, cinta Laura pada ibu dan ayah sudah dimulai dari Laura lahir ke dunia seumur hidup hingga Laura tiada.
Ayah, ibu, semoga suatu hari kita bertemu, Laura teramat rindu kepada kalian berdua! Laura kangen ayah ibu sambil meneteskan air mata nya