
"Jangan kebanyakan omong lu! Gue tunggu keputusan lu. Tujuh hari dari sekarang!" tekan Dedi lagi yang kemudian berdiri dan pergi dari perpustakaan saat melihat murid-murid lain sudah mulai keluar dari kelas masing-masing.
Laura berusaha bernafas dengan teratur setelah Dedi tak terlihat lagi. Dia menunduk. Berusaha menghapus bulir-bulir air mata. Jangan sampai ada yang melihatnya.
Bibirnya berusaha melantunkan zikir penenang hati. Berharap ada pertolongan dari Allah, sang pemberi kehidupan.
"Ya Rabb, engkau yang memberi kehidupan, maka engkau pula yang akan menyelamatkan kehidupan ini ya rabb." doa Laura di dalam hati.
Laura berdiam diri di perpustakaan. Dia berusaha berpikir jernih, apa yang harus dia lakukan agar bisa menghindari dari Dedi..
Andai ayah dan ibu ada di sini, kalian pasti menyelamatkan Laura kan? Laura lagi takut, Bu. Apa yang harus Laura lakukan? Tak bisakah Ayah dan Ibu menjemput Laura sekarang? Laura ingin ikut ke mana pun ayah dan ibu membawa. Laura hanya ingin bersama ayah dan ibu.
"Laura, gue cariin dari tadi. Rupanya lu di sini?" ucap Tiara yang baru datang.
Laura mendongak, Melihat Tiara yang tersenyum padanya.
"Kok mata lu merah, Laura? Elu baik-baik aja kan?" Tiara duduk di sebelah Laura. Dia khawatir dengan temannya.
Laura menggeleng." Tadi Dedi ke sini, dia mengancam gue lagi Ra," Laura tak bisa menahan tangisnya. Air mata kembali menggenang.
"Sssttt, Laura. Udah ramai di sini. Jangan nangis. Ayo kita ke belakang sekolah" bisik Tiara.
Laura mengangguk. Tiara mengembalikan buku ensiklopedia yang tadi dibaca nya, Laura ke rak buku yang tadi ia pinjam. Lalu Laura berdiri dan berjalan menunduk keluar dari perpustakaan.
Mereka berdua berjalan ke arah gedung belakang sekolah. Rasanya hanya di sini tempat paling aman
untuk menangis dan berteriak. Tak ada yang akan ke belakang sekolah.
"Ra, gue berhenti sekolah aja ya ?" celetuk Laura yang putus asa saat mereka sudah sampai di belakang sekolah.
__ADS_1
"Elu ngomong apaan sih? Bentar lagi kita lulus, elu jangan aneh-aneh deh!" Tiara duduk di sebuah bangku semen diikuti Laura
"Gue merasa tertekan, Tiara. Dedi mengancam gue lagi tiara," ucapnya sambil nangis
"Tunggu dulu! Elu cerita dulu deh, mengancam gimana? Biar kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama," Tiara berusaha menenangkan laura.
Laura sesenggukan menangis.Dia masih berusaha menyusun kata. Kehamilan ini membuatnya begitu sensitif. Mudah menangis dan lebih sering mengingat ayah ibunya yang entah di mana.
"Gue bawa minum nih. Elu minum dulu ya," ucap Tiara menyodorkan sebotol air minum pada Laura.
Laura mengangguk. Membaca doa lalu minum. Tak terasa satu botol air minum habis.
"Elu haus banget ya?" kata Tiara terkekeh.
"Maaf ya, nggak terasa udah menghabiskan minum lu," Laura merasa tak enak.
Laura hanya tersenyum. Bersyukur masih ada Tiara yang mengerti dirinya. Sahabat yang selalu ada untuknya.
"Jadi, gimana? Cerita sama gue, Dedi mengancam lu gimana?" tanya Tiara.
Laura kemudian menceritakan apa yang dikatakan Dedi di perpustakaan tadi. Tiara memeluk Laura yang menangis sesenggukan.
"Emang nggak ada akhlak si Dodol lolipet," rutuk Tiara kesal.
"Gue harus gimana, Ra? Gue cemas kali" Shabila menyeka air matanya.
"Hmm... kita ancam Adrian. Kalo Dedi mengancam lu, gue yang bakal mengancam Adrian! Luka balas luka, sakit balas sakit! Jangan banyak pikiran Laura elu tenang aja ya," Tiara berusaha menenangkan Laura
"Makasih banyak ya, Ra. Gue nggak tahu kalo nggak ada lu," lirih Laura.
__ADS_1
"Iya, ohya yang tadi pagi gimana maksudnya? Elu kok tinggal jalan kalo ke rumah Soni?" ucap Tiara bingung.
"Oh, tentang itu. Ini juga masih ada hubungan dengan Dedi" ucap Laura
"Hah, gimana? Apa hubungannya dengan Dedi?" Tiara semakin bingung.
Laura kemudian menceritakan kalau dia sudah terusir dari panti dan tinggal di rumah tante Sri.
"Ya Allah, tega banget Dedi. Adrian harus tahu ini. Ohya, bukannya jauh rumah saudara ibu panti lu dari sekolah?" kata Tiara.
"Iya, tapi mau gimana lagi. Cuma di sana saat ini tempat gue berteduh," ucap Laura yang menghembuskan nafasnya. Membuang segala keresahan.
"Hmm, tinggal di tempat gue aja. Gimana?" tawar Tiara.
"Kalo gue tinggal tempat lu, gimana gue ngomong sama ibu panti? Gue nggak enak, kasihan ibu panti. Nanti dia kepikiran dan merasa bersalah kalo tahu tante Sri menganggap gue pembantu,"papar laura
"Tapi, pasti lu nggak nyaman banget,laura" tutur Tiara.
"Nggak apa, Ra. Untuk sementara gue betah-betahin aja. Gue nggak mau ibu panti tahu kelakuan saudaranya, kasihan ibu panti gue. Lagian mereka nggak mukul gue atau apa, jadi biarlah dulu. Gue juga nggak perlu keluar ongkos untuk mengajar. Tinggal jalan aja," putus Laura.
"Ya, udah. Kalo mau lu begitu. Tapi, kost gue selalu terbuka buat lu, kapan pun," pesan Tiara tersenyum.
"Makasih ya," ucap Laura merangkul Tiara.
Setidaknya, masih ada orang-orang baik di sekitarnya. Laura belajar banyak bersyukur dari semua ia alami.
Belajar tegar meski saat sendiri. Belajar akan selalu ada mentari yang kembali menyinari kala hujan telah berhenti. Belajar bahwa dibalik derasnya hujan yang turun justru membuat bunga-bunga menjadi mekar. Dibalik masalah pasti ada hikmah yang Allah siapkan. Laura dan Tiara berdiri dan menyusuri jalan menuju masjid sekolah. Hanya rumah Allah tempat mengadu, tiada manusia yang berkuasa melebihi Allah yang maha kuasa.
"Rabb, hanya engkau sebaik-baik pelindung. Hanya engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan. Hamba berjalan di titian takdir yang engkau gariskan. Semoga dengan ujian ini, engkau ampuni dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba. Sampaikan rasa sayang ini Rabb, untuk ibu dan ayah yang pasti berada di bawah langit yang sama dengan hamba." Laura dalam khusuknya berdoa.
__ADS_1