
"Gue juga kagum sama lu. Elu nggak ninggalin gue di saat terpuruk," ucap Laura tersenyum.
Tiara dan Laura berpelukan. Kedua sahabat itu saling menguatkan.
"Ayo, pulang. Elu harus istirahat ," ajak Tiara.
"Ayo, hari ini Tante Sri nggak di rumah. Dia nyusul suaminya. Elu mau nginep, nggak?" tawar Laura.
"Boleh. Daripada elu sendirian di rumah orang kaya tapi pelit," Tiara terkekeh. Dia kesal sahabatnya seperti pembantu di rumah besar itu. Tapi, kalau di luar Laura diakui sebagai anak angkat.
Perjalanan akhirnya dilanjutkan lagi. Tiara dan Laura naik ke motor. Mereka menghabiskan waktu berdua.
Bercerita tentang hari esok yang mereka harap akan bahagia penuh canda tawa. Berharap akan ada masa yang tak ada air mata menggenang.
Sementara senja semakin meredupkan cahaya. Garis-garis jingga menjadi sebuah lukisan indah di cakrawala. Burung-burung terbang kembali ke sarangnya, bertemu kembali dengan anak-anaknya.
Ah, hewan saja sayang pada anaknya. Kenapa ada manusia yang tak menyayangi bahkan tak mengakui anaknya?
***
Pagi ini suasana di rumah tante TlSri sepi. Tiara baru saja pamit pulang tadi, setelah semalam menginap.
Rasanya hening dan sendiri lebih nyaman buat Laura saat ini. Laura melewati sebuah kaca besar di ruang keluarga, dia memperhatikan perubahan perutnya.
Dia mengelus-elus perutnya. Hanya saat disibak bajunya, perutnya akan kelihatan sedikit besar. Sepertinya bayi Laura sangat mengerti ibunya. Bayi itu pintar menyembunyikan dirinya yang hadir tanpa diharapkan siapa pun.
"Kita akan berdua saja setelah kamu lahir, Nak. Jangan bertanya siapa Ayahmu, ya! Bunda nggak punya jawaban untuk itu." jelas Laura sendiri sambil mengelus perutnya.
"Iya, Bunda. Dedek akan menurut." ucap Laura sendiri sambil menirukan suara anak kecil lalu terkekeh sendiri.
Setelah puas bercermin, Laura melanjutkan menyapu dan mengepel lantai. Saat tante Sri tidak di rumah, setidaknya dia tidak harus memasak.
Tak lama, rumah tampak sudah rapi. Laura akhirnya membuka tasnya. Dia berniat belajar saja. Toh, beberapa bulan lagi dia akan ujian akhir sekolah lalu lulus.
__ADS_1
"Loh, kok gue bawa buku Soni? Aduh, kasihan Soni. Gue ceroboh banget, salah memasukkan buku," Laura panik, dia takut buku itu diperlukan oleh Soni untuk kemarin sabtu.
Laura akhirnya berganti pakaian longgar lalu memakai hijab panjang. Dia bersiap-siap akan ke rumah Soni.
Shabila segera menutup pintu dan menguncinya. Dia membawa tas kecil berisi ponsel dan uang. Rencananya dia akan sekalian mampir ke sebuah warung makan membeli makanan.
Laura akhirnya berjalan keluar sambil menenteng buku Soni.
Sementara itu, Adrian hari ini kembali membuntuti Papanya. Dia sudah tak perduli lagi dengan sekolah. Dengan menyewa sebuah mobil, dia banyak mengambil foto dan rekaman.
Entahlah untuk apa? Adrian juga tak tahu. Dia hanya membuntuti Papanya terkadang membuntuti mamanya. Mencatat semua jadwal orang tuanya.
Adrian sudah seperti orang gila, ke sana kemari tak tentu arah. Dia sering menangis saat melihat Papa atau Mamanya pulang ke rumah lain. Bukan rumah mereka lagi.
Kali ini, Papanya sudah pergi dengan mengendarai mobil bersama sekretarisnya lagi. Adrian mengikutinya.
Hingga di sebuah jalan raya, Adrian kehilangan mobil yang dia buntuti. Dia tadi tak sempat melaju, lampu lalu lintas keburu berwarna merah. Sementara mobil Papanya sudah melesat duluan melewati jalan raya saat lampu hijau pertama.
"Ah, kesel gue! Kehilangan jejak kan! Ke mana nih kira-kira arah jalan yang harus sendiri. gue ambil." ucap Adrian
"Aduh, kayaknya gue salah ambil arah. Ini malah masuk perumahan. Nggak mungkin mereka ke arah sini," Adrian tampak berdecak kesal dan memukul setir mobilnya.
Namun, Adrian tiba-tiba memelankan mobilnya. Adrian melihat Laura yang sedang berjalan di atas trotoar.
" Laura.... ngapain dia di sini." ucap Adrian mengernyitkan kening.
Adrian kemudian parkir di pinggir jalan. Dari belakang dia mengikuti Laura diam-diam. Adrian memperhatikan penampilan Laura dari belakang.
Laura terlihat memakai pakaian yang sangat lebar dengan hijab panjang. Adrian melihat dari belakang tubuh Laura tampak tenggelam saat memakai pakaian yang lebar.
Beberapa bulan tak bertemu, Adrian tak ingat Laura sama sekali. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya, Terlalu tenggelam dalam masalahnya.
Sampai Adrian lupa, dia juga sama jahatnya dengan kedua orang tuanya. Adrian merasa tak dipedulikan kedua orang tuanya. Merasa kalau dia sudah tak dianggap lagi. Tapi, bukankah dia sama? Dia bahkan tak peduli pada anaknya yang masih dalam kandungan.
__ADS_1
"Gue lebih jahat dari orang tua gue. Bahkan gue nggak peduli sama calon anak gue." lirih Adrian dalam hati.
"Aarkhh," Laura menjerit. Tiba-tiba kakinya tersandung di trotoar yang rusak. Laura kurang memperhatikan jalan di bawahnya. Dia hampir saja terjatuh, namun...
"Awas, Laura!" seru Adrian yang refleks tangannya menjulur ke depan.
Tangan kirinya memegang lengan Laura sementara tangan kanannya tanpa sadar menahan perut Laura yang terasa membesar jika disentuh.
Deg!
Jantung Adrian berdetak kencang. Merasakan perut Laura yang membesar dan keras. Terasa ada gerakan kecil di dalam perut Laura. Benar-benar ada kehidupan dalam perut Laura. Ini nyata, Laura benar-benar hamil.
Sementara Laura yang jantungnya berdebar cemas karena hampir terjatuh, segera menoleh ke belakang. Rasanya suara itu sudah tak asing lagi.
Hitungan sekian detik, Laura berusaha berdiri stabil, agar tak kembali jatuh. Tangan Adrian masih menyentuh tangan Laura tanpa sadar.
Untuk beberapa saat, kedua mata mereka bertemu. Laura yang sadar lebih dulu. Dia memutus kontak mata dan menyingkirkan tangan Adrian yang memegang tangannya.
"Ah iya... maaf," cetus Adrian kikuk karena ketahuan menguntit Laura.
Laura mengangguk saja. Lalu segera kembali berjalan tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Hei... kok lu pergi? Elu nggak mau ngucapin makasih buat gue?" tuntut Adrian yang menyusul langkah kaki Laura. Dia tak terima melihat Laura yang tak peduli padanya.
"Makasih untuk apa?" ketus Laura
"Iya... makasih karena gue udah nolong lu," sahut Adrian yang tergagap bingung melanjutkan kata.
"Oh, elu barusan menyelamatkan anak lu sendiri. Ngapain gue makasih!" Laura tetap ketus. Berjalan lurus tak menoleh pada Adrian.
Padahal dia sudah melatih dirinya selama beberapa bulan ini, untuk lebih menerima keadaan dan tak terlalu emosi ketika bertemu Adrian.
Tapi, saat bertemu Adrian ternyata percuma saja. Emosinya tetap meluap, Laura benci melihat Adrian. Entah di mana cinta yang dulu bersemayam dalam dada, menguap dan mengering tak bersisa rasa.
__ADS_1
Wajah Adrian bahkan tak terlihat tampan lagi di mata Laura Suara Adrian bahkan tak ubahnya seperti suara nyamuk yang berbunyi berisik di telinga. Sungguh, rasa cinta itu sudah berubah jadi benci!