TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa Judul


__ADS_3

" gue lihat sendiri Laura ke ruang UKS, nggak ada dia balik ke kelas!" seru Adrian.


"Oh, berarti benar dong gosip beredar. Elu suka sama Laura? Padahal jelas buktinya ponsel gue di tasnya!" Angel menatap kesal pada Adrian.


"Angel, lu juga dipanggil ke ruang BP," celetuk salah seorang murid yang datang ke ruang kelas.


"Okey, thanks," ucap Angel. Dia segera berlalu berjalan keluar kelas. Matanya sempat mengerling ke arah Adrian.


Sementara Adrian, mendengus kesal. Rasanya dia yang sakit hati, melihat Laura yang dituduh. Dia yakin Laura tidak bersalah.


Sementara di ruang UKS, seorang murid perempuan datang.


"Laura, elu di panggil ke ruang BP," seru murid tersebut dari pintu ruang BP.


"Loh, kenapa?" Tiara yang justru bertanya. Sementara Laura tampak terkejut.


"Ponsel Angel hilang dan ponsel dia ditemukan di tas elu saat pak guru geledah tadi," jelas murid tersebut yang kemudian berlalu pergi.


Laura dan Tiara saling pandang. Sama-sama terkejut dan tak menyangka.


"Kok bisa ponsel Angel di tas gue?" Laura berkernyit bingung.


"Sama gue juga bingung. Jangan-jangan ini cuma akal-akalan Angel!" Tiara mendengus kesal.


Laura menarik nafasnya. Lalu berusaha bangkit dari tidurnya.


"Ra, elu udah kuat?" tanya Tiara yang membantu Shabila berdiri.


"InsyaaAllah Ra, gue kuat" jawab Laura


Tiara memapah Laura menuju ruang BP. Laura berjalan pelan. Tubuhnya masih sangat lemah.


"Lu yang tenang ya, Ra. Baca doa dzun nun, supaya lu bisa lepas dari kesulitan ini. Gue bakal bersaksi kalo bukan lu pelakunya," ucap Tiara berusaha menenangkan Laura.


Laura hanya mengangguk. Dia melakukan apa yang diucapkan oleh Tiara. Sepanjang perjalanan menuju ruang BP, Laura melantunkan doa Dzun nun.


Setibanya di ruang BP, terlihat Angel sudah duduk di hadapan guru BP. Laura bersama Tiara kemudian masuk setelah mengucap salam.


Guru menyilahkan Laura duduk.


"Kamu sakit, Laura?" tanya sang guru yang melihat Laura pucat.


"Iya, Bu. Saya di ruang UKS dari tadi," jawab Laura.


"Bu, saya saksinya. Saya bersama Laura sedari tadi," celetuk Tiara yang tak terima Laura dituduh.


"Kami memang menemukan ponsel Angel di dalam tas Laura. Ibu minta Laura menjelaskan dulu ya," pinta sang guru lembut.


"Saya nggak tahu apa-apa bu, Tadi saya keluar ruang kelas bersama teman-teman yang lain. Lalu karena merasa tidak enak badan, saya diantar ke ruang UKS oleh Tiara," jelas Laura.


"Iya, Bu. Saya saksinya. Laura dari tadi bersama saya terus bu " sambung Tiara membela Laura.


"Tapi, ponsel saya ditemukan di dalam tas Laura, Bu," protes Angel.


"Bisa aja lu sendiri yang meletakkan ponsel lu di dalam tas Laura. Elu mau fitnah Laura kan?!" cibir Tiara.


"Eh, jangan sembarangan lu ya!" Angel membalas ucapan Tiara.

__ADS_1


"Bu, pokoknya saya nggak terima. Saya minta pencuri ini dikeluarkan dari sekolah," tuntut Angel pada gurunya.


"Angel tenang dulu. Bagaimanapun, Laura sering mengharumkan nama sekolah kita. Lagipula Laura punya saksi dia tidak melakukan itu. Ibu bakal menyelidiki dulu hal ini," ucap sang guru.


"Bu, Tiara ini temannya Laura Dia pasti menutupi kejahatan Laura Saya pokoknya meminta pencuri ini dikeluarkan dari sekolah!" Angel tetap bersikukuh.


Sementara Laura yang memang semenjak hamil sensitif, langsung menangis. Dia tidak mau dikeluarkan dari sekolah. Sebentar lagi mereka akan lulus. Mereka sudah di kelas 12. Laura butuh ijazah SMA.


"Bu, saya nggak mencuri," lirih Laura dengan genangan air mata.


"Bohong, Bu! Saya juga menuntut pencuri dikeluarkan dari sekolah. Saya akan laporkan hal ini ke orang tua saya. Bagaimanapun orang tua saya adalah ketua komite sekolah," Dedi tiba-tiba masuk ke dalam ruang BP.


"Dedi, kalau masuk itu ketok pintu ucap salam dulu," nasihat sang guru yang menggelengkan kepala melihat kelakuan Dedi.


"Maaf, Bu. Saya hanya kesal, ternyata di sekolah kita ada pencuri. Kalo kita biarkan, besok dia akan mencuri lagi," tekan Dedi.


"Nggak, Bu. Saya benar-benar tidak mencuri," Laura mengiba pada gurunya. Air matanya semakin luruh ke pipi bahkan sudah membasahi hijabnya. Tubuhnya sudah sedemikian sakit, sekarang ditambah hatinya ikut sakit dituduh yang bukan-bukan.


Sang guru tampak diam dan berpikir. Meminta Laura tak menangis. Meminta Dedi untuk diam dan tak membuat rusuh.


"Pokoknya saya mau dia di hukum keluar dari sekolah, Bu!" Angel kembali menekankan kata sambil menunjuk Laura


Hati Laura mencelos. Semua jari menunjuk dirinya. Dia hanya bisa menggeleng lemah. Tak tahu lagi bagaimana membela diri. Dalam hati hanya doa Dzun nun yang melipur sedih.


"Saya pencurinya, Bu!" Adrian muncul. Dia sebenarnya sembunyi dari balik dinding luar sedari tadi. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


Tapi, melihat Laura terdesak, Adrian tak berpikir cara lain. Biar dia yang mengaku. Dedi dan Angel takkan berani mengeluarkan dirinya dari sekolah.


"Adrian, kamu yang mencuri?" sang guru terkejut.


Laura dan Tiara terkejut. Bahkan Angel membelalakkan mata tak percaya. Dedi melongo dan menggelengkan kepala, Ini di luar rencana mereka.


"Alasan kamu mencuri apa, Nak ?" tanya sang guru.


"Iseng aja, Bu," ceplos Adrian yang tak berpikir sebelumnya apa kira-kira alasan dia mencuri.


"Alasan macam apa itu, Rian? Elu nggak usah menutupi kejahatan Laura," protes Angel tak suka.


Rencana mereka bisa berantakan kalau Adrian mengakui kesalahan.


"Saya memang anak bandel, Bu! Saya memang sangat suka menjahili teman-teman. Maafin saya ya Ra, kali ini kamu yang jadi sasaran kejahilan saya," ucap Adrian meyakinkan.


Laura tampak bengong. Berusaha menyelidik dari tatapan mata Adrian. Berusaha mencerna kejadian hari ini.


Namun, akhirnya dia hanya mengangguk.


Sementara Tiara tersenyum senang. Setidaknya Laura terlepas dari tuduhan. Dia tak peduli jika Adrian yang harus tertuduh atau keluar dari sekolah.


"Adrian, kamu berkata jujur? Kamu tahu kamu bisa dikeluarkan dari sekolah karena pernyataan kamu ini?" tekan gurunya serius sambil menatap mata Adrian.


Adrian menghembuskan nafasnya. Dia tidak akan berubah pikiran. Walau mungkin setelah ini dia akan dikeluarkan dari sekolah dan membuat orang tuanya pasti marah besar.


Adrian hanya berusaha bertanggung jawab. Walau mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Laura


"Saya sudah mengatakan dengan sejujur-jujurnya, Bu! Saya yang mencuri ponsel Angel dan meletakkan ke dalam tasnya Laura " terang Adrian.


Dedi memberi kode pada Angel untuk menutup kasus ini. Rencana mereka gagal.

__ADS_1


"Bu, saya anggap kasus ini selesai saja. Bagaimanapun mereka adalah teman-teman saya. Bagi saya, yang terpenting ponsel saya sudah kembali," ucap Angel akhirnya.


Ibu guru menarik nafas lega. Setidaknya kasus ini berakhir dengan damai.


"Baiklah kalau begitu. Ibu senang Angel mau berdamai dengan teman. Untuk Adrian, ibu minta kamu jangan menjahili teman-teman kamu lagi. Kasihan teman kamu yang dituduh," nasehat sang guru.


"Iya, Bu. Saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan saya," ucap Adrian tertunduk.


"Baiklah kalau begitu. Semua boleh kembali ke kelas. Sebelumnya bersalaman dulu ya. Saling memaafkan," ucap ibu guru.


Semua murid mengangguk. Laura hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada, tak bersalaman dengan Dedi maupun Adrian.


Setelahnya, mereka kembali ke kelas. Tiara, memapah Laura ke kelas. Berjalan lambat menuju kelas.


Sementara Angel yang begitu marah, menarik tangan Adrian ke taman sekolah.


"Elu apa-apaan sih, Rian! Kenapa lu rela dituduh, yang mencuri kan Laura," ucap Angel dengan marah


"Suka-suka gue! Jangan-jangan ini cuma akal-akalan lu doang atau bahkan lu kerjasama dengan Dedi buat mengeluarkan Laura dari sekolah!" tuduh Adrian menunjuk wajah Angel dengan jarinya.


"Eh, enggak ya! Gue nggak seperti itu. Ponsel gue emang hilang kok!" Angel berkelit. Dia takkan mau membuka rahasianya.


"Gue nggak percaya sama lu. Mata lu bergerak ke sana kemari menandakan kalo lu bohong," sembur Adrian yang semakin kesal.


"Wah... wah... elu menyudutkan cewek lu sendiri demi si Cupu," Dedi datang menghampiri dan menyindir Adrian.


"Diem lu! Pasti elu yang punya rencana ini kan?!" tekan Adrian sambil menatap tajam mata Dedu


"Santai, Bro. Bukankah lebih baik Laura keluar dari sekolah ini?" sahut Dodit.


"Apa maksud lu?" Adrian mengernyit heran.


"Angel cantik, gue minta tolong dong. Elu balik ke kelas duluan ya, gue mau ngobrol dengan pacar lu yang otaknya agak gesrek setelah mengenal si Cupu," pinta Dedi yang balik menatap Adrian.


"Okey, gue balik dulu ya," Angel menurut saja, apalagi di puji cantik. Dia langsung sumringah senang.


"Jelasin ke gue! Elu kan yang sudah merencanakan ini!" tuduh Adrian kesal.


"Iya, gue! Apa mau lu!" tantang Dedi


"Gila lu ya! Apa maksud lu? Kita tuh udah jahat banget ke Laura selama ini, please berhenti," pinta Adrian Sisi kemanusiaannya terusik.


"Seharusnya lu terima kasih sama gue. Ini cara untuk menutupi kejahatan kita. Kalo Laura keluar dari sekolah, rahasia kita bakal lebih aman," jelas Dedi


"Lebih aman? Lu nggak kasihan sama Laura? Bentar lagi kita kelulusan. Kita udah di kelas 12. Biarkan dia sekolah dengan tenang, Di!!!" tegas Adrian yang berusaha menekan emosinya.


"Elu berpikir nggak panjang, Rian! Coba lu pikir, makin hari perut Laura akan semakin membuncit. Kalo ketahuan pihak sekolah, bisa aja si Cupu nyebut nama lu. Gue sedang melindungi lu," tekan Dedi tak mau kalah.


"Melindungi gue? Dit, gue terlibat masalah ini karena lu! Elu yang punya ide gila, gue juga korban kegilaan lu, kalo lu nyadar!" Adrian geram sekali hingga menunjuk-nunjuk dada Dedi dengan jarinya.


"Gue salah. Tapi lu juga salah. Kenapa juga lu mau aja ikuti taruhan kemarin?" cibir Dedi.


"Elu!" tangan Adrian mengayun di udara. Hampir saja dia ingin memukul Dodit. Tapi, diurungkan niatnya. Adrian tak ingin membuat heboh sekolah.


"Apa! Lu mau pukul gue? Ayo pukul, gue mau lihat kekuatan lu!" tantang Dedi. Matanya menatap nyalang Adrian. Seperti singa yang tak mau kalah. Merasa dia yang menguasai segalanya.


"Gue peringati lu! Jangan ganggu Laura lagi. Sekolah tak lama lagi. Biarkan dia tenang hingga lulus," ancam Adrian penuh penekanan kata.

__ADS_1


"Gue bakal melakukan apa pun agar Laura tak lagi jadi ancaman buat kita. Selama dia masih mempertahankan kehamilan, gue nggak akan tinggal diam. Bukti kejahatan kita ada di tangan dia, Adrian! Elu harus sadar akan hal itu!" tekan Dedi tetap tak mau mengalah.


bersambung.......


__ADS_2