
Mobil Andrean telah memasuki kawasan perumahan nya,Yuna masih tertunduk canggung di sebelah Andrean.Tak seperti dulu,ia akan merasa tenang dan nyaman setiap kali Andrean mengajak nya pergi.
Situasi nya kini telah berubah.Yuna bukan lah lagi gadis lajang tanpa ikatan status.Kini ia sudah menjadi seorang istri.Bahkan pria yang ia cintai kini adalah kakak ipar nya.Kakak dari suami nya sendiri,yang baru beberapa hari lalu mengikat tali pernikahan dengan nya.
Andrean tidak akan ada lagi dalam bayangan nya.Mengisi memory indah di benak nya.Semua nya sudah harus di kubur dalam-dalam.Jangan pernah ada cinta terlarang di antara mereka,begitu lah seharus nya.
"Yuna,"seru Andrean,yang sejak tadi hanya terdiam.
"Hmm"Yuna menoleh ke arah nya.
"Aku harap Daniel jangan sampai mengetahui tentang hubungan kita.Anggap kita belum pernah saling mengenal sebelum nya.Mungkin Daniel hanya tau jika kau dulu pernah bekerja di cafe dan kau adalah putri pak Heru.Mungkin sebatas itu."Ujar Andrean.
Yuna malah terdiam.
"Yuna,aku harap kau mengerti.Aku tidak ingin ada yang kecewa lagi.Cukup kita yang merasa kan luka ini.Dan aku harap juga kau ingat pesan ku tadi."Andrean menghela nafas nya.
"Aku ingin kau mencintai Daniel dengan tulus"sambung Andrean dengan suara yang sendu.
Yuna menatap Andrean.ia tau apa yang di katakan Andrean memang benar ada nya,dan memang begitu seharus nya.
"Aku akan mencoba nya kak."jawab Yuna singkat.
Ya Tuhan...memang ini yang aku ingin dengar dari nya,tapi saat ia.mengucap kan nya, kenapa rasa nya terdengar menyakitkan.Batin Andrean.
"Bagus lah."ucap nya membuang pandangan.
"Kak. stop"ucap Yuna,ketika mereka hampir sampai.
"Ada apa?"tanya Andrean spontan menghentikan mobil nya.
"Sebaiknya aku turun di sini saja.Aku tidak ingin menimbulkan banyak pertanyaan,jika mereka tau Kita pergi bersama."ucap Yuna.
Andrean terlihat berfikir.
"Tapi ini masih lumayan jauh"
"Tidak apa-apa.Aku biasa berjalan kaki".Jawab Yuna.
"Kau yakin?"
Yuna mengangguk dan segera melepas sabuk pengaman nya,lalu membuka pintu mobil.
Andrean spontan memegang lengan Yuna yang hendak turun.
Yuna pun menoleh.
"Hati-hati"ujar nya.
Yuna hanya mengangguk.
Aku hanya berjalan melewati beberapa rumah,kenapa terlihat khawatir begitu si.Batin Yuna.
Andrean melajukan mobil nya meninggal kan Yuna di tepi jalan,setelah melambaikan tangan nya dengan tatapan penuh kecemasan.
Yuna melangkah pulang,kerumah nya yang sekarang.Rumah kediaman sang suami,yang kini telah menjadi tempat nya bernaung.Meski terasa asing awalnya,tapi Yuna mencoba untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru nya.
***
Andrean sampai lebih dulu,ia menuju kamar nya.
"Rean...dari mana saja?kenapa ponsel mu tidak aktif.Mami khawatir sayang,bukan kah kau bilang sedang tidak enak badan?"Tanya nyonya wini seraya melangkahkan kaki nya mendekati sang putra sulung.
"Iya Mam,maaf.Aku hanya berkunjung ke rumah teman lama ku"Jawab nya singkat.
Nyonya wini hanya mengangguk.Mereka bukan lah keluarga yang selalu memaksa untuk mengetahui kepentingan pribadi anggota keluarga nya masing-masing,kemana mereka pergi dan dengan siapa.Selama saling memberi kabar dan dalam keadaan baik itu sudah cukup.
"Iya sayang.Mami hanya khawatir karena keadaan mu yang kurang baik dan ponsel mu yang tidak aktif"lanjut nyonya wini.
__ADS_1
"Terima kasih Mam,maaf membuat mu khawatir.Aku sudah sehat kok,tadi Ponselku lowbat."
"Ya sudah istirahat ya,apa kau sudah makan?"
"Sudah Mam.Aku ke kamar dulu ya".
"Baiklah "Ujar nyonya wini sambil menepuk-nepuk bahu putra nya.
Andrean pun melangkah masuk ke kamar nya.
"Dari mana kak Rean Mam?"Tanya Daniel yang sedang memainkan ponsel nya.
"Dari rumah teman katanya.Oh iya apa Yuna menghubungi mu?"Tanya Nyonya wini yang tiba-tiba ingat bahwa menantunya itu belum pulang.
"Tidak".Jawab Daniel cuek.
"apa kau tidak mau mencoba menghubungi nya?"Ujar Nyonya wini merasa gusar karena sikap sang putra.
"Sudah lah Mam,nanti juga dia pulang.Lagi pula dia bukan anak kecil kan?".
"Niel,dia itu istri mu.apa kau tidak mengkhawatirkan nya?jangan seperti itu sayang.Perhatian seorang suami sangat di butuhkan seorang istri,meski hanya bertanya sudah makan apa belum atau dimana dia berada.Apa kau mengerti?Jadi lah suami yang perhatian seperti Papi mu."Ucap Nyonya wini.
Beberapa saat kemudian Yuna pun datang.
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikum salam".
"Tuh kan dia datang.Jangan khawatir berlebihan Mam."Ujar Daniel.ia kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar nya.Seolah menghindar dari kehadiran Yuna.
"Mau kemana?"Tanya nyonya wini.
"ke kamar Mam."Jawab nya singkat sambil melangkah menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Nyonya wini yang merasa kesal itu pun menghela nafas nya.
"Sudah Mam.Bagaimana dengan Mami?"tanya Yuna balik.
"Ah sudah.Mami sudah makan malam.apa kau yalin sudah makan malam?"Tanya Nyonya Wini meyakinkan.
"Iya Mam.aku sudah makan."Jawab Yyna lembut.
"Ya sudah kalau begitu pergilah beristirahat.Mungkin Daniel sudah menunggu mu."tutur Nyonya wini.
"Iya Mam.Aku permisi ya".
***
Saat Yuna memasuki kamar nya,Daniel terlihat tak bergeming.Ia masih bermain game di gawai nya.
Yuna memasuki ruang ganti untuk mengganti pakaian nya.Tanpa menyapa Daniel,karena ia tau bahwa Daniel takkan peduli dengan keberadaan nya.
Yuna pun duduk di sofa setelah mengganti pakaian nya.
Sofa yang menjadi tempat tidurnya setiap malam.
"Apa kau sudah makan?"Tanya Yuna.
"Hmm"jawabnya.
Jawaban apa itu?Batin Yuna.
"Baiklah,besok aku kembali bekerja"Ucap Yuna.
"Hmm"Jawabnya lagi.
Issh...Apa si..Batin Yuna.
__ADS_1
"Apa kau pergi bekerja besok?"Tanya Yuna lagi.
Daniel mematikan gawai nya dan meletakkan nya kasar di atas kasur.
"ya,aku akan ke kantor,
.Tapi jika kau meminta aku untuk mengantar mu besok,aku tidak akan melakukan nya.Jadi jangan berharap lebih."ucap Daniel Kasar.
"Iya.."Ujar Yuna menundukkan kepala nya.
Daniel mengambil gawai nya lagi.Dan kembali fokus pada game nya.
"Niel..."panggil Yuna.
"Apa lagi".Bentak nya.
"Maaf,apa kau punya obat?aku belum membawa perlengkapan ku semuanya di rumah.Aku pun tidak membawa obat."
"Jangan merepotkan ku.Pergi lah cari sendiri".Jawabnya.
"Baikalah maaf kalau begitu".Yuna pun mencoba untuk bangun tapi rasa pusing di kepala nya membuatnya tidak mampu berdiri.Yuna memijit dahinya yang terasa sangat pusing itu.
Aku rasa,aku tidak akan mampu berjalan.Lebih baik aku tidur saja.Aku tidak ingin merepotkan Daniel,atau membuat Mami dan yang lain menjadi khawatir.Batin Yuna.
Yuna pun mengurungkan niat nya untuk mencari obat.Dan memutuskan untuk tidur.
Daniel bahkan tidak peduli dengan keadaan Yuna.Padahal dia melihatnya.
Kau mencoba cari perhatian rupanya...Tapi,aku tidak peduli pada mu.Batin Daniel.
***
Saat pagi hari,Daniel telah berangkat lebih dulu ke kantor.Dia melewatkan sarapan pagi nya.sedangkan Andrean masih menghabiskan sarapan nya.Seila yang sedang berolah raga pun ikut bergabung di meja makan.
"Yuna mana ya..kok belum keluar kamar?"Tanya Nyonya wini sedikit cemas.Karena biasa nya pagi sekali,Yuna sudah bangun dan membantu di dapur.Tapi sampai waktu sarapan pun Yuna belum juga terlihat keluar dari kamarnya.
Andrean terlihat cemas mendengar itu,tapi ia mencoba untuk tenang dan berpura-pura tidak peduli.Padahal ia ingin sekali melihat keadaan Yuna.
"Kak,antar aku ke butik ya...mobil ku sedang di bengkel."Ajak seila.
"eumm..baiklah."Jawab Andrean.
Semoga kau baik-baik saja Yuna.Batin Andrean.
Mereka pun pergi bersama.
Dokter Arman dan nyonya wini yang semakin cemas karena Yuna belum juga keluar dari kamar nya sampai waktu sarapan usai pun memutuskan untuk melihat nya ke kamar.
"Yuna..."Panggil Nyonya wini,seraya mengetuk pintu kamar.
Tapi tak ada sahutan yang terdengar.
"Pap,kita masuk saja ya...Mami jadi khawatir"Ucap Nyonya wini.
"Baiklah Mam."
Nyonya wini dan Dokter Arman pun membuka pintu kamar nya dan melangkah masuk.
Terlihat Yuna masih terbaring di sofa nya.
Mata nya masih terpejam.
"Yuna,apa kau masih tidur?kau baik-baik saja?"Tanya Nyonya wini,mendekati Yuna.Dokter Arman masih berdiri di ambang pintu.
"Hmm"Jawab Yuna,dengan suara parau nya.Ia sangat lemas dan pucat.Membuat Nyonya wini terkejut.
"Astaga Yuna...".
__ADS_1