The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Keluar kota.


__ADS_3

Pagi hari,saat Daniel bangun dari tidurnya,dia mendapati diri nya tertidur di sofa.Ia pun bangun dan mencari Yuna.Saat masuk ke kamar nya,Yuna sudah tidak ada.Yuna sudah pergi pagi sekali setelah menyiapkan sarapan untuk Daniel di meja.


Setelah Mandi,Daniel pun bersiap untuk ke kantor.Ia mengaktifkan ponsel nya,dan begitu banyak panggilan masuk dari Gino.


Daniel menyantap sarapan nya,nasi goreng spesial buatan sang istri.


"Dia pandai memasak rupa nya."Gumam Daniel disela kunyahan pertama nya.


Setelah selesai sarapan,Daniel pun segera menuju kantor nya,Ia melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.Ponsel nya pun berdering,panggilan dari Gino yang seperti nya begitu penting.


"Halo,iya aku sedang menuju ke kantor.Siap kan saja rapat nya,aku akan sampai lima belas menit lagi"Ucap Daniel.sambil melihat jam tangan nya.


Sesampai nya di depan gedung perkantoran itu,Daniel bertemu dengan Sany.


"Hai Niel"sapa nya menghampiri.Tapi Daniel malah tidak memperdulikan nya.


"Niel,aku akan bekerja di sini lagi,permohonanku di setujui oleh Andrean"Ujar Sany terus mengikuti langkah Daniel.


"Bagaimana kabar mu?".


"Hmm"Jawab Daniel,masih terus melangkah menuju ruang rapat.


"Kau masih saja mengacuhkan ku...Padahal aku tidak lagi menyukai mu.Kau sudah beristri sekarang.Aku bahkan telah jatuh cinta pada kak Andrean".Ucap Sany.


Daniel menghentikan langkah nya,mata nya menatap Sany tajam.


"Apa?"Tanya Sany mengangkat dagu nya.


"Jauhi Kak Andrean.Aku tidak suka kau mendekati nya."Ucap Daniel dengan tegas.


"Kenapa? apa urusan nya dengan mu?itu hak ku."Tantang Sany.


"Tapi kau tidak pantas dengan pria seperti kak Andrean."


"Apa maksud mu?kau merendahkan aku?"ucap Sany marah.


"Terserah,aku tidak ada waktu meladeni mu."Ujar Daniel melangkah meninggalkan Sany yang masih kesal.


Sany mendengus kesal.


"Dasar menyebalkan."


***


Seusai rapat,Daniel melangkah menuju ruangan nya.Di ikuti Gino yang mengekor di belakang nya.


"Bos,sebenarnya hari ini kita harus berangkat ke luar kota.Ada pertemuan penting dengan pengembang saham".Tutur Gino.


"Apa?hari ini?"Tanya Daniel memperjelas.Gino mengangguk.

__ADS_1


"Semalam aku coba untuk..."Kata-kata Gino terhenti saat Daniel mengacungkan telapak tangan nya.


"Siap kan semua nya,kapan kita bisa berangkat.?"


"Sekarang Bos."jawab Gino.


"Baiklah setengah jam lagi kita pergi."UCap Daniel lalu melangkah menuju ruangannya.


"iya Bos".


Hufh...aku tau ini masa-masa indah anda dengan Nona Yuna.Tapi bagaimana lagi...Batin Gino.


***


Yuna mendapat pesan singkat dari Daniel bahwa ia harus pergi keluar kota hari itu dan mungkin akan pulang besok.


Yuna menghela nafas nya,hari itu pun pasien begitu banyak.Cuaca sedang tidak menentu,sistem kekebalan tubuh kian menurun.Kurang nya olah raga dan makanan sehat,juga istirahat yang cukup.Membuat banyak orang jatuh sakit.Beberapa klinik dan Rumah Sakit penuh sesak.Banyak pasien yang menjalani rawat inap.Dan pekerjaan Dokter pun kian bertambah.


Yuna mengurut tengkuk nya yang sudah terasa begitu pegal.Ia lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul jam tiga sore.Ia bahkan belum makan siang.


pesan masuk dari Dokter Arman.


"Jangan lupa makan nak." Yuna tersenyum membaca nya.


Ayah mertua nya itu memang begitu perhatian pada nya.


Yuna bangun dari kursi nya dan melangkah menuju kantin.Di sana lumayan ramai.Karena bukan hanya Yuna yang melupakan makan siang nya,tapi beberapa para medis pun bekerja ektra hingga mengabaikan waktu makan mereka.


Yuna mengangguk-angguk saat beberapa orang menyapa nya.Predikat Dokter cantik yang baik hati dan menantu sang Direktur itu pun,benar-benar berpengaruh pada pandangan orang yang mengetahui nya.Banyak yang berdecak kagum.Dan tidak sedikit pula yang iri dengki pada nya.


Termasuk satu Dokter bedah yang juga tak kalah cantik nya.Dokter yang pernah di abaikan oleh Daniel karena Yuna.


Kejadian itu masih melekat di ingatan Miranda.Ia masih tidak terima dengan status yang di sandang Yuna.Dia berfikir bahwa dia lah yang lebih pantas mendampingi Daniel.


Tatapan mata nya kini tak seramah dulu.Saat Yuna berjalan di hadapan nya,Miranda malah memalingkan wajah nya.Yuna hanya tersenyum melihat tingkah Dokter satu itu.Banyak yang heran kenapa Miranda mengacuhkan sapaan Yuna.


Banyak pula yang berbisik bahwa Dokter Miranda,memang cemburu dan tidak suka dengan pernikahan Daniel dan Yuna.


Yuna tak pernah ambil pusing.Siapa pun berhak atas apa yang di rasakan nya.Dia yang tau bagaimana seharusnya bersikap.Bukan orang bodoh yang harus di ajari,mana yang boleh atau tidak.


Miranda masih meradang,kekesalan nya pada Yuna kian memuncak tat kala Yuna menerima telpon dari Daniel di sela makan nya.Miranda yang duduk hampir berdekatan,karena meja kantin yang sudah penuh,mendengar jelas apa yang Yuna katakan di telpon nya.


Yuna sengaja tertawa-tawa.Padahal Daniel yang sedang menelpon pun di buat bingung.


"Hey,kenapa kau tertawa begitu?aku kan cuma mau bilang jika aku akan pulang besok sore Banyak pekerjaan di sini."Ucap Daniel dari sebrang telpon.


"Hahaha..iya Iya,bagaimana sayang apa kau sudah makan?".Tanya Yuna bersikap seolah sedang bahagia.Karena ia melirik Miranda yang terlihat kesal.Ia terus memperhatikan tingkah Yuna dan mengacak-acak makanan di piring nya.


"Oh..aku sedang makan capcay,ada telur dan goreng ikan.haha kau mau?sini buka mulut mu..aku akan menyuapi mu...kau manja sekali."ujar Yuna.

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini.Siapa yang bertanya?dan aku juga tidak mau kau suapi.Kau sakit?hah kenapa kau berkata melantur seperti itu.Ya sudah lah..Dasar"Ujar Daniel dan menutup panggilan nya.


Tapi Yuna masih berpura-pura bahwa Daniel masih menelpon nya.


"Ah iya sayang hati-hati.Aku merindukan mu..cepat pulang ya..bye muah.."Yuna pun mematikan telpon nya yang memang sudah terputus sejak tadi.Dan melirik ke arah Miranda.


Huh pasti kau kesal kan...siapa suruh menyukai suami orang.Percuma wajah mu cantik tapi kau bertingkah seolah kau tidak laku.Batin Yuna kesal.


Dia merasa puas dengan melihat wajah Miranda yang begitu kesal.


Tapi tanpa di sadari,sedari tadi bukan hanya Miranda yang memperhatikan nya.Tapi beberapa orang yang berada dekat dengan meja nya pun mendengar.Mereka terlihat senyum-senyum sedari tadi.


Wajah Yuna memerah saat menyadari nya.


"Cie...Dokter Yuna.Romantis sekali sih Tuan Daniel.Kalian memang pasangan yang serasi."Ujar Salah satu dokter yang lumayan dekat dengan Yuna.


"Ah Dokter Hara...bisa saja.Aku jadi malu"ucap Yuna.Benar saja wajah nya memerah.


"Nama nya juga pengantin baru,wajar saja lah.Aku pun pernah merasakan nya."Sambung Dokter senior yang sudah memiliki tiga orang anak itu.


Yuna melirik Miranda yang membanting sendok nya dan berjalan meninggal kan kantin,dengan wajah kesal.Ada senyum di sudut bibir Yuna.


***


Daniel merasa heran dengan kata-kata Yuna di telpon tadi.


"Ada apa ya dengan nya?kenapa dia jadi aneh begitu?aku penasaran".Gumam Daniel.


"Ada apa bos?"Tanya Gino yang berada tidak jauh dari nya.


"hmm"Daniel menggelengkan kepala nya.


"Ini bos,laporan yang di serah kan tuan Nico".Ujar Gino menyerahkan berkas di atas meja.


"Mana dia kenapa belum datang?"Tanya Daniel,karena Nico yang merupakan salah satu staf nya belum datang.


Nico adalah kakak dari Sany,kakak angkat yang tinggal bersama ibu nya,setelah kedua orang tua Sany berpisah,Nico memilih untuk tinggal dan merawat ibu angkat nya itu.


"selamat Sore pak.Maaf saya terlambat."Ucap Nico menundukkan kepala nya saat baru tiba.


"Duduk lah.Bagai mana kabar mu?dan Juga Ibu mu?"Tanya Daniel.


"Baik.hanya saja,ibu sedang dalam pengobatan.Maka nya tadi aku datang terlambat.Karena harus mengantar keperluan ibu di rumah sakit.".jawab Nico.


"Ibu mu sakit?sakit apa dan sejak kapan?"Tanya Daniel menegakkan tubuh nya,ia memang dulu sangat akrab dengan ibu kandung dari Sany itu.


"Ibu...sakit leukimia,dan sudah hampir satu tahun keluar masuk rumah sakit."Jelas Nico sambil tertunduk.


"Leukemia?"....

__ADS_1


__ADS_2