
Kediaman Keluarga wirawan
Di sebuah komplek perumahan kawasan Elit,terlihat beberapa rumah besar kediaman para pengusaha besar.Sebuah rumah bergaya Eropa dengan deretan mobil mewah dan taman yang tertata rapi,terlihat beberapa security di pos dekat gerbang sedang menghampiri mobil yang baru saja masuk.Turunlah seorang pemuda dengan penampilan stylis dan sangat menawan,dia terlihat berbicara sekilas dengan para security di sana,kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah mewah itu,dengan menenteng jaket jeans ditangan nya.Tubuh yang tinggi tegap dan atletis itu,di sempurnakan dengan wajah tampan yang di hiasi kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang mancung,tak ayal membuat banyak wanita terpesona kepadanya.
Di ruang keluarga
Terlihat sepasang nyonya dan Tuan sedang menikmati tayangan televisi,di temani dengan dua cangkir teh dan beberapa cemilan.Di sofa yang lain juga terlihat seorang pemuda berwajah hampir sempurna sedang fokus pada laptop di depannya,sambil sesekali.menyerubut secangkir coffee latte yang iya letakkan di samping laptopnya itu.Selang beberapa waktu kemudian,terdengar seseorang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum"sambil berjalan mendekati sang tuan dan nyonya yang seraya menoleh ke arahnya.
"Waalaikum salam"mereka menjawab hampir bersamaan.
Terlihat rona bahagia di wajah nyonya yang masih cantik di usia nya yang tidak muda lagi itu,dia menghampiri putra nya seperti sudah lama tak berjumpa.Tuan besar yang duduk di samping nyonya itu hanya menoleh sekilas,dan mata nya kembali menatap televisi,tak seantusias istrinya menyambut putranya.
"Daniel??ya Allah...kenapa kamu pulang tidak kabari mami nak"seraya memeluk putranya erat lalu melepaskannya.
"maaf ya mam,tadi nya aku mau kasih surprise,aku udah minta jemput sama kak Andrean,tapi..."melirik je arah kakak.nya yang masih asik di depan laptop itu.Andrean pun mendongakkan wajahnya dan melihat sang adik yang terlihat kesal.Andrean hanya cengengesan sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal itu.
"maaf aku lupa"jawabnya singkat.
"huff...seenaknya kau bilang maaf,aku berusaha menghubungi mu,tapi ponsel mu tidak aktif".
__ADS_1
"iyaa..aku lupa ponsel ku lowbet"ia tersenyum menampakkan giginya yang putih,wajah yang hampir serupa tapi tidak sama itu,memiliki kedekatan yang cukup baik sebagai seorang kakak beradik.Bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama,sebelum akhirnya sang adik memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Australia.
Daniel tidak memperdulikan alasan kakak nya yang membuat nya harus menunggu beberapa lama di bandara itu,dengan terpasksa,akhirnya dia menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya.
Daniel menghampiri sang Ayah yang terlihat sedikit marah itu.
Pasti Papi marah padaku,sudah ku duga.Aku harus bersiap mendapat ultimatum dari Papi ini..hufh! Batin Daniel.
Sekilas Daniel melirik kearah ibunya,seperti bertanya apa yang harus ia lakukan.Tapi sorot mata ibunya itu meminta Daniel untuk mendekati sang Ayah,ia lirik kakaknya yang sedari tadi terlihat menopang wajahnya dengan satu tangan dan tangan yang lain mengambil cangkir kopi lalu menyerubutnya,tapi matanya masih melihat ke arah adik dan ibunya,Seolah sedang menonton kejadian seru yang akan terjadi,ia tersenyum di ujung bibir nya.
Daniel hanya melotot melihat tingkah sang kakak,alih-alih membantunya menghadapi Ayah,tapi ia malah asik menonton.
Daniel menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan,mencoba untuk menenangkan geroginya.Ia sangat khawatir bahkan sejak masih di perjalanan tadi,karena ia tau Ayahnya pasti murka padanya.Ibunya mengelus punggungnya,seolah memberi kekuatan pada putranya itu.
"untuk apa?"tanya nya lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.
"karena aku tidak menuruti keinginan Papi."suaranya terbata,masih belum berani memandang Ayahnya."Aku hanya ingin mewujudkan keinginanku pih,aku mengambil jurusan bisnis karena aku ingin menjadi seperti kakek dan kak Andrean"jawabnya masih dengan suara rendah.
"lalu siapa yang ingin menjadi seperti Papi?kalian kan Anak-anak papi."Diam sesaat mengontrol emosinya yang mulai meninggi."papi hanya ingin salah satu dari ketiga anak papi,menjadi seperti apa yang papi jalani."menyandarkan punggungnya ke sofa,seolah hatinya menyimpan sejuta kekecewaan.
"pih,Papi kan tau,sejak kecil aku tidak suka berada di Rumah sakit.Aku tidak suka bau obat yang menyengat.Bagaimana bisa papi mau menjadi kan aku seorang Dokter seperti papi?"menatap nanar wajah Ayahnya.
__ADS_1
"Menjadi Dokter itu sangat mulia Daniel,Alasan yang tidak masuk akal untuk seorang pria seperti dirimu,jika semua orang berfikiran seperti mu,maka tidak akan ada orang sakit yang bisa sembuh"ujarnya menatap tajam putranya.
"Aku akan tetap melanjutkan study ku di jurusan bisnis seperti yang ku mau,aku tidak akan menjadi Dokter."Daniel pun meninggalkan Ayahnya dan berlalu menuju kamarnya.Ibu dan kakaknya yang sedari tadi menjadi penyimak setia itu pun hanya menggelengkan kepala nya.
Andrean berdiri dari posisinya semula dan menghampiri Ayah nya yang kasih kesal itu.
"pap,sudah lah.Daniel sudah besar,dia tumbuh menjadi seperti diri papi.meski dia tidak menjadi seperti yang papi inginkan."Emosi Ayahnya pun seketika mereda.Dia menghembuskan nafasnya,membuang semua emosi yang menguasainya sedari tadi.
Dia sadar,bahwa Daniel tumbuh persis seperti dirinya dulu.Seorang anak dengan sejuta ego,tak ada yang bisa menggoyahkan apapun yang mau atau tidak ingin dia lakukan.Termasuk tidak bisa mengikuti kehendak Ayahnya.
***
Dr.Arman wirawan adalah anak seorang konglomerat.Ayahnya,bernama Wirawan sastrodiardjo merupakan seorang pembisnis sukses.memiliki perusahaan besar dan beberapa cabang di berbagai daerah.Dr.Arman merupakan pewaris tunggal dari semua kekayaan yang di miliki Ayahnya.Tapi Arman muda kala itu memiliki keinginan besar yang tak bisa di goyahkan oleh siapapun,meski dengan kemurkaan sang Ayah.Arman muda tidak mau melanjutkan bisnis besar Ayahnya,Dia memiliki tekad yang kuat bahwa dia akan meneruskan pendidikannya jurusan kedokteran.Menjadi seorang Dokter sudah menjadi keputusan bulatnya.Sekeras apapun kedua orang tua nya menentang,takkan menggoyahkan tekadnya sedikit pun.Bahkan Arman muda,pernah di usir dari rumah besar kediaman Ayahnya kala itu.Dia memilih tetap mempertahankan tujuan hidupnya dan tinggal di kos kosan.
Lambat laun hati Ayahnya pun luluh dan menerima kembali Arman muda.Bahkan Ayahnya menjadi investor terbesar di Rumah sakit tempat Arman mengabdi.
Sekarang dr.Arman mengalami hal yang hampir serupa.Ketiga Anaknya tidak ada yang bersedia mengikuti jejaknya sebagi seorang Dokter,dengan berbagai alasan.
Awalnya putra pertama nya itu sudah di amanah kan pada Ayahnya,bahwa putranya pertamanya itulah yana akan jadi seorang penerus di perusahaan.Akhirnya dr.Arman mempupunyai harapan besar pada putra keduanya.Dia sudah sering kali memberi pengertian betapa mulianya menjadi seorang Dokter.Tapi dalam diam,putra keduanya itu tidak menolak atau mengiyakan titah sang Ayah.
Seiring berjalannya waktu,jiwa putra keduanya itu menjelma menjadi jiwa seorang pembisnis yang di warisi dari sang kakek.Diam-diam putranya itu,pergi meneruskan study nya di Australia dan mengambil jurusan Bisnis.Dia berfikir pasti Ayahnya menentangnya.Sifat keras yang dimiliki nya merupakan cerminan dari Ayahnya dulu,saat menentang semua keinginan sang Kakek.
__ADS_1
Daniel memutuskan kembali ke indonesia saat libur itu,untuk menjelaskan semuanya pada sang Ayah.Dia berharap Ayahnya akan menerima keputusannya untuk memilih jalan hidupnya sendiri.