The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
kabar bahagia


__ADS_3

Hari itu hati Yuna benar-benar hancur,ia tidak pernah mengira ibu tiri nya akan berbuat senekat itu.


Yuna bangkit,dia menghampiri tumpukan buku yang sudah habis terbakar,tak ada lagi yang tersisa.Air matanya terus mengalir,sesekali dia usap pipinya yang basah.diambilnya sisa-sisa buku yang terbakar itu.Matanya memerah,menahan kecewa,marah dan duka.Tangannya bergetar tatkala meraih sobekan buku yang masih tersisa separuh karena terbakar itu.


"kenapa ibu tega,hanya ini yang ku punya,sebagai bekalku memperdalam ilmu.dengan susah payah aku mengumpulkannya.hiks"


Yuna pun bangun dan berjalan ke dalam rumah dengan langkah yang gontai,hatinya terasa seperti tersayat.Yuna melihat ibu tiri nya dengan santai duduk di depan televisi tanpa rasa bersalah.Yuna tak berani bicara apapun lagi pada wanita itu.


Haruskah ku tanam kan kebencian pada wanita itu?kenapa dia sampai melakukan ini pada ku?apa salah ku padanya?


Ingin rasanya,ia mempertanyakan hal itu pada ibu tirinya,tapi urung dia katakan.Karena itu tidak akan mengubah apapun,justru akan menambah kebencian padanya.


Yuna melewati ibu tiri nya itu tanpa menoleh.iya berjalan lurus menuju kamarnya.


"hey,awas yah kalo kamu mengadu pada Ayahmu,kau akan tau akibatnya.Bahkan aku bisa membuang semua baju-baju mu"


Yuna hanya melirik sambil menganggukkan kepala nya,dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


**


Di sekolah.


Yuna pun telah duduk di bangku Kelas tiga,sebentar lagi dia akan lulus sekolah.


Yuna masih bingung,harus apa setelah ia lulus nanti.Impiannya menjadi Dokter telah ia kubur dalam-dalam bersamaan dengan buku-buku yang telah hangus itu.


Tapi Yuna,masih sering membaca beberapa buku yang di pinjam kan oleh tetangganya.Tetangga yang tinggal dekat dengan rumahnya itu meminjamkan banyak buku-buku kedokteran milik mendiang anaknya yang meninggal karena kecelakaan saat menjelang wisuda jurusan kedokteran.Banyak barang-barang milik mendiang yang masih tersimpan rapi,sehingga Yuna bisa meminjamnya.Meski secara diam-diam,agar tidak di ketahui oleh ibu tiri nya lagi.


Semua itu,tidak lagi menjadi tujuan hidupnya,tapi ia jadikan hanya sebagai hobi.Ketertarikannya pada ilmu kedokteran tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.Hasrat itu masih ada dalam lubuk hatinya.


Masih ia selipkan doa di setiap sujudnya,agar ia di berikan keajaiban.

__ADS_1


Salah seorang teman sekelas Yuna menggoyangkan tubuhnya,hingga ia tersadar dari lamunannya.


"Yuna...Yuna..."


"eh iya ada apa tian?"Yuna pun terkesiap dan menoleh ke arah temannya itu.


"tuh kamu di cariin sama pak ridho"


"oh iya dimana?"mata Yuna berkeliling mencari keberadaan sang guru.Matanya pun terpaku pada seorang guru laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu kelas nya.Dengan sigap dia bangun dan berjalan menghampiri sang guru yang sepertinya sedari tadi berdiri di sana.


"iya pak,,apa Bapak memanggil saya?"Tanya Yuna seraya meraih tangan sang guru dan mencium punggung tangannya.


"bisa ikut ke ruangan Bapak?"seru Guru setengah baya yang ramah itu.Yuna pun mengangguk dan mengikuti langkah gurunya itu.


Ada apa ya,pak Ridho manggil aku? Batin Yuna.


Sampai lah mereka di ruangan sang guru yang memang di kenal ramah dan bijak itu.Pak Ridho mempersilahkan Yuna duduk,dan ia pun duduk di belakang meja kerjanya.


"Ada apa ya pak?"Yuna yang sedari tadi penasaran pun akhirnya memutuskan untuk bertanya setelah dia duduk di kursi.


"tenang saja,tidak ada apa-apa kok!"


Yuna masih penasaran,raut wajahnya tertangkap oleh gurunya itu.


"Bapak mau tanya,apa kamu masih berminat melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran?"tanya guru itu lembut.


"saya,,tidak tau pak"seketika hati Yuna menjadi ciut,ia menundukkan kepalanya.


"kok tidak tau?bukan kah dulu kamu bersemangat sekali,nilai mu cukup bagus,semangat mu juga begitu menggebu,tapi kenapa sekarang kamu tidak semangat?"lanjutnya melihat ke arah wajah Yuna yang menunduk.


"saya tidak tau bagai mana caranya saya bisa melanjutkan pendidikan saya pak.Apalagi menjadi seorang Dokter.Seperti nya itu mustahil pak"ia mencoba menyeka hatinya yang mulai di rundung kesedihan.

__ADS_1


"tidak ada yang mustahil nak"suara nya hampir membuat Yuna menangis.


"tapi itu memang mustahil pak,saya dan keluarga tidak sanggup untuk membiayai kuliah saya"masih dengan suara sendu nya.


"Begini,kalo kamu memang masih punya keinginan ,berjuanglah untuk mewujudkan impian mu itu,dan tunjukan pada Bapak."


Yuna terkesiap,ia mengerjapkan matanya,seolah ada angin segar menerusup ke sela keputusasaan nya.


"maksud nya apa pak?"


"Bagini.."pak Ridho menarik nafas nya pelan dan menghabiskan nya."jika nilai mu tinggi,Sekolah bisa melanjutkan beasiswa mu sampai ke jenjang yang lebih tinggi.Bapak sudah mengajukan pada kepala sekolah.Dan beliau menyetujuinya."jelasnya seraya mengulas senyum.


"apa benar itu pak?"suara Yuna hampir memenuhi ruangan.Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar."maksud Bapak,saya bisa kuliah jurusan kedokteran pak?"


"tentu saja,asalkaan... kamu buktikan nilai-nilaimu bagus semuanya.harus semangat"sambil memasang senyum lebarnya.Seolah merasakan kebahagiaan yang Yuna rasakan.


"terima kasih banyak pak,Bapak akan menjadi orang paling berjasa dalam tujuan hidup saya"air muka nya berubah sangat cerah,ia memegang tangan gurunya itu,dan mencium punggung tangannya,sambil tertunduk-tunduk,saking bahagianya.


"iya,,tapi tunggu dulu "ujarnya membuat Yuna diam seketika."selain nilai mu yang harus sempurna,kamu juga harus mengikuti tes seleksi.Jadi kami dari pihak sekolah hanya mampu mengantarkan mu sampai tahap seleksi.Jika kamu lolos,maka kamu bisa mendapatkan bea siswa itu."


Yuna menampakkan gigi giginya,ia bahagia luar biasa,


"tentu pak,saya akan berjuang,saya tidak akan mengecewakan Bapak,terima kasih saya ucapkan tanpa henti untuk Bapak dan pihak sekolah.sampaikan terima kasih saya pada pak kepala sekolah ya pak".


Yuna seperti menemukan sungai di tengah gurun yang gersang,hatinya merasakan kesejukan.


Ia berjalan dengan langkah panjangnya menuju kelas,setelah ia berpamitan pada Pak Ridho dari ruangannya.Sambil terus mengulas senyum di bibirnya yang berwarna merah muda itu.Membuat beberapa murid yang melihat keheranan.Tapi Yuna seakan tidak peduli dengan pandangan para murid itu.Ia terus berjalan menuju ruang kelasnya.


**


Terima kasih buat para reader,yang sudah menyempatkan waktunya untuk mampir ke karyaku.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya,


like and vote ya...😘😘


__ADS_2