
Yuna berpamitan pada Dokter Arman.Karena nyonya Wini belum bisa di jenguk,akhirnya Yuna memutuskan untuk menjenguknya lain waktu.
Dalam Obrolan mereka beberapa menit lalu,Dokter Arman meminta Yuna untuk bisa mendedikasikan dirinya kelak di Rumah Sakit itu.Dokter Arman dengan tangan terbuka siap membantu Yuna agar bisa mengabdikan dirinya sebagai Dokter di sana.
Dengan bahagia Yuna menyambut niat mulia sang Dokter.Tapi dia akan berusaha dengan kemampuannya sendiri,layak atau tidak dirinya untuk bisa bekerja di Rumah Sakit ternama itu.
Yuna berjalan keluar Rumah sakit.Setelah meninggalkan nomer ponsel nya pada Dokter Arman yang sudah menganggapnya sebagai anak itu.Lalu ia pergi ke masjid untuk menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
*
Di tepi jalan Yuna menunggu angkutan umum yang belum juga datang.Waktu sudah lewat dhuhur.Tapi,lagi-lagi Yuna melupakan makan siangnya.Pola makan Yuna memang tidak teratur,sering kali ia melewatkan waktu makan nya.Berat badannya yang semakin berkurang.Dengan kegiatan yang begitu banyak dan pekerjaannya yang menyita waktu itu,membuat kesehatan nya memburuk.Tapi tak pernah ia memperdulikannya,ia selalu mencoba untuk tampak sehat.Tak ada waktu bersantai baginya.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di hadapannya.
Yuna memicingkan matanya.Dia mengenal betul mobil itu milik siapa.
"Doni?"
Doni keluar dari mobil nya menampakkan giginya.Dengan gaya yang super cool,layaknya seorang pangeran berkuda putih yang menjemput sang putri.
"Hay...girl"menghampiri Yuna.
"jangan parkir sembarangan."ujar nya sewot.
"iya..iya makanya ayo masuk."pinta Doni.Atau lebih tepatnya memaksa.
Ujung mata Yuna berkerut.Doni mengangkat alisnya.
"Ayo..."
"oke"Yuna pun segera masuk ke dalam mobil.
Di Mobil.
"kok kamu bisa di sini?"Tanya Yuna sesaat setelah Doni melajukan mobilnya.
"ya..jemput kamu dong..memangnya mau apa lagi.Aku tau pasti kau pasti masih disini"
"uuh masa?"
"pasti kau belum makan siang kan?"tanyanya di balas anggukan oleh Yuna."Tuh kan benar.kita ini calon Dokter,pola makan yang benar itu harus kita terap kan pada diri sendiri dulu.Baru kita bisa menjadi Dokter yang sehat.Sudah ku bilang,jangan melewatkan waktu makan mu."
"iya,Dokter Doni yang cerewet.."Yuna tergelak.
"lihat dirimu,kau semakin kurus."Melirik ke arah Yuna.
"ya aku tau"ucapnya cemberut.
**
__ADS_1
Mereka pun sampai di sebuah rumah makan.Doni memarkirkan mobilnya di halaman parkir.Mereka pun masuk dan memesan beberapa makanan,setelah memilih tempat duduk yang nyaman.
"Kau hanya memesan kan untuk ku?"Tanya Yuna.
"iya.Aku sudah makan tadi.Diam lah,tunggu makanan mu datang dan habiskan ya"ujar Doni yang terduduk santai di kursi samping Yuna.
Sesaat kemudian pesanan pun datang.Pesanan yang cukup banyak,untuk ukuran seorang Yuna.
"Apa kau tidak salah?memesan kan makanan yang begitu banyak hanya untuk ku?kau mau membuat perutku meledak Don"ujar Yuna melototi Doni.
"sudah habiskan saja.Aku akan mengawasi mu."
Yuna menghela nafasnya,muka nya mengkerut.Dia tau seperti apa Sahabatnya yang satu itu.Akhirnya Yuna pun menyerah,dia tak sanggup lagi menghabiskan makanannya.
"Aku sudah kenyang Doni..."ucap Yuna mengelus perutnya yang sudah terasa kencang.
"Baiklah,jika kau melupakan waktu makan mu lagi,aku akan memesan kan makanan yang jauh lebih banyak dari ini."ancam nya.
"iya..tapi makanan ini kan jadi mubazir Don.jangan seperti ini lagi ya"pinta Yuna memelas.
"Tergantung".
"huhh".
*
Setelah selesai meladeni Doni,dengan setumpuk omelan dan begitu banyak makanan yang harus di habis kan nya,Yuna pun di antar pulang.
"Tidak mau mampir dulu?"ajak Yuna karena melihat Doni masih duduk di belakang kemudinya.
"Untuk bertemu dengan Nenek sihir mu itu?cih,terima kasih banyak"
"jangan begitu,dia kan ibu ku juga Don"
"Sudah sana turun,bisa-bisa nanti Nenek sihir mu itu mengubah mu jadi rubah."
"Doni..".ujar Yuna kesal.
Doni tau betul bagaimana perlakuan Julia terhadap Yuna.Pasal nya beberapa waktu lalu,ketika ia menjemput Yuna bersama Stevania pun perlakuannya kurang baik.Doni melihat Yuna mengerjakan setumpuk pekerjaan yang seharusnya tidak di lakukan oleh seorang gadis seperti Yuna.Pekerjaan berat yang setiap hari di bebankan pada Yuna itu,sudah biasa di kerjakannya.Hanya saja kedua sahabatnya itu baru mengetahui dengan mata kepalanya sendiri.Tak ada kenyamanan di rumah nya.Rumah yang seharusnya,menjadi tempat ternyaman,malah tidak pernah Yuna rasakan,bila tak ada Ayahnya di rumah.
Yuna turun dari mobil dan lekas masuk kedalam rumahnya.Doni pun sudah berlalu,mobilnya sudah tak nampak di halaman,ketika Yuna mengintip di jendela.
Yuna khawatir,Doni akan membuat keributan seperti waktu itu.Doni marah karena melihat Yuna yang kelelahan,sedangkan ibu tirinya hanya berleha-leha di depan televisi dengan setumpuk cemilan.Seperti itu lah Julia.
Doni emosi,dan berkata -kata kasar yang justru tidak berpengaruh.Tapi malah membuat ibu tirinya menambahkan hukuman untuk Yuna.
"Siapa yang mengantar mu pulang?"Tanya Julia yang tiba-tiba menghampiri Yuna yang masih berdiri di dekat jendela.
Yuna terkejut,tubuhnya tersentak.
__ADS_1
"oh,itu ..."
"Teman mu yang kurang ajar itu ya?"
"maksudnya Doni?"
"Awas kalau kau berani mengajaknya kemari lagi,"
"iya bu"seraya menganggukkan kepalanya.
"Sudah cepat sana,banyak pekerjaan menunggu mu"ujarnya sembari berjalan keluar rumah."Aku akan kerumah teman ku,dan tidak mau tau,semua pekerjaan mu harus sudah selesai"sambungnya dengan tatapan tajam.Di balas anggukkan oleh Yuna.
Yuna pun bergegas mengganti bajunya yang kotor itu.Ia membawanya ke kamar mandi.
"Astaga.."Yuna terkejut melihat dapur dan kamar mandi yang begitu kacau.Setahunya,pagi tadi keadaanya tidak seperti itu.
Apa saja yang di kerjakan nya di rumah?
Dengan sigap Yuna menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaannya.Tanpa beristirahat Yuna mengepel semua lantai di rumahnya.Padahal tadi pagi pun sudah ia kerjakan.Mencuci pakaian,memasak,menyapu halaman dan setumpuk pekerjaan lainnya.Yuna terduduk di lantai melepas lelahnya.
Ya Allah,kenapa pekerjaan ku tak pernah selesai,padahal aku sudah mengerjakannya tadi pagi,tapi aku mengerjakannya juga siang hari.
Yuna melanjutkan pekerjaannya menggunting rumput dan membersihkan selokan di sekeliling rumah.Menyetrika dan melipat baju biasa ia lakukan malam hari.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa semua itu sengaja di lakukan oleh julia,mengotori kamar mandi dan dapur.Semua sampah yang sudah berada di tempat sampah pun,ia tumpahkan lagi.Itu semua bertujuan untuk membuat Yuna kelelahan dan meminta pada suami nya untuk menyewa asisten rumah tangga,seperti yang dimiliki sebagian teman-teman arisan nya.Semata-mata hanya karena gengsi.Dan karena rasa benci nya pada Yuna.Entah kenapa Julia begitu membenci Yuna.
Sungguh perilaku yang sangat tidak terpuji.
Tidak terasa Yuna pun berbaring di halaman dapur selepas ia membuang sampah tadi,ia tertidur di sana,tangannya masih memegang sapu.Tubuhnya yang semakin hari semakin kurus itu,membuat tenaga nya juga kian berkurang.Ia tidak lagi sanggup mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya sudah menjadi kewajiban yang di bebankan oleh ibu tirinya kepada nya.
*
Yuna terbangun dan langsung membersihkan diri,ia segera menuju kedai Ayahnya.
Pagi tadi Ayahnya terlihat kurang sehat,jadi ia memutuskan untuk pergi kesana dan membantu sang Ayah sebelum pergi ke cafe beberapa jam lagi.
"Assalamualaikum Ayah"Yuna datang menampakan senyumnya.
"waalaikum salam sayang"jawab Heru dengan sumringah melihat putri semata wayang nya itu datang."kenapa kemari?lebih baik kau istirahat di rumah,kau pasti lelah selepas kuliah"
Aku lelah bukan karena kuliah,tapi karena pekerjaan rumah.hiks!Batin Yuna.
"Tidak apa-apa Ayah,aku tidak lelah lagi sekarang.Tadi aku sudah istirahat kok"Jawab Yuna,dan langsung sibuk membantu Ayahnya. Sambil bercerita tentang kejadian pagi tadi,sampai ia bertemu dengan Dokter Arman.
"Ayah ingin berjumpa dengan beliau"
"inshaa Allah,pasti aku akan mengajak Ayah bertemu dengan beliau"
"Bagaimana kalau kita menjenguk istrinya nanti".Ujar Heru bersemangat.
__ADS_1
"Ide yang bagus Ayah..."Yuna tersenyum sambil melingkar kan tangannya pada lengan sang Ayah.