The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
pingsan (part 2)


__ADS_3

Daniel melangkah mendekati Ola yang sudah mulai di buatnya bergetar.Keringat dingin membasahi dahi Ola,tapi ia tak berani bergerak,bahkan hanya untuk menyeka dahi nya.


Tatapan tajam Daniel tidak memudar,meski ia tau wanita di hadapannya itu hampir membeku karena takut.


"Apa kau marah?"tanya Ola dengan suara nya yang bergetar.


"Menurut mu?"


Ola menelan lagi salivanya,ia mencoba untuk bertahan di posisinya.


"Apa kau sudah merubah peraturan yang ada di cafe ini?"Tanya nya tegas.


"Tidak,Daniel.Aku tidak merubah apapun peraturan yang sudah kalian buat"jawab Ola terbata.


"Benarkah?tapi semalam aku lihat beberapa pegawai pulang larut malam.Setau ku,jam sepuluh malam seharusnya sudah tidak ada pegawai di cafe."ucap Daniel.


" Dan satu lagi,kau harus memastikan setiap pegawai bekerja sesuai dengan pekerjaan mereka masing-masing.Aku harap kau mengerti apa yang aku katakan.Aku tidak akan mengulangi kata-kata ku lagi."


"Tapi.."


"Aku tidak akan merubah keputusan ku seperti kak Andrean.Jadi perbaiki kesalahan mu.Aku yakin kak Andrean pun juga tidak akan mentoleransi kesalahan mu ini."Daniel mencoba untuk meredam amarahnya.


"Dan sekarang berikan padaku mengenai laporan cafe bulan ini".


Dengan segera Ola mengambil file data yang ada di laci dan segera memberikannya pada Daniel.


Lalu Daniel meninggal kan Ola yang sepertinya hampir lunglai.


Daniel berjalan menuruni tangga,menghampiri beberapa pegawai yang ada di dapur.Semua terlihat menghentikan pekerjaan mereka,ketika Daniel datang.Dan membungkuk memberi hormat.


"Jangan bicara apapun mengenai aku pada rekan kalian yang pingsan tadi.sekarang kembalilah bekerja."Lalu Daniel meninggalkan cafe.


Mereka bingung,hanya bisa melempar pandangan mereka satu sama lain,tanpa tau apa maksud Bos nya itu.


*


Di klinik.


Yuna sudah sadarkan diri,tapi masih tersisa selang infus di tangannya.Matanya berkeliling mencari tau dimana keberadaannya saat itu.

__ADS_1


Rekan nya yang sedari tadi duduk di kursi yang ada di samping nya pun bangun.


"Yuna,kau sudah sadar?"tanya nya.Di balas anggukkan oleh Yuna.


"Aku ada dimana mel?"suaranya terdengar lirih dan lemas.


"sekarang kau ada di klinik,tadi kau jatuh pingsan.Lalu..."rekannya yang bernama melati itu teringat pesan bosnya tadi."mmm..lalu kami membawa mu kemari,bagaimana keadaan mu?"


"masih sedikit pusing,terima kasih ya.Jam berapa ini?"Yuna melihat jam tangannya,yang sudah menunjukan jam setengah sembilan malam."mel,bagaimana ini,nanti bu Ola bisa marah pada ku,aku harus kembali ke cafe.Aku tidak mau sampai dia memecat ku.Aku butuh pekerjaan ini" Yuna Mencoba untuk bangun,tapi kepalanya masih terasa pusing,ia pun mencoba untuk memijit keningnya.


"Yuna,jangan memaksakan diri.Jangan fikirkan yang lain ya.Aku yakin Bu Ola tidak akan memecatmu karena kau sakit.sudah istirahat saja."ujar melati mencoba untuk menenangkan.


"Tapi mel..."


"Sudah lah.percaya padaku."sambungnya.


Bagai mana tidak,ini perintah Bos Daniel.Mana mungkin wanita menyebalkan itu berani memecat mu Yuna.Batin Melati.


Beberapa saat kemudian ponsel melati berdering.Panggilan masuk dari Rendy.


"Halo Ren.Iya Yuna sudah sadar,dia baik-baik saja.Dokter bilang jika ia hanya kelelahan saja.Dan tubuhnya lemah kurang asupan vitamin."jawab Melati.Yuna hanya mendengar kan.


Dan Melati pun menutup telpon nya.


"Terima kasih ya,maaf merepotkan mu"ucap Yuna.


"Jangan sungkan,bisa saja hal yang sama terjadi padaku,dan aku berharap juga ada orang yang peduli padaku.Jadi ini adalah kewajiban kita sebagai rekan kerja,ya kan"ujarnya melukis senyum dan di balas oleh tepukan lembut Yuna di lengan Melati.


*


Setengah jam kemudian,Yuna mulai bisa bangun dan duduk.Meski masih menahan sakit di bagian perutnya.Tapi Yuna memaksa untuk pulang,lagi-lagi karena ia takut Ayahnya khawatir.Karena ia memahami bagaimana kekhawatiran orang tua kepada anaknya,apalagi yang Ayahnya memiliki hanya lah ia seorang.


Melati menelpon Rendy perihal Yuna yang memaksa untuk pulang.


Beberapa menit kemudian Rendy pun datang dengan membawakan ransel Yuna yang memang tertinggal di cafe.


"Apa kau sudah meminta surat izin nya pulang pada Dokter?"Tanya Rendy pada melati.


"Sudah,ini"Melati pun memberikan selembaran kertas itu pada Rendy.

__ADS_1


"Aku kembali ke cafe ya,tadi aku juga sudah bilang pada Yuna."ujar Melati.


"Baiklah,terima kasih banyak ya mel."ucap Rendy dan di balas anggukan oleh Melati yang kemudian berlalu meninggalkan klinik.


Rendy melangkah masuk ke dalam ruangan tempat dimana Yuna di rawat.Terlihat Yuna sudah duduk di kursi.Ia menoleh karena akedatangan Rendy.


"Hai Ren,Apa aku bisa pulang sekarang?"Tanya nya masih dengan suara yang lemas,wajahnya juga masih terlihat pucat.


"iya Ayo,aku akan mengantar mu"Tutur Rendy


"Tidak usah Ren,kau pulang saja.Lagi pula aku sudah memesan taksi online kok"jawab Yuna.


"Sudah lah ,tidak apa-apa.Aku akan mengantar mu."


Yuna terlihat berfikir sebentar dan mengangguk.


Di taksi .


"Ren,apa kau yang mengantarkan ku ke klinik tadi?"Tanya Yuna.Rendy terlihat berfikir mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan rekannya itu.


"em..iya aku yang mengantar mu ke klinik"Sambil tersenyum menutupi keraguan nya.


Ini salah mu Bos Daniel,karena mu aku harus berbohong.Batin Rendy.


Yuna mengangguk-angguk.


"terima kasih banyak ya,untuk hari ini.Aku sudah merepotkan kalian semua."


"Sudah lah kita kan rekan"Ujar Rendy sambil tersenyum.


Mereka pun sampai di rumah Yuna.Ayah Yuna sangat terkejut saat mengetahui keadaan putri semata wayangnya itu.


"Terima kasih ya nak,sudah mengantarkan Yuna pulang"ujar Heru sesaat Rendy berpamitan pulang.


"iya pak,sama-sama.Lebih baik jika Yuna beristirahat dulu di rumah,sampai kondisi nya benar-benar pulih."


"iya Pasti.Bapak akan memintanya untuk beristirahat beberapa waktu,sampai ia benar-benar sehat."Heru menepuk-nepuk bahu Rendy."sekali lagi terima kasih banyak ya.Hati-hati di jalan."


Rendy pun pulang menggunakan taksi online yang telah ia pesan sesaat tadi.

__ADS_1


Heru menghampiri Yuna yang sudah berbaring di tempat tidurnya.Ayahnya itu tak kuasa menahan butiran bening yang sejak tadi memaksa keluar dari matanya yang mulai lelah.Ia menyeka air matanya.Memandangi putri nya yang sudah tertidur.Ia duduk di tepi ranjang.Membelai lembut rambut Yuna.


Maaf kan Ayah sayang,belum bisa membahagiakan mu,hingga membuat mu seperti ini.Harus berjuang sendiri untuk mewujudkan impian mu,yang seharusnya menjadi tanggung jawab Ayah.Tapi ini lah Ayah denga segala kekurangan dan kelemahan Ayah.Maaf kan Ayah sayang.Semoga kau akan mendapatkan kebahagiaan mu suatu hari kelak.Ayah akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu.


__ADS_2