
Selepas mandi dan bersiap,Daniel melangkah menuju ruangan keluarga,terlihat sang Mami yang sedang terduduk di sana.Sepertinya ia sudah menunggu Daniel sedari tadi,ia terlihat mempesona di usia nya yang sudah tidak muda lagi.
Daniel Menghampiri Mami nya sambil terus menatap layar ponsel nya.
"Sudah siap?"Tanya Nyonya Wini bangkit dari duduk nya.
"oh iya Mam.Tapi kita mau kemana?kenapa Mami tidak meminta ka Andrean yang mengantarkan?"Tanya Daniel heran.Karena biasa nya sang kakak lah yang di minta untuk mengantarkan Mami nya.
"Memangnya kau tidak mau mengantar Mami?"Tanya Nyonya Wini memicingkan matanya.
"Oh bukan begitu Mam.Ayo kita berangkat"ujar Daniel,tidak mau membuat Mami nya kecewa.Ia pun melangkah lebih dulu menuju pintu keluar.
Nyonya Wini hanya tersenyum.Ia tau tak ada seorang pun dari putra nya yang menolak ajakan nya.Terkecuali Seila,ia hanya menghabiskan waktu nya untuk kesibukannya sendiri.
"Mami mau kemana?"Tanya Seila yang tiba-tiba muncul dan melangkah menuruni anak tangga.
"Oh Mami mau ke super market sayang"Jawab nyonya wini sekena nya.
"Mami berangkat ya,kakak mu sudah menunggu di depan"sambungnya lagi.
"oh iya hati-hati ya Mam.Aku juga ada janji pagi ini.Aku ijin ya Mom."ucap nya dan di balas anggukkan oleh Nyonya Wini.
Nyonya wini pun memasuki mobil yang sudah siap dengan sang supir tampan di belakang kemudi.Daniel terlihat santai dengan menggunakan kaos berwarna putih dan celana jeans pendek selutut,ada juga kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang mancung.Terlalu tampan untuk standar pakaian santai.
Daniel melajukan mobil nya,
"Oh ya mam,sebenar nya kita mau kemana?"Tanya Daniel yang masih bingung hendak kemana ia membawa mobil nya itu.
"kerumah opa"jawab Nyonya wini yang duduk di sebelah Daniel.
"Rumah opa?"Daniel pun terkejut saat Nyonya Wini memberi tahu kemana tujuan mereka saat itu.
"iya sayang,sudah lama kan kau tidak mengunjungi nya.Beliau menanyakan mu beberapa waktu lalu."
__ADS_1
Daniel masih terdiam.
Ya ampun kalau tau ke rumah opa,sedari tadi aku akan mencoba menolak nya dengan sejuta alasan.Tapi sekarang sudah terlanjur .Batin Daniel.
Daniel memang tidak terlalu dekat dengan sang kakek sang pemilik perusahaan yang kini di jalaninya.
Karena sikap Daniel yang tidak bisa di atur dan tidak suka di paksa,membuat hubungan nya dengan sang kakek tidak begitu baik.Berbeda dengan Andrean si kesayangan kakek.
Seila dan Daniel memang tak pandai merebut hati kakeknya yang terbilang mempunyai pribadi yang keras itu.Ia tak suka di bantah dan selalu ingin semua nya terlihat sempurna.Meski pun begitu,sifat sang kakek malah di wariskan pada Daniel.
Saat ini sang kakek lebih sering menghabiskan waktu nya di rumah, Istiqomah dalam beribadah dan memang sesekali ia pergi memancing bersama sang asisten untuk mengisi waktu nya,saat merasa bosan.Karena keluarga nya mempunyai kesibukan masing-masing yang membuat nya jarang di kunjungi.Meskipun begitu,tapi mereka sering menghubungi sang kakek melalui sambungan telfon atau video call,untuk sekedar menanyakan kabar.
Sang kakek memang tidak tinggal sendiri,beliau tinggal bersama para Asisten Rumah Tangga dan beberapa tukang kebun,karena sang kakek memang hobi berkebun.Juga bersama dua anak angkat nya,yang kini memang sudah tumbuh dewasa.Satu orang laki-laki sebaya dengan Andrean dan seorang lagi,perempuan seumuran Seila.Mereka kakak beradik yang di adopsi sang kakek dari pinggir jalan,karena kedua orang tua mereka sudah meninggal akibat kebakaran yang menghanguskan tempat tinggal mereka.itu lah yang membuat kedua bersaudara itu tinggal di pinggiran jalan dan bekerja sebagai pengamen jalanan.
Tapi kini mereka sudah dewasa,semenjak sang kakek mengangkat mereka sebagai cucu dan tinggal di kediaman nya,mereka berubah drastis.Kehidupan mereka jauh lebih baik.
*
"Oh iya Mam,aku tidak melihat Papi tadi pagi?"Tanya Daniel ketika mobil mereka memasuki perumahan elit.Sebelum nya mereka mampir ke sebuah mini market untuk membeli buah untuk sang kakek.
"Oh Papi mu pagi sekali sudah pergi.Katanya ada janji dengan temannya."jawab Nyonya Wini seraya menengok keluar jendela.
Daniel memasuki gerbang kediaman sang kakek.Bangunan berkonsep eropa klasik yang masih berdiri kokoh itu,menyisakan kenangan bagi keluarga mereka.
Dulu setelah menikah,dr.Arman beserta istri nya sempat tinggal di rumah itu,sebelum memiliki rumah sendiri.Saat Seila berumur lima tahun,baru lah mereka pindah ke kediaman mereka yang sekarang mereka tempati.
Jadi di kediaman tuan besar alias sang kakek ini,memiliki banyak kenangan.Rumah yang tidak pernah mengalami perubahan.Masih sama seperti dulu.Hanya beberapa kali mengalami renovasi,meski tak mengubah tampilan aslinya.Nenek mereka meninggal sudah hampir dua belas tahun yang lalu,semenjak itu,sang kakek jarang mengurus perusahaannya.Tapi karena orang kepercayaan sang kakek yang juga turut menjalan kan perusahaan,hingga kini perusahaan masih tetap berdiri kokoh dengan pamor yang tak pernah meredup.Di tambah dengan turut andilnya kedua cucu kesayangan nya,yang sudah di beri wawasan luas oleh sang kakek maupun melalui pendidikan.Hingga perusahaan nya kini semakin berkembang.
**
Daniel dan sang Mami melangkah masuk kedalam kediaman Tuan besar Wirawan.
Mereka menganggukkan kepalanya saat beberapa Asisten rumah tangga menyambut mereka.Memang sebelum nya Nyonya Wini telah mengabari sang mertua bahwa ia beserta Daniel hendak berkunjung.
__ADS_1
Nyonya Wini melangkah menuju halaman belakang,tempat favorite sang kakek menghabiskan waktu senganggnya.Memandangi tanaman -tanaman hias atau pun tanaman buah yang tertata rapi dan apik.
"Ayah..".Sapa Nyonya Wini seraya menghampiri sang mertuanya,yang masih terlihat gagah di usia nya yang sudah terbilang sepuh.Perawakan nya menurun pada cucu -cucunya.Beliau pun pernah menjadi pria dambaan wanita pada jaman nya.Kini kedua putra nya pun mengalami hal serupa.
Tuan besar Wirawan pun menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing di telinganya.Ia menampakan senyum lebar nya,tatakala sang menantu meraih tangan nya dan mencium punggung tangannya.Tuan besar Wirawan pun mengusap lembut kepala sang menantu kesayangan nya itu,karena memang dia lah satu-satunya istri dari anak tunggalnya.
Di susul Daniel yang juga meraih tangan sang kakek setelah sebelumnya ia melepaskan kaca mata nya dan mengait kan nya di kerah baju nya.
"Bagai mana kabar kakek"Tanya Daniel.
"Tentu saja seperti yang kalian lihat.Aku masih sehat meskipun terkadang kesepian."ujarnya seraya menyematkan tawa di sela kata-kata nya.
Nyonya Wini tersenyum.
"Kan aku sudah meminta Ayah untuk tinggal bersama kami.Tapi..."kata-kata Nyonya Wini terputus.
"Tapi aku menolak,karena begitu banyak kenangan bersama mendiang nenek kalian di sini.Dan aku tak ingin mengubur semua kenangan itu begitu saja".Sambung Tuan Wirawan.
Nyonya hanya tersenyum mendengar kata-kata yang sudah sering di dengar nya itu,sebagai alasan penolakan jika Tuan Wirawan di minta untuk tinggal bersama mereka.
Opa...opa...Batin Daniel.
Mereka pun mengobrol ringan di halaman dapur yang terasa sejuk itu.Daniel pun pergi keruangan lain dan meninggalkan Mami dan Opa nya yang sedang asik mengobrol.Nyonya Wini rasa inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan hal penting pada sang Ayah mertua nya.Hal yang menjadi tujuan utama nya pagi itu kerumah sang mertua.Nyonya Wini menoleh,ia memastikan bahwa Daniel tidak mendengar semua yang akan di kata kan nya pada Tuan Wirawan sang mertua.
Saat melangkah ke ruang keluarga,terlihat seorang wanita sedang asik menonton televisi,sambil memainkan ponsel nya.
Daniel melangkah mendekatinya.
"Saski"Sapa Daniel.
Wanita itu pun menoleh dan terkejut.
"Daniel?"ujar nya.Lalu bangkit dari duduk nya.Dia menampakkan senyum lebar nya dan wajah nya terlihat memerah.
__ADS_1