The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Slide story (Daniel terluka)


__ADS_3

Andrean memapah Daniel masuk ke mobil,dan berusaha membersihkan luka di wajah adiknya itu menggunakan tissu yang berada di mobil.


"Aww"teriak Daniel ketika Andrean mengelap darah yang ada di sudut bibir nya.


"Kau mau jadi jagoan ya?kenapa pake hajar menghajar si?"Tanya Andrean.


"kakak juga menghajar mereka kan?"


"itu karena mereka memukuli mu tau"ucap Andrean menyentil telinga Daniel.


"Aduh,isshh...aku juga punya alasan kenapa aku memukul mereka"ucap Daniel.


"Apa alasan mu?siapa mereka?"


"Mereka yang bersama Sany tadi"jawab Daniel.


"Tapi aku tidak melihat Sany di sana".


"Dia pergi saat aku di pukuli kedua temannya"jelas Daniel.


"Apa?kenapa?"Tanya Andrean penasaran.


"Aku melihat hal yang seharus nya tidak ku lihat tadi."jelas Daniel.


"Apa?"Tanya Andrean lagi.


"issh..kakak terlalu banyak tanya,ayo kita pulang dulu,nanti aku akan menceritakan semuanya pada kakak."


"hmm baik lah.Ayo kita pulang"Andrean pun menginjak pedal gas mobil dan melaju pulang.


Sesampainya di gerbang kediaman keluarga nya,Andrean menghentikan mobilnya.


"Ada apa kak?"Tanya Daniel.menoleh ke arah kakak nya yang terlihat berfikir.


"heuhh..bagaimana jika Mami melihat wajah mu yang penuh luka ini?Mami akan histeris.Kau tau bagaimana Mami kan"jawab Andrean.


Daniel terdiam.


"Hmm lalu bagai mana kak?pasti Mami ada di ruang tengah.Dan Mami pasti menginterogasi kita berdua.Aku harus jawab apa?"


"Aku juga tidak tau,kenapa kau bertanya padaku."


Beberapa lama mereka terdiam di dalam mobil.Hingga sebuah klakson mobil ber bunyi di belakang mereka.


Tin


Tin


Mereka terkejut dan menoleh bersamaan.


"Papi..."Hampir bersamaan.

__ADS_1


"Bagaimana ini kak?pasti papi juga mengira aku berbuat ulah."


"Entah lah.Kita hadapi saja kedua orang tua kita.Toh mereka bukan monster,mereka adalah malaikat yang akan membantu kita nanti."


"maksud nya?membantu apa kak?" Tanya Daniel heran.


Andrean hanya tersenyum-senyum.


"Menyebalkan"ujar Daniel.


Andrean melajukan mobilnya menuju halaman parkir rumah nya.Di susul dengan mobil dr.Arman yang sepertinya baru pulang setelah bekerja seharian di rumah sakit.


Andrean pun turun dari mobilnya,tapi Daniel masih terduduk di sana,dia ragu jika harus bertemu Ayahnya dengan wajah seperti itu.


"Ayo turun"ajak Andrean.Daniel menggeleng kan kepala nya.


"Ayo lah,tidak mungkin kan kau akan tidur di mobil malam ini?"sambung Andrean.


Dengan terpaksa Daniel pun turun dari mobil.


"Hay,Rean dari mana?"Tanya dr.Arman sembari menjinjing tas nya,berjalan menghampiri putra sulungnya itu.Andrean pun langsung meraih tangan Ayahnya dan mencium punggung tangan nya.


"Dari depan Pap."jawab Andrean singkat.


Daniel yang baru keluar dari dalam mobil dengan ragu itu pun menghampiri Ayahnya.karena mau tidak mau,pasti Ayah nya mengetahui kondisi nya.


"Pap"sapa Daniel ragu.dr.Arman pun menoleh,dia mengerut kan dahi nya.


"Aww.aduh sakit Pap."Rintih nya.


"Sudah lah Pap,kita masuk dulu,nanti ku ceritakan kronologis nya di dalam.Tapi bagaimana cara nya agar Mami tidak melihat kondisi Niel.Mami bisa histeris nanti."Ujar Andrean.


"Tidak mungkin jika Mami tidak tau,itu tidak mungkin.Kau tau bagaimana Mami mu,dia pasti akan menatap setiap anggota keluarga ini satu persatu,luka sekecil jarum pun Mami mu pasti mengetahui nya,"jelas dr.Arman.


"Lalu bagaimana Pap?"Akhirnya Andrean pun menyerah,tidak ada celah bagi mereka untuk tidak bertemu dengan sang ratu di rumahnya.Tak akan ada yang lolos dari pantauan sang ratu sejagat itu.


Bertambah satu anggota yang terdiam berfikir untuk masuk ke dalam rumah mereka sendiri.Beberapa lama mereka berdiskusi.


Daniel sudah tidak tahan menahan sakitnya di sekujur badan itu.


Dua orang security terlihat memperhatikan mereka di dalam pos yang berada di samping gerbang.Mereka terlihat bingung dengan apa yang di lakukan dr.Arman dan kedua putranya di depan pintu masuk rumahnya.


"Sampai kapan kalian akan berfikir?"Tanya Daniel rintih.


Andrean dan dr.Arman pun melirik ke arah Daniel yang sudah terlihat lemah.


"Papi akan membawa mu ke rumah sakit ya,sekarang"ajak dr.Arman.


Mata Daniel langsung terbelalak.


"Tidaak,Aku tidak mau"ucap Daniel lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Gawat"ujar Andrean.


Daniel berjalan gopoh menuju kamar nya,dia sudah berusaha mengendap-endap agar kedatangannya tidak di sadari Nyonya Wini.Hingga ia pun tidak mengucap kan salam,seperti yang biasa di lakukan nya.Tapi..


"Niel.."Panggil Nyonya wini yang sedang asik menonton televisi di ruang keluarga itu.


Mau tidak mau Daniel menoleh.


Aduh gawat.!


"Iya Mam"sahut nya.


Dahi nyonya Wini berkerut,ekspresi nya mulai berubah.


"Apa yang terjadi pada mu?kenapa wajah mu?"Ujar nya cemas,seraya menghampiri Daniel yang berada di depan anak tangga untuk menuju ke lantai dua rumahnya,karena kamar seluruh anggota keluarga memang berada di lantai dua.


Andrean dan dr.Arman menghentikan langkah mereka dan menyaksikan apa yang terjadi.


"Niel..hiks hiks"Nyonya Wini menangis sesegukkan,dia memeluk Daniel.Dan menoleh ke arah suami juga putra sulungnya.


"Apa yang kalian lihat?cepat telpon ambulance sekarang."ucap nya setengah berteriak.


"aku tidak apa-apa Mam"ucap Daniel.


"Tidak apa-apa kau bilang?Wajah mu terluka seperti ini.Aku memang seorang ibu yang tidak sempurna hiks hiks,kenapa putra ku sampai terluka."ucap nya terus menangis.


dr.Arman pun menghampiri istri nya itu,dan mengelus pundaknya lembut.


"Tenang sayang,Niel sudah dewasa,dia hanya terluka kecil saja,Papi akan memberi nya obat nanti.Sudah ya,tenang"


"Tenang?aku tidak peduli,panggil ambulance sekarang jugaaa.ya Tuhan..kenapa semua orang tidak saling peduli,ada apa dengan keluarga ku..hiks"Nyonya Wini terus menangis.


Akhirnya Andrean pun menelpon ambulan untuk segera membawa Daniel ke rumah sakit.Daniel yang sangat fobia pada rumah sakit itu pun mencoba membuktikan pada Mami nya bahwa dia baik-baik saja,agar Maminya urung membawa ia kerumah sakit.Tengah malam pula.Tapi sia-sia,Ambulance pun sudah berada di halaman rumah mereka.Daniel pun dengan pasrah di bawa ke rumah sakit.


Sepanjang jalan,Nyonya wini terus menangis.Dan menyalahkan dirinya sendiri,bahkan berkali-kali ia pingsan.


"Mami terlalu berlebihan,aku kan bukan pasien gawat darurat.Kenapa harus menelpon ambulance segala si.Sirine nya menyala pula.Semua penghuni komplek pasti mendengar dan berfikiran macam-macam."


"Apa?Mami berlebihan kata mu?Mami hanya khawatir terjadi sesuatu pada mu.Bagai mana jika kau luka dalam.Pap...papi harus melakukan ronsen di seluruh tubuh Daniel.Harus"tukas Nyonya Wini pada Suami nya.


"Iya Mam,Itu pasti.Tenang lah"Jawab dr.Arman.Ia pun akhirnya berpikiran sama dengan sang istri.Bagaimana jika putra nya mengalami luka dalam.


"Ayo lah jangan berlebihan ,aku rasa itu tidak perlu Pap"ujar Daniel.


"Jangan banyak bicara,kau berbaringlah.Cepat sini"ucap Nyonya wini sambil memaksa Daniel untuk berbaring.


"Mam,aku bisa duduk kok,tidak perlu berbaring ya"ucap nya.


Tapi Nyonya Wini malah memelototi Daniel.


Daniel pun akhirnya pasrah,di perlakukan seperti pasien gawat darurat.

__ADS_1


dr.Arman hanya menggeleng kan Kepalanya menyaksikan drama ibu dan anak itu.


__ADS_2