
Kediaman keluarga besar Wirawan
Pagi hari,beberapa penghuni rumah sedang menikmati sarapannya di meja makan yang besar dan mewah itu.
Andrean sedang fokus pada sarapan paginya,sebelum adiknya mulai menggodanya.
"ehm..kak"seila melirik Andrean,sambil mengaduk-aduk sup yang ada di mangkuk miliknya.
"hmm.."sahut Andrean tanpa menoleh.
"jadi pergi ke pesta nya?"
"Hmm.."masih tak menghiraukan adiknya
"ih kakak jawab dong"melototi kakaknya dan mulai merasa kesal.
"apa?"melihat adiknya dengan wajah mengancam.
"iih .biasa aja dong mukanya... kakak jadi pergi ke pestanya sama pacar kakak?"
Terlihat kedua orang tua mereka yang sedang menikmati sarapannya itu terkejut.Terlebih nyonya wini,dia malah tersedak dengan pertanyaan putrinya itu.
Tentu saja mereka terkejut,karena selama Putra sulungnya itu beranjak remaja,tak pernah mereka mendengar sang putra memiliki teman wanita,apalagi seorang pacar.Andrean yang mereka kenal sangat lah tertutup tentang masalah pribadinya.Putra nya itu sibuk dengan kuliahnya dan sekarang semakin sibuk dengan semua pekerjaan yang di amanah kan kakeknya.
Perusahaan utama yang di pegang kakeknya dulu,sekarang menjadi tanggung jawabnya.walaupun belum sepenuhnya,karena Andrean baru saja terjun di dunia bisnis yang melambungkan nama kakek dan keluarga nya itu.
Andrean melototi adik nya yang cerewet itu,matanya hampir keluar karena saking kesalnya pada adik bungsunya itu.
"pacar?kau sudah punya pacar rean?"tanya ibunya yang baru saja meneguk segelas air untuk melegakakn tenggorokannya yang tersedak tadi.
"tidak mam,seila hanya bergurau"sahut Andrean.
"kalau iya pun tidak apa-apa,lagi pula kau sudah dewasa,harus sudah mulai mencari pasangan"ujar Ayahnya dengan nada santai.
"ya betul sayang,kau sudah cukup dewasa.tidak ada salahnya jika kau mulai memikirkan masalah pribadi mu"sambung ibunya.
"tidak mam,aku belum punya pacar"Andrean an kembali melirik adiknya.Seila yang merasa terancam mulai membela diri.
"tapi kemarin kakak bilang sudah punya teman wanita untuk menemani kakak ke pesta kan?"sambil memicingkan matanya.
"ah..kau hanya sok tau,teman ke pesta itu bukan berarti pacar kan?"
Seila menundukkan kepalanya menggaruk kepala nya yang tidak gatal itu.
__ADS_1
Andrean pun beranjak dari kursinya,setelah menyelesaikan sarapannya.
"Aku berangkat ya...pagi ini ada meeting penting di kantor"setelah bersalaman dengan kedua orang tuanya dan menjewer telinga adiknya sekilas karena gemas itu,Andrean pun melangkah keluar rumah.
Tiba-tiba seila berlari mengejar kakaknya yang sudah sampai di halaman rumah.
"kakak...kakak.. tunggu"
Andrean menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah adiknya itu."ada apa lagi cerewet?"tanya nya kesal.
"jangan marah dulu dong,dengar aku dulu.."mengatur nafasnya."kak..jika kakak jadi pergi ke pesta,apa kakak mau aku siap kan pakaian yang akan kakak dan teman kakak kenakan nanti?"
"tidak perlu"mengacuhkan adiknya.
"kakak..."meraih tangan kakaknya sambil mengguncangnya."sebagai permintaan maaf,mau kan kakak menerima tawaranku?aku punya desain baju pesta yang terbaru..mau kan?"mulai merajuk.
Andrean menghembuskan nafasnya,
"yah baiklah,nanti ku fikirkan lagi sudah sana berangkat sekolah.kakak juga harus pergi ke kantor.nanti bisa terlambat"ujarnya sambil mencubit hidung adiknya itu.
"oke..."senyumnya mengembang seraya melambaikan tangan pada kakaknya yang mulai menaiki mobilnya."hati-hati kak".
Di sekolah
Yuna yang sedang sibuk mencatat beberapa rumus dalam pelajaran matematika nya itu,tiba-tiba di hampiri sang guru mata pelajaran.Dia menyentuh lengan Yuna.
Yuna pun mendongakkan kepalanya dengan sorot mata penuh tanya.
"ya bu,ada apa?"
"pak kepsek dan pak Ridho menunggu mu di kantor,sebaiknya kamu lekas kesana"ujar guru mata pelajaran yang sudah setengah baya itu.
"tapi saya belum menyelesaikan tugas yang ibu berikan?"tanyanya sekilas melirik catatan di buku nya yang memang belum rampung.
"tidak apa-apa,bisa di lanjutkan nanti,kalau tidak sempat,bisa di lanjutkan di rumah"seraya mengulas senyum.
"oh begitu ya bu,terima kasih bu,nanti saya selesaikan secepatnya."Yuna pun segera menutup buku catatannya dan memasukannya ke ransel sekolah miliknya.
"kalo begitu saya permisi bu"sambil menundukkan kepalanya,lalu Yuna pun melangkah menuju ruang guru,untuk menemui kepala sekolah dan pak Ridho.
Dalam langkahnya dia masih di dera penasaran.untuk apa ia di panggil ke ruang guru.
Ya ampun...jangan-jangan hasil tes nya keluar hari ini.Batin Yuna
__ADS_1
Dia lantas mempercepat langkahnya.
Dan sampai lah ia di depan pintu ruang guru yang sudah terbuka itu,ada beberapa guru yang sedang sibuk memeriksa lembar soal-soal ulangan di mejanya.Yuna pun menyapa mereka dengan mengangguk dan mengulas senyumnya.
Seperti biasa setiap akan menghadapi sesuatu,selalu tersemat doa-doa dalam hatinya.Karena memang kita sebagai seorang manusia sangat membutuhkan doa.dan membutuhkan ridho dari sang maha pencipta .
Yuna duduk di sofa yang terdapat di sudut ruangan,setelah pak Ridho mempersilahkan nya duduk.Terlihat pak kepala sekolah pun ikut duduk setelah mengambil beberapa berkas di meja yang terletak Tidak jauh dari sofa.
Mata Yuna menyiratkan sejuta harap.Hatinya bergetar,karena ini hasil akhir dari perjuangannya selama ini,belajar dengan sungguh-sungguh,berdoa dan menunaikan sujudnya setiap tengah malam,doa dari orang-orang terdekatnya,dan harapan yang ia mulai saat kepergian sang kakek kesayangannya.Di saat inilah,ia harus membuktikan pada Dunia,bahwa seseorang yang bermimpi setinggi apapun,pasti akan bisa di raih meski harus tertatih.
Pak kepsek pun mulai membuka pembicaraan mereka.
Ketegangan Yuna begitu terlihat,hingga pak Ridho yang merupakan wali kelasnya itu pun menyadarinya.Beliau mengusap pundak Yuna,mencoba memberikan rasa tenang.
Yuna menoleh dan mencoba tersenyum meski bibirnya terasa berat.
"Yunanda prisilia,ini adalah hasil dari tes seleksi bea siswa yang kamu ikuti kemarin,"beberapa saat pak kepsek mengamati lembaran kertas di tangannya.
"menurut para juri,kurang lebih dari dua ratus siswa yang mengikuti seleksi,hanya sekitar tiga puluh persen yang memenuhi target nilai minimum yang telah di tentukan oleh pihak penyelenggara.Jadi,hampir tujuh puluh persen yang gagal dalam seleksi tahun ini.Sebenarnya,pihak penyelenggara membutuhkan lima puluh persen.Tapi malah lebih banyak yang gagal dan tidak memenuhi standar yang telah di tentukan."
Yuna semakin di buat tegang oleh penjelasan kepala sekolah nya itu.Yuna mulai sulit bernafas,seolah dadanya sesak karena rasa khawatir yang menderanya.Tapi dia masih dengan seksama menyimak semua penjelasan kepala sekolah yang belum rampung itu.
"Dari pihak sekolah kita,hanya kamu lah yang mendapatkan kesempatan berharga ini.Karena universitas Xx tidak menyelenggarakan seleksi ini setiap tahun.Tapi kami sangat bangga karena kamu bisa mengikutinya.Dan..."pak Kepala sekolah menghentikan kata-katanya.Sehingga air muka Yuna berubah semakin tegang,nafasnya seperti tercekik.
"Ba bagaimana dengan hasil yang saya dapat pak"Yuna sudah semakin tidak sabar.
Pak Ridho mencoba menenang kan Yuna dengan mengusap pundaknya.
"Dan...kamu berhasil lolos seleksi dengan hasil yang memuaskan,kamu menjadi urutan ke sepuluh dari peserta dengan nilai terbaik.Selamat Yuna,kami dari seluruh pihak sekolah sangat bangga dengan pencapaian mu yang luar biasa ini."pak kepala sekolah pun mengusap bahu yuna tak henti-henti.Begitu pun pak Ridho yang sudah meneteskan air matanya.Beliau sangat tahu benar bagaimana muridnya itu begitu tertatih dalam mewujudkan mimpinya itu.Meski perjuangan Yuna belum berakhir,tapi tentu segenap hati para guru merasa bangga pada Yuna.
Beberapa guru yang berada di ruangan itu pun bertepuk tangan atas keberhasilan Yuna.
Hati Yuna berdesir,air matanya sudah memenuhi pelupuk mata.Keharuan yang menyeruak memenuhi lubuk hatinya.Tangisan Yuna pun pecah,ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Seketika ia bersujud lama sekali.Hingga semua yang berada di ruangan itu,tak kuasa menahan keharuan.
"Selamat Yuna,semoga kamu sukses dan memiliki masa depan yang cerah".
Yuna pun bangun dari sujudnya,matanya berkeliling memandangi semua guru yang ada.
"Terima kasih ku takkan bisa membalas semua jasa kalian.Semoga Allah memberikan kesehatan kepada segenap Guru-guru ku tercinta."sambil terus mengusap wajahnya yang sudah basah itu.
Terima kasih wahai Rabb ku..
Tanpamu apalah artinya aku..
__ADS_1
Engkau takkan pernah mengecewakan hambamu..
Maafkan segala kekurangan ku Ya Rabb...