The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Pingsan (part 1)


__ADS_3

Pagi sekali Yuna pergi ke kampus,hari ini ada banyak sekali kegiatan dan tugas yang harus di selesaikan nya.Menjelang akhir pendidikan nya Yuna bahkan semakin tidak mempunyai waktu bersantai,atau sekedar minum kopi di cafe bersama kedua sahabatnya,yang kini juga sama -sama sibuk.


Beberapa bulan lagi mereka akan menjadi sarjana kedokteran,cita -cita terbesar Yuna sejak ia kecil akan terwujud.Tinggal beberapa langkah lagi,semua akan tercapai.Kerja keras,doa dan upaya yang ia lakukan selama ini akan menemukan titik akhir.Dan semoga tidak mengecewakan.meski pengabdiannya di bidang kedokteran masih belum selesai karena harus melalui banyak tahapan.Tapi Yuna akan terus berusaha untuk mewujudkannya.


Senyum kebanggaan Ayah nya terhadap dirinya adalah impian nya sejak dulu.Yuna berusaha untuk menyisihkan uang hasil kerja untuk keperluan kuliahnya,meski ia mendapat bea siswa,tapi masih banyak hal yang membutuhkan biaya di luar dari bea siswa.Meski ia terkadang menyisihkan uang nya untuk membelikan beberapa keperluan ibu tirinya.Seperti saat ibu tiri nya itu meminta di belikan baju bermerek karena Yuna terlambat pulang dan tidak memasak makan malam.Yuna harus pandai menyimpan uang,atau bisa jadi malah tabungan yang Yuna miliki habis terkuras untuk hal-hal spele yang di inginkan ibu tiri nya.Yuna pun dengan hati-hati menyimpan tabungan hasil kerja kerasnya itu,agar tidak di ketahui oleh sang ibu tiri.


*


Selepas kuliah,bahkan ia tidak sempat pulang kerumah,ia memutuskan untuk langsung menuju cafe.Yuna sudah memberi rahu Ayahnya bahwa akhir-akhir ini ia tidak bisa pulang ke rumah selepas kuliah.Ayah nya yang tau sifat buruk sang ibu tirinya itu pun menyiapkan asisten rumah tangga,tapi hanya untuk sekedar bantu-bantu saja.Julia pun merasa menang,karena ia tidak merasa minder lagi pada teman -teman arisannya yang rata-rata memiliki ART,dan menjadi beban gengsi nya selama ini.


Satu yang ada di benak Yuna saat itu,adalah jangan sampai sang menejer jutek itu mempunyai alasan lagi untuk memecatnya.


Yuna bergegas menuju cafe,lagi-lagi melupakan makan siangnya.Badannya yang mulai terasa tidak nyaman itu,tak di hiraukan nya.Ia terus bekerja tanpa memperdulikan wajahnya yang kian memucat.


Beberapa rekan kerja nya pun sudah memberi tau nya,dan menyuruhnya untuk beristirahat dan makan.Tapi Yuna tetap saja memaksakan diri,hingga akhirnya Yuna tidak sadarkan diri ketika hendak mengantarkan pesanan.Hingga semua pesanan pelanggan jatuh berserakan di lantai.Beberapa rekan kerja nya yang mengetahui kejadian itu menjadi panik.dan membopong tubuh Yuna yang ringkih ke sofa dan membaringkannya.Salah satu rekan nya yang lain sibuk memberikan minyak angin di hidung Yuna,juga memijit-mijit kepalanya.Mencoba menyadarkan rekan nya yang lemah tapi mencoba untuk terlihat kuat itu.


*


Di kantor


Daniel menerima telpon dari sang kakak.Menanyakan perihal laporan cafe nya pada sang manajer cafe.Tapi lagi-lagi Daniel melupakan nya.Karena memang akhir-akhir ini kantornya sedang sibuk,pasca keberangkatan kakaknya ke singapura.


"Iya baik kak.maaf kemarin aku telat pergi ke cafe.cafe nya sudah tutup,jadi aku memutuskan untuk kesana hari ini.Eh tapi,aku benar-benar tidak sempat.Baiklah cerewet,aku akan kesana sekarang."Daniel menutup telponnya sambil bergumam meluapkan kekesalan pada kakaknya.


Dengan kecepatan sedang Daniel melakukan mobilnya.Dan memarkirkan nya di halaman parkir yang di sediakan.Ia melangkah masuk dan membuka pintu cafe yang terbuat dari kaca itu.Ia memperhatikan beberapa pegawai cafe terlihat cepas dan mondar mandir.Keadaan cafe yang tidak begitu ramai itu pun tidak menjadi perhatiannya.Karena perhatian Daniel tertuju pada beberapa pegawai yang terlihat cemas,tanpa ada yang memperdulikan kedatangannya.Tidak seperti biasanya,beberapa pegawai pasti menyambutnya.Kali ini semua terlihat berbeda,Daniel di landa rasa penasaran.


Ia menuju kearah dapur,beberapa pegawai yang menyadari kedatangan Daniel pun membungkuk memberi hormat.


"Ada apa ini?"Tanya nya masih terpaku.


"ini pak salah satu pegawai kita jatuh pingsan"Jawab salah satu pegawai.


Daniel pun melangkah menghampiri peagwainya yang di maksud.Dia terkejut keningnya berkerut,mata nya memperhatikan Yuna.

__ADS_1


Gadis ini...??astaga...kenapa dia lagi...


"kenapa kalian diam saja,bagaimana jadi ka terjadi sesuatu?"suara Daniel terdengar lantang.Beberapa pegawai yang berada di sana hanya tertunduk."cepat bawa ke mobil ku,kita bawa ke klinik".


Dengan segera beberapa pegawai cafe membopong Yuna yang masih belum sadarkan diri itu,ke dalam mobil Daniel.


Beberapa pelanggan cafe memperhatikan kejadian itu,sambil berbisik.


Dengan segera Daniel melajukan mobilnya menuju klinik terdekat.Di antar dengan seorang pegawai cafe nya yang berprofesi sama seperti Yuna.


Sesampai nya di klinik,Yuna segera memasuki ruang pemeriksaan.Daniel dan seorang waitress nya menunggu di luar.


"Bagaimana dia bisa pingsan?"Tanya Daniel.


Waitress itu terlihat gugup,karena selama ia bekerja di cafe,belum pernah bos nya yang satu ini bicara pada nya,selain memesan minuman atau makanan.Daniel memicingkan matanya melihat pegawainya itu masih terdiam.


"hmm"


"Ah iya bos,itu...karena dia sepertinya kurang sehat.Dia belum makan,dan juga dia bercerita jika semalam ia terlambat pulang,mungkin karena semalam dia belum makan juga jadi masuk angin"jawabnya terbata.


"itu karena..."rekan Yuna itu merasa gugup,dia sudah di ancam untuk tidak bicara kepada siapa pun oleh manajer nya Ola.Tapi,yang bertanya di hadapan nya sekarang ini adalah pemilik cafe tempatnya bekerja.Jika ia tidak bicara,resiko yang harus ia hadapi pun sama bahayanya.


"Kenapa diam?"


"maaf pak,tapi saya bingung harus bicara apa."ucapnya masih dilanda kebimbangan.


"jawab."tanya Daniel semakin tegas.


"itu karena memang Yuna di beri tugas lebih oleh bu Ola,semua pekerjaan di cafe harus ia kerjakan"jawabnya dengan wajah tertunduk.


"Bukan kah ia seorang waitress?kenapa harus mengerjakan semua pekerjaan?apa peraturan cafe sudah di rubah?"Daniel mencecar pegawai nya itu dengan banyak pertanyaan.Daniel menyadari pertanyaan itu bukan untuk pegawai yang berada di hadapannya.


"saya tidak tau bos"masih menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah jaga teman mu itu,aku akan kembali ke cafe.Jangan bilang padanya bahwa aku yang mengantarnya kemari.Apa kau mengerti?"


"iiya bbbos"jawabnya gugup.


Daniel pun segera kembali ke cafe.Di perjalanan Daniel memikirkan tentang apa yang telah terjadi pada Yuna.


Jadi wanita itu,benar wanita baik-baik.Berarti semalam dia belum makan.Bahkan dia pingsan malam ini pun juga karena belum makan?Dia itu manusia apa robot?.


"Bagaimana jika semalam aku benar-benar meninggalkan nya di tepi jalan?ah siapa tadi namanya aku lupa."Daniel menghela nafas.


"Lagi pula untuk apa aku memikirkannya?cih...peduli apa aku padanya.Dia hanya pegawai di cafe."Daniel menggaruk pelipisnya yang tidak gatal itu,hanya menepis fikiran nya yang terus memikirkan Yuna.


Sesampai nya di cafe,Daniel langsung menuju ruangan Ola.Dan bertanya pada pegawai yang berpapasan dengannya.


"Dimana Manajer kalian?"Tanya Daniel.


"Masih di ruangannya bos,tadi kami sudah coba memberi tau nya,tapi.."Belum selesai Rendy menjawab,Daniel segera berlalu melangkah kan kakinya menaiki tangga ke lantai dua,tempat ruangan Ola berada.


Daniel menggedor pintu ruangan itu kasar.


Ola yang terkejut berlari dan membuka pintu.Matanya terbelalak saat melihat siapa yang berdiri di sana.


"Daniel?"Wajahnya pucat pasi.


Daniel menerobos masuk,dan menggebrak meja kerja Ola yang penuh dengan alat make up dan beberapa barang-barang miliknya yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaannya.


"Apa saja yang kau kerjakan?"Tanya Daniel marah.


Ola pelan-pelan menutup pintu ruangannya,berharap tidak ada dari karyawannya yang mendengar kejadian itu.


"Aku...baru saja meneyelesaikan pekerjaan ku."jawabnya gugup.


"Anggap saja aku percaya.sekarang jawab pertanyaan ku dengan jujur "lanjut Daniel masih di posisi nya.Matanya tertuju pada Ola dengan tajam,menerka suatu kebohongan yang mungkin akan di ucapkan wanita itu.

__ADS_1


Ola menelan Saliva nya berat.Ketakutan jelas terlihat di matanya.Berhadapan dengan Daniel jauh lebih menegerikan meski pun ia tidak marah,di bandingkan dengan marahnya Andrean.Tapi ini adalah keadaan yang sangat mengerikan,karena ia sedang berhadapan dengan Daniel dalam keadaan marah.Meski dia belum tau apa yang membuat Daniel marah.Dada nya berdebar menunggu pertanyaan yang akan di lontarkan Bos nya yang satu ini.


__ADS_2