The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Pindah ke kota


__ADS_3

Di hari yang cerah,setelah sebulan sudah kepergian kakek.Heru yang sedang terduduk di teras rumah,menampakan wajah yang di selimuti kebingungan,karena permasalahan yang kian membuat nya hampir putus asa.


Kedatangan salah satu orang kepercayaan Ayahnya membuat nya harus berfikir keras.


Beberapa hari yang lalu.


tok


tok


tok


"Assalamualaikum,"


"waalaikum salam"


Seorang Pria berumur sekitar empat puluh tahunan,datang setelah mendapat kabar bahwa pak surotmo Ayah dari Heru meninggal dunia.Pria itu telah lama menjadi kepercayaan kakek.Karena kesibukan nya perihal mengurus titah sang kakek,membuat nya tidak mengetahui kabar duka itu.


Pria itu menceritakan permasalahan apa yang sedang diurusnya,ia sedang menyelidiki seorang laki-laki yang telah menipu pak Surotmo.


"ya Heru,,bapakmu kembali ke bisnis lamanya.Entah kenapa beliau begitu percaya pada penipu itu.Dia telah memanipulasi mengenai laporan jual beli tanah.Bisnis yang di lakoni Pak surotmo sejak dulu.Penipu itu adalah salah satu anak Alm.pak Sujoyo,rekan bisnis kepercayaan Bapakmu dulu"tukas nya dengan penuh emosi,sesekali dia mengusap peluh di keningnya.


"sejak kapan Bapak kembali ke bisnis nya itu?bisnis jual beli tanah,yang telah Bapak tinggalkan lama sekali." Tanya heru,yang masih bingung.Karena selama ini Ayahnya tidak menceritakan apapun mengenai masalah itu.


"Saya juga tidak tahu Heru,Beliau menghubungi saya ketika Beliau mencurigai ada gelagat yang tidak beres mengenai laporan jual beli.Beliau meminta saya untuk menyelidikinya"lanjutnya menatap ke lantai seolah sedang menahan emosi nya, mengenai apa yang telah ia ketahui.


"lalu bagai mana hasilnya?"Tanya Heru singkat.Hati nya sedikit bergetar.


"Maaf,sepertinya Alm. benar-benar...tertipu luar biasa."ia menundukkan pandangannya,masih berusaha menahan emosi dengan apa yang terjadi.


"Jelaskan tolong"Heru sedikit meninggikan nada suaranya.


"Klien yang sudah memesan tanah pada Alm.pak Surotmo,telah memberikan hampir lima puluh persen uang pada penipu itu,tapi sang pemilik tanah tidak pernah menerima uangnya"menarik nafas perlahan."Sang pembeli hanya mengetahui bahwa ia hanya punya urusan dengan Pak surotmo"jelasnya sambil mengurut keningnya yang mungkin sedikit pusing.


Heru tersentak,dia menyandarkan punggungnya pada kursi.


"Apa lahan yang akan di beli itu luas?"tanya nya lemah.


"sangat luas,bahkan.." Ia memotong pembicaraannya.

__ADS_1


"Bahkan apa?"Heru kembali menegakkan tubuhnya.


"Bahkan... lebih luas dari lahan pak Danu yang di belakang rumah mu".Menghembuskan nafasnya yang sedikit berat.


Pak Danu adalah juragan desa yang memiliki salah satu lahannya di samping kebun sang Ayah.Bahkan hampir sebagian lahan desa itu milik juragan Danu.


"jadi kemana penipu itu membawa kabur uangnya?".Heru mulai geram.


"kami masih mencari keberadaannya,bahkan keluarganya pun tidak tau menau soal ini,"


"bagaimana Bapak bisa tertipu". Heru Menutup wajah dengan kedua tangannya menahan kekesalannya."jadi apa yang bisa kita lakukan?"


"Klien itu,menuntut ganti rugi."


"kenapa Bapak tidak cerita,"Heru menatap kosong ke langit-langit.


"Awalnya beliau akan menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan dan membuat kalian khawatir.Yang beliau fikirkan hanyalah kelangsungan masa depan anak-anak nya,terutama cucu kesayangannya.".


"jadi itu yang membuat Bapak melamun terus beberapa hari sebelum kepergiannya?".Heru berusah mengingat tingkah sang Ayah yang memang sedikit berubah kala itu.Setelah beberapa lama mengobrol,Pria itu berpamitan.


***


Heru menarik nafas panjang saat mengingat kedatangan pria kepercayaan Ayahnya yang membawa berita buruk itu.


Mereka tidak bisa datang karena berhalangan,bahkan saat pemakaman sang Ayah.Tapi,Heru sangat mengerti dengan keadaan para Adiknya,yang memang memiliki kesibukan masing-masing.


Semua kekayaan hasil kerja keras Ayah dan dirinya,kini telah habis terjual untuk membayar ganti rugi dan tuntutan klien.Heru memberikan beberapa sisa hasil penjualan yang menjadi hak Adik-adiknya.Tinggal tersisa rumah sebagai peninggalan sang Ayah,yang menjadi satu -satu nya warisan yang ia punya,karena mau tidak mau, bengkelnya pun ikut di jual.


Dia bingung bagaimana dengan kelangsungan hidup keluarga kecil nya.


Akhirnya setelah berfikir lama,dan berdiskusi dengan istrinya.Heru memutuskan untuk menjual rumah itu dan pindah ke kota untuk melanjutkan hidup mereka.


Keputusan itu di setujui oleh sang istri.Kebetulan putrinya pun sedang menunggu kelulusan sekolah dasar.


Keputusan yang berat bagi mereka,terlebih Heru yang memang sejak kecil di besarkan oleh kedua orang tuanya di rumah itu.Yang kala itu,ia bertemu dengan sang istri di panti asuhan, tempat istrinya di besarkan.


Sang istri memang seorang yatim piatu,yang dengan tidak sengaja bertemu Heru,saat sedang memberikan sumbangan pada panti Asuhan tempat istrinya bernaung.


Benih-benih cinta pun tumbuh diantara kedua nya.Pak Surotmo yang dermawan itu kerap meminta putranya untuk rutin mendonasikan sebagian rizkinya untuk panti Asuhan.Setelah beberapa waktu,Heru pun melamar wanita pujaan hatinya dan membawa nya tinggal bersama di rumah besarnya,yang kini harus mereka tinggalkan.

__ADS_1


**


"Besok kita harus mengosongkan rumah ini,karena anak juragan Danu yang baru menikah itu akan menempati rumah ini."ujar Heru.


"iya suami ku sayang,aku akan mendukung semua keputusan mu,aku akan selalu mendampingi mu dalam keadaan apapun".Sembari memeluk erat suaminya.


"Terima kasih sayang,"mengecup kening istrinya."apa kau sudah memberi tahu Yuna?"


"Sudah".Jawabnya lembut,seraya membelai lembut dada suaminya.


"Bagaimana?apa dia setuju,kita akan pindah?".Tanya nya lagi.Istrinya hanya mengangguk.


***


Semua persiapan telah selesai,rumah beserta isi nya pun sudah terjual.Hanya pakaian dan barang-barang berharga saja yang mereka bawa.Mobil yang di pesan pun sudah tiba.


Sesaat mereka memandangi rumah itu,banyak kenangan yang terukir disana.Gadis kecil itu menjadi pendiam sejak kepergian kakeknya,tapi prestasinya di sekolah masih stabil.


Ia masih menatap rumah itu,halaman tempat nya berlari-lari bersama kakeknya sejak kecil dulu.Sekilas muncul dalam pandangannya.Sadar semua tinggal kenangan,ia memejamkan matanya mengusir kesedihan.Ia masuk ke dalam mobil yang akan membawanya memulai kehidupan baru di kota.


"ibu,Ayah...ayo kita berangkat".Ajaknya dengan suara paraunya.Ayah dan ibu nya saling memandang sekilas dan menganggukkan kepala,meng iya kan ajakan sang putri semata wayangnya itu.


Mobil melaju meninggalkan desa,sepanjang jalan terhampar sawah dan ladang,tempat gadis cantik itu dulu menghabiskan waktu nya dengan sang kakek.Kembali bayangan itu melintas dalam benaknya.Dia pandangi setiap inci keindahan desanya yang akan ia tinggalkan,entah ia akan kembali ke sana atau tidak.


Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi pipi mulus nya yang kemerahan.


"Selamat tinggal kakek,selamat tinggal teman-teman,sawah,ladang.aku akan merindukan kalian".Sambil mengusap basah di pipinya.


Kedua orang tuanya yang sedari tadi memperhatikan putrinya itu,tak kuasa membendung air mata mereka,dan mengelus lembut punggung putrinya.


**


Sampai lah mereka di Kota.Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan,mereka di suguhi pemandangan yang sangat berbeda dengan tempat tinggal mereka sebelumnya.


Gedung-gedung mewah menjulang tinggi berjejer rapi,lampu-lampu nan indah berwarna warni,jalanan yang masih ramai dengan kendaraan yang seakan tak pernah lelah menyusuri jalan.Bahkan saat malam Tak ada bedanya dengan siang hari,masih sangat penuh dengan suara klakson memenuhi pendengaran.Seakan bersahutan,beberapa kendaraan saling berebut antrian di lampu merah.Mungkin sang pengendara sudah lelah dan ingin meregangkan otot-otot mereka yang telah lelah beraktifitas.Seperti keluarga kecil yang baru saja menginjakan kakinya di kota besar itu pun sudah mulai lelah menempuh perjalanan jauh.


Sampailah mereka di sebuah rumah kecil di sudut kota,bangunan sederhana yang cukup nyaman.Rumah yang di beli oleh Heru melalui perantara sahabatnya itulah tempat mereka bernaung,hasil penjualan rumah di desa yang sebagiannya lagi untuk membuka usaha kecil-kecilan dan sebagai simpanan.


"ini tempat tinggal kita sekarang sayang".Sambil memeluk kedua wanita berharganya,anak dan istri yang selalu ada di sampingnya itu."maaf ya,,Ayah hanya mampu membelikan ini,harga rumah di kota jauh lebih tinggi dari di desa tempat kita tinggal dulu".Suaranya sedikit sendu.

__ADS_1


"Gak apa -apa Ayah,".Senyum nya mengembang,ingin membuktikan bahwa mereka bahagia jika bisa selalu bersama.


Detik awal dimana kehidupan mereka akan di mulai.


__ADS_2